
Dua bulan setelah kepergian Dian dari Desa aku merasa begitu sepi.
Pasalnya, bukan hanya di dunia nyata, bahkan lewat telepon atau pesan pun dia juga jarang menghubungi ku.
Aku cukup mengerti, karena di rumah Dian butuh sembunyi-sembunyi hanya sekedar untuk menelpon ku.
Alhamdulillah, Dian juga sudah mulai bekerja dua minggu ini. Di sebuah perusahaan percetakan lumayan ternama di kota ini. Bahkan cabangnya sudah ada di beberapa kota.
Sementara di kampus, Dian sudah tidak lagi fokus di organisasi. Dia benar-benar mengebut mengerjakan Skripsinya. Bahkan dia juga jarang terlihat bersama dengan para sahabatnya.
Satu-satunya tempat yang bisa menjadi tujuan ku saat aku sangat merindukannya adalah perpustakaan.
Sementara aku sendiri juga sibuk dengan persiapan semester ku dan para mahasiswa yang meminta jam tambahan bagi mereka yang kurang memahami materi, guna mempersiapkan semesteran juga.
Jika jadwal terus padat seperti ini, mungkin aku akan undur diri di semester depan sebagai asdos. Atau minimal menjadi asisten satu dosen saja.
Karena terbatasnya waktu, akhirnya aku dan Dian membuat kesepakatan untuk bertemu di setiap akhir weekend. Entah itu satu jam, dua jam, atau bahkan tiga puluh menit. Atau minimal makan bersama lah saat jam istirahat.
Selama dua bulan ini pula aku belum bertemu dengan kak Jo sama sekali di kampus. Mungkin karena kesibukan dia juga mengerjakan skripsi. Dengan jarak antar fakultas kami yang bukan main jauhnya.
Bukan aku mengharapkan pertemuan dengan kak Jo. Rasa marah itu membuat aku enggan untuk bertemu dia. Tapi, jauh dari lubuk hati ku, aku juga ingin tau kabar tentang dia. Tidak mudah juga untuk melupakan hubungan baik kami yang sudah terjalin selama itu.
Bulan ini Dian akan mengikuti sidang skripsi. Ada rasa bahagia, namun terbesit duka saat terlintas dia yang akan memakai baju Toga, kemudian dunia kami menjadi berbeda.
Rasanya seperti akan sangat kehilangan, sama seperti dulu, dimana kami tidak pernah berada pada satu bangunan.
"hay, kamu kenapa? " membayangkan itu menjadikan air mata ku jatuh.
Rasanya baru kemarin, secara kebetulan kami bisa satu kampus. Kebetulan yang sangat kebetulan. Setelah sebelumnya rumah kami hanya bersebrangan namun rasanya tak pernah mengenal. Begitu unik perjalanan kami, aku rasa.
"kalo nanti kamu sudah tidak lagi jadi mahasiswa di kampus ini, jangan pernah berubah ya" ucap ku yang berhasil membuat Dian bingung.
"maksud kamu apa sih? "
"masih ingat kan seperti apa hubungan kita dulu? Kampus inilah yang membuat kita bisa bersama lagi seperti ini.
Tapi setelah ini kamu lulus............
__ADS_1
aku harap.............. " aku tidak melanjutkan kalimat ku.
"Kayra, mau di tempat yang sama ataupun tidak, hati ku masih sama. Tetap selalu untuk kamu.
Berhenti mikir apapun itu yang belum tentu terjadi. Fokus pada tujuan kita.
Kita berjuang bersama, supaya bisa sama-sama selamanya.
Ya, kamu mau kan? "
Aku menganggukkan kepala.
"Kamu juga terus semangat belajarnya, biar cepet lulus juga.
Aku yakin kamu wanita yang kuat, wanita yang hebat, wanita yang tepat untuk berjuang bersama ku.
Begitu kamu lulus, aku tidak akan menunda lagi untuk melamar kamu. Entah itu dengan restu dari ummi atau tanpa restu dari ummi"
Awh, dasar cengeng aku yah. Bukannya berhenti nangis malah semakin meleleh ini air mata.
"sekarang kondisi di rumah mulai berangsur berubah. Ummi sudah tidak pernah lagi mendatangi pesantren ku yang dulu.
Aku hanya menanggapi dengan tersenyum.
"bantu aku ya, do'akan aku bisa lulus dengan nilai cumlaude" pintanya.
"rasanya seperti perjuangan kita sudah hampir di ujung jalan saja" kata ku.
"belum.
Justru perjalanan kita baru akan dimulai. Perjalanan mencari SIM"
"kok SIM sih? " tanya ku heran.
"Surat Ijin Menikah" jawabnya singkat namun penuh arti.
Senyum mulai mengembang dari bibir ku.
__ADS_1
Namun sesaat jadi memudar karena kedatangan seseorang. Orang yang ingin aku temui secara kebetulan, kak Jo.
Sekilas aku menatap kak Jo dan jadi bergidik sendiri mengingat apa yang terakhir kali dia lakukan terhadap ku.
Ternyata masih ada ketakutan dalam diri ku, sampai aku terus mendekat ke arah Dian, bermaksud mencari perlindungan.
"sudah, tenang. Dia tidak akan menyentuh kamu lagi" Dian memegang sebelah pundak ku.
"kita pergi saja dari sini ya" ajaknya.
Lalu kami menghabiskan sisa makanan dan segera pergi.
Sepertinya rasa takut itu hanya ada pada diri ku sendiri. Apakah aku trauma?
Kak Jo sama sekali tidak memperhatikan ke arah kami. Cuek, seperti tidak mengenal saja.
Begitu juga dengan Dian. Sama sekali dia tidak bereaksi marah. Semoga itu tidak hanya di depan ku saja.
Setelah pertemuan itu Dian mengantarkan aku ke parkiran mobil. Jadwal ku sudah habis untuk hari ini.
Sementara Dian masih akan menemui dosen pembimbing. Ada sedikit refisi, dia bilang.
Kamipun berpisah dengan hati penuh damai. Rasanya seperti aku tengah hidup dalam mimpi saja.
Jalannya mulus tanpa halang rintangan lagi. Padahal, justru di depan sanalah rintangan yang sesungguhnya baru akan aku temui.
Ustadzah Zia.
Rupanya sudah cukup lama aku hidup dengan tenang tanpa bayangan beliau.
Namun pada akhirnya, suatu saat nanti, aku kan menemui beliau dengan sengaja.
Semoga pada saat itu hati ustadzah Zia sudah terbuka untuk menerima kenyataan, bahwa bukan akulah penyebab dari kegagalan putranya.
Doa ku juga selalu menyertai perjuangan Dian untuk saat ini dan esok nanti.
Semoga perasaan kami kan sampai ke pelaminan.
__ADS_1
________________TBC________________