
Jam pertama telah usai. Sebelum meninggalkan kelas aku mencoba menghubungi mama kembali. Tadi sewaktu kelas berlangsung mama menelpon ku balik, tapi mana mungkin aku jawab telepon mama.
Berbeda dengan aku yang sibuk menelpon mama dari tadi, Siska nampak tenang saja. Aku tidak heran, pasti itu karena terbiasa nya keluarga mereka berjauhan. Bukan hanya kedua orangtua Siska, saudara tua Siska pun nampaknya juga begitu jauh. Maksudnya bukan jauh karena jarak fisik melainkan jauh hubungan batin. Keluarga Siska adalah cerminan keluarga yang begitu sibuk dengan dunia kerja dan sedikit waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Dan lagi-lagi mulut ku berkumat-kamit tidak hentinya mengucap syukur atas keluarga yang Allah berikan pada ku.
Dua kali panggilan keluar dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari mama. Aku membuang nafas kasar. Baru juga semalam tak bersama mama,kenapa jadi sulit sekali untuk menghubungi. Sempat berdesir hati ini, tapi tidak. Apapun itu, tidak boleh membuat langkah ku mundur. Kesepian ini hanya akan sementara, aku harus mampu demi menata kehidupan baru.
"Mamaaaaa, Kayra rindu " andai mama mampu mendengar teriakan hati ini. Ah sudah lah, jika sampai nanti siang belum juga bisa menelpon mama, nanti sebelum kembali ke pesantren aku akan ke rumah dulu sebentar.
Melihat wajah ku yang murung, Siska mulai menginterogasi "kenapa lagi sih Kayra? ".
Seolah tak ada beban baginya berpisah dari keluarga.
Aku masih tetap memandang handphone di tangan ku, lagi lagi aku tekan panggilan keluar.
" Masih gak di angkat juga?"
" Palingan juga lagi sibuk"
" Huh, dasar anak mama"
kata terahir Siska semakin mengingat kan aku akan suasana rumah, adek selalu mengatai aku dengan kata itu "dasar anak mama". Awh, aku semakin rindu 😢
Biasanya, di saat situasi hati ku seperti ini ada kak Jo yang memberi semangat. Setiap kali ada acara di sekolah maupun di luar sekolah yang mengharuskan untuk menginap. Tapi tidak akan lagi untuk saat ini, mungkin sampai seterusnya.
Airmata ku jatuh dan Siska mengetahui itu
"dasar, MANJA" bukannya dapat simpatik, pelukan kek, malah dapat umpatan. Membuat hati ku semakin tak menentu rasanya.
Ku tutup wajah ku dengan kedua telapak tangan, menahan air mata agar tak jatuh lebih banyak lagi.
"Kayra, gak usah manja deh! Hidup itu keras, gimana kamu mau menghadapi kerasnya si emak-emak itu kalo kamu aja lembek kaya gini"
Seketika mata ku melotot mendengar perkataan Siska. Tak menyangka dia akan mengeluarkan kalimat seperti itu. Jadi pengen ketawa juga dengar kalimat "emak-emak" 😂😂
semoga saja yang punya emak gak dengar, atau sudah pergi.
Airmata ku tak jadi jatuh, perlahan hati ku membaik. Mungkin sekali-kali aku memang butuh gertakan seperti yang di lakukan Siska, karena tak selamanya pelukan itu ada.
"cuci muka sana biar gak kusut, mumpung dosen belum masuk" aku hanya bisa nyengir dan beranjak ke kamar mandi.
Begitu aku kembali dari kamar mandi, dosen sudah ada di dalam kelas.
__ADS_1
deg
aku melangkah dengan ragu. Bayangan hukuman yang pernah aku dapat dari pak Nicholas masih melekat. Yang pada akhirnya menyeret aku pada pergunjingan di area kampus. Beruntung saja tidak ada serangan fisik secara langsung.
"pak permisi, dari kamar mandi" beruntung dosen belum mumulai materi.
"Kayra, boleh bapak minta tolong" perasaan ku sudah mulai tak enak, tapi apa bisa aku menolak?
"iya pak" jawab ku singkat sembari mendekati beliau.
"tolong copy kan halaman ini, tadi bapak lupa" aku menunggu kalimat berikut nya, dan beruntung hanya itu saja yang harus aku lakukan.
Aku harus kembali keluar kelas menuju tempat fotocopy di lantai satu.
