KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Luka Mu juga Luka Ku


__ADS_3

Selesai makan malam aku dan Siska tidak langsung kembali ke rumah Paviliun.


Kami cukup tau diri untuk tidak 'setelah makan pulang' apalagi ummi sendirian di rumah saat ini.


Kami bertiga lanjut berbincang-bincang tentang pesantren, ilmu agama, dan pengalaman hidup. Ini cukup menarik daripada harus menghibahkan orang lain. Apalagi kalau itu soal ustadz Billal, rasanya aku enggan untuk mendengar.


Hingga jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat, aku dan Siska pamit untuk kembali ke rumah Paviliun.


"Sis... habis ini kamu mau ngapain? " tanya ku pada Siska begitu kami memasuki rumah.


"kerjain tugas, kenapa Kay? "


"hehe, aku mau telpon Dian" ucap ku sambil cengar cengir.


"hemppp, aku di usir nih ceritanya? "


"eh, bukan gitu. Kan aku brisik, jadi ganggu dew" dengan depan aku menjelaskan supaya Siska tidak salah faham.


" iya-iya nanti aku pake headset " ucapnya sembari mengambil tas yang biasa dia gunakan untuk pergi ke kampus, lalu keluar kamar.


Aku menghubungi Dian, untuk menceritakan apa yang tadi aku janjikan.


Ternyata sebelumnya sudah ada 3 panggilan tak terjawab dari dia. Beneran nunggu rupanya dia.


Panggilan langsung dijawab begitu terhubungkan.


"aish.... rupanya ada yang lagi nunggu nih" aku menggoda.


"salam dulu Kayra" Dian mengingatkan.


"eh iya, assalamu'alaikum" me-reply percakapan dari awal.


"waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh" jawabnya dengan mantap.


"lengkap amat"


"iya dong, salam itu kan doa. Semakin panjang salam maka semakin panjang juga doanya.


Doa ku selalu untuk mu, Kayra"


"aisht... iya iya, percaya dew"


"aku udah nungguin cerita kamu dari kemarin loh"


"kok dari kemarin, kan ketemu baru tadi"


"iya, tapi kesedihan mu sudah dari kemarin. Sampe gak bisa tidur aku mikirinnya"


"ecie, mikirin aku yang sedih? apa mikirin yang lagi cemburu? "


"kamu yah, jadi suka godain aku gini sih.


Sayang belum halal, udah halal gitu habis kamu"


"hawh... habis? diapain emang bisa habis? "


"di cium sampe jelek"


"whwhwhwhhwwhwhw" aku terkekeh menahan tawa.


"kaya berani aja kamu, meluk gitu aja minta maafnya udah seribu kali" aku melanjutkan.


"kan aku bilang kalo udah halal Kayra"


"ya udah si, halalin ayok" berani sekali aku godain Dian macam gini, kalo ketemu pasti malu.


"kaya kamu berani aja nikah sekarang"


"wah, nantangin nih"


"kalo memang berani, kenapa diajakin nikah sama ustadz Billal di tolak? " Ah Dian, lagi asik-asik bercanda, malah menyebutkan nama yang bikin aku badmood aja.


"kan aku maunya sama kamu, bukan ustadz Billal.

__ADS_1


Ah uda ah, gak usah sebut nama itu" aku jadi kurang bersemangat kalau sudah di hubung-hubungkan sama orang lain.


"iya-iya maaf. Gak usah lesu gitu.


Ayok cerita yang kemarin aja, kenapa bisa nangis sampe kaya gitu"


Kata 'maaf' yang selalu keluar dari mulut dia saat setelah melakukan kesalahan, yang membuat aku semakin terpikat olehnya. Meskipun, kedengarannya kata 'maaf' menjadi receh, tapi hal itu penting. Minimal untuk menunjukkan bahwa diri kita mengakui kesalahan.


"kak Jo" ucapan ku berhenti. Ada sedikit rasa takut, apakah Dian akan marah pada kak Joe? ataukah akan jijik pada ku karena sudah di sentuh orang lain?


"dia kenapa? "


"tapi.... "


"tapi kenapa? "


"aku takut mau cerita? "


"takut sama siapa? "


"sama kamu, sama keadaan"


"Kayra, cerita sekarang atau aku ke pesantren sekarang juga? "


Ketegasan Dian membuat aku semakin takut. Haruskah aku mengadu sama dia? sudah tepatkah tempat ku mengadu?


**hsihsgdirjrowhahygsowosjssusj, suara tak jelas operator karena telpon terputus begitu saja.


Menit berikutnya terdengar suara ramai di depan. Awalnya aku kira Romo Yai beserta yang lainnya.


Tak di sangka, ternyata Dian benar-benar datang menemui ku.


"Assalamu'alaikum Sis, bisa minta tolong panggilkan Kayra? aku sudah ijin sama bu nyai tadi" suara Dian yang datang.


Tak menunggu Siska yang memanggil, aku sudah keluar kamar.


Nekat sekali Dian ini, perasaan ku campur aduk. Antara tidak enak dengan ummi, menolak putranya malah dekat dengan orang lain. Jam kedatangan yang sudah hampir pukul sembilan malam. Tidak enak juga kalau Romo Yai dan ustadz Billal tiba-tiba datang.


