KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Mas Riza Lagi


__ADS_3

Pekerjaan di lapangan ternyata lebih menyita banyak tenaga. Untung saja mas Riza bekerja dengan cekatan, sehingga bisa selesai dengan cepat.


"kita sekalian makan siang ya mbak sebelum kembali ke kantor" kata mas Riza. Wajar jika dia langsung kelaparan, pengecekan kesesuain antara real dengan dokumen beberapa kontainer barang pasti sangat membuat lelah.


"memangnya pengecekan seperti ini harus di lakukan oleh pimpinan langsung ya mas?


Gak ada yang punya bagian sendiri gitu" tanya ku, mulai ingin tahu. Sebab akan menjadi sangat berat jika pada akhirnya seorang wanita yang harus mengerjakan ini.


"sebenarnya ada bagiannya sendiri mbk. Hanya saja kemarin sempat mengalami kendala dokumen pengirimannya. Jadi untuk menghindari pengiriman di tolak lagi, pimpinan turun langsung. Soalnya memakan biaya besar mbak, pasti perusahaan mengalami kerugian banyak jika sampai beberapa kali di tolak" mas Riza menjelaskan sambil terus mengemudi.


"makan di sini ya mbak. Ini salah satu tempat yang sering saya kunjungi bersama bapak" mas Riza membelokkan mobilnya ke kedai masakan jepang.


"wah, diam-diam papa punya selera seperti anak muda juga ya. Suka makan yang aneh-aneh"


"memangnya kalau lagi keluar jalan-jalan sama keluarga gitu bapak tidak pernah ngajak makan yang aneh-aneh mbk?"


"gak pernah, soalnya sudah keduluan anak yang request makanan"


"wah,pantas saja"


Berkat mas Riza aku jadi semakin tau beberapa hal tentang papa. Rasanya keterlaluan sekali bukan, jika orang lain lebih mengetahui selera otang tua kita, dibandingkan anaknya sendiri?


Tapi itu fakta. Sebab selama ini papa selalu menuruti kemauan anak-anaknya. Sampai anak-anaknya lupa untuk memperhatikan kemauan orang tuanya. Rasanya egois sekali aku. Sampai sedewasa ini, sampai sudah punya suami, belum juga bisa memahami orang tua sendiri.


Itu dari sisi ku, sebab aku jarang mengikuti papa kemana-mana seperti adek. Mungkin saja adek lebih tau dengan papa, sebab adek lebih dekat dengan papa. Sering ikut papa bepergian, tidak seperti aku yang lebih sering memilih di rumah saja.


Begitu mendapat tempat duduk, aku mengeluarkan handphone yang sedari tadi bersembunyi di dalam tas.


Ku perhatikan layar depan, tidak ada notifikasi pesan masuk. Sudah setengah hari dan Dian tidak mengubungi ku sama sekali, bahkan mengirim pesan saja tidak. Merajuk lagi atau memang benar-benar sibuk?


Aku mulai mengetik pesan.


Sementara mas Riza sibuk menulis pesanan.


"mbak Kayra mau pesan apa?" tanya mas Riza.


"ah, iya mas sebentar" aku melanjutkan mengetik pesan setelah itu baru melihat pada buku menu.


Tak membuang banyak waktu, aku memilih menu yang paling familiar dan sering aku makan. Bukan karena favorit juga sih, hanya saja mencoba menu baru dengan cita rasa baru mengandung resiko tak sesuai di lidah. Sedangkan tak ada banyak waktu saat ini untuk berlama-lama.


Dering telpon berbunyi, dan itu Dian.


"hay,assalamu'alaikum" sapa ku dengan nada penuh kerinduan.


"waalaikum salam. Lagi dimana, jam kerja kok bisa keluar-keluar" sudah pasti suasa berbeda nampak di layar kamera saat ini.

__ADS_1


"habis tugas di lapangan, sama mas Riza. Ini mampir makan dulu sebelum kembali ke kantor" ku tunjukan layar kamera ke arah mas Riza. Menunjukan jika mas Riza juga tengah asik memainkan handphone saat ini.


"mas," sapa mas Riza singkat.


"dia lagi, dia lagi. Kenapa kemana-mana selalu sama dia sih yang?" protes Dian, yang jelas di dengar langsung oleh mas Riza.


"yah....kan memang dia asisten Papa, sudah bertahun-tahun. Gak mungkin juga kan demi aku yang magang hanya beberapa bulan, lalu Papa ganti asisten?" aku memberikan pertanyaan yang mau tak mau membuat Dian menggunakan logikanya.


