KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Serangan Virus


__ADS_3

"astaghfirullah Sis... Siska"


Pukul setengah dua dini hari aku terbangun dan melihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab juga pesan dari Dian.


"Siska.... bangun" aku terus menggoyangkan badan Siska karena saking paniknya.


"ada apa sih Kayra, emangnya udah pagi? alarm ku belum bunyi tuh" jawab Siska acuh dan justru membalik badan membelakangi aku.


Sementara aku sendiri panik tak jelas. Pasti efek ketiduran sebelum waktunya.


Ada apa juga Dian nelpon sampai puluhan kali. Kirim pesan juga tidak ada kalimat yang jelas. Apa harus aku telpon balik sekarang? Sudah tidur belum ya?


Lalu aku coba untuk menghubungi Dian. Siapa tau memang ada sesuatu yang penting.


Dering ketiga panggilan ku di jawab, dengan nada suara yang masih jernih.


"assala....... " belum juga aku selesai mengucapkan salam, sudah di serobot lebih dulu oleh Dian.


"Kay, Kayra.... kamu kemana saja? Kamu baik-baik saja kan? Kamu gak diambil orang kan? "


"Dian... Satu-satu lah pertanyaannya. Kamu ini sudah seperti orang kebakaran jenggot saja"


"apa kamu bilang? Untung gak ada orangnya disini, kalau gak...... "


"kalau gak..... apa? " terdengar suara menggebu-gebu dari sebrang telpon.


"Dian, kamu baik-baik aja kan? " aku mulai mencoba mencari tau.


"gak, gak baik.


Aku hampir aja gila karena kamu. Tau gak? "


"gak tau. Memang kenapa sama aku? " justru aku di buat bingung oleh perkataan Dian.


"karena kamu gak angkat telpon ku dari tadi. Kemana aja sih? Keluyuran? Jam segini baru pulang? " terdengar nada kesal dengan pertanyaan yang semakin membabi buta.


"ngomong apa sih kamu Dian. Sejak kapan aku suka keluyuran sampai pagi gini. Kamu lupa kalau aku tinggal di pesantren?


Kamu sendiri sampai jam segini kenapa suaranya masih cerah, belum tidur? "


"mana bisa tidur, dibilangin aku hampir gila juga"


"isht.... jangan gila donk, terus jodoh ku nanti siapa donk? "


"tuh, tikus got" jawaban singkat yang menggelikan. Sepertinya aku faham, ada yang sedang merajuk di sebrang sana gara-gara telpon gak diangkat.


"kok tikus sih, aku kan maunya kamu, Dian"


"pinter merayu kamu sekarang ya.


Kemana aja dari tadi gak angkat telpon? " Nah, kan. Benar dugaan ku.


"aku ketiduran sayang. Beneran, sumpah.


Kemarin itu sebelum subuh udah bangun, kerjakan tugas. Seharian gak tidur, jadwal di kampus full. Pas sampai pesantren lagi ada acara tasyakuran. Habis mandi, rebahan. Karena kekenyangan makan ngantuknya datang deh, terus ketiduran.


Gitu ceritanya "


"beneran gitu ceritanya? " Tanggapan macam apa itu.


Aku yang cerita panjang lebar dengan semangat empat lima, ternyata malah di ragukan.


"iya Dian. Kamu ini ah, ada orang tidur malah di ngambekin"


"kamu juga, ada orang hampir gila ternyata malah ditinggal tidur"


"kamu ini, gitu terus ngomong nya dari tadi. Hampir gila kenapa sih? banyak kerjaan, sampai jam segini belum tidur?"


"hampir gila karena kangen kamu" jawaban datar Dian yang membuat aku tak kalah geli dari si tikus got saat mendengar nya.

__ADS_1


"upssss" seketika aku menutup mulut.


"gak usah ketawa, gak lucu"


"aisht, kok jadi galak sih.


Iya-iya yang lagi kangen. Makasih ya udah kangen sama aku"


"Kayra, gak lucu deh.


Aku culik kamu sekarang juga baru tau rasa"


"yah, habisnya, baru berapa hari sih, kangennya udah sebesar itu"


"bahkan setiap detik aku kangen sama kamu"


"halah, gombal"


"gak percaya, mau bukti?


Ok, kita nikah besok"


"ampunnnnnnnn


Iya deh, percaya. Aku kan selalu percaya sama kamu"


"cuma karena kangen itu, sampai pagi gini belum tidur? "


"iya. Gak bisa tidur. Belum tentang. Kebayang muka kamu, suara kamu, senyuman kamu, tawa kamu, manyun kamu"


"hemp, terus aja semua di sebutin"


"aku rindu semua tentang kamu. Kamu balik lagi ke rumah ya.


