
Setelah aku menjumpai Siska di belakang panggung, bisa ku lihat dia sehat sibuk memoles tipis wajah peserta perwakilan dari pesantren. Tapi bukan untuk membantu dia kehadiran ku di nantikan, melainkan untuk menjadi sopir. Mengantarkan adek santri membeli sesuatu yang kurang.
"boleh ya Kay. Kan mobil kamu yang parkir di luar, gampang keluarnya". Siska membujuk seolah aku ini seseorang yang pelit memberi bantuan saja.
"ok ok. Aku ambil kunci mobil dulu kalo gitu" aku kembali keluar, berjalan menuju rumah paviliun.
Begitu aku keluar kembali, sudah ada seseorang yang menunggu.
"Kenapa juga harus cowok, yang cewek aja gak ada apa" gerutu ku dalam hati. Untuk pertama kalinya jalan sama brondong tingkat aliyah.
"ayo dek" mau apalagi sapaan yang bisa aku gunakan kalau bukan 'dek'.
Aku antarkan dia ke toserba terdekat. Dari dalam mobil aku bisa melihat beberapa barang sedang dia beli.
"sudah, langsung pulang apa masih ada yang mau dibeli lagi?"
"gak ada sih kak. Tapi kalo saya boleh nitip kirim paket sama kakak, ya ada" dilanjutkan dengan Solo tawa. Sementara aku tidak tau dimana letak lucunya.
"kirim paket, buat orang tua?" tanya ku, menanggapi dengan seriusnya.
"bukan, tapi buat pacar. Hahahahahah" lanjutnya lagi dengan tawa lebih panjang.
"hawh, uang aja masih dapat kiriman dari orang tua udah kirim barang buat pacar. Sekolah dulu tuh yang bener" ucap ku jengah. Bisa-bisanya, yang dia pikirkan pacar ternyata.
"ah kakak ini. Seperti gak punya pacar saja" ucapnya santai.
"memang gak punya" jawab ku tak kalah santai.
"hah, serius kak? " kali ini dia memasang wajah heran.
"segede kakak gak punya pacar? " lanjutnya.
"penting banget ya buat kamu? "
"penting kak. Kalau jomblo mau daftar jadi pacar"
Kali ini tawa ku yang pecah mendengar apa yang dia ucapkan.
"dasar bocah. Pergi aja masih minta diantar, di sopirin pula. Mau ngelamar jadi pacar? cuci muka dulu sana, biar bangun dari mimpi"
Saat itu juga mobil telah sampai di pesantren. Tak menunggu aku memarkirkan mobil itu bocah sudah turun, kabur duluan.
__ADS_1
"ah kakak, gak asik" serunya sambil membuka pintu dan turun.
Dasar, bocah jaman NOW. Sekolah saja belum tentu benar sudah pacaran yang di dahulukan. Beruntung aku bukan salah satu dari mereka.
kklliinngg
"cie, yang habis jalan sama brondong" ~ Dian
Suara pesan masuk. Ternyata dari Dian. Aku tersenyum tipis. Pasti dia ada di sekitaran tempat ku memarkir mobil. Entah sengaja atau tidak, mengawasi ku itu memang sudah menjadi hobi dia sejak dulu kala.
"maklum jomblo 😄 brondong pun di angkut" ~send
kklliinngg
"aish, aku juga mau loh diangkut" ~ Dian
Tanpa membalas kembali pesan dari Dian aku turun dari mobil.
Ada segerombolan orang sedang berbincang di ujung pintu masuk. Dan ada sepasang mata yang sama sekali tidak bergerak menyaksikan setiap langkah kaki ku.
Tak ada suara yang menghentikan langkah ku. Tapi senyuman itu bisa kulihat sekalipun dibawah lampu yang remang-remang.
Langkahku mulus sampai tiba di ruangan panitia. Hanya bisa menelan ludah selama perjalanan. Tadi di chat sok menggoda, ternyata pas ada orangnya cuma berani senyum saja.
"enggak, bukan itu?" ucap ku singkat. Tidak memungkinkan juga untuk mengatakan apa yang membuat ku merasa tak jelas seperti ini.
"terus? " bukan Siska namanya jika tidak mengejar sampai mendapatkan jawaban yang dia mau.
"nanti aja aku cerita. Oh ya, apa lagi nih yang bisa aku bantu? " mengalihkan pembicaraan, aku rasa itu lebih baik.
Kemudian Siska mengajak ku untuk mengerjakan beberapa hal membantu dimana saja yang masih memerlukan bantuan. Maklum, pembantu umum.