Kenapa berjalan seorang diri rasanya tak nyaman sekali. Karena jarang sekali aku sendirian, aku dan Siska sudah seperti kepala dan ekor saat di kampus.
Banyak mata yang menatap ku, berbisik, palingan juga tentang itu lagi. Semoga saja pak Nicholas dan kak Maryam segera melangsungkan pernikahan agar aku segera terbebas dari gosip miring ini.
deg, Dian.
Hati ku masih saja tak berhenti berdetak kencang saat melihat dia. Tapi aku harus mengabaikan nya. Aku harus bisa pura-pura tidak mengenal seperti yang dia lakukan dikampus selama ini.
"itu, samperin tuh"
"sikat, gak ada Ahmad (Johan) "
bisik-bisik persahabatan dapat aku dengar, sepertinya kelompok dia mulai tau. Sekalipun, entah berapa persen perihal yang mereka tau.
Kini aku melintas di hadapan mereka
"ekhm.. ekhm"
"uhukk.. uhuuk"
"urgg"
suara yang sengaja dikeluarkan menyerupai batuk, aku tetap tidak bergeming.
"ah, cemen loh. Payah"
"udah ketahuan juga, apalagi yang mau di tutupin"
__ADS_1
"mau loh kalah saing sama Ahmat (Johan) "
Aku masih dapat mendengar obrolan mereka. Karena jarak yang terlalu dekat dengan tempat fotocopy. Sayangnya suara ribut dari kelompok dia saja yang terdengar, yang bersangkutan hanya diam mematung.
Aku pura-pura tidak mendengar, tapi bagaimana mungkin aku bisa menampiknya dari pikiran juga ingatan ku.
Sungguh aku ingin segera meninggalkan tempat ini, sayangnya aku masih harus antri.
Aku sungguh lelah bergelut dengan pemikiran ku sendiri. Antara hati dan pikiran yang tidak pernah sinkron jika sudah menyangkut nama DIAN.
Kenapa laki-laki itu begitu menyebalkan. Terkadang memberi kesan betapa ia ingin selalu dekat. Tapi yang ia tunjukkan sifat angkuh yang membuat aku benar-benar muak.
Ingin rasanya aku mencabik-cabik cowok itu. Mencubit, memukul, menampar. Atau bahkan di uleg aja biar jadi sambel. Dasar, tampilannya aja menarik tapi sebenarnya pedas.
Telinga ku masih saja mendengar kasak kusuk kelompok itu. Tapi tak ada satu surat pun dari Dian. Entah kenapa itu menambah kekesalan ku.
Aku sudah tak tahan lagi, akhirnya aku beranikan untuk mencolek cowok yang antri paling depan
"mas, boleh nitip 1 lembar saja. Sudah ditunggu sama dosen di kelas"
alhamdulillah, Allah masih berbaik hati pada ku. Dipertemukan dengan orang yang berbaik hati. Lembar fotocopy an beserta buku aslinya sudah ditangan ku. Aku berikan uang lembaran sepuluh ribu dan segera pergi dari tempat panas itu. Bikin hati gerah saja, gerutu ku.
"uang kecil saja mbak" ucap penjaga fotocopy.
"gapapa mbak, sekalian bayar punya mas ini"
Akhirnya aku terbebas juga. Sekalipun masih akan tetap membekas di dalam kepala. Entahlah, bikin pusing saja.
Karena antrian yang cukup panjang jadi aku harus kembali ke kelas dengan berlari, sudah cukup lama aku meninggal kan kelas dan pasti sudah tertinggal materi.
"pak maaf lama, antri tadi" aku menyodorkan buku juga hasil fotocopy.
"ya, terimakasih. Silahkan duduk"
Huh, dapat bernafas lega juga. Gak dapat hukuman juga gak ada omelan.
________________^_^_______________
hay-hay,yang baca ikut ngos-ngosan juga gak nih? trus lupa kalo lagi puasa, langsung aja teguk air di gelas 😂😂
semoga ibadah puasanya masih lancar ya, bagi yang menjalankan.
__ADS_1
bagi yang tidak, tetap bisa kok dapat pahala. Caranya, tinggalkan jejak setelah baca LIKE, VOTE, COMENT 🥰 buat author bahagia Khan itu pahala 😄
semoga suka dengan kisah Kayra dan terimakasih banyak untuk yang masih setia mengikuti 😍😍