
Rahardian POV
Ini adalah luka kesekian kalinya yang Kayra alami karena aku. Ya, aku yang selalu saja membuat hatinya terluka tapi masih saja memaksa untuk meminta maaf darinya. Entah untuk kali ini apakah aku akan kembali mendapatkan maaf. Bahkan adik ku sendiri yang menjadi sahabat Kayra sejak kecil turut menyalahkan aku atas kejadian ini. Aku yang benar-benar lalai menepati janji ku untuk menjaganya.
Melan yang kemarin membantu ku untuk mendapatkan maaf dari Kayra, kali ini sudah tidak mau lagi membantu. Dan tante Fifi pun ikut berbicara kali ini.
Memberi nasihat yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari seorang ibu. Yang Ummi tau hanya menyuruh ku untuk mengikuti maunya. Sebenarnya aku juga rindu akan pelukan seorang ibu. Mungkin kekecewaan Umi terhadap ku membuat kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya hilang. Sehingga yang ada hanyalah ambisi dari seorang ibu atas anaknya.
Aku tau disini Kayra hanyalah korban. Korban atas ambisi ku dan ummi. Ambisi ku untuk terus dekat dengannya, sementara ambisi ummi untuk menjauhkan aku darinya.
Kiranya kata maaf cukup untuk mengobati segala rasa sakit hatinya, aku akan mengucapkan nya walau harus mengulang sampai mulut ku tak sanggup lagi berkata.
Ku sandarkan tubuh ku pada bentangan sajadah panjang. Siapa lagi yang bisa ku datangi disaat hati ku gundah seperti ini. Aku berusaha tegar menghadapi ambisi ummi, tapi aku tak cukup tegar untuk menerima kekecewaan ku sendiri. Sayangnya, aku sudah ditakdirkan untuk berdiri diatas jalan cerita ini.
Aku memang tidak bisa memilih dilahirkan dari ibu seperti apa, tapi kiranya boleh aku ingin memilih jodoh untuk menemani tua ku nanti.
Perkataan tante Fifi membayang di kepala ku. Memang benar, Allah telah menyiapkan jodoh maut dan rejeki jauh sebelum manusia di lahirkan. Semua itu tidak akan tertukar. Jodoh akan dipertemukan pada waktu yang tepat.
Jika saat ini aku terus mendekati Kayra, yang ada ummi akan semakin membenci Kayra.
Namun siapkah hati ini untuk iklas melepas semua tentang dia?
Mengingat aku yang selama ini tidak pernah lepas dari pengetahuan tentang Kayra. Hingga berbagai macam upaya aku lakukan. Dan keluar dari pesantren adalah upaya terbesar agar aku bisa kembali dekat dengan Kayra.
Namun jika semua ini justru membuat Kayra semakin terluka, apakah pengorbanan ku sudah sia-sia?
Apakah aku memang bersalah, hingga membuat kemarahan yang sangat besar pada diri ummi.
Apakah juga akan baik, jika hati dan fikiran ku tidak berada pada satu tempat?
Andai ummi mau meminta pendapat ku sedikit saja. Andai saja ummi mau tau tentang diri ku.
Air mata ku tumpah, aku selalu menjadi lelaki yang cengeng saat bertemu dengan rabb ku untuk mengadukan hidup ku.
Namun setelah itu hati ku menjadi lebih tenang sekalipun aku tak dapat jawaban apapun.
Ku raih handphone yang tergeletak diatas meja. Mencoba menghubungi Kayra namun hasilnya sia-sia. Aku bisa mengerti jika dia benar-benar marah kali ini. Bahkan jika keluarganya tidak bisa menerima ini bisa saja dibawa ke jalur hukum karena kasus kekerasan.
__ADS_1
Aku beralih pada pesan Whatsapp,ada pesan keluar 20 menit yang lalu tapi sudah di hapus. Itu artinya, saat aku masih di rumah tante Fifi. Siapa yang mengirim pesan?
sedangkan hanya ada ummi di rumah
"ummi, ummi" aku mencari ummi ke kamar. Karena tidak terlihat sejak aku pulang dari rumah tante Fifi tadi.
Ternyata kosong, di dapur juga kosong.
Kemana umi malam-malam begini, pikir ku. Akhirnya aku menemukan ummi di taman belakang sedang merawat tanaman apotek hidupnya.
"kenapa Dian" jawab ummi begitu aku menemukan beliau.
"ummi,kenapa masih berkebun malam begini?"
"Ummi apa ada yang masuk kamar Dian tadi sewaktu Dian tidak di rumah? " karena tidak mendapat jawaban dari ummi sehingga aku langsung bertanya
"tidak ada orang" jawab ummi singkat dengan tetap mengerjakan kegiatannya
"apa itu artinya ummi, yang memakai handphone Dian? "
"Ummi kan punya handphone sendiri, kenapa pakai punya kamu"
"kamu ngomong apa Dian. Untuk apa juga ummi punya nomor anak gak tau diri itu"
"cukup ummi. Jangan sebut Kayra dengan seperti itu! Sudah cukup terus menyalahkan Kayra"
"kamu berani bicara keras pada ummi hanya karena membela anak itu Dian"
"ummi yang keterlaluan. Apa yang ummi lakukan pada Kayra sewaktu bertemu di kedai tadi? "
"melakukan apa, gak ada"
"STOP ummi! Stop terus berpura-pura tidak tau"
"owh, rupanya dia sudah mengadu sama kamu. Berati tidak mempan ancaman mama"
"ancaman, ancaman apa ummi? berarti benar tadi ummi yang mengirimkan pesan pada Kayra menggunakan handphone Dian?!
__ADS_1
Lihat Dian ummi"
"kamu ini seperti tidak ada wanita yang lebih saja untuk di dekati"
"Kayra itu baik ummi. Sangat baik.
Sudah Dian katakan bukan Kayra yang meminta Dian untuk sering pulang. Bukan Kayra yang meminta Dian untuk keluar dari pesantren. Bukan Kayra yang mendekati Dian, tapi Dian yang tidak bisa jauh dari Kayra.
Apakah ummi mendengar Dian?
Apakah Dian benar anak ummi?
Apakah Dian tidak jauh lebih penting dari tanaman-tanaman itu ummi? "
"tanaman ini selalu memberi hasil untuk ummi Sementara kamu, kamu hanya mengecewakan ummi"
Kemudian ummi beranjak mencuci tangan dan meninggalkan aku sendiri di taman belakang rumah.
Sebesar itukah aku memberi kekecewaan pada ummi sampai aku sama sekali tidak dihiraukan lagi sebagai anaknya. Bukankah dulu kakak juga tidak selesai Studinya. Tapi ummi masih saja mendukung dia, memfasilitasi, membelikan apa saja yang dia minta. Sementara aku, apa yang pernah aku minta.
Meminta untuk difahami saja rupanya itu terlalu sulit.
_____________^_^____________
cari perlindungan kemana lagi ya Dian?
apa memang seharusnya mereka tidak bersama?
hemp, dengarkan petuah orang tua dulu deh untuk sementara. Kalau jodoh juga gak akan kemana.
Maaf maaf dan maaf ya, Kayra sama Dian belum bisa muncul up tiap hari ini. Kerjaan di dunia nyata lagi berat, takut kena SP 😄
trimakasih banyak untuk yang masih setia mampir 😍
tinggalkan jejaklah biar semangat terus yang up up
LIKE, VOTE and COMMENT yah 😘😘
__ADS_1
apalah arti penulis tanpa pembaca 🙏