"aku mau bicara sama dia"


Ucapan Dian mulai meninggi dan tanpa berkata lagi ku berikan handphone ku pada mas Riza.


"mas, suami aku mau bicara" kata ku pada mas Riza.


"titip istri saya, jangan macam-macam" ucapan Dian terdengar galak.


Jarang-jarang aku mendengar Dian berbicara dengan nada bicara seperti itu. Terbiasa mendengar kalimat lembut yang menenangkan. Sehingga membuat aku sedikit takut dengan kemarahannya.


"siap mas, pasti itu" jawab mas Riza dengan jelas dan padat.


"jangan pernah menyentuh istri saya" sepertinya Dian benar-benar sedang dalam mode galak.


"beres mas, saya jinak kok" mas Riza justru menanggapinya dengan sangat santai.


"kembalikan pada istri saya" ucap Dian lagi dengan galak.


Aku meraih kembali handphone ku dari tangan mas Riza.


"Untung tadi lipstik kamu udah aku rampas. Awas ya, gak boleh deket-deket. Duduk di bangku belakang kalo hanya pergi berdua" perkataan Dian membuat aku malu pada mas Riza.


Tak seharusnya kecemburuan Dian terang-terangan di ketahui oleh mas Riza. Tapi mau bagaimana lagi, panggilan vcall sudah pasti suara loudspeaker.


"astagfirullah, sayang. Ini juga duduk jaraknya semeter.


Iya, daritadi aku juga duduk di bangku belakang" aku tunjukkan kembali keberadaan mas Riza yang duduk cukup jauh dari ku. Dia nampak tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"kamu kemana aja seharian gak ada kabar? Jangan bilang lagi asik sama aspri?" tanya ku.


"apaan itu aspri?"Dian balik bertanya.


"asisten pribadi" jawab ku melan, sembari mencicipi es lemon tea yang baru saja di sajikan.


"awh,iya. Kenapa aku gak kepikiran yah.


Sepertinya asik, kalo punya asisten pribadi perempuan, yang cantik, masih singgle, bisa di ajak kemana-mana"

__ADS_1


"iwh, sayang....apaan sih gak lucu. Awas aja kalo kamu sendiri yang macem-macem" baru kali ini mendengar Dian mengatakan lelucon genit semacam itu, jadi geli telinga ku.


"apaan sih, orang aku juga bukan bos, kamu lupa?" jawab Dian santai.


Aku menampakan ekspresi mengerucutkan bibir.


"aku lagi keliling cabang ini,cek laporan. Jangankan asisten pribadi, sopir pribadi aja gak di kasih sama si bos"


"hihihihi, sabar sayang"


"saham dimana-mana, tapi kerja cuma jadi bawahan. Nasibbb nasib" lanjut Dian.


"gak masalah. Kamu tetap suami kesayangan aku, kebanggaan aku. Jalur manapun yang kamu pilih, selama itu tidak melanggar norma, akan aku dukung.


"tapi tetep, nanti pulang aku yang jemput" yaelah, ujungnya kembali lagi pada ke posesifan nya lagi.


"katanya lagi keliling cabang, gak capek?" tanya ku. Mengabaikan mas Riza yang sedang duduk melamun.


"enggak. Kan gak sampe keluar kota. Nanti pulang ke rumah kamu yang nyetir"


"iya iya.


Ya sudah, pesanan aku sudah datang. Makan dulu ya. Kamu jangan telat makannya"


"oke, selamat makan sayang. Jangan lupa solat"


"iya, siap. Assalamualaikum" ku ahkhiri percakapan. Lalu menyimpan kembali handphone ke dalam tas.


Nampak mas Riza yang masih diam saja menatap makanan yang sudah di hidangkan.


"kok gak dimakan mas?"


"nunggu mbak Kayra. Masa anak buah makan duluan dari bos, gak sopan"


"mas Riza ini apaan sih. Bosnya itu Papa, bukan aku.


Yasudah, makan yok. Laper"


Sesaat suasana menjadi hening, menikmati makanan masing-masing. Lalu setelah makan kami segera pergi, mengingat ini masih dalam jam kerja.


Dalam perjalanan menuju kantorpun mas Riza hanya diam. Padahal biasanya suka mengajak ngobrol, sekedar untuk mencairkan suasana.


Apa mungkin mas Riza menjadi tidak enak hati ngobrol dengan ku, gara-gara ucapan Dian tadi?


______________________^_^___________________

__ADS_1


__ADS_2