KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Blue Fire - Kawah Ijen


__ADS_3

Kaki sudah lumayan lelah, tapi semangat belum boleh patah.


Dan hari ini adalah puncak dari liburan, Kawah Ijen yang ditunggu-tunggu. Karna kami harus sampai disana sebelum subuh untuk mendapat kan spot terbaik, jadi kami harus berangkat malam hari.


Medan cukup menantang, sehingga kak Gilang putuskan membawa lebih banyak personil laki-laki, atau minimal imbang untuk berjaga misal saja ada yg lelah ditengah perjalanan, mengingat kami yang belum pernah mendaki sebelumnya.


Seperti yang sudah diajukan Remond, dia ikut bersama satu orang lagi teman. Dan kak Gilang menambah tiga personil lagi dari teman dia.


"kalian yakin mau kesana" tanya bude Sintha berulang kali, nampak menghawatirkan


"tenang aja ma, anak mama ini pasti jagain" jawab kak Gilang yang berusaha meyakinkan bude Sintha


"tadi Khan sudah istirahat seharian bude, InsyaAllah kuatlah" jawab ku datar


"jangan lupa bahagia, biar nambah kekuatan" kak Gilang masih saja memberikan wejangan, layaknya komandan


Kali ini kami berangkat dengan menyewa mobil Jeep yang disiapkan oleh Remond.


Jadi kami berangkat ke rumah Remond dengan mobil kak Gilang.


Asiknya jadi cewi-cewi, asiknya pula punya kakak yang super dan bersyukur ketemu teman yang baik hati pula. Sehingga kami tidak harus terbebani dengan perbekalan, cukup membawa ransel kecil.


Bude melepas kepergian kami, udara dingin mulai terasa begitu mobil mulai melaju. AC alami


Setelah beberapa lama menerjang kegelapan malam, sampai juga dihalaman rumah Remond. Disana nampak sudah siap, terdengar suara khas deru Jeep.


Mobil kak Gilang terparkir sempurna, kami segera turun. Dan selalu ku dapati senyuman tersungging dari bibir Remond.


"sesederhana inikah diri ini bahagia? cukup dengan senyuman, perlakuan baik, sopan, santun,betapa ademnya hati. Baru juga kemarin bertemu dia, tapi rasanya sudah terlalu nyaman diri ini"


Gumam ku dalam hati, yang tanpa sengaja ku temukan kedamaian setelah mengenal dia.


Aku diam terpaku, bergelayut dengan pikiran ku sendiri. Tanpa ku sadari semua sudah siap di tempat duduk masing-masing,tinggal aku saja yang belum naik.


Sampai ahirnya suara kak Gilang mengagetkan


"mau ditinggal nih"


kemudian aku masuk, duduk di tengah bersama adek dan Melan.


"malem malem... ngelamun... awas kesambet" ucap Melan


"ih... apaan sih" merinding juga jadinya aku


"hay... kalian. Daripada ngobrol, mending tidur sana ngecash tenaga" perintah kak Gilang


Untuk adek dan Melan mungkin gampang aja merem, tapi aku.... bukan tipe orang yang doyan tidur.


"gak tau jalan donk nanti kak kalo tidur" adek membantah


"lagian juga tadi seharian sudah tidur kak, masa iya sih masih kurang aja" timpal Melan.


Nah.... loh, keroyokan Khan jadinya


"kita cewek, tapi gak segitu amat lemahnya" lanjut si adek


"hahahahhaa.... belum tau apa kak Gilang, kecil kecil gini adeknya atlet maraton loh" ucap Melan sambil menepuk bahu adek.


Dan benar saja, yang ada bukannya tidur tapi malah saling ledek memecah keheningan malam.


Sementara Remond dan teman dia yang duduk di bangku sopir hanya sebagai pendengar.


Dua... tiga... kali Remond menengok ke arah ku. Dan aku balas menatap dengan senyuman.


Setelah beberapa lama, ahirnya kami sampai di kaki gunung ijen. Perjalanan memakan kurang lebih 1,5 jam. Tapi kami masih harus mendaki kurang lebih 3jam untuk smpai ke puncak.


Mobil sudah harus di parkir dan perjalanan pun harus dimulai.


Malam, tapi tak seperti malam.


Entah karna banyaknya orang yang berlibur, atau karna banyaknya orang yg mengejar spot yang sama.


Mungkin dua-duanya, karna kebanyakan orang yang berlibur mengejar spot yang sama.


