KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Harus sedih atau bahagia


__ADS_3

Mobil kak Johan sudah memasuki halaman rumah.


Aku turun membukakan gerbang. Sekalipun ini masih jamnya mbak Jum kerja, tapi Mama tidak membiasakan anak-anaknya manja. Selama masih bisa dilakukan sendiri, kenapa harus dilayani.


"Masuk yok kak"


"aku tunggu sini dulu. Kamu ganti baju dulu gih sana"


aku tinggalkan kak Jo di teras, karna dia yang mau menunggu disana.


Tidak kulihat mama di dalam rumah, hanya terdengar suara mesin cuci di belakang. Adek juga tidak ada. Aku langsung naik ke kamar ku untuk ganti baju.


Aku bergegas ganti baju kemudian solat dhuhur. Kasian meninggalkan kak Jo sendirian terlalu lama.


Begitu aku turun, ternyata dia sudah duduk di dalam. Bahkan sudah ada segelas minuman dingin disana.


"tadi diajakin masuk gak mau"


"mama kamu yang suruh"


nurut amat sama mama, padahal berkepentingan nya sama aku.


"kakak sudah solat? "


"sudah tadi di masjid sekolah. Pas nyampe sudah Adzan dhuhur, jadi solat dulu"


"Kay, ajak Johan makan dulu. Johan ayo makan dulu nak" suara mama dari dapur mempersilahkan tamunya untuk makan siang. Care banget, padahal baru kali ini kak Jo main kesini. Rupanya mama sudah lebih mengenal kak Jo dibanding aku.


"iya tante"


"ayo kak" ahirnya aku berdiri mengajak kak Jo berpindah ke meja makan.


"adek kemana ma? "


"ada di butik. Tante tinggal ke butik lagi ya, lagi ada pesanan. Kamu makan yang banyak, gak perlu sungkan" mama meninggalkan kami berdua


"iya tante" giliran sama mama, iya iya aja


Aku perhatikan porsi makan kak Jo masih sama banyak seperti terahir kita makan bersama. Tapi kenapa bisa nampak lebih kurus. Kumel lagi, tak sebening saat terahir bertemu.


Ahirnya di sela-sela makan aku tidak sabar lagi untuk bertanya


"kak... kak"


"iya, apa"


"berapa lama sih kita gak ketemu? "


"sebulan lebih, kenapa emang. Kangen?? "


"mulai deh! bukannya gitu, kakak kurusan sih. Kumel lagi"


(gaya lagi keselek)


"uhhuukkk uuhhuuk. Ternyata diam-diam kamu perhatian juga ya"


"yeee, dilihat aja udah kelihatan kali"


"setres, mikirin kamu yang tiba-tiba hilang kontak. Makanya sampe aku belain datang kesini"


"apa iya? "

__ADS_1


"bohong"


kenapa kali ini dia tak sejahil biasanya, Kata-kata nya lempeng, datar.


ahirnya kami selesai makan, aku bawa piring kotor kebelakang, selebihnya mbak jum yang mengerjakan.


Aku dan kak Jo kembali ke ruang tengah. Aku bermaksud untuk mengajak duduk disini saja, tapi kak Jo malah ngajak duduk di teras. Mungkin karna di depan ada taman kecil dengan kolam ikan terbuka, jadi suasana nya lebih segar.


"sebentar, aku ambil camilan dulu"


Kak Jo pergi ke teras lebih dulu, sementara aku masih mengambil camilan bagelan serta suwar suwir, makanan khas Banyuwangi yang dibelanjakan oleh bude waktu itu.


"cobain kak, makanan khas Banyuwangi"


begitu aku sampai di depan, aku sodorkan dua toples di depan kak Jo.


Hanya di liriknya. Dia nyalakan musik di HP dengan suara lirih. Jason Mraz, musik andalan dia sejak awal aku bertemu dia. Terutama yang berjudul I'm yours.


"katanya kakak mau cerita tadi. Oh ya, kenapa gak jadi berangkat ke Singapura? "


"mama ku hamil Kay" dengan nada datar dan suara lirih


"waaah, bagus donk. Kakak mau punya adek, selamat ya"


kabar bahagia bukan, sudah sepantasnya aku beri ucapan selamat.


"ya, memang seharusnya begitu. Tapi ini pengecualian untuk mama ku. Seperti halnya waktu mama hamil aku dulu, harus bedrest selama mengandung"


"kok bisa gitu kak? " aku masih bingung dengan perkataan kak Jo


"coba aja nanti tanya mama kamu, mungkin beliau tau.


Kemarin itu, sehari sebelum keberangkatan kami ke Singapura mama tiba-tiba pingsan. Cukup lama, sama Omah datang kerumah. Ahirnya dibawa ke IGD. Ternyata ya itu, mama hamil. Sudah memasuki bulan ke 2.


Ada nada sendu di setiap kalimatnya. Beberapa kali sempat terhenti, tapi masih saja tetap melanjutkan ceritanya.


Sementara aku hanya bisa menjadi pendengar setia, tanpa berusaha mencela setiap kalimatnya.


Hingga ahirnya sampai pada kalimat


"rasanya seperti patah hati. Kala itu aku tidak menginginkan, tapi mama terus saja memberi ku motivasi. Sampai ahirnya aku benar-benar menaruh harap, sudah aku siapkan beberapa rencana. Tes masuk sudah aku selesaikan dengan baik, bahkan aku diterima di salah satu Kampus terbaik disana. Aku sudah membayangkan jika suatu saat nanti akan kembali ke Kota ini dengan gelar DM, lulusan luar negri pula.


