
Rahardian POV
Tanpa sepengetahuan Kayra beberapa kali aku sempat bertemu dengan Johan.
Bagaimanapun juga aku pernah menjalin hubungan dekat dengan nya. Begitu juga dengan Kayra, bahkan hubungan mereka jauh lebih dalam.
Mungkin aku pernah cemburu padanya, tapi kini aku tak punya alasan lagi untuk tetap cemburu padanya. Kebesaran hatinya sungguh sangat aku apresiasi.
Aku telah memaafkan semua yang pernah terjadi diantara kami. Tapi lain halnya dengan Kayra. Kejadian waktu itu masih sangat melekat pada ingatannya. Bagaimana jika kejadian itu benar-benar membuat Kayra trauma?
Aku sempat memiliki keinginan untuk kembali menyatukan persahabatan kami. Namun dengan kondisi Kayra yang histeris dan meluap-luap emosinya, begitu aku menyebutkan nama "jo" aku jadi berfikir ulang untuk melakukan hal itu.
Sepertinya akan menjadi lebih sulit untuk memperbaiki keadaan ini.
Tapi aku sudah berjanji pada Johan untuk membantu dia kembali mendapatkan kepercayaan dari Kayra. Karena sebenarnya bukan hanya Kayra, Johan pun tersiksa dengan keadaan yang terjalin diantara mereka saat ini. Bahkan dia tak punya nyali sedikitpun untuk bertemu dengan Kayra.
Seringkali dia harus bersikap seperti 'maling' ketika tak sengaja bertemu Kayra di kampus.
Johan memang berhasil menyelesaikan kelas akselerasi nya. Itu semua berkat dorongan dari Nahla.
Tapi dia masih punya beberapa laporan revisi. Sehingga memaksa dia untuk tetap datang ke kampung sekalipun tidak rutin.
Aku memang merasa menang, tapi aku bukanlah seorang pecundang. Yang bahagia di atas penderitaan orang lain.
Aku sering menghubungi nya, memberi dia semangat, dukungan juga motifasi. Bahkan aku sudah tak takut lagi akan persaingan merebut hati Kayra.
Semua cerita yang aku jalani bersama Kayra membuat aku yakin, bahwa sebenarnya hati kami telah bersatu sejak dari kecil. Hanya saja jalannya yang tak semulus lantai keramik.
Aku mulai berbincang dengan Nahla, apakah aku perlu membicarakan kondisi Kayra pada mama? Karena aku yakin, pasti mama belum tau tentang hal ini. Sudah pasti Nahla tidak akan berani mengadukan dirinya sendiri.
Sempat aku mendapatkan penolakan dari Nahla, dengan alasan "takut". Dia sendiri sadar akan kesalahan fatal yang sampai mengguncang mental kakaknya sendiri.
Tapi akan sampai kapan seperti ini? Kasihan Kayra jika dia tidak dibebaskan dari ketakutan nya.
Setelah beberapa kali membujuk, akhirnya Nahla menyetujui. Dengan syarat, kami menghadap mama berdua. Dan sudah pasti itu aku lakukan.
"assalamu'alaikum ma" mama tengah menyirami bunga saat aku memasuki gerbang.
"waalaikumsalam, masuk Dian" mama mempersilahkan dengan ramah. Sejauh ini, sekalipun tidak ada Kayra di rumah, aku lumayan sering datang. Sekedar mampir atau terkadang membawakan oleh-oleh saat aku pulang dari luar kota. Anggap saja PDKT sama calon mertua. Bagaimana pun juga rumah keluarga ku tepat berhadapan dengan rumah calon mertua, tidak enak juga kalau aku sering terlihat tapi tidak pernah menginjakkan kaki.
"tumben mama sendiri yang menyiram tanaman? "
"wasiat dari Kayra ini. Dia beli waktu kaluar kota. Jadi mama di wanti-wanti gak boleh sampai mati"
"Nahla belum pulang ma? "
"ada kok, dia tidak ada les hari ini"
"owh" sembari menunggu mama menyelesaikan menyirami bunga, aku duduk di bangku teras. Lalu mengirim chat ke Nahla. Padahal tadi juga sudah janjian, basa-basi saja tanya-tanya sama camer 😃
__ADS_1
"ayo masuk. Mama buat cake kesukaan Kayra tadi"
"Kayra pulang ma? " basa-basi lagi, astaghfirullah. Padahal juga pasti Kayra kasih kabar kalau dia akan pulang.
"enggak. Mama kirim pakai kurir"
"eh, kak Dian" Nahla muncul dari arah tangga.
"ma, mama lagi sibuk gak? " Nahla yang aku suruh untuk memulai percakapan. Mengajarkan pada dia untuk mengakui sebuah kesalahan.
"enggak. Ini mau ambil cake untuk kak Dian. Kenapa? "
"ngobrol yook ma" lalu Nahla duduk di sebrang sofa yang aku duduki, sementara mama ke dapur untuk mengambil cake.
"Kak... kak Dian" Nahla memanggil dengan berbisik.
"hemp, apa"
"pokoknya harus belain aku ya. Awas aja kalo aku di marahin sendirian sama mama" Nada Nahla memelas.
