
"ekhm....mas, maaf ucapan suami Kayra tadi ya"
aku kencoba memecahkan keheningan.
"tidak ada yang salah dengan ucapan suami mbak Kayra"
"tapi jika menyinggung perasaan mas Riza, maaf ya. Aku rasa, itu karena dia belum kenal sama mas. Makanya dia cemburu. Kalau sudah kenal dan tau kalau mas Riza itu orang yang baik, pasti tidak akan begitu lagi"
"jadi...suami mbak Kayra cemburu sama saya?"
"ekhm.....iya mas.
Gara-gara kejadian waktu kita terjebak pohon tumbang, di rumah malah di komporin sama adek. Cerita soal rahasia dia sama mas Riza. Padahal aku sendiri baru tau waktu itu juga, mas Riza yang cerita"
"astagfirullah.....maaf ya mbak Kayra, gara-gara saya"
"gak ada yang salah mas. Semua hanya cerita masalalu. Kita hidup untuk saat ini dan masa depan"
"saya jadi tidak enak sama suami mbak Kayra"
"pepatah bilang "tak kenal maka tak sayang"
Bagaimana kalo kapan-kapan saya undang mas Riza untuk makan bersama. Biar bisa ngobrol-ngobrol gitu, biar lebih kenal. Sekalian sama adek juga, biar konfirmasi berita yang pernah dia sampein ke suami aku.
Pastinya kita akan sering terlibat hubungan kerja kan selama aku magang di perusahaan Papa, jadi gak ada salahnya kan mas kalo kita saling menjaga hubungan baik?"
"iya mbak, benar itu. Saya pasti mau kok, insya Allah"
"makasih ya mas, mas Riza memang orang baik"
"ah, gak seperti itu juga mbak. Jangan terlalu memuji. Bisa GR saya"
"mas Riza bisa aja"
Akhirnya setelah percakapan panjang kami bisa kembali tertawa bersama. Hati ku lega, satu persoalan dengan satu orang selesai. Tinggal nanti bagaimana dengan suami super nyebelin aku itu. Semoga saja mudah untuk di luluhkan.
Begitu sampai di kantor aku langsung meninggalkan mas Riza. Karena Papa masih berada di luar, sehingga laporan hasil di lapangan di laporkan nanti.
Aku menghela nafas berat dan lagi-lagi langsunh mendapat perhatian dari Dila.
"capek Kay?" tanya nya.
"banget. Kerja di lapangan lebih melelahkan, gak bisa duduk-duduk, gak ada ademnya AC juga" bukannya aku mengeluh, hanya memaparkan hal yang sebenarnya.
"makin exsotic kamu nanti kalo keseringan tugas di luar" ledek Dila.
"gak masalah, sudah laku juga" jawab ku santai.
__ADS_1
"ah, mentang-mentang yang udah sold out"
Lalu aku pun kembali membantu Dila merapikan beberapa dokumen.
Bisa bernafas lega dengan menghirup udara dingin AC sambil duduk manis.
Tak lama handphone ku berbunyi, ada pesan masuk dari mas Riza.
"mbak nanti sebelum pulang saya laporan hasil dari lapangan. Mau ikut gak?"
"cie....mas Riza lagi mas Riza lagi" ternyata Dila mengintip saat aku membaca pesan.
"kerjaan neng....ker.ja.an" aku menekankan setiap kata.
"lihat nanti ya mas, soalnya aku di jemput sama suami" ~send
"hati-hati Kay, terlalu dekat nanti bisa jadi pebinor"
"Dila apaan sih, orang ini cuma urusan kerjaan. Gak usah bikin gosip baru deh" kata ku berbisik di sebelah telinga Dila.
Siang ini di ruangan devisi keuangan juga lengang, karena bapak manager keuangan ikut pertemuan bersama bapak direktur. Sementara para pegawai senior sedang mengadakan audit ke beberapa tempat.
"sepertinya kita bisa pulang cepet hari ini Kay"
bisik Dila.
"semoga aja. Aku udah pengen rebahan tau" jawab ku.
Jangan-jangan kamu hamil ya? Ibu hamil kan mudah sekali lelah katanya" tebak Dila.
"hust, ngaco kamu, pakek pengamanlah. Aku gak mau bunting dulu sampe selesai sidang skripsi" aku kembali berbisik di telinga Dila.
Masih saja seperti itu, kami melanjutkan pekerjaan dengan sambil mengobrol. Bahkan bukan hanya mengobrol dengan Dila sekarang, malahan mengobrol dengan beberapa orang yang tersisa di dalam ruangan.
Mas Riza POV
Tidak pernah terlintas dalam benak ku jika akan menjadi sedekat ini dengan Kayra, si gadis manis yang sempat mencuri hati ku.
