
Setiba di kediaman kak Maryam, acara akad nikah sedang dipersiapkan. Semua keluarga beserta tamu undangan sudah duduk dengan hikmat.
Aku hanya melewati tempat itu menuju ruang lain dimana kak Maryam berada.
Ternyata sudah ada si mama di sana, dan itu sudah pasti. Sebagai tata rias dan penata gaun pengantin plus costum keluarga,pastinya mama sudah berkutat di tempat ini dari kemarin-kemarin.
Tak luput dari pandangan ku, ada ummi juga di sana yang sedang asik berbincang berdua dengan mama. Semoga ini bukan salah satu upaya untuk PDKT ke mama.
Kak Maryam langsung menyuruh ku untuk mengganti pakaian dengan baju kebaya yang telah di siapkan. Tapi aku menolak untuk di rias terlebih dulu, ingin melihat pertemuan kedua pengantin setelah kata "SAH" di ucapkan.
Banyak lantunan do'a dan ucapan selamat di sana. Akhirnya, hari bahagia mereka datang juga. Hari dimana aku mendapatkan kebebasan dari embel-embel "simpanan Pak Dosen" pastinya itu bikin telinga panas khan!
Ini belum seberapa, karena undangan di acara akad terbatas keluarga. Aku hanya ingin tersenyum bahagia saat kebanyakan dari mahasiswa/mahasiswi menyaksikan 'kesalahan' dari apa yang mereka sangkakan terhadap ku selama ini.
Ya, pak Nicholas mengundang perwakilan dari setiap kelas yang beliau ajar dan perwakilan dari organisasi-organisasi.
Setelah menyaksikan hal bahagia tersebut, aku dan Siska kembali ke kamar untuk merias wajah. Sebenarnya sangat sungkan, tapi mau gimana lagi. Ini atas permintaan kak Maryam sendiri, dan atas dorongan Kak Nicholas pastinya. Bahkan di luar kampus, beliau meminta ku untuk memanggilnya dengan sebutan 'kak'.
Oh ya, dengan orang tua Kak Nicholas, kondisi beliau membaik seiring datangnya kabar pernikahan putra bungsunya. Beliau juga ikut hadir di hari bahagia ini. Aku mengenal beliau setelah sebelumnya kak Nicholas dan kak Maryam mengajak ku untuk membesuk beliau. Beliau orang yang ramah, begitu juga dengan keluarga kak Nicholas yang lainnya.
Rasanya seperti terjebak diantara kasih sayang banyak orang. Jangan lupa bahwa kak Maryam adalah sepupu Ustad Billal. Sudah pasti ada beliau juga di sini. Aku memang belum memberikan jawaban. Tapi sikap ustadz Billal sudah lebih normal, tidak lagi menatap ku dengan tatapan menguliti. Aku hanya berharap, niatan beliau itu baru di ketahui olehnya juga ummi.
Akan ada beban moral seandainya semua anggota keluarga tau, dan mengharapkan hal yang sama. "sungguh berat perasaan ini, ya Allah" ucap ku dalam hati.
Aku memang duduk di depan cermin, tengah di rias oleh asisten mama. Tapi mata ku tidaklah benar-benar menatap ke sana. Pikiran ku tengah berkelana kemana-mana.
"awas kesambet, tatapan kosong aja dari tadi" Siska yang telah selesai dirias terlebih dulu menghampiri ku.
"tau nih si eneng, dari tadi saya tanya juga di kacangin terus" ucap si mbak perias. Aku hanya tersenyum nyengir.
"terus, kalo udah cantik gini kita bakalan ngapain Kay" tanya Siska, yang aku sendiri juga belum tau harus melakukan apa.
"jadi patung selamat datang" ucap ku asal.
"enakan yang lihat ntar, toal toel minta foto bareng artis" Siska mulai bicara asal.
"ye, narsis" ucap ku. Kemudian aku berdiri meninggalkan kamar yang diikuti oleh Siska.
__ADS_1
Halaman rumah kak Maryam sangatlah luas, sehingga tidak perlu lagi menyewa gedung untuk mengadakan acara pernikahan ini.
Tamu undangan sesi kedua mulai berdatangan, setelah tamu pertama saat akad meninggalkan tempat acara. Sementara si pengantin sudah duduk manis di atas pelaminan.
Seseorang dari keluarga kak Maryam menghampiri aku dan Siska. Memberi tahukan tugas kami berdua. Yaitu berjaga di buku tamu saat nanti undangan dari kampus datang, tepatnya di kloter ketiga.
Berarti saat ini masih santai, bebas melakukan apapun.
Ustadz Billal tengah berdiri sebagai penyambut tamu saat ini. Sepertinya tamu dari kalangan pesantren dan rekan bisnis keluarga. Dengan baju yang beliau kenakan saat ini, ada nilai plus yang selama ini aku abaikan. Ditambah dengan hiasan senyuman di setiap menjabat tangan para tamu, manis juga senyumnya.
