KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Sesuatu itu?


__ADS_3

Aku sendiri belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, pacaran, lalu patah hati. Lantas kenapa harus mengalami hal seperti ini?


Siapa yang jatuh cinta, siapa yang patah hati, siapa pula yang menanggung akibat.


Lakukan sesuatu dengan niat karena Allah, InsyaAllah seberat apapun langkah akan menjadi ringan. Karena semua muslim adalah saudara. Hanya atas dasar kemanusiaan aku melakukan ini semua.


Dengan bismillah aku melangkah kan kaki di rumah kak Jo. Baru dua kali aku memasuki rumah ini, rasanya masih asing. Lain halnya dengan adek, yang sudah seperti rumah sendiri.


Aku yakinkan hati setelah sebelumnya aku bertemu dengan Dian.


Ada raut keberatan, tapi dia tidak melarang. Syukurlah penjelasan ku cukup membuat dia mengerti dan yakin dengan perasaan ku yang tidak akan berpaling.


Astagfirullah, mungkin aku mendahului takdir Allah. Bukankah Allah Maha pembulak-balik hati?


Hati ini bisa berpaling kapanpun saat Allah telah menghendaki.


Tentang perasaan, kenapa serumit ini.


Terserah takdir Allah nanti. Seperti kata Siska,yang terpenting adalah saat ini. Dan Kak Jo lah yang saat ini lebih membutuhkan semangat hidupnya kembali.


"assalamu'alaikum" ku ucapkan salam begitu melihat keluarga kak Jo yang terlihat sedang menunggu ku. Bayi kecil yang dulu masih merah saat aku dekat dengan kak Jo, kini sudah menjadi balita yang menggemaskan.


"waalaikumsalam. Terimakasih Kayra kamu sudah bersedia datang" ucap mama kak Jo yang kemudian diikuti oleh sang suami


"iya Kayra. Om Sangat berharap Johan kembali mendapatkan semangat nya dan bisa menyelesaikan s1 yang tinggal di depan mata" seperti nya keluarga ini berharap banyak terhadap ku.


"InsyaAllah om, tante. Kayra akan berusaha, tapi Kayra tidak bisa menjanjikan apapun" sempat timbul kekhawatiran, jangan sampai ini menjadi awal dari sebuah perjodohan. Mengingat hubungan antara keluarga kak Jo dengan keluarga ku.


Apakah mama sudah tau tentang ini?


kembali terbesit soal mama, karena tadi aku belum sempat menghubungi mama. Aku sudah keluar dari pesantren pukul 6 pagi. Bahkan aku meninggal kan jam sarapan. Bertemu dengan Dian sebentar kemudian melajukan mobil ke rumah kak Jo.


Pukul 7.30 aku sudah harus berada di kampus.


Butuh waktu cukup lama sampai akhir nya pintu kamar kak Jo dibuka.


Bahkan kehadiran ku sempat di tolak olehnya. Tapi apa daya, wajah tak berdaya dari kedua orang tua kak Jo membuat ku tak ingin menyerah.


Memang sangat menyedihkan, wajah yang dulunya aku kenal begitu begitu cool. Selalu berpenampilan segar dan nyentrik. Dengan gaya rambut yang selalu rapi. Kini menjadi sosok yang sedikit sulit untuk aku kenali.


Rambut gondrong dengan kumis yang dibiarkan memanjang. Wajah tirus dengan cekungan mata yang menghitam. Entah sudah berapa lama dia tidak beristirahat dengan baik.


Sedih juga melihat sosok kak Jo yang saat ini.


Setelah aku diijinkan masuk oleh kak Jo, kedua orangtuanya memilih untuk pergi meninggalkan kami berdua. Mungkin supaya kak Jo lebih nyaman untuk mengatakan apapun terhadap ku.


Andai saja kami muhrim, minimal mengalir darah persaudaraan, mungkin aku sudah memeluk nya erat.


Jika biasanya kak Jo yang selalu siaga untuk menjaga ku, menyediakan pundaknya sekalipun aku tak ingin. Mungkin hal itu juga yang akan aku lakukan untuk mengembalikan semangat nya.


"kakak seharusnya tidak perlu memaksakan menerima keputusan orang lain,untuk memberikan ketenangan pada orang lain. Jika pada akhir nya kakak sendiri yang harus seperti ini"


aku tidak tau kenapa harus sebesar ini pengorbanan kak Jo untuk ku. Hanya untuk membuat aku meraih kenyamanan ku.

__ADS_1


"lalu aku bisa apa, jika pada akhir nya aku hanya bisa menerima kemarahan dan kebencian kamu. Aku tidak sanggup"


"bukan seperti itu kak. Kakak belum menanyakan langsung pada ku kan? kakak juga belum mendengar langsung dari ku, kenapa aku melakukan itu semua.


Memang kakak salah satu penyebab dari itu, tapi bukan mutlak karena kesalahan kakak.


Siapa bilang aku membenci kakak"


"tapi kamu tidak pernah menjawab panggilan ku. Juga tidak membalas pesan ku. Bagaimana aku bisa tau.


Udahlah Kayra, kamu gak perlu merasa kasihan sama aku.


Aku bisa jalani hidup ku sendiri, jika pada akhirnya aku harus kehilangan kamu"


"kehilangan apa sih kak. Siapa yang kehilangan siapa? kita ini bukanlah siapa-siapa. Kita hanyalah makhluk kecil yang tidak berdaya, ketika Allah telah mencabut nyawa dari kerongkongan.


Ayolah kak. Dimana jiwa mu yang dulu? yang selalu iseng, jahil, raja gombal.


