KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Model kebaya mama


__ADS_3

Hari ku berlalu dengan perasaan yang aku rasa semakin rumit. Semakin hari aku dituntut untuk memahami banyak hal. Padahal memahami diri ku sendiri saja aku merasa belum mampu.


"ada yang mau menemani papa pergi ke acara nikahan? "


tanya papa saat kami semua tengah duduk di ruang keluarga.


"tumben pa, biasanya juga sama mama" ucap ku


"mama ada pameran besok pagi" mama memberi tahu.


"wah, pameran. Dimana ma, Jalan-jalan kesana ah pulang sekolah" seru adek dengan bahagianya.


"di moll x" jawab mama singkat.


"kakak besok jadwalnya padat gak? " tanya papa pada ku.


"gak sih pa, awal semester masih longgar. Acara papa jam berapa? "


sudah beberapa kali ini aku ikut menemani papa bertemu rekan kerja, setelah sebelumnya adek yang lebih sering ikut ke mana-mana. Sekarang adek sering menolak dengan alasan 'banyak tugas'


"kalo gitu besok berangkat pakek kendaraan online saja. Siang papa jemput ke kampus ya"


setelah berbincang beberapa hal ahirnya dapat juga kesepakatan antara aku dan papa.


Adek memang dari dulu suka jalan-jalan di moll lain halnya dengan aku yang lebih suka memanfaatkan waktu luang untuk tidur.


Terlagi ini event mama, pasti juga ada yang diincar sama adek. Selain suka jalan-jalan di moll, sangat suka lagi kalau sambil belanja.


Tidak menunggu waktu larut, setelah ada kesepakatan bersama papa aku segera masuk ke kamar. Selain untuk solat isya juga untuk membalas pesan Dian. Sudah berapa saja pesan yang masuk. Jika tidak dijawab sudah pasti akan terus di kirim.


Setelah kejadian waktu itu Dian jadi semakin rutin absen, bahkan sampai dia mendapat jawaban. Terkadang aku merasa risih, seperti yang over protectif. Sempat aku katakan bahwa dia tidak harus khawatir seperti itu. Tapi percuma, penjabaran dia lagi-lagi membuat ku bungkam. Apakah orang yang mencintai akan selalu menjaga seperti itu?


Akhirnya aku sendiri yang menyerah, yang penting di dunia nyata dia tidak seprotektif itu. Lagi pula protektif hanya yang menyangkut uminya.


Diluar itu dia tidak pernah bertanya hal yang menyangkut pribadi.


Mungkin saja Dian sudah tau banyak hal tentang aku. Dari Melan atau dari teman lainnya yang selama ini menjadi mata-mata dia. Ditengah sikap hangat dia masih bisa juga bergaya acuh seperti tidak kenal sewaktu dikampus. Aku dapat memahami dan itu semakin bagus untuk ku. Tidak berurusan dengan cowok itu lebih baik. Terlagi cowoknya bintang kampus. Sudah cukuplah di massa SMA dulu. Massa yang orang bilang paling menyenangkan, bagi ku justru menyusahkan.


Tidak ada tugas untuk besok sehingga aku bisa tidur lebih cepat. Sayangnya, belum juga menggantikan lampu tidur mama sudah mengetuk pintu bersama adek.


"kenapa ma? " tanya ku menyelidik, karena aku melihat mama membawa sesuatu.


"nih kakak coba, mama punya kebaya desain terbaru" ucap mama sembari menyodorkan baju yang di tangan.


"tapi ma, harus ya pakai yang seperti ini? " tanya ku sambil membalikkan baju ke arah cermin


"iya donk kak, teman papa kan pastinya para pengusaha. Harus donk tampil wah, biar gak malu-maluin" celoteh adek. Seolah dia yang paling faham, nyatanya memang dia sih yang lebih sering jadi asisten papa.


"siapa tau ada yang lirik-lirik gitu" lanjut celoteh adek

__ADS_1


"apaan sih kamu dek"


dia yang paling suka mengatai aku


"nah gini kak" mama membantu ku mencoba sekaligus merapikan.


"bisa kan besok siap-siap sendiri" tanya mama


"bisa mama" jawab q dengan sedikit enggan. Bukan karena kebaya nya yang tidak bagus.


"eh ma, siapa yang pakek in make-up kakak? " lagi-lagi adek berceletuk.