"santai aja. Aku udah ijin sama ummi kok. Aku bilang teman dari kampus, ada hal penting yang harus di diskusikan" perasaan ku sedikit lega mendengar penjelasan Dian.


Mungkin ummi tidak hafal dengan Dian, bisa di bohongi. Tapi ustadz Billal, sudah pasti beliau paham dengan apa yang sedang terjadi.


aarggh, kenapa jadi terjebak keadaan begini sih???????


"Kayra, kamu mikirin apa sih? "


"ewh... anu... itu"


"kamu ini kenapa sih?


kamu masih percaya sama aku kan, kamu masih ingat janji kita kan? "


aku mengangguk


"ayo cerita"


"aku bingung mesti ceritanya gimana"


"tarik nafas dulu, rileks, baca basmalah. Aku akan selalu ada buat dengar cerita kamu, apapun itu"


"aku marah, aku kecewa, aku...... "


"sama siapa? "


"sama diri ku sendiri.


Mungkin aku terlalu bodoh, selalu berusaha menolong orang lain, tidak taunya justru aku sendiri yang dapat petaka.


Dengan sekuat tenaga aku mengumpulkan keberanian untuk menceritakan kejadian saat itu.


Dengan sekuat tenaga pula aku menahan supaya air mata ku tidak kembali jatuh. Rasanya seperti kembali mengulang waktu, dejavu.


Dian mendengar cerita ku dengan baik, sesekali dia mengusap bahu ku. Mungkin dengan maksud untuk menguatkan ku.

__ADS_1


Sesekali aku melihat ekspresi wajah Dian, yang semakin lama semakin menampakan amarah di sana.


"brengsek Johan" itu kalimat pendek yang beberapa kali keluar lirih dari mulut Dian, tapi aku bisa mendengar.


Sampai aku selesai dengan cerita ku, Dian memandang ku dengan penuh sendu.


"Kayra, kamu orang yang baik. Bahkan kamu terlalu baik untuk di perlakuan seperti itu oleh Johan.


Sebaik apapun hubungan keluar kamu dengan Johan, aku minta jangan pernah lagi temui dia. Atas permintaan siapapun itu"


"Kayra Putri Al Mayra.


Andai semua memungkinkan, sangat ingin aku menghalalkan mu saat ini juga. Agar aku bisa selalu menjaga kamu. Agar tidak ada lagi yang bisa menyakiti kamu"


"Kayra.... sangat ingin aku menggenggam tangan mu. Sangat ingin aku merangkul mu. Menguatkan kamu. Menenangkan kamu.


Kayra..... aku bisa apa untuk kamu? "


"kamu tidak perlu melakukan apapun. Kamu mau mendengar cerita ku dan tetap ada bersama ku, itu sudah lebih dari cukup"


"apa se-depresi itu Johan, sampai melakukan hal seperti itu ke kamu? "


"entahlah, aku sudah tidak mau tau lagi.


Mungkin ini juga salah ku, yang terlalu memaksa ingin semua orang sama bahagia.


Pada dasarnya memang aku bukanlah siapa-siapa, aku tidak punya kemampuan untuk mewujudkan itu"


"kebahagiaan seseorang itu tanggungjawab masing-masing Kay, kamu tidak perlu repot memikirkan kebahagiaan orang lain jika kamu sendiri terluka.


Aku bakalan bikin perhitungan sama Johan"


"Dian.... plis, tolong jangan lakukan apapun.


Apa yang terjadi sama aku, adalah pelajaran untuk ku.


Sudah cukup dia terluka karena kebersamaan kita. Jangan berikan dia luka baru"


"Kayra, bahkan disaat kamu di lukai oleh dia, kamu masih melindungi dia? "


"bukan begitu, aku hanya ingin semua selesai.


Kalo memang kamu peduli sama aku, sayang sama aku, tolong jangan menambah beban ku.


Sudah cukup aku terluka. Semua akan aku sudahi. Kemarin adalah kali terakhir aku bertemu kak Jo.


Dan malai saat ini, aku akan belajar untuk memikirkan kebahagiaan ku sendiri"


"janji...... "


"iya janji, asalkan kita selalu bersama" aku pun berusaha tersenyum, sedikit ngegombal, berharap mampu memudarkan amarah pada diri Dian.


"boleh aku cium tangan kamu" permintaan macam apa ini??? tapi aku mengijinkan.


Di genggam nya tangan ku dengan erat dan di ciumnya sekilas sambil berkata


"semoga Allah ridhoi perasaan kita yang sama ini"


Lalu dia berdiri dan menyapu kepala ku "yasudah, kamu baik-baik ya. Aku pulang dulu.


Tepat jam sembilan malam Dian pamit pulang. Aku antarkan dia berpamitan pada ummi.


Sampai Dian meninggalkan gerbang pesantren, beruntung Romo Yai beserta rombongan belum juga datang.


Aku pun kembali ke rumah paviliun dan masuk ke dalam kamar. Lalu mengambil handphone dan melanjutkan percakapan bersama Dian.


Lalu Siska kemana?


Ah entahlah, yang pasti gak bakalan hilang tuh anak.


________________^_^______________


TBC

__ADS_1


__ADS_2