Aku udah disini nih, siap buat dengerin gombalan kamu" aku menggoda kak Jo dengan mengedipkan mata. Tapi ternyata sia-sia. Kalimat ku belum berhasil menyelami pemikiran kak Jo.


Dia hanya diam sembari memainkan korek api. Ada korek api? aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Oh, ada rokok juga ternyata. Sejak kapan?


Tapi aku tidak ingin menanyakan langsung hal itu. Seperti yang aku ketahui, rokok dibilang mampu menenangkan bagi sebagian orang.


Dan, oh tidak!


Kenapa aku lihat ada bekas botol minuman dibawah tempat tidur?


"kak, lihat Kayra" aku beranikan diri untuk duduk lebih dekat dengan kak Jo. Menyentuh dagunya, dan menengadah wajahnya agar menatap wajah ku.


Dag dig dug, jantung ku terpacu cepat. Belum pernah aku melakukan ini.


"sebesar apa peduli kakak pada Kayra? " aku terus mengamati bola mata yang sebelumnya tidak pernah berani membalas tatapannya.


Aku ingin mendapatkan kejujuran saat aku bertanya sesuatu hal.


Ku ajukan beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membuat dia bahagia saat ini. Sebelum pada akhirnya aku bertanya tentang barang haram itu.


"semua itu punya kakak, sejak kapan kakak menyentuh barang-barang itu?


Jika sayang kakak lebih besar untuk Kayra dibanding diri sendiri. Kayra mohon, tinggal itu semua kak.


Kakak ingin Kayra bahagia kan, Kayra sedih melihat kakak yang seperti ini. Kayra sedih melihat kakak berteman dengan benda-benda itu.


Jadi..... jika kakak mau kembali berteman dengan Kayra. Singkirkan benda-benda itu"


"lalu bagaimana dengan Dian. Bukankah dia sudah menjadi dunia mu, memenuhi seluruh hati mu. Bahkan usaha ku selama ini terasa sia-sia. Ternyata sudah ada nama yang menutup pintu hati mu"


"kakak seperti orang yang tidak punya iman saja. Hati itu hanya sebagian kecil, bahkan sangat kecil untuk Allah gerakkan. Kita belum tahu akhir dari perjalanan hidup kita akan seperti apa. Bisa jadi aku bukanlah jodoh untuk kalian berdua"


Dagdigdug, dagdigdug, dagdigdug


olahraga jantung pagi hari sungguhan ini.

__ADS_1


Kak Jo memeluk ku erat. Sangat erat. Bahkan sampai aku mampu merasakan detak jantungnya juga hembusan nafasnya. Dengan aku yang memakai wedges saat ini, tinggi ku hampir mensejajari tubuh kak Jo. Dan aku bisa merasakan benda kecil milik kak Jo dibawah sana.


Huuuwaaaaa, ingin lari di suasana seperti ini?


Baru saja aku mampu menahlukan manusia yang hampir frustasi karena cinta. Bukankah hanya orang tak beriman yang akan melakukan itu semua?


Dia terlalu berambisi. Begitu terobsesi akan diri ku. Harapannya terlalu tinggi.


Apakah yang aku lakukan saat ini justru memupuk semua rasa itu?


"kak aku gak nafas" alasan klasik yang sering kali diucapkan, aku rasa tepat untuk membebaskan aku dari posisi saat ini.


"berjanjilah untuk kembali jadi Johan yang dulu. Semua belum berakhir. Masih ada waktu untuk kakak berusaha memenangkan hati ku.


Kalau kakak acak-acakan seperti ini, gimana bisa aku jatuh cinta sama kakak"


Kalimat ku ini, dengan sadar aku memberi harapan pada kak Jo.


Ah,entahlah. Harus kembali di ingat, semua belum berakhir. Yang terpenting saat ini kak Jo mendapatkan semangat nya kembali. Seiring berjalan nya waktu aku akan berusaha membuat dia mengerti. Yang penting sembuh dulu, gumam ku dalam hati.


Kemudian aku melirik jam dinding di kamar kak Jo yang sudah menunjukkan jarumnya hampir menyentuh angka 6. Itu artinya pukul setengah delapan.


Bahkan aku melewatkan waktu untuk sarapan pagi.


"kak Kayra harus pergi. Ada kelas yang harus Kayra ajar pagi ini" sengaja aku merapikan rambut kak ku.


"nanti ke barbershop ya, Kayra temenin deh pulang dari kampus" aku beranikan diri untuk melakukan semua ini. Entah ini benar atau salah.


"yasudah, Hati-hati di jalan" aku berjalan keluar kamar tanpa diikuti oleh kak Jo.


Sudah ada sepasang suami istri yang menunggu ku di bangku depan.


Tante menawarkan untuk sarapan bersama. Tapi sayang sekali, aku bukanlah beralasan untuk menghindari seperti dulu-dulu. Jadwal ku benar-benar pada hari ini.


"terimakasih banyak tante. Padahal Kayra juga belum sarapan. Tapi Kayra harus mengisi kelas pagi ini" aku berusaha meyakinkan.


"kamu jadi asdos? " tanya om.


"alhamdulillah iya om. Sudah hampir 2 bulan ini.


Kayra pamit ya, InsyaAllah nanti setelah kuliah Kayra mampir lagi"


Dengan sedikit memaksa aku menjabat tangan tante untuk berpamitan. Yang kemudian di sambut ocehan oleh gadis balita si putri bungsu.


Aku berjalan keluar rumah dengan diiringi om dan tante.


Sesegera mungkin aku harus sampai di kampus. Semoga tidak macet, kalimat itu selalu manjadi harapan saat berada di wilayah kota.


__________________^_^_________________


tbc


kata sambutan di skip dulu. Kayra lagi buru-buru 🙏

__ADS_1


__ADS_2