
"sayang,nanti kita sarapan di runah ummi ya" kata Dian memberitahu,begitu kami telah selesai solat subuh berjamaah.
"boleh. Tapi kok tumben?" tanya ku heran. Sebab biasanya abi yang minta makan malam di sana saja selalu aku yang merayu dengan susah payah.
"gak tau,tiba-tiba kangen masakan ummi aja" katanya sambil melipat sajadah.
"kamu boleh kecewa juga marah dengan ummi. Tapi kamu tidak boleh membenci ummi. Yaaaa" ku genggam tangannya. Menatap dalam mata indah yang saat ini di depan ku. Mencoba mencari tau,kesedihan terdalamnya yang hingga saat ini belum juga ia ceritakan dengan pasti.
"iya,aku tau itu. Oleh sebab itu,hingga saat ini aku masih diam,berusaha menetralkan segala rasa yang tidak menyenangkan. Dan kamulah semangat ku. Satu-satunya alasan yang membuat aku berusaha tegar menghadapi semua ini"
"aku akan selalu menyertai langkah mu sayang, selama itu menuju langkah yang baik"
"terimakasih ya, sudah membawa ku pada kasih sayang di keluarga ini. Kasih sayang yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya"
"jangan berkata begitu. Ummi dan abi pasti juga menyayangi kamu, hanya saja dengan cara yang berbeda"
"tapi mereka belum pernah mensuport apa yang aku mau. Setiap apa yang aku inginkan, aku harus bersusah payah untuk memperjuangkan ijin dari mereka.
Meskipun abi yang lebih sering mendukung ku, itupun harus ada perdebatan panjang dulu dengan umm"
"sssstttttt,sudah. Gak usah di lanjutkan jika itu hanya membuat kamu sedih" aku menahan bibir Dian supaya tidak lagi berbicara.
"ini pagi yang sangat sejuk. Jangan kotori perasaan kita dengan polusi kehidupan yang hanya bisa menghanguskan semangat.
Yakinlah, saat itu Allah sedang menempa mu agar menjadi pribadi yang kuat.
Dan nyatanya, kamu bisa menjadi seorang yang hebat kan dengan perjuangan kamu sendiri.
Itu jauh lebih membanggakan"
Di depan jendela kami tengah berdiri, memadu kasih bersandarkan teralis besi. Sembari menikmati udara pagi yang masih bebas dari polusi. Ditemani burung gereja yang terbang kesana kemari.
"yang paling membuat perasaan ku tersayat adalah
Dulu, setiap malam jum'at pak Kyai langsung yang meminta ku untuk menemani beliau ziarah ke makam. Aku tidak pernah bertanya apa alasanya, kenapa selalu aku yang di minta untuk menemani. Dan tiba di makan satu itu, pak Kyai meminta ku untuk berdoa di sana.
Akupun tidak pernah mencurigai apapun. Padahal aku juga tau kedekatan ummi dengan keluarga pesantren, tapi yang aku tau sebatas kerja sama antara ummi dan salah satu keluarga di pesantren.
Tidak taunya,itu adalah makam seseorang yang telah melahirkan ku ke dunia" air mata Dian jatuh, menetes tepat di pundak ku.
Dengan kedua tangannya memeluk erat tubuh ku dari belakang.
Aku membiarkannya menangis, mungkin dengan begitu bisa berkurang beban perasaannya.
"Rasanya itu yang menusuk ku terlalu dalam"
sambungnya.
Aku berbalik badan, menyeka butiran air mata yang masih menetes.
"rasanya aku ingin marah pada semua orang yang menyembunyikan itu semua"
__ADS_1
"kita boleh membenci suatu hal, tapi Allah memberikan kebaikan melalui itu.
Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh amarah. Berlapang dadalah, sebab Allah menyukai orang-orang yang berlapang dada" ku raba dada bidang di depan ku. Berusaha menyalurkan emosi baik, menetralkan kesedihan yang menghampirinya di pagi ini.
Kecupan hangat mendarat di kening. Disertai dengan pelukan erat yang membuat ku sedikit merasa sesak.
"jangan pernah menyembuyikan satu hal pun dari ku. Sekecil apapun itu"
"gak ada sayang. Sumpah. Semua punya mu, jiwa raga ku.
Kalaupun ada hal di masalalu ku yang baru kamu ketahui sekarang, itu juga bukan salah aku lah?
Gak harus juga kan aku ceritain semua perjalanan hidup ku sebelum kita nikah?
Toh kamu juga gak pernah ceritakan, punya fans dimana aja, pernah jalan sama siapa aja,gak....."