Baguslah, jadi nambah semangat saja sekalipun udara di kaki gunung terasa sampai ke tulang.


Rombongan di pimpin oleh kak Gio kali ini, salah satu teman kak Gilang.


Pelan tapi pasti, ahirnya kami salip satu persatu dari rombongan para pejalan.


Dengan langkah yang hampir menyerah, ahirnya mulai kami temui terang-terang cahaya api "blue fire"


Luar biasah, menakjubkan! hilang sudah semua lelah dan rasa dingin yang tak hentinya menghantam.


Sekalipun begitu, ternyata kami masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk mencapai posisi aman dan nyaman, sebelum ahirnya kami mengabadikannya dalam kamera.


"jangan berfikir buat cari gebetan disini" bisik Remond mendekatkan wajahnya ke arah telinga ku.


Sepertinya dia memperhatikan aku yang celingukan, yang sebenarnya sedang mencari adek karna pengen foto bareng. Tapi entah dia menghilang ke sebelah mana bersama teman kak Gilang yang lain, mencari posisi nyaman lainnya mungkin.


"yaudahlah... foto berdua dulu aja yook" ahirnya aku ajak Melan foto bersama, setelah dari tadi kami asik memegang HP masing-masing.


"aku gak diajakin nih" ucap Remond mengusulkan diri


"berempat aja kalo gitu, gak boleh bertiga" ucap Melan


Ahirnya kami berfoto bersama satu lagi teman Remond.


Beberapa pose, dan adek muncul dengan segerombolan kak Gilang dkk.


"ayok sini gabung,kita foto barengan" ucap ku.


kali ini Remond mengatur posisi mengambil gambar dengan kamera yang berdiri diatas tripot.


1 gaya, 2 gaya, 3 gaya, setelah banyak jepretan kemudian kami cek isi gambar yang tertangkap.


Menakjubkan, blue firenya aja yang nampak jelas, hihihi 😁 orangnya gelap


Sementara kak Gilang memberi tau posisi lain yang tak kalah cantik untuk menangkap blue fire.


Sedangkan aku masih asik menggeser kamera7 Remond. Sampai ahirnya aku menemukan foto-foto diri ku sendiri, rasanya seperti sedang bercermin.


Tak hanya puluhan, cuma bisa nelen ludah dew


hapus gak yah, hapus gak yah, hapus.,. enggak... hapus...


Baru juga satu tempat ini tadi, malahan pas aku berdiri mematung sebelum masuk mobil pas mau berangkat tadi, ada juga di kamera.


Gimana dengan moment yang kemaren-kemaren. Wah, sepertinya sebelum balik ke Jogja mesti sidak dulu nih.


"hustt.. nanti aja lihat fotonya pas udah di rumah. Keburu habis si api biru"


Kak Gilang menbuyarkan pandangan ku ke kamera


"kita pindah ke sisi lain" ucap teman kak Gilang yang lain.

__ADS_1


Setelah 3 kali kami berpindah posisi, rasanya sudah maksimal... indahnya dapet, puasnya dapet, senengnya dapet, tinggal nunggu sunrise sembari membuka perbekalan. Perut harus diisi kembali untuk mempertahankan kondisi panas tubuh, karna semakin mendekati subuh udara terasa semakin mencekam.


Kopi panas, pop mie panas, tak mempan lagi, langsung sruput.


Begini yah rasanya jadi anak gunung itu, rasanya semua Los.


Tak ada jaim, tak ada malu-malu, apalagi gengsi. Gengsi yah perut gak keisi.


Mungkin itu sebabnya,pencinta alam itu bawaannya Friendly. Karna jauh diatas gunung, yah itulah semua yang ada di sana keluarga. Kita tidak bisa memilih ingin berkawan dan tidak berkawan dengan siapa.


Hingga jam menunjukkan pukul 04.30


Awan mulai berubah warna, meninggalkan kegelapan malam.


"lihat Sunrise dari sini kak, apa masih mau naik sedikit lagi? " tanya Remond pada kaka Gilang, yang akan bersiap untuk mendirikan tripotnya.


"dari sini sih sudah terlihat bagus, kawahnya juga. Cewek-cewek itu masih sanggup gak kalau mau naik lagi" jawab kak Gilang.


Kami bertiga saling berpandangan


"kalo turunya sudah gak kuat lagi, ada kok jasa angkut gerobak. Nanti kita pakek itu saja" teman Remond memberi tau, karna kita belum sempat berkenalan satu sama lain. Satu-satunya yang sudah kenalan ya kak Gio, karna dia yang duluan datang kerumah gak Gilang. Lainnya ketemuan di jalan.


