
Mobil kak Maryam telah melaju meninggalkan cafe. Tujuan kami tak lain adalah rumah, rumah kak Maryam. Aku sudah tidak yakin akan mengunjungi tempat lain, khawatir Dian dan Kak Jo kembali mengikuti ku.
Rupanya firasat ku tadi benar bahwa ada seseorang yang mengikuti ku. Ternyata itu adalah Dian. Dia sengaja merubah penampilan dengan semua serba baru sehingga aku tidak mengenalinya. Coba saja aku melihatnya dari jarak dekat tadi, sudah pasti aku tau. Bahkan aku sudah hafal setiap lekuk tubuh dia.
Bisa-bisanya kak Jo ikut menyusul melihat Dian yang mengikuti ku. Entah apa yang terjadi dengan dua pria itu, mereka membuat ku benar-benar bingung.
Dua pria yang sama-sama mengejar ku tiba-tiba bersahabat, tanpa sepengetahuan masing-masing mereka sebenarnya menceritakan wanita yang sama, yaitu aku.
Awalnya mereka sama diam, sama-sama mendiamkan aku saat di kampus. Dengan alasan yang sama, ingin menjaga aku dari segala kesyirikan wanita-wanita yang menyukai mereka. Tidak aneh jika mereka memiliki banyak penggemar wanita, ketua dan wakil gitu.
Sejauh mana mereka bisa menata rapi rahasia mereka masing-masing, pada akhirnya terungkapkan juga. Pada akhirnya mereka sama-sama menyakiti ku dengan terus memaksa untuk dekat dengan ku. Dan kini mereka menyakiti aku dengan tingkah mereka sendiri, bahkan di depan mataku sendiri. Aku merasa seperti boneka mainan saja bagi mereka.
"Kayra, kamu masih kepikiran kejadian yang tadi" ucapan kak Maryam membuyarkan pikiran ku.
"ayo kita sudah sampai" kak Maryam kembali mengajak ku untuk masuk karena aku belum kunjung membuka pintu mobil.
"eh iya kak" jawab ku singkat. Kemudian aku turun dari mobil dan berjalan mengikuti langkah kak Maryam.
"mau ngobrol dimana? " tanya kak Maryam.
"di gazebo saja kak, biar kena angin sore" perasaan sudah memanas sehingga berharap mendapat kesejukan dari terpaan angin sore.
"kamu ada masalah apa dengan mereka tadi? " tanpa basa-basi lagi kak Maryam langsung bertanya.
"sebenarnya tidak ada masalah dengan mereka berdua. Hanya saja mereka itu terus saja berusaha mendekati ku. Dan itu yang membuat aku selalu berada dalam masalah.
Bukan mereka berdua yang menyakiti aku kak, melainkan orang-orang yang tidak menyukai kedekatan ku dengan mereka"
"owh, masalah hati" kak Maryam memberi tanggapan singkat.
"tidak tau juga sih kak. Bahkan aku selalu berusaha menutup hati ku rapat-rapat karena tidak ingin merasakan yang namanya patah hati. Tapi ini rasanya lebih sakit dan rumit kak, dari sekedar patah hati"
__ADS_1
"uch... uch... adek kecil kakak" kak Maryam menggelengkan kepala kemudian memeluk kepala ku.
"dulu aku mendapat masalah selama massa SMA karena kak Jo yang terus mendekati ku. Dulu, kemarin dan sampai baru-baru ini aku mendapat masalah di lingkungan rumah karena Dian yang terus mendekati ku. Dan sekarang, setelah mereka terang-terangan sama-sama mendekati ku, entah apa yang akan terjadi dengan ku di kampus nandi kak. Rasanya aku sudah terlalu kak mengalami permasalahan yang tidak aku ciptakan sendiri"
"kamu yang sabar ya. Terkadang tidak terlibat dengan lelaki manapun itu memang lebih baik. Sampai-sampai belum laku juga dengan usia kakak yang sudah segini" kak Maryam tertawa kecil
"dulu Kayra sudah sangat berusaha menjauhi mereka berdua kak. Memasang benteng tinggi, tapi akhirnya pertahanan itu runtuh saat aku ingin berbaik hati, membuka hati untuk siapapun. Tidak taunya, justru itu semua yang membawa diri ku sendiri pada petaka. Hinaan dan umpatan sering kali aku dengar. Tapi aku masih bertahan. Dan kemarin, baru saja aku mendapat tamparan kak. Itu sangat menyakitkan. Sampai aku tak mampu berpikir, seburuk apa diri ku ini kak" tanpa terasa tetesan air mata masih saja jatuh.
"aku ingin pergi dari rumah untuk sementara waktu kak" kak Maryam melepaskan pelukannya pada kepala ku begitu mendengar ucapan ku yang ini.
"hah, kenapa jadi pergi dari rumah? " tanya kak Maryam dengan nada syok.
"gak gitu maksudnya kak" akhirnya aku menceritakan apa yang ada dalam pemikiran ku. Karena selama ini aku tidak bisa bertukar pendapat dengan adek, tau sendiri dia yang menjadi kata-kata kak Jo menjadikan aku sedikit was-was. Sementara Siska, terkadang masih tidak konsisten dan muncul sisi jahatnya. Aku tidak ingin terpengaruh.
