KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Curahan hati Kayra


__ADS_3

Sejak kepulangan teman-teman aku belum juga keluar dari kamar. Itu artinya aku belum bertemu mama.


Entah adek memberitahu mama atau tidak, rasanya aku terlalu malu untuk bertemu mama juga papa. Aku malu dengan diri ku yang entah sudah berbuat kesalahan apa, sampai-sampai harus mengalami hal buruk seperti ini.


Aku terus mengoreksi diri, mencoba mengingat apa saja yang telah aku perbuat terhadap laki-laki itu. Laki-laki yang selalu di jaga oleh ibunya. Bahkan aku yang tidak pernah menyentuh dia sekalipun, harus menerima pukulan hingga berbekas. Memang tidak akan lama bekas pada pipi ini, tapi bagaimana dengan bekas pada hati ku?


Bahkan aku tidak tau lagi sudah sedalam apa luka di hati ku hanya karena satu orang nama, Rahardian.


Luka yang tidak pernah ada habisnya. Bukankah bahagia dan luka itu memang satu paket?


Apakah aku masih bisa bahagia setelah sekian banyak luka?


Sungguh aku ingin menghilang saja dari kehidupan ini.


Akankah lebih baik jika aku tidak lagi mengenal Dian dan seluruh keluarga dia?


Haruskah aku yang pergi dari tempat ini?


Banyak hal melintas dalam fikiranfikiran, banyak hal yang aku pertanyakan dalam sujud panjang. Sekalipun aku tau, aku tidak akan mendapat jawaban. Sekalipun aku tau tak seharusnya aku mempertanyakan takdir Tuhan. Sayangnya aku tidak sekuat itu.


Hinaan, tamparan hingga ancaman.


Semua membuat aku merasa begitu buruk. Seharusnya aku tidak pernah mendengar semua kata manis Dian, seharusnya aku tidak perlu mendengar semua janji-janji Dian. Seharusnya aku tidak perlu menaruh iba pada Dian. Jika pada ahirnya aku hanya menjerumuskan diri ku sendiri pada kesakitan. Harusnya aku tau itu.


Tapi fikiran ku lemah, kala hati telah bicara.


Tuhan, maafkan aku. harusnya aku tidak pernah memberikan hati ini pada siapapun. Dengan janji apapun.


Mungkin hanya aku yang terlalu bodoh. Sehingga untuk kesekian kali aku tersakiti karena Dian.


kleekk


suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang mendekati ku. Sementara aku yang masih bertahan dalam sujud panjang disertai isak tangis tak mampu lagi untuk menyembunyikan.


"mama" ucap ku dalam hati saat tangan mama mulai meraih pundak ku


"nak, ayo bangun. Ceritakan pada mama" ucap mama lembut sembari mengelus pundak ku


bahkan saat ini aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa malu ku. Sudah pipi lebam, mata sembab, hidung belepotan dengan ingus. Apa lagi yang bisa aku sembunyikan dari mama.


"ma, hiiikksss" belum bisa berkata apapun, aku langsung memeluk erat mama. Satu-satunya pundak yang bisa aku gunakan untuk bersandar

__ADS_1


"hiksss, hikss, hiksss" aku masih saja menangis


Mama cukup memahami perasaan ku saat ini. Tidak ada pertanyaan yang mama ajukan. Hanya membalas memeluk ku dengan eratnya. Kemudian memapah ku untuk berdiri dan duduk di atas tempat tidur.


"semua orang akan diuji untuk membuat dirinya kuat. Mereka yang tangguh bukan berarti tidak pernah terkena badai. Melainkan mereka berani untuk menerjang setiap badai yang datang.


Yakinlah sayang, Allah tidak akan menguji diluar batas umat Nya.


Seseorang yang dipersalahkan belum tentu bersalah. Pada akhirnya semua akan terlihat nak. Seperti pepatah Jawa Becik Ketitik Olo Ketoro.


Kamu hanya harus KUAT, untuk menunjukkan bahwa kamu tidak bersalah"


"hikss, hikss, hikss, Kayra malu ma. Malu sama papa, sama mama" dengan segenap kekuatan aku berusaha mengeluarkan kata-kata sekalipun masih terbata-bata


"kenapa harus malu sayang, bahkan mama sama papa ini sudah mengenal kamu sejak kamu lahir"


"Kayra malu ma, karena hanya bisa membuat mama dan papa malu"


"mama tau, kamu tidak bersalah. Kamu tidak perlu malu atas kesalahan yang tidak kamu lakukan"


kleekk


kembali terdengar suara pintu terbuka


"iya, gak apa-apa"


"gimana ma? " tanya papa begitu mendekati aku dan mama. Sementara aku masih saja menyembunyikan wajah ku pada pelukan mama


"coba sayang, papa lihat? " papa sedikit menarik bahu ku dan mana pun melepas pelukannya


"astagfirullah nak, sampai seperti ini" ucap papa heram sembari terus mengelus bekas pipi ku yang lebam


"sudah di oleskan obat? " mama bertanya


"belum ma, baru di kompres saja tadi sama kak Jo"


"ambilkan obat ma" seru papa pada mama


"kita makan dulu ya, nanti setelah makan kita bicarakan ini bersama.


Sudah cukup nangisnya. Anak papa boleh cengeng, tapi harus tetap kuat"

__ADS_1


Aku merasa sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Kasih sayang mama dan papa selalu saja menenangkan ku. Itu dia yang membuat aku selalu ingin menjadi putri kecil mereka.


Mama kembali dengan membawa obat oles, Perlahan mama mengoles bekas memar pada pipi ku


"ajak Kayra makan setelah ini ma. Nanti kita bicarakan ini setelah makan" pesan papa dan kemudian meninggalkan kamar


Setelah mengoleskan obat mama mencari wash lap dan membersihkan wajah ku dari sisa-sisa airmata. Kemudian membantu ku menyisir rambut dan mengikatnya.


"sudah cantik anak mama, kita makan ya"


"ma"


"kenapa sayang"


"terimakasih"


"terimakasih untuk apa"


"sudah menjadikan Kayra bagian dari keluarga ini"


"Sama-sama. Mama sama papa juga bersyukur punya putri seperti kakak"


"ma"


"iya"


"Kayra ingin tetap menjadi putri kecil mama saja"


"Anak-anak mama dan papa, akan tetap menjadi anak-anak sampai kapanpun. Menjaga, menasehati serta memberi dukungan sudah menjadi kewajiban.


Tapi juga jangan pernah lupa, terkadang waktu dan keadaan menuntut kita untuk berfikir serta bersikap dewasa.


Kakak harus tetap kuat, apapun yang terjadi mama sama papa akan selalu ada"


kecupan mama mendarat di kening ku berkali-kali


"yasudah, papa sama adek sudah menunggu kita untuk makan"


Aku dan mama berjalan beriringan menuju meja makan.


Sudah ada papa dan adek disana tapi tidak ada canda. Adek yang biasanya suka usil dan banyak tanya kali ini hanya diam.

__ADS_1


Kemudian mama memulai ritual makan malam keluarga dengan mengambilkan centongan nasi pertama untuk papa selanjutnya untuk kami, anak-anaknya.


Kemesraan yang selalu aku saksikan di meja makan sering kali membuat lupa tentang semua permasalahan yang ada. Sekalipun selera makan belum stabil, tapi masakan mama terlalu sayang untuk di lewatkan.


__ADS_2