"gimana jadinya? " Remond kembali mengulang pertanyaan


"kalo naik lagi, ayo segera" ucapnya


"boleh dew, kalo nanti pulangnya naik.... gerobak itu" ucap ku memberi persetujuan.


gerobak amat sih sebut nya, kaya yang biasanya buat angkut sampah aja


"masih kuat dek?? Mel?? "aku mencoba mencari persetujuan dari mereka


"ok, siap... lanjut" adek masih nampak bersemangat


ahirnya kami kembali berkemas membereskan bekas perbekalan.


Pendakian kembalian dilanjutkan, suasana semakin riuh nampak betapa antusiasnya pengunjung menyambut datangnya sunrise. Ada sudah mulai bersiap dengan posisi masing-masing.


Beberapa menit berjalan, kami telah sampai. Benar-benar berada pada puncak teratas. Sampai-sampai tak muat lagi rasanya tempat ini, sangking banyaknya pendaki.


Udara terasa begitu bersih, terus ku nikmati setiap hembusan sembari ku sendekapkan kedua tangan.


Damai sekali rasanya berada di titik teratas ini. Entah kenapa, jiwa ku mulai terketuk.


Sementara si juru kamera tengah asik mencari posisi paling pas.


Si adek terlihat akrab dengan teman kak Gilang, dan Melan yang semakin akrab dengan kak Gilang. Entah kenapa, Tiba-tiba semua terasa bercerai, mencari tempat masing-masing untuk menyambut sunrise datang. Karna tidak ada tempat lagi bagi kami untuk duduk bergerombol, sehingga kami harus duduk di sembarang tempat diantara celah orang-orang yang sudah sampai terlebih dahulu.


Tiba-tiba kenangan berhamburan keluar.


Perkenalan dengan Remond yang baru saja, rasanya seperti sudah begitu lama, karna dia ramah, kami sama bahagia.


Sementara Dian, kenapa hubungan kami menjadi begitu menyedihkan. Hubungan ku dengan ustadzah menjadi jauh, bahkan kebencian yang aku dapat.


Bukankah dulu kami bersama diwaktu kecil??


Sementara,aku bisa menerima berdekatan dengan Remond yang baru juga kemaren kenal. Sedangkan dengan Kak Jo, butuh berapa lama bagi dia untuk terus berusaha dekat?!


Dan begitu aku mulai berani untuk dekat dengannya, dia harus pergi jauh. Hemmp, apakah aku merindukan Kak Jo, lama juga tak dengar kabar dia, sejak pengumuman kelulusan waktu itu. Kak Jo memang belum tau nomor HP ku yang baru, tapi di HP ku Khan masih tersimpan, kenapa tidak aku coba hubungi dia???


ok lah, mungkin nanti setelah kembali berlibur dari sini.


Dan, hemp.... dua sahabat ku yang lain. Aku melupakannya sejak kelas mitting berahir. Bahkan aku baru ingat kalau tidak sempat memberi tau mereka, bahwa aku dan Melan berlibur bersama kesini. Pasti nanti mereka ngomel-ngomel


Ku seka airmata ku, yang tak sengaja menetes sebutir demi sebutir.


kulihat kebelakang, ternyata Remond. Yah, baru juga kemaren bertemu, mana mungkin aku sudah menghafal suaranya. Lain halnya dengan suara Dian, yang dari jarak 5meterpun aku dapat mengenali suara dia.


"sudah selesai otak atik kameranya? " tanya ku


"handycam itu, aku ambil fotonya dari sini aja"


ucap Remond sembari mengambil posisi duduk di sebelah ku. Dia tinggalkan temannya bersama handycam yang berjarak sekitar 2meter dari tempat kami.


"kamu kenapa gak duduk sama yang lain" Remond celingukan mencari keberadaan teman yang lain. Karna sedari tadi dia langsung berdiri mencari posisi PW nya sendiri.


Sampai ahirnya dia sadari bahwa semua memang duduk berpencar.


"kamu kenapa nangis" tanya Remond


"nangis seneng" jawab ku singkat. Tak mungkin juga ku utarakan isi kepala ku..


