
Rahardian POV
Dua hari yang lalu aku baru diberi tau jika Melan akan melangsungkan lamaran secara resmi. Setelah beberapa hari sebelumnya aku sempat mendengar bahwa ada seseorang yang datang kerumah nya untuk meng khitbah, tak lain adalah saudara sepupu Kayra, kak Gilang.
Awalnya aku tak punya rencana apapun, hanya saja aku telah membeli sebuah kalung emas dengan memesan liontin atas nama inisial kami berdua, dari gaji pertama ku bekerja. Sekalipun aku belum tau, kapan moment yang tepat untuk memberikan nya.
Pagi sebelum acara lamaran Melan, aku sengaja datang ke rumahnya pagi-pagi. Karena nanti Kayra akan pulang.
Entah kenapa, aku masih saja suka melakukan kebiasaan lama ku. Yaitu memperhatikan gadis itu dari atas balkon lantai dua rumah Melan. Dari sana aku dapat menangkap segala gerak gerik gadis impianku ku itu. Saat dia berada di teras bawah maupun di balkon lantai dua.
Di sana aku menyelesaikan sedikit pekerjaan yang harus ku serahkan siang ini. Karena bersifat mendesak, sehingga hari minggu pun tetap di terjang.
Saat membuka laptop aku baru sadar, ada catatan hari ulang tahun Kayra muncul di sana. Entah sejak kapan aku menyimpan nya, bahkan aku sudah lupa. Karena di tahun-tahun sebelumnya notifikasi itu tidak membuat aku melakukan apapun. Kecuali menundukkan kepala sejenak sembari mengangkat tangan, menyebutnya dalam doa. Hanya sebatas itu.
Saat itu juga aku langsung berencana untuk melamar Kayra. Entah hal apa yang membuat aku merasa mantap hati untuk melakukan nya. Saat itu juga aku pulang untuk menemui abi dan ummi. Sontak keberanian ku pun muncul begitu saja untuk meminta ijin pada abi serta ummi.
"abi, ummi, bisa bicara sebentar" ucap ku dan sontak mereka berhenti dari aktifitas masing-masing.
"kenapa kok tumben, ada apa? " tanya abi.
Lalu kami duduk bertiga.
"abi, ummi, selama Dian tidak pernah meminta apapun yang berlebihan kan. Apalagi soal fasilitas" kata ku terhenti.
"iya, ada apa. Kamu ingin dibelikan apa? " tanya ummi.
"tidak ummi, Dian tidak minta soal uang. Alhamdulillah sekarang Dian sudah bekerja dan sudah cukup dengan uang itu. Tapi Dian punya satu permintaan dan Dian mohon dengan sangat, janganlah di hambat"
"minta apa, katakan saja" kata abi.
"Dian ingin melamar Kayra bi, ummi"
"apa??????? " sontak ummi berteriak dengan keras dan berdiri. Aku tau, ini akan terjadi pada ummi. Akupun sudah siap menghadapi.
Lantas abi menarik tangan ummi agar duduk kembali.
"ummi tolong diam, biarkan abi yang bicara" abi memperingati ummi.
"tapi bi, tidak bisa. Bagaimana pun juga aku ibunya" ucap ummi dengan nada meninggi.
"Ummi cukup! Biarkan abi yang bicara" sontak ummi terdiam karena bentakan dari abi.
"Apa kamu sudah yakin dengan pilihan kamu?
__ADS_1
Jika iya, lakukanlah. Apapun itu yang kamu rasa baik dan membuat kamu bahagia, abi ridho"
Baru juga selesai abi selesai bicara, ummi langsung berdiri "abi, keterlaluan".
Lalu pergi meninggalkan kami.
Aku menatap kepergian ummi dengan perasaan sedih. Rupanya ummi belum juga memahami ku.
"sudah jangan terlalu di pikirkan soal ummi. Itu urusan abi. Lakukan yang menurut kamu terbaik"
sambung abi.
"kalau Dian mau melamar nanti, saat di acara pertunangan Melan selesai, gimana abi? " aku meminta pertimbangan pada abi.
"nanti? apa itu tidak terlalu cepat? kan kita belum datang menemui orangtua Kayra"
"nanti malam kita ke rumah Kayra apa bisa bi?
Lamaran nya hanya sebagai surprise bi, karena Kayra ulang tahun hari ini" aku menjelaskan pada abi.
"yasudah kalau begitu, lakukan lah. Biar abi yang bicara pada ummi" abi memang lebih mengerti aku daripada ummi.
Semoga saja abi berhasil memberi pengertian pada ummi. Sekali pun bukan aku sendiri yang berusaha meminta restu dari ummi, yang terpenting ummi memberi restu pada akhir nya.
Cukup lama aku menunggu, akhirnya Kayra datang juga.
Membuat aku makin semangat mengerjakan pekerjaan ku ini.
