KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Pesta pernikahan


__ADS_3

Tidak enak menolak tumpangan dari kak Jo, juga berat untuk duduk disampingnya. Entah perasaan apa ini, bukankah sebelumnya aku sudah sering satu mobil berdua dengan kak Jo?


Akhirnya ku putuskan untuk menghubungi Siska. Hanya dia yang bisa membebaskan aku dari perasaan tertekan ini.


"tunggu di pintu masuk. Kalo gak, gak bakalan gua make-up in" sengaja aku speaker supaya kak Jo ikut mendengar.


"ngomong pelan weee, sakit telinga" kak Jo ikut menyambar


"kamu speaker Kay, wah jadi malu sama sopir baru kamu"


sejak kami berbaikan Siska dan Kak Jo jadi suka saling mengejek. Pasti ribut kalau bertemu.


"mending jadi sopir pribadinya cewek cantik daripada kamu ke mana-mana sendiri"


"masih pagi gays. Sayang buang-buang energi buat ribut. Ya udah iya. Aku tungguin. Udah ya, matiin dulu telepon nya. Assalamu'alaikum"


"waalaikumsalam" telpon berahir setelah jawaban salam dari Siska.


Mobil kak Jo memasuki kampus. Suasana kampus selalu ramai di pagi hari.


"beneran nih kamu nunggu disini"


"iya kak"


setelah kak Johan menghentikan mobilnya aku segera turun. Dari sekian banyak manusia yang berlalu lalang aku berharap tidak ada yang mengenali saat aku turun dari mobil kak Jo. Karena pamornya di kampus tidak kalah dengan pamornya saat di SMA.


Empat langkah aku berjalan menuju tepi. Betapa kagetnya saat berhenti yang di depan mata Dian, sedang duduk diatas motor.


"astagfirullah" ucap ku seketika, betapa terkejutnya aku.


"mau barengan ke dalam? "


ternyata memberi tawaran tumpangan.


"eh, gak. Turun sini soalnya lagi nunggu teman" masih bingung dengan kehadiran dia yang tiba-tiba


"ya sudah aku masuk dulu"


senyumnya tidak ketinggalan kemudian menyalakan motor dan berlalu pergi.


Orangnya sudah menghilang tapi hati ku masih saja deg-degan. Kenapa bisa muncul tiba-tiba, apa sengaja mengikuti? Tapi kenapa tidak bertanya apapun? Kenapa selalu memasang tingkah misterius gitu sih dia.


Belum selesai aku menerka-nerka yang ditunggu sudah datang. Karena waktu sudah mepet sehingga mobil segera melaju kembali. Belum juga satu menit kami memasuki kelas dosen sudah masuk kelas. Membuat aku dan Siska saling menatap dan berkata "untung gak telat".


Jam pelajaranpun usai. Ada kelas lagi nanti pukul 1,seharusnya berlanjut tapi karena dosen pengajar sedang ada keperluan sehingga diundur. Segera aku dan Siska meninggalkan kelas untuk menuju parkiran mobil.


Awalnya aku mengajak Siska untuk ikut dengan ku, tapi dia menolak. "gak mau jadi tamu tak di undang" dia bilang.


Demi apa susah payah pakei make-up di dalam mobil?


Demi memenuhi permintaan mama papa tercinta. Tak butuh waktu lama untuk Siska memoles wajah ku. Tangannya begitu lincah, aku yang memperhatikan dari cermin sempat dibuat bingung. Bagaimana bisa se lihai itu, aku yang pernah mencoba memakai Aeyliner saja harus menghapus berkali-kali. Sementara dia dengan satu goresan sudah beres.


Aku merasa sangat beruntung dipertemukan dengan teman-teman yang sangat baik hati. Selesai memoles wajah ku, aku minta diantarkan ke kamar mandi untuk berganti baju. Sengaja aku gunakan kardigan supaya memudahkan untuk berganti pakaian sekaligus digunakan untuk dalaman kebaya.


Jika orang lain saja kagum dan memuji karya mama, bagaimana aku tidak?


Aku tau Siska bukan dari kalangan bawah dan seleranya pun tinggi. Jika dia berkata bagus, aku tidak ragu lagi. Ditambah dengan perpaduan warna silver dan peach membuatnya terlihat semakin menawan. Tapi aku malu melihat diri ku sendiri yang nampak begitu glamor.


"beneran bagus? "

__ADS_1


beberapa kali aku bertanya pada Siska untuk meyakinkan diri ku sendiri


"bagus Kayra. Sumpah. Lewat pengantinnya aja mah"


"kelihatan bohongnya! aku aja gak tau pengantin nya seperti apa"


ucap ku yang kemudian disambung dengan tawa oleh Siska.


"assalamu'alaikum, iya pa.


ya Kayra segera ke depan"


terpaksa tawa Siska harus terhenti karena papa sudah menunggu di depan.


"mama kamu emang paling tau kalo anaknya gak bisa jalan pelan ala-ala putri Solo. Makanya dibuatkan kebaya model begitu"


"lama ah, sudah ditunggu"


"gak bakalan juga ditinggalin Kayra. Ntar luntur tuh make-up"


"juru make-up nya ajah sekalian aku bawa, hhhhhh" kali ini aku yang tertawa menang


"ogah"


setelah sampai di tempat parkir dengan berat hati harus aku tinggalkan Siska, setelah dari tadi ku repotkan. Hari ini aku berhutang banyak padanya.


Tapi sudah ada tebusan atasnya., ternyata semua gak gratis. Minta ditemani jalan-jalan sekaligus aku yg jadi supirnya, sudah gitu masih minta di traktir makan pula. Bukankah bayaran nya lebih banyak?


tapi tak apalah, berkat dia juga aku sudah bisa menyetir mobil saat ini. Bahkan dua minggu yang lalu aku sudah mengantongi SIM A sekaligus SIM C.