"ah... mana mungkin, yang ada kalo seneng itu senyum.


kangen pacar ya, nyesel gak liburan bareng kesini " Remond menebak


rasanya tak ingin ku bahas tentang perasaan.


terlalu sayang melewatkan indahnya pemandangan di depan mata, ini moment paling aku ingin.


"gak usah tanyakan itu lagi. Ambil kamera mu aja, fotoin aku.. anggap saja aku jadi model kamu saat ini" ucap ku dengan nada sedikit memaksa.


model abal-abal


"gak mau.... kita foto bareng aja. Tadi udah banyak aku fotoin kamu sendirian" ucap Remond sambil kembali mengambil posisi disebelahku, membelakangi sunrise.


keceplosan atau gimana tuh anak.


"tapi gak asik... kurang natural kalo foto berdua" aku coba menolak. Karna semakin dekat dengan dia, itu tidak baik untuk kesehatan perasaan.


"kalo gitu kita butuh fotografer"


kemudian Remond memanggil temannya dengan nama sapaan, yg sudah sering mereka gunakan sepertinya.


"fotoin bentar yah" sembari menyerahkan kamera yang dia pegang


Beberapa pose, dan sepertinya cukup. Kamera diserahkan kembali pada Remond


"sekarang fotoin aku yang sendirian yah, pliiiss " sembari ku serahkan HP ku.


"tadi Khan fotoin nya nyuri-nyuri, sekarang aku sendiri yg minta tolong" aku bergeming, entah Remond dengar ucapan ku atu tidak.


MOMENT INI TERLALU INDAH UNTUK DILEWATKAN, HANYAK UNTUK IKLAN PERASAAN


setelah puas dengan berbagai macam pose, aku langsung lari meninggalkan Remond.


ku hampiri adek dan Melan, aku ajak foto bersama. Ini momend puncak lho, sayang banget dilewatkan


"ayo foto bareng" aku gandeng tangan adek tanpa menunggu persetujuan dari dia, kemudian menuju arah Melan berada.


"kak pinjem Melan sebentar, mau foto" ucap ku pada kak Gilang


saat aku kembali, Remond masih duduk dengan memandangi kamera di tangan. Mungkin bagi dia sunrise di tempat ini tidaklah seindah wajah ku di kamera, hahahaha 😂😂😂😂 (mulai kePDan deh kamu, Kayra)


"ok... siiiapp" aku kasih kode ke Remond, karna sepertinya dia belum menyadari aku yang sudah kembali ke posisi semula

__ADS_1


beberapa pose dan... kami menghampiri Remond. Aku ambil HP dari tangan dia. Mulai ku geser foto-foto, nice pictures


"yaudah yok kak" adek mengajak Melan kembali ke tempat masing-masing


tak ku hiraukan mereka pergi, aku masih asik menggeser layar kamera.


"nanti lagi itu bisa... nikmati dulu aja Sunrise nya, ntar nyesel kalo sudah kelewat"


ku lihat ke arahnya


nih cowok yah, hemmppp


dia baik, ramah, sopan, itu bener-bener nilai plus


tanpa aku berkata kata lagi, kembali ku nikmati sunrise. Tapi stop! jangan izinkan perasaan berkata-kata lagi.


Kali ini aku rekam sisa-sisa Sunrise di HP ku sendiri.


Sementara Remond juga sedang asik memperhatikan kameranya.


Kini mentari telah sampai di posisinya dengan sempurna.


Saatnya berganti objek, kawah.


Orang-orang pada berhamburan, bergeser meninggalkn tempatnya semula, dan kamipun kembali berkumpul.


"mau sarapan dulu apa lanjut foto-foto" tanya kak Gilang


"foto aja kak... tanggung" jawab adek dengan cepat


"iya, nanti aja makannya sekalian,.. sebelum turun" Remond menambahkan


"gini amet yah naik gunung sama cewek, makan mulu yang dipentingin" salah satu temen kak Gilang bergumam, entah memang sengaja mengatakan itu


tanpa ada tanggapan, semua sudah berada diposisi masing2.


setelah beberapa kali mengambil foto bersama, kami lanjutkan dengan foto berdua dengan adek, bertiga dengan Melan, berempat dengan kak Gilang. Dan lagi-lagi Remond minta jatah foto berdua.


Selebihnya selfi masing-masing, mungkin sampai rumah harus segera dipindahkan ke laptop, sebelum memory HP Hank.


Sesi puncak selesai, kembali kami keluarkan perbekalan. Sementara Remond dan temannya memesan 'gerobak' seperti yang tadi di sampaikan.