Saat itu aku tidak tau harus bahagia atau sedih. Segala persiapan dan angan-angan terhempas begitu saja"


Huhu, jadi terbawa suasana. Kali ini aku benar-benar dapat merasakannya gimana rasanya berada di posisi kak Jo.


"itu hanya sebatas angan-angan ku. Manusia berencana tapi Allah yang berkehendak. Mana bisa aku menolak kehendak Nya" kak Jo masih melanjutkan kalimatnya


"kakak yanga sabar ya, Allah Pasti sudah punya rencana terbaik untuk setiap umat Nya"


ahirnya aku tak bisa menahan lagi untuk tidak berbicara


"iya, aku tau itu. Aku hanya butuh waktu untuk mengembalikan segala harapan ku. Saat itu hati ku kalut, tapi aku tidak tau harus berbagi perasaan ini sama siapa. Cerita sama anak-anak palingan cuma bilang "sabar ya bro".


Di depan mama sama papa sudah pasti aku menunjukan bahwa aku menerima apapun yang menjadi keputusan mereka.


Nomor kamu gak bisa dihubungi, WA juga gak terkirim"


Tangannya menyentuh rambut ku, tapi pandangan masih tetap lurus ke kolam.


Entah saat ini posisi seperti apa yang dia inginkan atas diri ku. Kekasih, sahabat, atau bahkan saudara. Yang notabene memang kak Jo besar sebagai anak tunggal, dari orangtua yang sama sama anak tunggal juga.

__ADS_1


Kesepian, yang pasti tak bisa dipungkiri itu. Hanya saja laki-laki lebih bisa menyembunyikan. Terlagi dengan segala prestasi dan kesibukan yang dia ciptakan sendiri.


Saat ini perkataan nya tak lagi genit seperti sebelumnya. Dan aku merasa lebih nyaman.


Aku sendiri pun ingin merasakan pengayoman dari seorang kakak. Punya sih kak Gilang yang baiknya super baik. Tapi karna jarak tidak memungkinkan untuk kami sering bertemu.


Jadi merasa bersalah. Pantas saja beberapa kali sempat kepikiran kak Jo.


"maaf ya kak, maaf banget" aku berbicara dengan nada sendu


"gapapa, yang penting sekarang sudah ketemu kamu"


"terkadang memang membiarkan fikiran kita berjalan lebih dulu dari keadaan saat ini, itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri kak. Saat kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasi, kita harus menelan pil pahit. Tapi yakinlah, suatu saat kita akan sembuh. Kita harus sembuh, karna kita berjalan pada kenyataan, bukan sekedar harapan juga keinginan.


Semua proses kekecewaan akan mengantarkan kita pada kedewasaan. Yakinlah, kakak pasti lulus pada ujian kali ini.


Toh kekecewaan kakak sudah Allah ganti dengan sesuatu yang tak kalah berharganya. Bukankah sejauh mana pun kita melangkah, pada ahirnya tempat kembali terbaik adalah keluarga?!"


"iya, kakak juga tau itu. Makanya, kakak menerima keputusan untuk tetap tinggal. Sekalipun seharusnya kakak bisa disana sendiri.


Ahirnya aku akan punya saudara. Kamu tidak tau, rasanya hidup dalam kesepian. Di rumah sepi. Ke Omah sepi, pas berkunjung ke Eyang juga sepi."


Rasanya pengen puk-puk kak Johan, pinjemin pundak untuk bersandar, bahkan paha untuk rebahan. Sayangnya, bukan muhrim.


Aku jadi berfikir, mungkin saja keisengan kak Jo selama ini untuk melampiaskan bentuk kesepiannya. Karna dirumah tak ada adik ataupun saudara lain yang bisa diajak berteman sekaligus bermusuhan.


Ahirnya sesi curhat selesai juga.


Kali ini gantian kak Jo yang menanyai aku, perihal ganti nomor.


Pembahasan nya lebih santai, kak Jo mendengar penuturan ku sambil mencicipi camilan yang tadi aku siapkan.


Aku masih menceritakan kekesalan ku, tiba-tiba kak Jo berdiri masuk ke dalam rumah.


Dan keluar dengan gelas di tangan. Sepertinya aku tadi lupa membawakan minumannya juga.


"resiko jadi orang cantik" komentar kak Jo begitu kembali duduk.


"Terimakasih ya sudah jadi pendengar yang baik. Sudah Asar, aku pulang ya. Terimakasih atas waktunya. " formal sekali kalimatnya


"bukannya sudah biasa kakak buat aku tinggal untuk sekedar mendengar lelucon kakak?! "


kak Jo sudah bersiap dengan mententeng tas di pundak.


"temenin kakak ke butik yok, pamit sama mama kamu. Aku juga belum ketemu Nahla"


kemudian aku ikuti kak Jo dari belakang, berjalan ke butik.


Kak Jo menyapa adek, berbincang sebentar dan kemudian pamit.


Kembali aku ikuti kak Jo untuk mengambil mobil.


Begitu mobil melaju meninggalkan gerbang, aku segera menutup gerbang kembali.


Ternyata mobil kak Jo masih belum pergi, malahan mundur lagi


"setelah ini telp aku. HARUS"


Ya Allah, dari tadi ngobrol... kenapa gak minta nomor dari tadi.


"ok"

__ADS_1


ahirnya mobil itu kembali melaju pergi dan menghilang dari penglihatan ku.


__ADS_2