"resiko" jawab ku singkat dan acuh.
"huh. Yaudah, kalo gitu aku pergi aja" lalu mama datang dan mendengar perkataan Nahla.
"pergi kemana? " tanya mama
"kak Dian ma, ngajak pergi ke pesantren kak Kayra" Nahla asal menjawaban versi dia sendiri.
"ekhm.... itu ma.
Tapi janji ya, mama gak boleh marah dulu"
Tak tega juga membiarkan Nahla dengan wajah ketakutan dan rasa bersalah nya. Memang dari awal aku sendiri yang akan menyampaikan hal ini pada mama. Aku hanya mengetes Nahla saja.
"begini ma,
Apa tante tau kalau selama ini hubungan Kayra dengan Johan tidak baik? "
"tidak baik bagaimana? Bukannya Kayra yang membantu Jo menyembuhkan depresi nya? "
"bukan Kayra ma, tapi Nahla" seperti terkena sengatan listrik, wajah mama berubah seketika. Sementara Nahla tak kalah terkejutnya saat nama dia aku sebut begitu saja.
"Johan merasa tidak akan bisa sembuh dengan selalu dekat dengan Kayra. Karena bagaimana pun juga Kayralah orang yang membuat Johan seperti itu.
Sementara Kayra, dia sangat kekeh dengan keinginan baiknya untuk membantu Johan. Mama tau sendiri kan? "
"iya ma, sampai akhir nya Nahla yang kasih ide buat kak Jo. Supaya kak Kayra mau berhenti dari usahanya membantu kak Jo.
Tapi Nahla tidak menyangka ma, kalau yang di lakukan oleh kak Jo justru membuat kak Kayra ketakutan hingga saat ini. Bahkan sekarang kak Kayra sangat membenci kak Jo" dengan sendirinya Nahla memiliki keberanian untuk ikut bicara.
__ADS_1
"memangnya apa yang di lakukan Jo? " mama masih dalam mode santai.
"Johan membuat Kayra ketakutan ma, karena dia berusaha menyentuh Kayra. Waktu itu rumah sepi,tak ada seorangpun. Yang semakin membuat Kayra ketakutan.
Tapi sebenarnya Johan tidak benar-benar ingin melakukan itu" ucapan ku terhenti karena disambar begitu saja oleh Nahla.
"mama percayakan kalo kak Jo itu anak baik-baik? "
"Sementara di mata Kayra, Johan bukan lagi seseorang yang baik, yang dulu dia kenal" aku melanjutkan perkataan ku.
"mama jadi bingung dengan hubungan kalian"
"mama tau kan, kalau selama ini kak Dian dan kak Jo bersaing untuk mendapatkan kak Kayra?
Hubungan kak Kayra dan kak Dian, serta hubungan kak Kayra dengan kak Jo, sudah sama-sama dari lama.
Tapi, kak Dian dan kak Jo adalah orang baru. Persahabatan mereka baru mulai kuliah. Mereka sangat dekat, tapi sayangnya mereka tidak saling tau jika sama-sama menyukai kak Kayra.
Itu yang membuat hubungan mereka rumit ma.
Sampai disini mama faham kan maksud Nahla? "
"pelan-pelan mama cerna dulu"
"awh, mama. Lagi serius juga"
"mama juga serius dek.
Mama tidak menyangka, dibalik persaingan kalian ada perkelahian"
"bukan berkelahi gitu juga ma"
"mungkin terlalu panjang dan rumit ma kalau semua di ceritakan. Alhamdulillah disini saya yang lebih beruntung mendapatkan Kayra.
Saya hanya ingin memperbaiki hubungan baik diantara kami bertiga ma. Bagaimanapun juga Johan orang yang baik, sejauh ini dia juga sudah ikhlas merelakan kebersamaan saya dan Kayra"
"mama tau gak, sejak saat itu kak Jo gak berani bertemu kak Kayra. Melihat wajah kak Kayra saja kak Jo menangis ma. Kak Jo sangat menyesal sudah memberikan ketakutan pada kak Kayra.
Padahal mama tau sendiri kan, selama ini kak Jo orang yang selalu membantu kak Kayra" Nahla membela Johan, tentu saja itu.
"iya ma. Jadi Nahla yang sebenarnya selama ini membantu Johan. Yang memberi semangat juga menemani Johan kemana-mana ma" mama memijat pelipis, entah apa yang mama rasakan saat ini.
"bagaimana dengan Kayra? Kenapa dia tidak pernah menceritakan ini pada mama? "
"saya sendiri ma yang waktu itu membantu Kayra. Kebetulan juga waktu itu saya KKN di daerah pesantren sana"
"mungkin kak Kayra takut merusak hubungan baik mama dengan keluarga kak Jo. Karena memang selama ini orang tua kak Jo tidak ada yang tau juga"
Belum selesai percakapan kami, suara mobil papa memasuki halaman.
__ADS_1
Nahla langsung meminta untuk melanjutkan percakapan di lain waktu. Lagi pula juga sebentar lagi adzan magrib.
___________________^_^__________________