
Mulai hari ini dan hari-hari selanjutnya, hidup ku akan kembali di sibukkan oleh hal baru. Yaitu mengikuti langkah papa selama di kantor untuk di kenalkan pada rekan bisnis papa, bahwa akulah calon penerusnya.
Hari ini, setelah kembali ke kantor papa dengan jelas kembali mengatakan pada ku, lebih tepatnya mengulangi perkataan yang tadi diucapkan pada rekan bisnis papa sewaktu dalam pertemuan.
"tapi pa, bukankah ini belum waktunya?
Yang pertama, aku belum benar-benar lulus. Kedua, aku kan disini dalam proses magang. Kalau aku harus kemana-mana ikutin papa, lalu kapan aku belajar nya? Bagaimana bisa aku menerapkan ilmu yang ku punya? Bagaimana caranya aku menyelesaikan skripsi yang udah aku susun?"
Dengan tegas aku menyampaikan keberatan pada papa.
"gampang, kapanpun kamu ingin belajar apa, setiap devisi pasti menerima kehadiran kamu. Dan kalo kamu mengerjakan skripsi, kamu bisa minta tolong sama Riza"
"pa, kenapa papa jadi gini sih. Ini itu gak adil buat aku pa" Ini rasanya.....seperti anak didik yang tengah di spesial kan oleh gurunya.
Aku langsung keluar begitu saja dari ruangan papa. Sekalipun saat di luar mendapatkan pertanyaan dari mas Riza, aku mengabaikan nya. Aku sungguh kecewa dengan sikap papa.
Bukankah selama ini papa tidak pernah menuntut ku atau menekan ku dalam hal apapun? Kenapa dengan sedikit saja kerelaan ku untuk memasuki kantor ini, seakan menjadikan papa ingin mendapatkan semua sekaligus saat ini juga.
Dengan wajah di lipat aku kembali ke ruangan bagian keuangan. Aku langsung menduduki kursi kosong yang berada di sebelah Dila.
"balik-balik muka kusut. Kenapa? " tanya Dila.
"habis ketemu sama mata genit" kata ku keceplosan.
Entah kenapa, sejak duduk di devisi yang sama bersama Dila, aku jadi lebih dekat dengannya. Sering menceritakan hal-hal pribadi ku padanya. Mungkin karena aku merasa nyaman dan diapun tipe pendengar yang baik. Begitupun sebaliknya.
Setelah aku kehilangan para sahabat ku di SMA, lalu kehilangan Siska, kini aku mulai merasa menemukan orang baru yang satu frekuensi. Satu visi dan satu pemikiran.
"habisnya kamu cantik sih" jawab Dila ikutan gombal.
"tarik nafas Kay, buang. Fokus. Udah gak ada lagi kan orangnya? " sambung Dila.
Terpaksa aku membuat lelucon demikian, sebab ada banyak pegawai papa di sana. Tidak lucu bukan, jika aku yang hanya anak magang berani membicarakan seorang pimpinan di tempat magang. Tapi bukan karena skandal percintaan loh ya, melainkan soal skandal alih waris.
Jam kerja pun berakhir. Aku dan Dila berjalan keluar dari ruangan devisi keuangan. Seperti biasanya, sebelum meninggal gedung kantor aku dan teman-teman yang lain selalu menyempatkan untuk berkumpul lebih dahulu di musholla kantor.
Selain untuk menunaikan solat ashar lebih dulu, juga untuk sharing tentang pekerjaan di hari itu. Dengan suasana yang santai, bisa sambil tiduran, juga selonjoran. Melepaskan penat akibat bekerja seharian. "seperti ini ya rasanya bekerja" pikir ku.
Selain lelah tenaga, lelah pikiran, harus juga lelah hati.
Handphone ku berdering, Dian memanggil.
"assalamu'alaikum" sapa ku.
"Wa'alaikum salam. Maaf ya tadi gak bisa angkat telpon. Ini baru selesai meeting"
"iya, gak apa. Ini juga sudah mau pulang"
"ya sudah. Hati-hati di jalan ya sayang. Sampai ketemu di rumah. Assalamu'alaikum"
"wa'alaikum salam" panggil berakhir. Dan ini menjadi setetes tambahan tenaga untuk sampai ke rumah.
"lesu amat sih Kay kelihatannya" tegur salah satu temen.
"jangan bilang kamu galau, gara-gara habis di genitin cowok" kata Dila.
"astaghfirullah Dil, mana mungkin.
Aku ini udah istrinya orang, bukan cuma pa. ca. ran.
Gak gak mungkin lah gara-gara gitu aja galau" aku bicara lebih keras di akhir kalimat.
"ewh, sorry. nge-gas yah" kata ku kembali.
"Kayra, di cari sama asisten pak bos tuh" salah seorang tekan lelaki memanggilku.
Sebab mereka para lelaki ngerumpi sendiri di luar musholla.
Aku pun keluar. Dan mendapati mas Riza yang sepertinya yang sepertinya ngos-ngosan. Entah habis lari-larian darimana saja.
"iya mas" kata ku.