Belum sampai selesai aku bicara, mulut ku sudah di bungkam lebih dulu oleh Dian.
"sarapan pagi" kata Dian begitu dia melepaskan ciumannya.
"sayang,iwh,nyebelin"
"tapi kamu suka kan?" Dian beranjak mengganti sarungnya dengan celana pendek.
"ya tapi gak gitu juga. Masih ada orang bicara juga"
"habisnya bibir kamu gemesin kalo udah ngomel panjang lebar.
Dengan cepat aku menyambar ikat rambut di meja dan memakainya dengan tergesa. Lalu berlari menyusul Dian turun. Sebab bahaya kalau sampai adek ngompor lagi.
Lagipula aku sendiri kan juga pengen tau gimana cerita yang sebenarnya. Bisa-bisanya dia lebih berpihak ke orang lain dan tidak menceritakan pada ku.
"owh, jadi rupanya itu yang semalam membuat kamu mundar-mandir seperti setrikaan" terdengar suara mama yang bicara saat aku sampai di tangga paling bawah.
"kamu itu isenk juga kelewatan dek" tegur mama.
"iya tuh ma. Mau bikin pernikahan orang bubar apa" timpal ku.
"husttt, bicara apa kamu ini pagi-pagi. Ucapan itu adalah doa, jadi bicara yang baik" jadi aku yang ikutan di tegur sama mama.
"astagfirullah hal adzim" kata ku dengan cepat sambil membungkam mulut.
"pengantin baru itu bawaannya apa selalu heboh gitu ya?
Santai aja lagi kak Dian, udah SAH. Gak ada yang bisa ngalahin kak Dian, si.a.pa.pun.
Sekalipun sekarang lagi jamannya pelakor lah, pebinor, yang SAH tetap berkuasa. Percaya aja lagi sama kak Kayra.
Ya gak kak?"
"Adeeeekkkkkkkkkkk" rasanya membuat aku pengen berteriak. Bukannya mengklarifikasi dengan benar. Malah ngomong sana sini gak jelas. Bener kan dugaan aku.
__ADS_1
"hust, Nahla. Kamu ini, masih kecil, darimana dapat kata-kata seperti itu" sebelum aku berkata mama sudah menegur lebih dulu.
"kebanyakan nongkrong itu ma.
Makanya kalo kerjain tugas tuh di rumah, bukan di cafe.
Alasan aja numpang wifi, padahal di rumah juga wifi gratis"
"aduuh, kakak ku sayang.
Kalo di cafe itu gak pakek ribet. Wifi udah gratis, kalo haus, laper, tinggal panggil pelayan. Selesai, tinggal pulang"
"anak bungsu mama salah pergaulan tuh"
"bukan salah pergaulan kakak ku sayang, tapi ga.ul"
"sudah sudah. Mau pecah ini telinga mama. Masih pagi, mending di simpen aja tenaganya buat bantu mama siapin sarapan nih" teriak mama dari dapur.
Sementara Dian terlihat geleng-geleng kepala.
"yang di bahas apa, jadinya malah ngebahas apa" gumam Dian sambil berdiri meninggalkan meja makan.
"nemenin papa sepertinya lebih baik" sambungnya sambil terus berjalan.
"iya yangggg, tolongggg siramin bunga aku yang baru di tanam itu yaaa" bicara ku dengan keras.
Entah dilakukan atau tidak, yang pasti Dian dengarlah.
"kamu itu dek, jangan terlalu iseng. Gak baik. Bisa jadi yang kamu fikir hanya sebuah candaan, itu bisa mendatangan masalah bagi orang lain" mama kembali menegur adek saat kami memasuki dapur.
"iya iya, maaf.
Maaf ya kakak, cemburu beneran ya kak Dian?"
"pokoknya kamu hutang penjelasan sama Kakak"
"oh ya ma, Dian ngajak sarapan di rumah ummi pagi ini" sambung ku, berkata pada mama.
"alhamdulillah, kalau sudah mau akur lagi" ternyata mendapat sambutan bahagia dari mama juga.
"iya ma. Kalau begitu Kayra siap-siap dulu ya. Ada adek yang siap membantu, dia kan sudah bebas tugas"
"ewh....anak aja, mentang-mentang yang sudah....."
"adek, sudah. Gak perlu di lanjutkan"
Aku melangkah pergi meninggalkan adek yang lagi-lagi mendapat teguran dari mama.
"sungguh itu anak ya, dari dulu gak ada berubah-berubahnya" kata ku dalam hati sembari terus menaiki tangga.
____________________^_^___________________
__ADS_1