KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
X Mol


__ADS_3

Perjalanan kami cukup lancar, tak seperti biasanya yang sering kali terjebak macet.


Kami datang lebih awal, sementara Meysa dan Melda masih dalam perjalanan.


Sembari menunggu kedatangan 2M kami memesan tempat lebih dulu di cafe pojok langganan ku sama Siska.


Setelah memesan makanan aku berpamitan untuk ke kamar mandi, ku tinggalkan Siska bersama Melan.


"mau dianterin gak? " Melan bertanya.


"apaan sih, kaya anak kecil aja" jawab ku.


"kamu kan emang anak mama" Siska mengolok.


akhirnya aku tinggalkan mereka berdua. Sudah kebelet.


Begitu akan memasuki pintu kamar mandi, aku lihat seseorang yang ku kenal tengah berdiri di ujung lorong menuju kamar mandi pria.


Aku hanya tersenyum, fikir ku juga sama-sama ke kamar mandi. Kebetulan saja bertemu.


Tapi eh tapi, ada seseorang juga yang wajahnya sempat ku kenali tengah berdiri di depan kaca wastafel.


Sengaja aku berhenti sejenak, menunggu wanita itu keluar. Ku ikuti diam-diam dari kejauhan, dan mata ku melihat wanita itu beranjak bersama lelaki yang tadi berdiri di lorong.


'owh, jadi lagi nungguin cewek itu' pikir ku dalam hati. Kemudian aku kembali ke dalam kamar mandi.


Ada perasaan yang berbeda, tak sebahagia tadi saat belum melihat mereka berdua.


Aku berjalan keluar dengan langkah lemas. Kecewa, cemburu, perasaan apa ini?


Ku coba menetralkan perasaan ku dengan segera melahab cake yang sudah ada di atas meja. Saat aku asik mengunyah dan mengalihkan pandangan, justru mata ku bertemu dengan dua sosok yang tidak membuat ku senang. Seketika mulut ku berhenti mengunyah. Pemandangan di depan merusak mood ku.


"kenapa Kay ditaruh, baru satu suap kan. Gak enak ya? " tanya Siska begitu melihat aku meletakkan kembali piring cake.


Sementara aku mengisyaratkan mata yang kemudian di ikuti oleh pandangan Siska juga Melan.


"itu yang bikin aku gak yakin. Dia tidak bisa menentukan sikap"


Siska dan Melan saling pandang


"itu karena...... "


"udah Mel gak perlu membela kakak kamu" aku memotong pembicaraan Melan. Karena dijelaskan seperti apapun tidak akan merubah keadaan.


"kita pindah Mol aja yok" ajak Siska


"gak usah. Biarin. Biar semakin sakit dan perlahan perasaan ku mati"


Siska dan Melan saling pandang


"bentar-bentar. Kalian tunggu sini ya" Melan beranjak. Sepertinya hendak menghampiri Kakaknya itu.

__ADS_1


Dari kejauhan aku lihat percakapan mereka, sementara Siska masih berusaha menenangkan perasaan ku dengan terus menepuk bahu ku.


Aku hanya diam saat Melan sudah kembali ke tempat duduk. Seakan tidak ingin tahu. Berbeda dengan Siska yang langsung menginterogasi Melan.


"biasalah, alasannya ummi yang suruh" Melan berkata singkat.


"tuh kan, dasar ulat bulu. Yang satu cari kesempatan yang satu gak bisa nolak kesempatan" ucap Siska dengan nada kesal.


"Siska..... hust" Melan memelototi Siska


"Siapa sih aku buat dia, siapa juga dia buat aku? gak penting kan! " ucap ku berusaha menutupi perasaan.


"makanya kalian tuh pacaran aja. Biar jelas" Lagi-lagi ucap Siska geram


"Siska, kamu gak tau sih kondisi dilingkungan. Rumah dekat itu ternyata tidak memberi keuntungan" Melan sedikit menjelaskan, padahal juga sudah berulang kali aku memberitahu Siska.


"............... " ~send (kak Dian)


"kirim pesan apa Mel sama kakak kamu"


Diam-diam Melan mengirim pesan. Sekalipun aku tidak bisa melihat isi pesannya tapi jelas terlihat itu ditujukan untuk kakaknya.


"aku suruh cepet balik, kalau memang dia peduli sama kamu.


Biar gak makin kebakar kamunya" Melan memberi tau


"assem, apaan. Dikiranya aku cemburu" ucap ku menyangkal


"tau nih Kayra. Kakak itu sayang sama kamu, sayang banget malah. Sekian tahun, dari balita sampe dewasa gak sedetikpun hilang rasa sayangnya sama kamu.


