
Rahardian POV
Aku seketika berdiri menyambut kepulangan calon papa mertua. Setelah bersalaman aku pamit untuk pulang. Tanpa menghiraukan lagi bisikan Nahla pada mama, "ma tolong rahasiakan dulu ini dari papa ya".
Untuk selanjutnya biarlah Nahla yang menceritakan lebih detailnya, karena dia cukup tau dengan apa yang terjadi. Setidaknya aku sudah membuka jalan untuk mengakhiri perseteruan diantara kami.
"papa baru datang kok kamu sudah pulang aja Dian" calon papa mertua tak kalah ramahnya dengan calon mama mertua.
"iya pa, saya sudah dari tadi ngobrol sama mama. Sebentar lagi juga adzan magrib"
"iya juga. Yasudah kalau gitu. Papa juga mau mandi, bersih-bersih dulu ini"
"ya, silahkan pa. Saya permisi, ma, Nahla, assalamu'alaikum"
Setelah mendapat jawaban salam dari kedua calon mertua aku melangkah keluar rumah dengan diantar oleh Nahla.
"makasih ya kak, aku jadi lega sekarang. Gak ngrasa bersalah lagi"
"Sama-sama. Lain kali di pikirkan dulu sebelum ngasih usulan apapun pada siapapun"
"siap calon kakak ipar! " dengan gayanya yang tegas Nahla mengangkat tangan kanannya dan meletakkan di pelipis sebagai tanda siap.
"Selanjutnya biar aku yang selesaikan sama mama ya, nanti kak Dian tunggu kabar baiknya aja dari aku"
"sip. Memang itu yang seharusnya.
Balik dulu ya calon adek ipar, assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam" jawaban salam dari calon adik ipar terdengar sayup-sayup, sebab aku melangkah dengan lebarnya.
Memang sih sekarang aku sudah tidak harus mengendap-endap lagi untuk mendatangi area ini, tapi panggilan adzan membuat ku terpanggil untuk sampai di rumah dengan segera.
Sejak aku bekerja, Muazin sepenuhnya di dijalankan oleh kepengurusan remaja masjid. Mengingat jam pulang kerja ku yang terkadang tidak sesuai jadwal.
Bukan hanya Nahla, akupun kini lega.
Berharap hubungan baik yang dulu aku jalani bersama Ahmat ......eh... Johan, akan kembali lagi seperti dulu. Sekalipun perasaan berbeda pasti akan jelas terasa. Mungkin rasa berbeda itu bukan pada diri ku, karena aku tidak harus lagi merasa cemburu pada dia.
Melainkan pada Kayra.
Bisa ku tebak, rasa bersalah karena telah menolak Johan dan memilih aku, pasti menghantui hati kecilnya. Apalagi dengan pukulan berat yang sempat di alami oleh Johan. Aku cukup faham dengan perasaan lembutnya pada semua orang.
Tapi entahlah, bagaimana dengan pukulan berat yang dialami oleh Kayra sendiri?
Perasaan marah, malu karena di lecehkan. Bahkan aku sendiri saja belum pernah menyentuh nya secara intens dengan jarak lebih dari 500 centi.
Kurang ajar memang. Membayangkan hal itu saja rasanya amarah ku sudah di ubun-ubun. Beruntung semua bukan atas dasar keinginan semata. Jika tidak, mungkin Johan hanya akan tinggal nama. Tidak akan pernah lagi aku biarkan dia melihat Kayra sedetikpun.
__ADS_1
Belum juga satu pekan kami berpisah, rindu ini rasanya sudah terlalu berat. Berat untuk membiarkan Kayra di lihat oleh sembarangan mata. Karena kini dia milik ku.
Rasa bahagia membuat ku selalu ingin menatap nya. Mengingat senyuman Kayra membuat ku sulit untuk memejamkan mata.
Padahal perasaan ini bukanlah baru saja. Bertahun-tahun aku menatanya dengan rapi, namun kini rasanya mulai berserakan. Aku tak tahan untuk diam saja menyaksikan jarak yang lagi-lagi memisahkan.
Haruskah aku meminta Kayra untuk kembali ke rumah?
Bukankah dulu dia pergi untuk menghindari aku, yang selalu saja memberikan kegaduhan dalam hidupnya?