Aku takut gak akan bisa hidup dengan tenang kalo jauh dari kamu" mendadak suara Dian berubah menjadi serius. Apakah ini semacam permintaan?


"aku gak ngerti maksud kamu Dian"


Aku tadi ngopi sama Johan, sambil ngobrol-ngobrol. Baru aja masuk rumah pas kamu telpon lagi"


Aku diam seketika. Mendengar nama yang baru saja di sebut oleh Dian.


Alih-alih mengalihkan pembicaraan, sepertinya Dian lupa kalau aku tidak mau mendengar nama itu lagi.


Dan, sejak kapan mereka baikan?


"Kay, masih denger suara ku?"


Hening


"Kayra, jangan bilang ketiduran lagi"


"aku gak mau dengar nama itu. Aku gak mau bahas apapun tentang dia"


"aduh, maaf-maaf. Aku lupa, keceplosan"


"kalo kamu mau sembunyikan sesuatu dari aku, atau tidak ingin menjelaskan sesuatu, ok. Tapi gak perlu bawa nama orang lain untuk mengalihkan pembicaraan"


"yah, jadi aku yang salah nih. Jangan sedih donk, jangan ngambek ya.


Kan gak ada aku di sana, nanti ustadz Billal lagi yang nolongin kamu"


"apaan sih, makin gak jelas kamu.


Sepertinya udah beneran gila deh sekarang"


"ah, Kayra. Bisa aja kamu"


"yaudah, kembali ke topik. STOP cari pembelokan"

__ADS_1


"isht, galak juga calon nyonya ini"


"Diannnnnnn


Kalo udah gak jelas mending matiin aja telpon nya. Tidur. Kamu besok gak kerja memangnya?"


"kerja kok"


"yaudah tidur aja yoook, Bentar lagi subuh.


Udah tenang kan sekarang? "


"belum tenang kalo belum tidur bareng kamu"


"hust, apaan, ngawur kamu"


"maksudnya nikah Kay.


Masa iya aku punya pikiran sekotor itu"


"mungkin aja, udah terkena polusi, efek kelaman ngopi sambil nongkrong"


"gak lah sayang. Ngopi itu hiburan, sedangkan iman itu pedoman.


Coba ada kamu di rumah, gak perlu deh keluar ngopi cari hiburan. Lihat kamu aja sudah bahagia banget. Gak butuh hiburan lagi"


"iya deh percaya. Anak pak ustadz"


"kok gitu sih"


"lha, kan emang iya. Bapaknya situ ustadz"


"lain kali jangan bikin aku hampir gila lagi ya.


Jangan siksa aku dengan rindu ini. Ngapa-ngapain pamit, biar aku gak panik"


"ih, lebay deh kamu. Masa iya mau makan, pamit. Mau mandi, pamit. Mau ganti baju juga pamit. Terus kapan kelarnya"


"ya gak gitu juga sih Kay"


"nah, makanya"


"tau ah.


Kamu sih, gak ngrasain seperti yang aku rasain. Kamu gak kangen ya sama aku?"


"kangen sih kangen Dian. Tapi harus realistis juga donk"


"Kangen ya kangen. Mana bisa kangen disuruh realistis, kamu gak ngerti ah gimana rasanya"


"Jangan-jangan...... kamu lagi kena virus Dian"


"hah, virus? Mana ada virus yang bikin kangen terus"


"bukan gitu, tapi kamu kena virus bucin"


"masa iya sih, bukannya udah dari dulu aku tuh bucin sama kamu? Saking butanya, cara ku selalu bikin kamu marah-marah bahkan ilfil sama aku"


"iya juga sih. Kalo gitu, virus kebelet nikah mungkin ya?"


"nah, kalo ini bisa jadi" Dian membenarkan kata yang entah aku ambil dari mana.


Terdengar tawa kami berdua, bersama, seirama. Rasanya sejuk di jiwa. Menambah damainya sepertiga malam.


"solat dulu yok, kita panjatkan pada sang empunya jiwa. Semoga apa yang kita harapkan menjadi kenyataan" suara teduh dari seberang yang selalu aku rindukan.


Sudah pasti 'bohong' jika aku tidak merindukan dia. Jika cinta ku hanyalah dangkal, mana mungkin aku bertahan sampai saat ini, setelah semua yang terjadi antara kami. Dalamnya cintalah yang menjadikan satu-satu nya alasan untuk ku tidak pernah mampu benar-benar membencinya. Dan semoga jodoh yang akan menyatukan kami. Mengarungi bahtera sehidup semati.


"yaudah yok"

__ADS_1


Panggilan kami akhiri setelah sebelumnya saling mengucapkan dan menjawab salam.


_______________________^_^___________________


__ADS_2