"mbak Kayra dicari-cari gak taunya di sini. Capek saya mbak muter-muter keliling gedung" sampai sekarang pun mas Riza belum juga menyimpan nomor telepon ku.
Sempat beberapa tahun yang lalu, awal-awal mas Riza bekerja bersama papa. Aku menangkap gelagat kalau dia berusaha mendekati ku. Itu sebabnya aku memperingatkan semua orang, termasuk adek supaya tidak ada yang pernah memberikan kontak telpon ku pada nya.
Tapi jika ini urusan pekerjaan, urusan kantor. Kenapa tidak minta sama papa saja?
"iya mas, aku sama teman-teman selalu berkumpul di sini setelah jam pulang" ada perasaan kasihan juga membiarkan anak orang ngos-ngosan hanya untuk mencari aku.
"bapak sudah pulang dari tadi mbak, soalnya mau bertemu sama klien dulu. Saya di suruh bapak untuk antar mbak Kayra"
Seketika semua pandangan kata menuju pada ku begitu mendengar ucapan mas Riza.
"ecciieee" suara ledekan kaum hawa dari dalam masjid.
"gak usah repot mas. Biar saya bareng sama teman yang pulangnya searah saja" tanpa berfikir panjang aku mencari alasan supaya tidak semobil berdua saja dengan laki-laki lain. Bisa ngamuk Dian kalau tau.
"beneran mbak?
__ADS_1
Tapi ini perintah bapak. Nanti saya kena marah kalau gak antar mbak Kayra dengan selamat sampai rumah"
"gak apa mas. Nanti aku yang bicara sama papa"
"yasudah kalo begitu. Saya kembali ke ruangan, masih ada pekerjaan yang belum selesai"
Mas Riza pun meninggalkan musholla.
"beneran Kay, kamu mau pulang bareng sama aku? " tanya Dio, Satu-satunya orang yang searah dengan ku.
"aku bawa motor loh" ia mengingat.
"bukannya gak mau Kay, tapi takut ah sama suami loh. Gak berani gua mepet-mepet sama istri orang" kata Dio jujur.
Seketika membuat aku menepuk jidat.
"iya, gak kepikiran tadi kalo kamu pakek motor Dio"
Mendengar keributan di luar akhirnya semua yang di dalam musholla ikut keluar.
"kenapa gak mau sih di anterin mas Riza, cakep tau orangnya, baik lagi, sopan" kata Dini.
"ye.... itu mah kamu aja yang suka sama pak Riza"
di sambut oleh riuhan teman-teman yang lainnya.
Yah, hanya aku yang memanggil mas Riza dengan sebutan "mas". Itu karena dia yang meminta. Lainnya mana berani menggunakan panggilan itu.
" sama sajalah, semobil berdua sama orang lain. Singa di rumah bisa langsung ngamuk kalo lihat itu" celetuk ku.
"hah. Ribet bangun hidup lo Kay. Sepertinya gak enak ya nikah muda itu, jadi takut aku tuh"
ada lagi yang berkata
"kamu sih Kay, buru-buru aja nikahnya. Jadi ribet kan kalo gini. Enakan kita kita yang single, bebas"
"kalo jodoh itu sudah datang waktunya, siapa sih gays yang bisa nolak? Emangnya ada yang bisa nego ketetapan Allah? "
Seketika semua diam. Hanya mengangguk kepala.
"Nah, pada speechless kan.
Udah Kay gak usah dengerin mereka pada. Kamu pesen kendaraan online aja" Dila menengahi.
Benar kata Dila, lalu aku langsung memesan kendaraan online.
Karena waktu sudah menunjukkan tepat pukul lima, teman-teman yang lain pamit untuk pulang lebih dulu. Ya, anak-anak magang di persilahkan pulang satu jam lebih awal dari jam seharusnya.
"iya, gak papa"
"aku temenin Kay, sampai mobil jemputan dateng" Kata Dila.
Aku dan Dila pun berpindah ke dekat pos satpam. Beberapa saat menunggu, Dila mendapatkan panggilan masuk.
Ternyata Dila di suruh untuk jemput adiknya di rumah nenek dia. Akhirnya Dila tidak bisa menunggu ku sampai mobil jemputan datang.
Lima belas menit sudah aku menunggu, mobil jemputan tak kunjung datang. Sampai akhirnya pak sopir memberi kabar jika mobilnya tiba-tiba saja mogok.
Rasanya apes sekali hari ini. Sedangkan hari sudah semakin sore, ditambah dengan mendung yang menyelimuti, membuat suasana sore ini sudah seperti malam saja.
Mobil mas Riza melintas. Mendapati aku yang masih duduk di pos satpam, mas Riza menepikan mobilnya.
"loh, mbak Kayra, masih di sini"
"iya mas, tadi Dio cuma bawa helm 1" dengan cepat aku mencari alasan yang tepat.
"tadi aku sudah pesan mobil online, dan sopir nya kasih kabar kalau mobil nya tiba-tiba mogok"
aku kembali menjelaskan.