Dan bukankah kini hadir ku justru memberikan ketenangan dalam hidupnya?
Bukan hanya Kayra, akupun akan tenang jika ada di sisinya.
Beginikah rasanya jatuh cinta, apakah aku bucin?
Kenapa Kayra bisa tenang-tenang saja?
Apakah dia merasakan hal yang sama dengan ku saat ini?
Aaahhhhh, aku semakin tak tahan dengan rindu ini. Menghubungi Kayra itu jalan satu-satunya. Minimal aku bisa melihat senyumnya, dan suaranya akan membuat ku tenang untuk memejamkan mata.
Tapi sial, panggilan ku beberapa kali tidak di jawab juga. Bahkan aku melakukan panggilan ke nomor Siska juga, dan hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban.
Mendadak aku menjadi lemas, cemas, was-was.
Dan mereka akan baik-baik saja kan selama di lingkungan pesantren?
Tidak mungkin juga ada tamu yang berkunjung ke pesantren sampai jam segini.
Aarrgghhhh, pikiran ku jadi nglantur ke mana-mana.
Aku kirim pesan berulang kali, juga tidak ada tanda-tanda pesan ku di baca. Berarti fix.... Kayra sedang tidak memegang handphone.
Aaarrggh, aku hampir di buat gila oleh gadis satu ini. Mana mungkin aku menghampiri Kayra ke pesantren sekarang juga, bisa tengah malam sampai di sana dan sudah pasti aku tidak akan dapat apa-apa.
Semakin kesini semakin aku menginginkan gadis kecil itu selalu bersama ku. Berapa lama lagi aku harus berjauhan dengan dia? Kenapa harus selalu ada jarak diantara kami?
Ya Allah
kiranya Kayra benar jodoh ku, maka segerakan lah.
"Abi, Umi, Papa, Mama..... besok aku ingin menikahi Kayra" Sungguh kalimat ini ingin aku lontarkan saat ini juga.
Memikirkan kebahagiaan Johan, justru sekarang aku sendiri yang tersiksa oleh perasaan rindu ini.
Memang benar kata orang, "rindu itu berat".
__ADS_1
Tapi aku sadar, seberat apapun rindu ini, masih tak sebanding dengan beratnya pukulan yang dialami oleh Johan.
Alih-alih mengalihkan rindu yang tak tersampaikan, akhirnya aku menghubungi Johan. Anggap saja aku sedang patah hati untuk malam ini, patah hati karena rindu yang tak sampai.
Sekalipun tak sebanding dengan apa yang Johan rasakan, setidaknya aku taulah rasanya kecewa itu seperti apa.
Sesama lelaki patah hati mungkin akan bisa saling menghibur.
Aku menghubungi Johan, diawali dengan basa-basi dan pada akhirnya sedikit membahas isi hati. "iya,lagi suntuk. Gak bisa tidur" cukup Kalimat seperti itulah yang mewakili. Gak haruskan aku cerita yang sebenarnya. Bisa semakin terbakar perasaan si Johan.
Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di luar, mengunjungi tempat yang sudah sangat lama tidak kami jejaki. Sejak perseteruan saat itu.
Warung kopi tepian sawah, yang begitu meriah dengan suara cicitan katak dan gemerlap lampu para pemburu belut sawah.
Suasana tenang dari lalu lalang kendaraan. Udara segar jauh dari polutan jalanan.
Ketenangan, itulah yang kami dapatkan dengan berada di sana. Sepertinya itulah yang kami butuhkan saat ini. Para lelaki patah hati.
Lagi-lagi karena Kayra.
Jatuh cinta pada Kayra.
Bertengkar soal Kayra.
Patah hati karena Kayra.
"Kayra.... Kayra.... kamu memang istimewa"
cuitan terahkir ku sembari menutup pintu kamar.
_________________^_^_______________
Hai-hai 🥰
author kembali dengan cerita receh yang belum mumpuni.
sekali pun belum mampu memikat banyak hati,
semoga masih ada yang tetap setia dengan kelanjutan kisah ini.
cukuplah satu jejak sebagai penyemangat diri 😍
terimakasih untuk masih setia memberi
LIKE, COMENT, VOTE, HADIAH
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1