
Acara Joging yang berakhir dengan sangat memilukan. Bahkan mata ku kini sudah seperti bekas di sengat lebah. Parahnya lagi tidak ada kacamata yang bisa di gunakan untuk menutupi.
Adek sempat kaget saat pertama kali melihat wajah ku yang amburadul. Lalu mama memberinya isyarat. Rupanya ini sudah direncanakan oleh dua orang itu.
"kak, maafkan aku ya. Aku gak bermaksud... " ucapannya menggantung. Mungkin terlalu frontal jika ia harus menyebutkan kembali kalimat "dilecehkan".
Aku hanya diam, masih tidak tau harus bagaimana. Mama benar, aku butuh waktu untuk bisa mencerna semua ini. Mengikhlaskan lalu memaafkan. Sekali pun aku tak yakin bisa dalam waktu dekat.
" kita pulang pa, sambil cari sarapan " kata mama memutuskan ketegangan antara aku dan adek.
Mama masih saja menggandeng ku. Lalu mengikuti aku duduk di bangku tengah. Mungkin sengaja memisahkan antara aku dan adek, untuk sementara waktu.
Rasanya kepala ku penat sekali. Aku ingin memejamkan mata. Tapi berbagai macam kejadian melintas dalam benak. Tentang kak Jo, tentang Dian, tentang kami bertiga.
...Aku hanya menyesali, kenapa bisa berada dalam kerumitan ini? Berada dalam cinta segitiga diantara dua lelaki yang mungkin sangat sulit aku pilih. ...
Namun cinta tau kemana ia harus kembali.
Dan jodoh tidak akan pernah tertukar bukan?
Entah sudah berapa kali dering ponsel berbunyi. Aku sama sekali tak ada gairah untuk bicara. Sekali pun itu pada Dian. Bahkan saat tadi semua turun untuk sarapan, aku tetap memilih untuk memejamkan mata. Mencoba menetralisir kan segala rasa. Sampai akhirnya mama yang masuk ke dalam mobil dan memaksa ku untuk makan sekali hanya dua suapan.
Bukan maksud hati untuk mendiamkan semua orang. Terutama adek juga Dian.
Sejak pulang dari joging aku hanya berdiam diri di kamar. Bahkan aku mengunci pintu. Hanya mama yang aku biarkan untuk masuk.
Membuat coretan-coretan tak beraturan yang mengisyaratkan hati ku saat ini.
Jika biasanya saat gundah gulana aku selalu melampiaskan pada makanan, kali ini sama sekali aku tak berselera untuk makan.
Tuhan selalu adil bukan, akan selalu ada air mata di sela tawa.
Mungkin kemarin aku terlalu bahagia sehingga kali ini aku kembali di ingatkan dengan air mata.
Bukankah hidup akan terus seperti ini?
Percuma juga jika aku berkata 'seandainya' sebab takdir Tuhan itu pasti bukan?
Hari sudah sore, bahkan aku hanya bisa benar-benar terlelap dalam hitungan menit saja.
Sejak pagi aku mematikan handphone setelah mama menjawab panggilan dari Dian.
Akhirnya kepanikan mengundang Dian untuk datang ke rumah.
Ketukan pintu berkali-kali. Antara ingin dan enggan. Sampai akhirnya mama yang menyusul dan meminta ku untuk keluar.
"keluarlah, bicara sama Dian. Apapun yang kamu rasakan. Siapa tau itu akan sedikit mengurangi beban di hati kamu" lalu aku terbujuk oleh ucapan mama.
Dengan berat aku melangkahkan kaki ke sofa. Aku tak malu lagi keluar dengan mata bengkak yang terlihat begitu jelas.
"astaghfirullah Kay, bisa sebengkak ini. Aku ambil es batu di kompres ya" kata Dian panik yang masih terus memandang wajah jelek ku.
Seketika aku mengangguk.
__ADS_1
Lalu Dian lari ke bawah untuk mengambil es batu.
Detik kemudian dia sudah kembali dengan membawa es batu di baskom beserta waslaf. Aku membaringkan tubuh di sofa sambil memejamkan mata. Dengan telaten Dian mengkompres mata ku.
Lagi-lagi aku teringat waktu itu kak Jo yang melakukan ini semua. Saat insiden yang di lakukan olehnya ustadzah Zia waktu itu.
Baru juga air mata munyusut, rasanya sudah ingin meluber lagi.
Tuhan, yakinkan diri ini dengan hati ini dengan pilihan ini
Kiranya ini terbaik, kiranya ini jalan MU
Hapuslah siapapun itu dari benak ku
Maafkan aku yang tak bisa membuat bahagia setiap orang
Maafkan aku yang memberi luka untuk orang lain
Semoga kebahagiaan Kau hadirkan dalam hidup kami
Sekali pun jalannya tak harus sama
"Kay, kok nangis lagi" kata Dian sendu. Rupanya dia menyadari ada air mata yang kembali menetes.