Hanya saja keadaan membuat dia untuk mengalah" setelah berkata dengan semangat tiba-tiba nada bicara Melan menurun. Mungkin saja ada sesuatu yang dia tau dan tidak memberi tau ku.


Percakapan kami tentang Dian tidak berlanjut karena Meysa dan Melda sudah datang. Bagaimanapun juga ini quality time kami. Setelah sekian lama baru kali ini bisa berkumpul lagi. Bersama satu personil baru. Jika mengingat dulu masa SMA, sepertinya tidak akan menyangka kami bisa duduk santai bersama.


Tak berselang lama handphone ku berdering, ada pesan masuk.


~raharDian~


"aku pulang. Maaf ya,makan yang banyak biar moodnya baik lagi"


hanya aku 'read'.


"apa memang benar, dia pulang cepat karena memang peduli dengan perasaan ku" aku diam untuk sesaat


"hey, Kayra" ucap Meysa yang menyadari aku terdiam, melamun.


"Kenala lagi sih Kay" Siska bertanya


aku sodorkan handphone yang berisi pesan dari Dian.


"tuh kan, apa juga Melan bilang. Dia itu peduli sama kamu" Siska kembali menegaskan.

__ADS_1


"ada apa sih" tanya Melda


"iya ada apa? " tanya Meysa.


Perkataan Siska yang menggebu mengundang penasaran Melda dan Meysa


"ada sedikit drama tadi" Melan yang menjawab


"drama apa? " sementara Meysa masih saja penasaran.


"awh, panjang lah. Udah selesai juga dramanya" ucap Melan.


"kembali ke tujuan awal, kita kesini kan buat have fun. Lupain tuh iklan lewat" ucap Siska geram. Dia memang belum sepenuhnya terlepas dari sifat buruknya, tapi dengan lebih sering diingatkan aku yakin perlahan akan benar-benar hilang.


"ok, kita habiskan camilan terus gamesZone yuk"


semoga saja mood ku kembali membaik dengan olahraga ringan.


"ok deh, ok. Masih ada waktu sebelum bioskop buka" Siska menjawab.


Kemudian kami saling menikmati cake dan kudapan yang sudah di pesan masing-masing. Saling mencicipi sembari bercerita banyak hal. Tak terasa satu lebih kami lewati tanpa bertemu bersama. Ada banyak kerinduan disana. Sayangnya ini bukan liburan semester, hanya kebetulan Meysa dan Melda pulang diwaktu yang bersamaan.


"janji ya, nanti tiap libur semester kita ketemuan. Masih kangen nih kalo ketemu sebentar aja" ucap ku.


"InsyaAllah nanti diatur. Kemarin liburan semester pas ada acara keluarga" Melda memberi tahu.


Waktu menunjuk pukul 11 siang. Semantara bioskop akan dibuka pukul 11.30 sehingga kami segera meninggalkan cafe menuju gamesZone.


Pertama aku pilih basket, aku battle dengan Melda. Sejak SMP kami yang suka bermain masket. Sekor terus berkejaran, entah sudah berapa rupiah yang keluar. Sampai kami lelah dan berhenti. Manjur juga, keringat bercucuran. Asal jangan air mata saja yang bercucuran, kata Melda.


Di sisi lain ada Siska dan Meysa yang bermain bola pingpong. Sementara Melan terlihat sedang gemas memainkan boneka capit. Sahabat satu ini memang girly, suka koleksi boneka. Padahal koleksi di rumah sudah satu lemari penuh, hasil dari main boneka capit juga. Dan ternyata belum berubah sampai saat ini setelah satu tahun lebih tidak main ke Mol bersama.


Ada waktu 10 menit untuk istirahat sebelum bioskop buka.


"siapa nih yang mau antri tiket" Melan bertanya.


"yang menggemari filmnya donk" Siska menjawab.


"yaudah biar aku aja yang antri. Kebetulan juga lagi ada tamu, jadi kalian bisa solat dzuhur sambil aku antri tiket"


Melan menawarkan diri untuk mengantri membeli tiket. Karena film baru keluar jadi bisa dipastikan antrian akan panjang.


Tak berselang lama setelah Melan menuturkan hal demikian, kami segera berpisah. Aku dan teman-teman yang lain menuju lantai basemen sedangkan Melan menuju lantai paling atas, tempat dimana bioskop berada.


_____________^_^____________


havefun buat teman-teman yang sedang berlibur.


Terimakasih untuk yang sudah mampir dan masih setia mengikuti perjalanan Kayra


Terus nantikan cerita selanjutnya yahh 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2