"pa, apa kita akan pergi bersama keluarga kak Jo? "


"nanti ketemu di sana. Kamu bisa tau mereka juga datang ke undangan? "


"iya, tadi pagi tante Della datang ke rumah ambil baju"


karena perjalanan tidak macet jadi terasa sebentar saja sudah sampai.


Untuk pertama kalinya aku memasuki hotel x. Hotel bintang 5 di kota Jogja, berada di sekitaran Malioboro. Tidak diragukan kemegahan nya. Terkenal dengan tempat elite, yang sering digunakan untuk acara-acara kaum elite.


papa jadi tamu undangan kaum elit, pekik ku dalam hati. Apa aku saja yang tidak pernah mau bergaul dengan dunia bisnis papa?


Berapa kali ya aku ikut hadir ke acara nikahan, sepertinya tidak sering. Dan aku rasa baru kali ini tampil seperti ini. Pantas saja sampai mama menyiapkan baju untuk ku. Kalau tidak, mungkin aku sudah berjalan mundur lebih dulu. Beruntung juga Siska memaksa ku untuk memakai wedges nya.


Banyak mata tertuju pada ku, oh salah. Pada papa ku maksudnya.


"putrinya pak"


"cantik mirip mamanya"


"ini yang anak pertama ya pak"


sekian banyak pertanyaan, papa yang jadi tamu undangan kenapa anaknya yang harus menjadi pusat perhatian?


Tengok kanan kiri, tidak ada juga yang aku kenal. Sepertinya kak Jo beserta keluarga belum datang.


"pa, gak kasih selamat dulu ke pengantin" berharap kami segera pergi dari kerumunan bapak-bapak yang sedang ngerumpi.


"ya sudah saya tinggal ke depan dulu"

__ADS_1


akhirnya kami melangkah pergi juga.


Setelah memberi selamat pada kedua mempelai papa berjalan menuju meja yang sudah disediakan, sesuai dengan nomor yang tertera pada undangan.


Rupanya sudah ada dua keluarga duduk disana. Tak seburuk yang sebelumnya, kali ini keluarga lengkap yang tengah bercengkrama, bukan hanya bapak-bapak yang sedang ngerumpi.


"silahkan pak, silahkan"


dua orang berjas yang duduk lebih awal mempersilahkan.


Tidak lama kemudian keluarga kak Jo menyapa dan menempati meja di sebelah kanan meja yang kami tempati.


Tidak menunggu lama aku bertanya pada papa, apa aku bisa tukar tempat duduk dengan salah satu keluarga kak Jo? setidaknya jika duduk dekat kak Jo aku punya teman ngobrol. Akhirnya papa mencolek papanya kak Jo dan aku bertukar tempat duduk dengan beliau.


Tak kalah heboh dengan rumpian bapak-bapak, kali ini justru mamanya kak Jo yang ngerumpi bareng ibu-ibu disebelah. Tidak berbeda tema pula, masih aku yang menjadi topik pembicaraan. Lebih tepatnya baju yang aku kenakan sih


"iya jeng, itu yang dipakai baju buatan mama dia sendiri" ucapan mamanya kakak Jo membenarkan.


"cantik memang ya, orang sama baju sama cantiknya" celetuk salah seorang ibu


"pendiam ya seperti nya kalau yang ini" kata ibu-ibu yang lain


"serasi loh jeng mereka" eh makin panas di telinga obrolannya


"mereka sudah satu sekolah waktu SMA dan sekarang satu kampus"


"owh begitu. Tapi baru ini loh jeng saya tahu anak pertama pak Wijayakrama"


belum selesai obrolan yang masuk dari telinga kanan, telinga kiri ikut berdenging


"serasi pak, di jodohkan saja. Biar kawan jadi besan. Seperti Pak Hendro sama Pak Richard itu"


"gimana mas? " tanya papanya kak Jo


"hahahah terserah anak-anak saja kalo itu mas. Kita orangtua, terima jadi saja" suara papa menjawab.


saat aku ingin menoleh ke arah kiri tanpa sengaja justru mata ku dan mata kak Jo bertemu saling pandang.


Kak Jo tersenyum dan itu membuat ku semakin bergidik. Ludah ku tertahan di tenggorokan.


Semakin lama obrolannya semakin panas. Sampai akhirnya MC menyapa dari atas pelaminan dan membuyarkan para ibu bapak yang ngobrol.


Meja Pun berangsur penuh dengan sajian makanan. Yang tadinya berpencar seketika merapat ke meja masing-masing.


Dan aku tidak melewatkan kesempatan, setiap piring yang diputar dan berhenti di depan ku maka harus dicicipi.


Sembari mendengarkan riuhnya acara di atas pelaminan. Dan, kami disuguhi ciuman live di depan mata. Tak sengaja melihat sekilas, karena layar ada dimana-mana. Kemudian ku tundukkan kembali kepala dan ku lanjutkan makan. Yang sudah SAH biar saja dinikmati karena itu sudah biasa bagi pasangan pengantin Kristiani. Aku lanjut menikmati makanan di meja saja.


______________^_^______________


hay-hay pembaca setia 😍


terimakasih utk yang masih setia mampir


maafkan banyak typo, padahal udah selalu berusaha koreksi ulang. Setiap dibaca ulang ternyata masih saja typo ya 🙏


ya sudah, cukup curhat saya. Selamat beraktifitas kembali, yang lagi di kondangan...... nikmati deh sajian nya 🍽


sampai bertemu di bab selanjutnya 👋👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2