Sambil sesekali mencuri-curi pandang, kalau kebetulan terlihat 😄
Aku mengirim beberapa pesan, tapi belum juga di baca. Mungkin karena masih melepas rindu bersama keluarganya.
Apalagi banyak saudara Kayra yang datang, terutama keluarga kakak sepupu dia yang akan melamar Melan.
Aku terus menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat. Karena nanti aku akan membeli cincin terlebih dahulu sebelum ke kantor. Sebenarnya aku bisa saja mengirim lewat e_mail. Tapi supaya ada alasanlah untuk keluar.
Ekhm, kini aku di suguhi pemandangan yang menyegarkan mata. Bisa memandang Kayra dengan jelas. Karena dia berada di balkon lantai dua. Sayangnya Kayra bersama kak Gilang. Pakek acara pelukan segala. Cium pipi kak Gilang, jadi membayangkan kalau aku yang berada di situ.
Huh, cemburu pun bukan pada tempatnya.
Sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius. Sampai-sampai Kayra tidak melihat ke arah ku sama sekali.
Pekerjaan ku selesai, aku segera pergi dari balkon rumah Melan. Kembali ke rumah lalu pergi ke kantor. Aku sudah sangat semangat. Membayangkan melamar Kayra, membuat bahagia ku meningkatkan beberapa level. Bahagia yang sangat sangat sangat bahagia. Akhirnya, doa-doa ku selama ini akan terjawab juga.
__ADS_1
Bahkan aku sudah sangat yakin bahwa Kayra akan menerima lamaran ku. Bukan sok PD ya, tapi memang hubungan kami yang semakin membaik sejak terbuka nya aku atas diri ku. Terlebih setelah Johan menjauh, aku benar-benar merasa pada puncak kemenangan.
Semoga Engkau ridho ya Allah, dan beri kelancaran. Doa ku dalam hati.
Aku pergi dengan menaiki motor butut yang sudah menjadi sahabat setia ku kemanapun aku pergi, sejak SMP. Aku sudah terlalu sayang padanya. Sekalipun banyak teman yang mengatai ku, aku tetap tidak terpengaruh. Sudah terlanjur sayang.
Padahal abi sering kali menawari ku untuk membelikan yang baru. Bahkan sempat menawari ku untuk membeli mobil. Tapi aku rasa belum perlu. Hanya saja terkadang, sesekali aku memakai motor kakak saat dia sedang di rumah.
Karena rencana yang begitu mendadak, bahkan aku belum tau ukuran lingkar jari Kayra.
Begitu sampai di toko perhiasan, aku hanya diam terpaku memutar otak.
Sampai akhir nya muncullah pikiran untuk bertanya pada Nahla. Tapi aku tidak punya nomor telp dia.
Dengan sangat terpaksa aku meminta nomor telpon Nahla pada Johan.
Aku memang sempat marah pada Johan, bukan berarti juga aku sudah memafkan dia. Tapi yang namanya 'mantan sahabat' itu gak ada kan? Jadi sedikit banyak aku masihlah respect sama dia. Sekali pun tidak sedekat dulu lagi.
Bagitu nomor telpon Nahla aku dapat, aku segera menghubungi nya.
Tapi dia tidak langsung memberi tahu ku. Melainkan bertanya kesana kemari dulu. Jadilah aku menceritakan rencana dadakan ku padanya. Baru setelah itu aku mendapatkan yang aku mau.
Huh, dasar cewek ya. Banyak tanya, gak bisa se simpel cowok!
Tapi tak apa, Nahla sangat mendukung. Dan itu satu tambahan point plus lagi untuk rencana ku.
Beberapa kali ku edarkan pandangan ku. Akhirnya ku temukan juga model yang pas juga ukuran yang pas. Akhirnya... dapat juga!
Karena terlalu lama di toko perhiasan jadi aku memutuskan untuk langsung pulang. Sebab aku masih punya rencana untuk mampir ke toko florist.
Tapi sebelumnya aku mencari tempat duduk dulu mengirim e_mail.
Aku masih harus memburu waktu untuk kembali mencari toko yang menjual kotak perhiasan. Karena di toko perhiasan tadi tidak ada kotak cincin yang pas.
Rasanya perjuangan sekali, tapi tidak apa. Aku semangat empat lima untuk mendapatkan semua barang itu. Demi impian yang sudah di depan mata.
Tepat adzan dhuhur aku tiba di rumah. Akhirnya, lega juga. Semoga berjalan sesuai rencana. Padahal Melan yang punya acara, tapi aku menyerobot begitu saja.
Tapi tadi aku sudah memberi tahu Melan tentang rencana ku. Dia mengijinkan, bahkan dia sangat mendukung. Aku mendapatkan tambahan satu point plus.
Kini giliran aku memenuhi panggilan adzan dhuhur. Sebab Allah sedang mengabulkan doa ku.
________________^_^_______________
__ADS_1