"adek, apaan sih. Seperti mau kemana saja. Gak ah, gak ada make-up make-up. Gak usah dengar adek ma"


"tapi bener juga kata adek kak. Apalagi kakak habis aktifitas di kampus. Biar kelihatan tetap segar kalau pakek make-up. Gak perlu tebal"


"tapi kan Kay berangkat dari kampus. Gimana caranya mau make-up. Kay kan gak bisa"


"kakak minta tolong sama teman yg biasa main kesini itu. Siapa, Siska ya. Mama lihat dia selalu poles wajah biarpun tipis"


Diam-diam perhatian juga ibu satu ini. Mau tak mau aku menghubungi Siska. Itu tidak akan menjadi hal besar bagi Siska karena dia sudah terbiasa menyimpan set make-up di mobil.


"itung-itung jadi modelnya mama kak, bantu promosi. Iya kan ma"


dan kalimat satu ini membuat aku benar-benar tidak bisa menolak.


Setelah semua urusan selesai ahirnya aku bisa tidur juga.


"sama siapa kak? " tanya ku yang sedikit kaget saat melihat mobil kak Jo sudah terparkir.


"antarin mama" jawab kak Jo singkat


"mana? " kembali aku bertanya karena tidak terlihat mamanya kak Jo


"di butik"


jawaban singkat dari kak Jo membuat aku tersedak. Karna saat ini aku tengah meminum susu milo kesukaan.


Kalau di butik itu artinya berurusan dengan baju. Apakah untuk menghadiri acara yang sama dengan papa?


"eh ini dedek bayi pagi-pagi sudah cantik harum lagi"


aku alihkan pemikiran ku sendiri pada bayi kecil yang sedang dalam pangkuan kak Jo. Dan itu membuat ku semakin yakin kalau mamanya sedang Fitting baju.


"ke kampus jam berapa Kay"


"ini juga udah siap. Tinggal pesen ojek online"


"kenapa pakai ojek online? "

__ADS_1


"nanti di jemput papa, mau temenin papa ke kondangan"


"yang di hotel x? "


"kurang tau ya"


suara ramai dari arah depan. Dua mama saja sudah ramai bagaimana kalau sekumpulan mama-mama?


wanita itu memang ya.


"eh Kayra. Sudah mau ke kampus" sapa mamanya kak Jo


"iya tante" jawab ku singkat.


"Johan ajak Kayra berangkat bareng boleh tante, daripada naik ojek online? "


Lagi-lagi kak Jo dengan beraninya


"kok naik ojek online. Iya mbak biar barengan sama Johan aja" dan si mama memberi dukungan


"Kayra mau? "


bernafas lega karena mama masih meminta pendapat ku. Tidak serta merta menyuruh aku untuk pergi bersama mereka.


"gak perlu sungkan Kayra. Seperti adek kamu tuh, kalian itu sudah tante anggap seperti anak sendiri" mendengar penuturan mamanya kak Jo jadi tidak enak untuk menolak.


"iya tante. Kayra ambil tas dulu"


Setelah semua berpamitan segera memasuki mobil. Mama kak Jo meminta aku untuk duduk di depan. Tapi saat aku hendak membuka pintu, ada seseorang di depan Melan. Bersama dengan motornya. Sesaat aku mematung, entah kenapa menjadi begitu berat untuk membuka pintu mobil. Sementara dari bangku belakang mobil sudah memberi komando


"ayo Kayra, masuk"


sedikit senyuman, untuk menyapa orang yang disebrang sana ataukah untuk mengiyakan komando.


"itu tadi bukannya Rahardian ya? "


tanya kak Jo setelah mobil melaju beberapa meter.


"iya kak"


"berarti kalian saling kenal? "


"iya, kenal"


"tapi kenapa saat di kampus dia seperti yang tidak kenal kamu. Gak pernah negur sapa, ngajak ngobrol"


"perasaan kakak aja mungkin"


karena aku tidak ingin membicarakan lebih jauh lagi aku alihkan pembicaraan pada undangan yang akan aku hadiri nanti bersama papa.

__ADS_1


Aku bertanya pada mamanya kak Jo. Dan benar saja, nanti kami akan menghadiri acara yang sama. Baguslah berarti ada orang lain yang aku kenal disana nanti.


Setelah mengantar mamanya kak Jo kami segera menuju kampus.


__ADS_2