"astagfirullah, nglantur apa aku ini" aku mengerjabkan mata, sebelum yang di pandang sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.
Aku menarik tangan Siska untuk meninggalkan tempat kami saat ini. Mengurung diri di ruangan lain mungkin itu lebih baik. Lagi pula belum tugas kami saat ini. Dan juga tidak ada yang kami kenali tamu saat ini.
Aku dan Siska menuju taman belakang, di sana ada kolam ikan. Ada ayunan juga.
Eh ternyata, ada adik kecil-kecil di sana ditemani oleh dua pengasuh. Adik dan kerabat kak Maryam yang lain.
Tidak ada yang mencari selama kami berada di taman belakang. Tau begini dandan nanti saja kan lebih fresh. Sekarang keringat sudah bercucuran, berkepentingan masih satu jam lagi. Beberapa kali menguap dan rasanya ingin sekali memejamkan mata.
"iya ustadz" jawab Siska.
"hawh, bisa duduk juga akhirnya. Maryam yang nikah kenapa saya yang capek ya" ucapan konyol dari ustadz Billal yang pertama kali aku dengar.
"iyalah ustad, pengantin di mana-mana tinggal duduk manis di pelaminan" ucap ku spontan menanggapi ucapan ustadz Billal.
"makanya nikah" ucap ku lagi, asal.
"iya, ayok. Sama kamu ya" (ustad Billal)
gubrakk, aku terjungkal dari ayunan.
"Kayra kamu gakpapa" Siska spontan menolong ku, tapi sudah tidak tertolong.
"itu, katak" aku menunjuk katak yang tadi hampir saja melompati kaki ku. Niatnya menyelamatkan kaki dari katak, eh malah jatuh dari ayunan. Yang kemudian di sambut tawa terbahak anak-anak kecil.
Ada tawa kecil dari ustadz Billal, tapi berusaha di tutupi. Mungkin takut jika aku malu.
__ADS_1
"ada yang sakit? " tanya beliau saat aku dan Siska sudah duduk bersama di sofa.
"tidak ustadz, hanya kaget"
Beruntung kebaya yang aku kenakan tidak kotor ataupun sobek. "ah, dasar. coba tadi masih pakai rok lebar. Kan aku bisa loncat" gerutu ku dalam hati.
Suara adzan dari handphone ku berbunyi.
"sudah dzuhur ya" seru ustadz Billal kemudian berdiri untuk pergi solat sepertinya.
"ustad, kalau pakai riasan seperti ini, solatnya tayamum sah tidak? " tanya Siska yang kemudian menghentikan langkah ustadz Billal.
"selama ada air, tayamum tidak dianjurkan.
Kalian kan masih mau menyambut tamu, setelah tamu undangan datang kalian solat" ustad Billal menjelaskan kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
"Kay.. Kay" Siska berbisik.
"sebenarnya gak terlalu buruk loh ustadz Billal. Sudah tampan, agamanya baik, pekerjaan mapan, secara usia juga sudah pasti matang. Darah Arab pula. Kurang apalagi coba? " Siska bicara sembari terus menatap kepergian sang ustadz.
Dua pengasuh anak-anak sedang berkejaran bersama anak-anak, menyuapi kemanapun langkah kaki anak-anak itu pergi. Jadi aman, percakapan kami tidak akan di dengar.
"Mungkin menurut sebagian orang, ustadz Billal cocok untuk menjadi sosok suami idaman. Tinggi, besar, hidung mancung, mata cekung, khas sekali Arabnya. Dengan agama yang baik, lulusan s2 Turki. Menjadi pengajar di pesantren keluarga sendiri, bahkan bisa jadi suatu saat beliau yang akan menjadi pengasuh di sana.
Tapi sayangnya JODOH tidaklah melihat itu semua. Hati kecil ku sama sekali tidak menginginkan itu. Lahir batin aku belum siap. Sekalipun orang bilang cinta bisa datang seiring berjalannya waktu, tetap saja aku merasa pernikahan itu masih menjadi hal yang tabu untuk saat ini.
Masih banyak hal yang ingin aku wujudkan. Memang sih ustadz bilang akan tetap memberi ku kebebasan sekali pun telah menikah nanti. Tapi aku tidak yakin dengan itu semua. Bagaimana pun juga kalau sudah ada suami, pasti ada sesuatu yang berbeda.
Aku ingin menjalankan tanggungjawab satu persatu dengan tenang. Tidak harus selalu worry saat diluar rumah, karena ada suami yang menunggu kepulangan kita. Belum lagi dengan keluarga,dimana dari sebuah pernikahan pasti segera diharapkan momongan. Big noooooooooo
Bikin aku merinding sendiri tau Sis kalo memikirkan itu semua.
Pokoknya tidaklah. Tidak dan Tidak"
Membayangkan apa yang baru saja aku jabarkan pada Siska, membuat ku memejamkan mata sambil menggelengkan kepala. Terlalu mengerikan membayangkan sebuah pernikahan untuk saat ini.
_____________________tbc___________________
__ADS_1