"aku tau ini sulit untuk kamu. Aku di sini, akan selalu ada untuk kamu. Berbagilah segala asa mu, kita hadapi bersama" kalimat lembut yang selalu membuat ku teduh.
"boleh minta peluk" kata ku lirih.
"menangis lah sepuasnya. Tapi janji, setelah ini tidak akan ada lagi air mata"
Rasanya masih ingin, tapi seperti nya air mata ku sudah mulai mengering.
Pelukan Dian menyalurkan kehangatan. Mampu menenangkan hati yang sedari tadi tak berbentuk. Benar kata mama, rasa sesak di dada berangsur menghilang.
"maafkan aku ya. Aku hanya ingin kita semua baik-baik saja. Sebelum hari bahagia kita datang" kata Dian.
"tolong jangan katakan apapun lagi. Otak ku masih kelebihan beban untuk loading.
Aku masih butuh ketenangan. Nanti jika aku sudah siap untuk memberikan tanggapan, aku akan bilang"
"yah, tenangkan diri kamu dulu. Tetap berfikir positif.
Apapun yang terjadi, kita memang sudah Jodoh. Dan Johan hanyalah korban dari kisah cinta kita. Jadi maafkan lah dia" entah Dian sadar atau tidak dengan apa yang dia ucapkan. Atau mungkin sengaja membuat lelucon agar aku bisa kembali tertawa.
"Dian.... gak lucu ih" kata ku.
"siapa juga yang bikin lelucon.
Udah sini aku kompres lagi, biar sedikit berkurang bengkak nya" kata Dian kembali mendorong ku supaya berbaring.
"kamu balik ke Pesantren kapan, yakin mau kembali dengan kondisi kaya gini? " tanya Dian.
"sepertinya aku ijin dulu untuk besok. Ijin di kampus juga" kata ku.
__ADS_1
"assiiikk. Aku ijin juga ah" respon Dian dengan cepat.
"kok gitu" aku masih tidak mengerti maksud Dian.
"iya, biar bisa kencan yang hari ini tertunda" kata Dian dengan santainya.
"enak aja, kencan-kencan. Gak ada" kata ku sinis. Sudah tau mata masih bengkak, hati bengkak juga bisa jadi.
"ck, sinis amat sih.
Pesen cincin kawin sayang. Mau nikahan gak ada cincinnya? " Dian meralat kalimat nya.
"ngomong yang bener kek.
Tapi mata ku masih bengkak gini" kata ku manja.
"pake kacamata hitam.
Makanya habis ini udah gak boleh nangis lagi.
Lupain Johan. Ingat-ingat aja kalo kita mau nikah.
Pikirin konsep nya mau seperti apa. Gaunnya mau yang gimana. Pokoknya pikirkan untuk hari bahagia kita nanti aja. OK" pinta Dian dengan santai nya.
"enak banget bilangnya. Hati aku nih yang ngrasain" rupanya aku sudah mulai bisa bicara dengan keras.
"itu karena kamu terlalu suci, terlalu menjaga diri. Dan aku bangga itu" Dian mulai menggoda. Gerakan tangan nya mulai kearah lain.
"dia cuma sentuh muka kamu pake tangan kan, gak sampe di cium gini kan (cup) " terdengar singkat kecupan di kening ku.
"Diiiiaannnn, kamu ya.
Kesempatan dalam kesempitan" fokus untuk meng kompres sudah hilang.
"anggap aja latihan" kata Dian sambil tersenyum.
"seiring berjalannya waktu luka itu akan sembuh. Ada aku di sini. Yakinlah. Kamu punya ku, saat kamu terluka aku pun terluka.
Mungkin saja perasaan kamu yang sangat sensitif saat itu, sehingga apa yang Jo lakukan sangat membekas buruk di memory kamu.
Padahal sebelumnya dia pernah menggandeng tangan kamu bukan? Menyentuh kulit kamu. Bicara tepat di sebelah telinga kamu, bahkan kamu bergerak sedikit saja dia sudah berhasil mencium kamu"
Aku terperangah dengan apa yang Dian ucapkan baru saja.
Darimana dia bisa tau? Bukankah kita tidak pernah satu sekolah?
"gak usah heran aku tau dari mana. Yang jelas aku tau semua tentang kamu.
Tentang kamu, tidak ada yang aku lewatkan sedikitpun"
Aku kembali terdiam dengan apa yang Dian ucapkan. Rupanya Dian sama kak Jo sama saja, Sama-sama duo cowok obsesi. Bedanya, cinta Dian tersampaikan sedangkan kak Jo, cintanya bertepuk sebelah tangan.
______________________^_^_____________________
__ADS_1