Aku merasa nyaman dengan kak Maryam dan hati ku sering kali nyaman ketika mendengar nasihat dari nya. Aku sudah menganggap seperti kakak sendiri, dimana selama ini memang aku tidak memiliki sosok kakak perempuan. Punya kakak cowok juga jauh, malu juga sih kalau harus bercerita tentang halal yang terlalu privat.
Eh iya, berbicara ini.... kenapa kak Maryam justru aku kenalkan pada pak Nicholas ya, bukan kak Gilang? kan lumayan kalau bisa jadi saudara beneran.
Banyak hal yang aku bagi bersama kak Maryam. Bahkan aku menceritakan tentang hubungan ku dengan Dian, mulai dari balita hingga saat ini. Cerita itu mengalir begitu saja, mungki karena aku mempercayai kak Maryam.
Beda halnya ketika kak Jo yang seringkali bertanya tentang hal sama, begitu berat untuk ku mengatakan.
Memang benar, butuh orang yang tepat untuk mendengar kan apa yang kita rasakan. Sehingga dapat menemukan jawaban dari pertanyaan. Akan lain halnya jika bercerita pada orang yang tidak tepat, mungkin hanya akan mendapatkan komentar kosong, tak berbobot. Apalagi jika bercerita pada orang yang salah, bisa jadi justru akan membawa pada masalah.
Tidak salah aku mengikuti kak Maryam hingga ke rumah. Bahkan saat ini hari sudah gelap. Aku telah usai melaksanakan solat maghrib berjamaah bersama keluarga kak Maryam. Dan kini aku tengah mengikuti kak Maryam duduk di meja makan untuk makan malam bersama.
"kak, aku makan yang tadi bungkus saja ya" pinta ku saat mengingat tadi belum makan apapun di cafe.
"boleh, biar disiapkan dulu ya.
Makan yang banyak, kan hati sama pikiran sudah plong sekarang" celetuk kak Maryam saat di meja makan, jelas-jelas semua keluarga tengah berkumpul di sana.
__ADS_1
Ada sedikit rasa malu menghadapi semua keluarga besar kak Maryam. Tapi aku akan lebih malu lagi jika terus membiarkan diri ku di rendahkan.
Belum sempat makan malam di mulai, terdengar suara pembantu yang membuka gerbang. Tak lama kemudian terdengar suara mama yang menyapa.
Aku memang menelpon mama tadi sebelum solat magrib.
Setelah mendengar pendapat dan usulan dari kak Maryam, aku merasa begitu yakin dan tidak ingin menunda lagi. Sehingga aku langsung menghubungi mama supaya datang kemari untuk membicarakan hal tersebut. Juga sekalian jemput aku, hehe.
Suara riuh ala ibu-ibu terdengar nyaring. Siapa lagi kalau bukan mama dengan ummi nya kak Maryam. Bahkan suara lain seperti di telan, biasalah suara wanita memang mendominasi kalau sudah bertemu.
Nasi sudah terlanjur dihidangkan di meja. Jadi untuk sementara waktu mama menunggu di ruang tamu.
Mama datang sendiri, atas permintaan ku. Jika mama datang bersama papa, kasihan adek di rumah sendiri. Dan jika adek ikut, sudah pasti itu kurang baik untuk kerahasiaan ku.
Setelah makan malam selesai semua berkumpul di ruang keluarga. Termasuk adik-adik kak Maryam yang masih kecil. Tidak heran kan jika keluarga yang agamanya tinggi seringkali memiliki anak dengan jumlah yang cukup banyak.
Karena waktu sudah malam juga, pembicaraan di awali dari aku yang akan tinggal di pesantren milik keluarga kak Maryam. Banyak hal yang mama tanyakan seputar kehidupan di sana. Setelah mendapat banyak penjelasan akhirnya mama mengatakan "sepertinya diam di pesantren lebih baik um, daripada Kayra kost. Malah bikin kepikiran"
"iya jeng, apalagi kehidupan anak muda sekarang yang identik bebas, sangat menghawatirkan. Kita harus benar-benar hati-hati mencarikan tempat untuk anak-anak"
Sesekali ummi aiya, ummi nya kak Maryam, Ruqaiyah, juga menasehati ku. Memberikan masukan tentang permasalahan yang sedang aku hadapi. Layaknya petuah seorang ibu, tak berbeda jauh dengan nasehat yang diberikan oleh kak Maryam. Dingin, menyejukkan hati. Aku sangat berharap, semoga ini awal dari kehidupan ku yang baru. Kehidupan yang tenang dan tentram.
Semua selesai dan telah disepakati besok setelah isya keluarga kak Maryam akan mengantarkan ku ke pesantren.
Tak menunggu lama, mama pamit undur diri. Hampir jam 9 malam kami meninggalkan kediaman kak Maryam.
________________^_^______________
Marhaban ya Ramadhan, Alhamdulillah telah sampai kembali kita pada bulan suci ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Semangat menjalankan ibadah puasa, sambil mengisi waktu luang tetap intip kelanjutan kisah Kayra ya 🥰
__ADS_1