KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Gagal Hafiz 30 Juz


__ADS_3

Kalimat mama "baru ganti bulan" kembali menyentil hati.


Berati ini kali pertama aku akan kembali bertemu ustadzah setelah peringatan kala itu.


Sekalipun rumah kami dekat, kami tak sering bertemu. Terlagi sekolah yang makin hari makin sore saja jam pulang.


Kadang-kadang sih.... kalau pas hari minggu aku santai di butik mama, beliau lewat. Tapi....jadi timbul rasa yang berbeda. Antara marah, sebel, takut, entahlah. Jujur dalam hati aku tidak Terima, enak saja.... aku yg selalu dapat gangguan, aku pula yang disalahkan. Boro-boro nyuruh Dian sering pulang biar bisa ketemu, tiap tak sengaja bertemu saja langgung memalingkan muka dan pergi. Sebel juga ue, berasa aku hantu saja.


Pertemuan remaja masjid diadakan di minggu kedua setiap bulannya, hanya saja tanggalnya maju mundur.


"apa aku gak usah hadir aja yah enaknya" pikir ku dalam hati.


"ah, ngapain juga aku yang jadi pengecut, toh aku gak salah"


hadew, jadi bimbang bingung begini.


Tiba-tiba adek datang mengagetkan


"asiknya.... ngelamun apa sih" kemudian dia menempati tempat duduk yang ada disebelah ku.


Hemp, crita gak ya sama adek??? tapi nanti mama tiba-tiba muncul, malah riweh.


"nanti pertemuan remas, kamu aja yang pergi ya dek" pinta ku singkat


"kakak mau kemana? " mulai dia menyelidiki


"gak ke mana-mana sih" jawab ku nyengir

__ADS_1


"gak ke mana-mana juga, pergi barengan ah" dia tidak Terima


"bulan kemaren aku pergi sendirian" akupun menggerutu


"yee.... itu kan memang aku ada tugas kelompok. Lagian kakak ini, pergi ke depan situ aja, kayak pergi jauh kemana.


Hayyo.... ada skandal apa sama kak Rahardian" lanjutnya. Kenapa pula sebut nama tuh anak


"apaan sih" aku coba menepis, biar pembicaraan tidak ganti tema.


"hallah, mama loh sudah tau"


whattt... aku langsung melotot kaget. Masa iya sudah dilabrak ke rumah?? tapi mama gak bicara apa-apa sama aku.


"cieee.... cie" dia malah menggoda


"yang jelas kalo ngomong" aku coba menurunkan nada bicara


"terus.... terus" aku semakin penasaran


"bayar dulu, hahaha" jawab dia iseng sambil jalan masuk ke butik


"trus kalo nanti mama datang, tanya sendiri aja sama mama" teriak dia dari dalam. Akhirnya aku mengikuti dia masuk.


"mama masih ngapain di rumah?? " Sudah lepas ashar, sebentar lagi pembantu pulang, mungkin mama masih repot.


Butik mama persis disebelah rumah tapi tidak satu bangunan, jadi keluar masuk harus lewat pintu depan.

__ADS_1


"gak tau, tadi aku langsung keluarga aja. Gak ada mama di depan"


"ya sudah ayo, lanjut yang tadi mumpung mama belum datang"


Kali ini aku hanya cukup diam, adek yang cerita panjang lebar. Karna dia gak suka di potong kalau lagi ngomong.


Dan ternyata.... kejadiannya sudah cukup lama,dia sudah sangat sering pulang pergi pesantren, mungkin aku saja yang tidak peka, tidak perhatian, memang gak mau merhatiin, gak penting juga.


Aku juga gak pernah tau soal sikap ustadzah yang menjadi dingin sama mama. Kenapa juga mama gak pernah tanya-tanya sama aku ya???


Terkadang jadi punya pikiran kesel sama ustadzah, beliau gak bijak dalam bersikap sih.


Oh ternyata, justru papa yg jadi penyelamat, bijaknya papa aku.... kiss kiss dew buat papa 😘


Karna dirumah kami jarang ada ribut-ribut. Mungkin juga mama sangat tau setiap langkah ku, bahkan HP selalu parkir di kamar. Jadi mama gak mungkinlah mikir aku yang macam-macam. Mungkin karna itu jadi mama gak pernah bahas sama aku, tapi lebih milih curhat sama papa untuk dapat solusi.


Dan benar saja, papa bak superhero. Setelah aduan dari mama, papa yang sengaja mengajak P. Amin, abinya Rahardian, ketua takmir masjid untuk bicara empat mata. Mereka lumayan dekat, karna sejak dari lama papa dijadikan Bendahara masjid "bos penalang dana" lebih tepatnya, hehe. Jadi mereka memiliki kedekatan, berbeda dengan mama yang jarang terlibat dengan acara di masjid, jadi tidak begitu dekat dengan ustadzah Zia.


Hasil dari penyelidikan menyatakan bahwa memang sebenarnya ada masalah dari dalam anak itu sendiri. Dia gagal jadi hafiz al-Quran, sementara itu yang paling di dambakan si Ummi. Semangat nyantri runtuh, dan sedang bernegosiasi untuk bisa daftar kuliah tanpa diam di pesantren.


Si ummi begitu terpukul, setelah si kakak yang tidak lulus sarjana, berawal dr terminal yg berujung di DO.


Si ummi juga begitu menyayangi anak bungsu, tidak bisa menolak juga tidak bisa meng'iya'kan. Sehingga mencari jalan dan kesimpulan sendiri.


Olala, ternyata.... aku hanyalah korban pelampiasan kekecewaan.


Hemp, bernafas lega juga. Setidaknya terbukti lah bukan aku penyebab faktor utama.

__ADS_1


Sekalipun jujur saja memang sering ku jumpai laki-laki itu memperhatikan aku dari lantai 2 rumah Melan, dengan modus nemenin main adek Melan.


Dan entahlah, aku tak mau berfikir panjang lagi. Bukan urusan ku, toh ternyata selama ini dia tidak pernah bersikap manis pada ku.


__ADS_2