Pastinya rame, antri, dengan kondisi yang padat pengunjung seperti ini.


Enak yah kalau udah bener-bener menyatu dengan alam, sementara si cewek-cewek menyiapkan makanan, para cowok terlentang diatas bebatuan rebahan.


Kami siapkan roti tawar dengan selai kacang juga coklat, ada juga dengan mentega abon, takutnya ada yang gak suka manis.


Roti tawar dengan susu UHT, sepertinya cukuplah untuk mengganjal perut sampai ke bawah. Selebihnya nanti dilihat, ada kuliner apa di bawah sana.


(Lagi-lagi makanan yang dipikirin)


Setelah beberapa lama Remond bersama temannya kembali.


"mungkin 1jam lagi baru kita dapat. Gak papa Khan yah" ucap Remond memberi tau.


"gapapa, sekalian istirahat" Jawab kak Gilang


Kemudian kami semua berkumpul untuk memulai sarapan.


"kak Gilang keren, masih aja ingat solat subuh diatas gunung" Melan berbisik di telinga ku.


Aku hanya tersenyum, menanggapinyaa akan menjadi panjang, susah kalo ngomongnya sambil bisik-bisik.


"air panas masih ada gak, ada kopi Khan yah? " tanya salah seorang teman kak Gilang.


"ekhm... masih kok. aku buatkan dulu ya kak. Ada lagi yang mau kopi? " segera aku buatkan dan kembali aku tanyai mungkin saja ada lagi yang mau kopi


"aku juga mau" ucap Remond


"tumben luh ngopi" bisik teman Remond dan aku mendengarnya.


ahirnya aku buat 3,mungkin saja nanti ada yang berminat minum, kalo ternyata gak ada yang minum... yasudah aku minum sendiri aja.


"oh ya kak, semalem kita langsung pergi aja ya. Belum sempat kenalan, katanya Khan tak kenal maka tak sayang"


sembari menuang kopi aku mencoba memulai pembicaraan, karna aku rasa ini waktu yang cocok buat ngobrol bareng. Dari semalem momentnya gak tepat.


"wwkwkkwkwkw"


"ckckccckcc"


"hhhhhahhhhh"


suara mereka tertawa bersautan.


apa yang salah sama omongan aku??


"kamu aja kali Kay, kita udah kok. Ya Khan dek" ucap Melan di ahir suara tawa


"nglamun terus" ucap kak Gilang


Remond menatap ku tersenyum,


asem deh...apa yang sudah terjadi memang??


"kita itu udah kenalan semua kakak, kakak aja yang ngalmun terus, gak masuk-masuk mobil, untung gak ditinggalin.


Ini namanya kak Gio, yang kaos hitam polos namanya kak Aris, kaos hitam belang itu kak Dion, temannya kak Remond itu kak Zidan" adek menjelaskan


Waaah... bener-bener asem. Rasanya pengen lempar aja tuh termos isi air panas


"kakak ini, liburan malah gagal focus terus. Mikirin apa coba" adek mulai protes


"kayaknyaaaaaa....... " Melan tidak melanjutkan ucapanya, kemudian menengok ke arah Remond


dan lagi-lagi Remond tersenyum.


Oh... Tidak


apa yang terjadi, rasanya pengen sembunyiin muka ini dibawah bantal. Bantal, mana bantal???


Tak ada satupun yang berpihak pada ku


"tolong maaaaammmmaaaaa"


Buat kopi 3 cup aja rasanya seperti bikin kopi 3 nampan, gak selesai-selesai.


Begitu tertuang air 1 cup, Remond yang memang duduk di sebelahku langsung beriniastif mencari sendok dan membantu mengaduk.


"nih anak..... kamu terlalu baik, JANGAN tinggalkan jejak terlalu dalam di hati ku"


Tentang kopi sudah berahir, sarapan juga sudah selesai. Benar saja, 1 cup kopi tak ada yang meminum. Ahirnya aku ambil, dan mulai ku teguk.


sampai ahirnya aku berhenti di seruputan pertama, sepertinya aku lupa belum menuangkan gulanya. Beruntung aku sendiri yang minum, Bisa-bisa bully an terhadap ku menjadi semakin panjang.

__ADS_1


Sembari berjalan kearah gerobak yang sudah dipesan tadi, perlahan aku habiskan kopi itu.


Tenang, PAHIT nya kopi pagi ini masih kalah oleh MANIS nya sunrise di kawah Ijen


__ADS_2