"yasudah mbak Kayra, saya antar saja. Sebentar lagi juga akan hujan" tawaran mas Riza masih berlaku rupanya.
Dan aku pun tak ada pilihan lain. Aku mengikuti langkah mas Riza menuju mobil. Mas Riza membuka kan pintu untuk ku.
Dalam perjalanan hening, lalu aku terpikirkan sesuatu
"mas Riza.... " sebenarnya aku ragu untuk mengatakan, tapi selagi ini masih awal. Aku tidak mau ini berlangsung berlarut-larut.
"iya mbak Kayra"
"Kayra bisa minta tolong gak, jangan perlakukan Kayra se-istimewa itu"
"istimewa bagaimana ya mbk, saya gak ngerti"
"ya,, gimana ya?
Ya pokoknya mas Riza perlakuan saya sama seperti ke anak magang yang lain saja. Gak usah dekat-dekat giu.
Tapi ya bukan dekat-dekat yang.....awh, susah omongannya.
__ADS_1
Mas Riza ngerti gak sih maksud aku"
"saya kan hanya melakukan apa yang di suruh bapak.
Tenang saja, sekali pun saya masih suka dan tetap suka sama kamu, saya bisa menempatkan diri"
"aduwh, mas... gak gitu masuk aku tuh. Kan, jadi gak enak gini.
Aku sedikit cerita aja ya mas. Aku tuh sebenarnya sudah nolak untuk magang di tempat papa. Karena aku tau, nanti pasti akan ada perlakuan berbeda antara aku dan teman-teman yang lain. Hal kecil aja, gini. Semua karyawan pasti nyapa, senyum, hormat, karena tau kalau aku anak bos mereka. Aku gak mau ada cemburu sosial diantara kami anak-anak yang magang."
"terus kenapa mbak Kayra akhirnya jadi magang di sini? "
"terpaksa, soalnya sudah keluar masuk beberapa kantor gak ada yang cocok. Akhirnya orang rumah mendesak aku supaya nrima tawaran papa. Dan begitu teman-teman aku kasih tau, mereka setuju aja"
"nah, itu artinya teman-teman mbak Kayra kan sudah tau kalau mbak Kayra ini memang istimewa. Jadi gak berhak juga mereka mau cemburu sosial"
"tapi ya, tetep aja aku gak enak sama mereka mas.
Aku juga sudah menduga kok, jika aku nrima tawaran papa magang di kantor, sudah pasti papa akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenalkan aku pada rekan-rekan bisnisnya"
"lagian mbak Kayra kenapa dari dulu enggan sekali sih main ke kantor bapak?
Takut sama saya ya? "
"ewh, enggak mas Riza, enggak. Kenapa jadi mikir gitu sih.
Ya aku gak suka aja, jadi pusat perhatian"
"terus kenapa sampai sekarang aku masih gak boleh simpen nomor kamu?
Jangan bilang sekarang gak boleh sama suami. Dan tadi gak mau saya antar gara-gara takut sama suami"
deg, kenapa jadi pembahasan panjang lebar begini sih. Huft, Nyebeliiinnn
"siapa juga yang bilang seperti itu" gumam ku. Padahal dalam hati memang iya.
"ekhm, memangnya papa gak mau kasih nomor aku ke mas Riza sampe sekarang? "
"kalo di kasih ya gak perlu aku muterin gedung nyariin kamu" tersira raut kesal di sana.
"karena sekarang kita partner kerja, save deh nomor aku"
Mas Riza mengulurkan handphone nya. Dengan ragu aku mengambil
Aku ketik nomor ku sendiri lalu ku beri nama
"Kayra" ku ucap kan nama ku sendiri.
"gini ya mas? aku misscall" aku tunjukkan handphone nya pada mas Riza.
"Sudah masuk juga nomor mas Riza di handphone ku"
Mas Riza hanya mengangguk. Lalu ku kembalikan handphone pada pemiliknya.
Detik berikut nya handphone ku benar-benar berbunyi, Dian.
"assalamu'alaikum"
"waalaikumsalam. Kamu sudah pulang? Ini papa sudah sampai rumah duluan"
"iya, aku sudah di jalan. Tadi masih nunggu mas Riza selesaikan kerjaannya dulu, jadi agak telat"
"yasudah, aku tunggu di rumah, udah kangen"
"iya, assalamu'alaikum"
Panggilan berakhir.
Aku jadi malu pada mas Riza, karena tadi panggilan aku loudspeaker. Di luar hujan deras, sehingga suara yang masuk tidak begitu jelas.
"ciiee, yang pengantin baru. Bawaannya kangen terus"
"iya.
Mas Riza cepetan nikah juga biar ada yang di kangenin"
"nanti, nunggu ketemu cewek yang sama seperti kamu"
Aku langsung speechless mendengar jawaban mas Riza.
__________________^_^__________________
hay 👋
sahabat setiap Kayra speechless juga gak nih?
ekhm 🤔... bakal muncul pebinor gak yaaah?
ikuti terus ya perjalanan Kayra
__ADS_1
jejaknya jangan lupa 😘