Setelah tak ada lagi yang perlu dikerjakan, teman-teman yang lain mengajak untuk ikut menyaksikan lomba.
Tak disangka ternyata kak Maryam datang, tentunya bersama suami tercinta, kak Nicholas. Sehingga aku menyapa beliau di kediaman ummi. Kak Maryam bersama keluarga yang lain menyaksikan dari teras rumah.
Sudah seperti bertemu kakak sendiri saja. Dan sudah seperti bersama keluarga sendiri saja. Beruntung tak ada ustadz Billal di sana karena beliau menjadi panitia.
Keponakan satu yang super rese terus saja menggoda ku. Pada akhirnya semua keluarga menjadi tahu, termasuk kak Maryam. Untung saja sudah berlalu, aku hanya bisa tersenyum tersipu malu.
Setelah sekian lama, kak Maryam akan menginap di pesantren malam ini. Tentunya di rumah paviliun.
__ADS_1
Bisa jadi akan menjadi malam yang panjang hari ini. Dalam hati sudah was-was, bisa jadi di interogasi soal ustad Billal ini.
Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Tapi acara perlombaan tidak diselesaikan hari ini juga. Akan dilanjutkan pekan depan untuk final. Tepat saat acara haul pesantren.
Aku meninggalkan kak Maryam untuk ikut bergabung beres-beres.
Masih ada beberapa juri yang tinggal di sana. Termasuk ustadz Billal. Mata ku selalu berusaha menghindari supaya tidak melihat beliau. Darah ku masih terasa membeku jika mengingat percakapan tadi bersama keluarga besar.
Betapa sosok yang berjuang keras untuk meraih mimpi. Betapa sosok yang begitu gigih dalam menghadapi kerasnya hidup. Beliau hidup tidak semata membalikkan telapak tangan pada orang tua. Pendidikan s1 sampai s2 beliau tempuh dengan hasil jerih payah sendiri. Bahkan selama menempuh pendidikan di Turki tidak sekalipun menerima kiriman uang dari orang tua.
Sebelum pendidikan beliau selesai, sudah mendapatkan tawaran kerja di kedutaan. Dan setelah pendidikan beliau selesai, mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen di tempat beliau menimba ilmu. Tapi sayangnya, beliau sudah terikat janji pada sang abi untuk tetap kembali ke pesantren ini, sejauh manapun beliau menempuh pendidikan.
Selama itu juga ustadz Billal tidak pernah mengenalkan seorang wanita kepada keluarga. Mungkin karena fokusnya beliau dalam belajar. Dan mungkin karena itulah beliau terlalu kaku terhadap wanita, seperti kepada kemarin misalnya.
..."Ah tidak, kenapa pikiran ku di penuhi oleh ustad Billal" beberapa kali aku menggelengkan kepala. Memejamkan mata. Tapi yang ada, justru ada sosok yang membuat darah ku benar-benar membeku saat membuka mata. ...
"kamu boleh istirahat lebih kalau capek. Saya lihat kamu pulang sudah malam, terus ikut bantu-bantu. Kamu kelihatan pucat sekali" tangan beliau terulur menempel di kening ku.
Tuhan, tolong. Siska kemana sih disaat seperti ini.
"saya tidak sakit ustadz, hanya sedikit terketuk dengan kisah anda" ucap ku dalam hati, sementara mulut ku mengnganga sulit untuk berkata.
"Siska, ini Kayra kamu ajak istirahat saja. Sepertinya dia sudah kelelahan" teriak beliau saat Siska melintas.
"kamu sakit Kay, pucat gini? " tanya Siska begitu mendekat.
aku menggelengkan kepala.
"ya sudah. Kamu aja Kayra istirahat. Ini juga sudah terlalu malam. Dilanjutkan besok pagi saja beres-beres nya" lanjut ustadz Billal berkata.
Aku kembali ke rumah paviliun bersama Siska. Saat kami memasuki rumah di dalam sudah sepi. Aman, pikir ku. Aman dari interogasi kak Maryam.
Dan sudah pasti Siska pun akan banyak pertanyaan.
Sudahlah, lanjut difikirkan besok lagi. Otak ini sudah ingin istirahat.
________________^_^______________
sudahlah, author gak berharap banyak. Apapun yang di dapat itu bonus. Yang pasti cerita ini akan tetap sampai pada akhir.
Sedikit garing, kurang greget?? maafkan baru karya pertama 🙏🙏 kritik dan saran, yuk komentar
__ADS_1
semoga pembaca Kayra masih tetap setia 😍😍
setia mengikuti kelanjutan cerita + bonus lain-lainnya 🥰 pembaca bahagia author juga bahagia