
Ustadz Billal POV
Sebagai seorang yang memahami ilmu agama, tentu aku bukanlah orang yang biasa menyentuh wanita, apalagi itu bukan mahram juga bukan sanak saudara.
Siang itu aku datang ke salah satu masjid yang meminta ku untuk menjadi pembicara dalam acara yang akan di adakan di sana.
Masjid masih sepi saat itu, karena waktu ashar belum tiba sementara waktu dzuhur hampir saja habis.
Saat aku keluar dari ruang sekretariat, terdengar suara seorang wanita menangis dari dalam masjid. Sampai sesenggukan terdengar nya.
Entah kenapa hati ini tergerak untuk menghampiri orang tersebut.
Orang itu menangis dalam posisi sujud masih memakai mukena.
Betapa aku terkejut dan hati ku tersentuh saat ku jumpai orang tersebut adalah Kayra.
Apa yang terjadi?
Kenapa jam segini dia ada di sini, bukankah harusnya masih jam kuliah?
Dimana mobil dia?
Muncul beberapa pertanyaan dalam benak ku.
Tak sampai aku menanyakan hal tersebut, aku sudah merasa panik. Apa yang harus aku lakukan?
Kayra terus menangis bahkan sampai suara nafasnya tersendat-sendat. Tangan nya gemetar. Ku lihat wajahnya, aku hampir saja tertawa melihat mata dia yang sudah bengkak seperti habis tersengat lebah.
Sudah berapa lama dia menangis?
Entah akal ku sudah hilang kemana, reflek aku memeluk Kayra. Aku sangat tidak tega melihat keadaan dia saat ini.
Aku hanya berharap energi positif yang ku salurkan lewat pelukan itu mampu menenangkan perasaannya.
Menit pertama, menit kedua
"Kayra... tenang ya. Tenangkan diri kamu Kayra" hanya kalimat itu yang beberapa kali aku ucapkan sembari membelai lembut kepala nya.
__ADS_1
Sungguh ini pertama kali dalam hidup ku. Menyentuh wanita selain ummi, memeluk hingga meletakkan kepalanya di atas pundak ku. Sebenarnya jantung ku sendiri naik turun.
Menit menit berlalu, sampai ku dengar tangisan Kayra sedikit mereda. Namun dia masih berdiam dalam pelukan ku. Hingga detik berikutnya seseorang datang, Rahardian.
Aku tau jika lelaki itu memiliki perasaan pada Kayra, begitupun sebaliknya.
Mungkin kedatangan dia atas permintaan Kayra.
Kepalang basah sekalipun aku tidak sengaja.
Lelaki itu melihat saat Kayra masih berada dalam pelukan ku. Aku cukup tau apa yang dia rasakan. Cemburu, itu sudah pasti.
Bukannya menghampiri lebih dekat, anak itu justru pergi begitu saja.
Tangis Kayra yang tadinya reda kembali pecah.
Cemburu, seperti bukan hanya lelaki itu yang merasakan. Lelaki yang dulu pernah menjadi anak didik ku sesaat.
Ada perasaan tak nyaman juga pada hati ku, melihat Kayra menangisi kepergiannya. Tapi bukanlah itu yang terpenting saat ini, usia ku tidak lagi labil untuk memperjelas hal-hal yang seperti itu.
Setelah Kayra bisa kembali tenang, aku melepaskan tangan ku. Mencoba mengajukan beberapa pertanyaan.
Akhirnya aku menemani Kayra kembali ke cafe yang ada di seberang masjid. Jujur saja aku khawatir membiarkan dia sendiri dalam keadaan seperti sekarang ini. Sekalipun aku belum tau masalah apa yang sebenarnya sedang dia hadapi.
Kayra berjalan di depan ku.
Dia berhenti di salah satu meja, mungkin meja yang tadi sudah dia pesan sebelum pergi ke masjid.
Betapa aku terkejut melihat makanan yang begitu banyak di atas meja. Baru saja aku mau bertanya "kamu gak salah meja? " dia sudah duduk lebih dulu dan meneguk minuman yang ada di gelas. Berarti memang benar semua ini pesanan dia.
" sebanyak ini, kamu undang banyak teman? "
akhirnya kalimat itu yang ku tanyakan.
Dan aku kembali terkejut saat dia menggelengkan kepala. Itu artinya, makanan sebanyak ini untuk dia semua?
Yakin bisa habis?
__ADS_1
Orang seimut dia kok bisa sih pesen makanan sebanyak ini?
Selama beberapa bulan kami makan bersama di rumah, belum pernah aku lihat Kayra makan dengan porsi sebanyak ini. Apa karena hatinya sedang labil, jadi dia lampiaskan dengan makanan sebanyak ini? Tapi kok bisa sih badan dia tetap ramping seperti itu?
Ah, pikiran ku jadi kemana-mana.
Tapi melihat Kayra makan dengan lahapnya, semoga ini memang obat untuk menyembuhkan kesedihan dia. Sungguh tidak tega melihat kelopak mata dia yang sudah hampir menyatu atas dan bawah. Saking bengkaknya.
Aku sudah mencoba untuk bertanya tentang apa yang menimpa dirinya, tapi rupanya dia belum cukup percaya atau mungkin belum cukup nyaman untuk menceritakan perihal pribadinya bersama ku.
Aku cukup mengerti, aku adalah orang asing dalam hidupnya. Yang baru beberapa bulan ini dia kenal. Dan mungkin juga dia pikir aku adalah orang yang perlu dia hindari. Mengingat cara ku untuk mengenali dia yang membuatnya takut. Begitu juga kemauan ku untuk menjadikan dia istri yang begitu cepat.
Sebenarnya aku bukanlah tipe orang yang mudah untuk menemukan wanita. Setelah aku pernah kecewa dengan seorang wanita puluhan tahun silam, baru kali ini aku bisa menemukan seorang wanita yang baru. Dan baru kali ini juga hati ku terbuka.
Tapi sepertinya waktu ku untuk menemukan seorang jodoh belum juga datang. Aku mendapatkan penolakan dari Kayra. Banyak hal memang yang dia belum tau tentang diri ku.
Semua belum final.
Sekalipun sudah ada seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan Kayra, tapi aku masih akan tetap berusaha.
Kini aku sudah tau hampir semua dari pribadinya, tidak ada lagi yang aku ragukan dari diri Kayra.
Perlahan akan aku coba untuk mendekati dia, dengan cara yang lebih menyenangkan.
Aku Pun tidak tau apa rencana Allah mempertemukan aku dan Kayra secara tiba-tiba. Disaat Kayra benar-benar membutuhkan seseorang sebagai sandaran. Semoga ini menjadi awal baru yang baik.
Sekalipun mungkin Kayra hanya menganggap aku sebagai 'pahlawan kesiangan' aku tak apa.
Aku juga bukanlah seorang perusak hubungan orang lain.
Bahkan aku sudah berjanji akan membantu Kayra untuk meluruskan kesalah fahaman yang ada.
Salah satu diantara kami yang akan menjadi takdir Kayra, atau bahkan bukan kami berdua mungkin, hanya Allah yang tau.
Kalau sudah jodoh tidak akan kemana. Yang penting sudah berusaha. Andai pun aku yang jadi jodoh Kayra, bukan berarti aku menikung.
Semua kuasa Allah.
__ADS_1
________________tbc_____________