Setelah sekian lama aku tidak pernah menaruh hati pada seorang wanita,tiba-tiba saja hati ku terpikat oleh sesosok gadis kecil, yang tak lain adalah putri dari pemilik perusahaan tempat ku bekerja.
Kala itu pertemuan pertama kali saat ulang tahun perusahaan. Oh, bukan bukan, sebenarnya sebelum itu aku pernah melihat sosok dia sekali muncul di kantor, waktu aku berstatus mahasiswa magang di perusahaan.
Hanya saja waktu itu dia datang ke kantor masih memakai baju putih abu-abu. Dan saat pertemuan di ulang tahun perusahaan, dia sudah terlihat lebih matang. Tapi tetap saja, aku tidak berani mendekati nya. Selain dia anak dari bos, juga karena pendidikannya yang terancam berhenti di tengah jalan, jika sampai ketahuan pacaran oleh orang tuanya.
Bagaimana aku bisa tau?
Karena aku cukup dekat dengan direktur perusahaan, yang tak lain adalah papanya.
__ADS_1
Saat berstatus sebagai mahasiswa magang, kinerja ku cukup baik di perusahaan. Lalu aku berhasil lulus dengan predikat cumloud, jadilah aku mendapat tawaran untuk kembali bekerja di perusahaan, dengan posisi yang cukup baik kala itu. Sampai akhirnya Pak Wijaya mempercayakan saya sebagai asisten pribadi beliau.
Sekalipun aku tak ada nyali untuk mendekati putri sulung pak Wijaya, tapi aku cukup dekat dengan putri bungku beliau, yang tak lain adalah adik dari Kayra, yaitu Nahla. Karena Nahla lebih sering muncul di perusahaan juga ikut bersama pak Wijaya di beberapa acara. Berbeda sekali dengan Kayra, yang hanya sekali dua kali aku lihat datang ke perusahaan.
Selain aku tak memiliki banyak kesempatan untuk bertemu Kayra, aku juga tak memiliki kesempatan untuk menyimpan kontak dia. Berulang kali aku mencoba membujuk Nahla agar bisa mendapatkan nomor telpon Kayra, tapi tak pernah berhasil. Rupanya dia benar-benar menutup diri. Mungkin karena benar-benar takut dengan ultimatum dari orang tua.
Aku hanya bisa berdo'a, kiranya ia jodoh ku semoga di dekatkan.
Dan aku hanya bisa menunggu, menunggu waktu hingga dia menyelesaikan S1. Disamping itu, akupun kembali mengejar beasiswa untuk melanjutkan S2.
Aku cukup tau diri untuk tiba-tiba melamar anak dari seorang direktur, sehingga aku berusaha untuk memantaskan diri, hingga nanti waktunya tiba.
Alhamdulillah aku berhasil mendapat beasiswa S2. Bahkan dengan sangat kebetulan, satu kampus dengan Kayra. Tapi tetap saja, akan sangat sedikit sekali kesempatan untuk bisa bertemu dengan dia. Kendatipun begitu aku tetap menjalani hari dengan penuh semangat, kuliah sambil bekerja, sekalipun lelah sudah menjadi teman di setiap harinya.
Waktu terus berjalan, banyak hal yang terjadi. Tapi tak banyak perkembangan ke arah positif. Hingga aku mendapat kabar jika Kayra tinggal di Pesantren, rasanya jarak semakin menjadikan kami kian jauh.
Usaha?
Aku berfikir untuk mulai berusaha mendekati dia. Minimal kami berteman, dia mau mengenali ku. Karena mendekat melalui keluarganya tidak bisa, jadi aku mulai mencari informasi tentangnya di kampus. Melalui organisasi yang dia ikuti.
Dan hasilnya, tak cukup membuat aku bahagia. Karena ternyata diam-diam dia sudah dekat dengan seseorang, sekalipun belum dengan setatus pacaran.
Entah apa yang membutakan hati ku, masih saja aku menaruh dia di dalamnya. Padahal aku jarang melihat dia, baik secara langsung ataupun mencari-cari di media sosial. Sebab aku takut zina mata, takut jika tak bisa mengendalikan diri untuk tidak mendekati dia.
Senyum khas dia yang begitu membekas, tawa renyah yang terdengar begitu merdu, membuat aku sulit untuk memejamkan mata. Padahal hanya dalam satu kali pertemuan. Aku sampai heran, sesederhana itukah perasaan cinta?
Selama janur kuning belum melengkung, tak ada salahnya jika aku tetap berusaha. Aku akan tetap menunggu.
Lama tak mendengar cerita dari pak Wijaya tentang nya, pikir ku semua baik-baik saja. Hingga kabar yang sangat mengejutkan saya dengar langsung dari pak Wijaya "*sepertinya saja akan mantu (dalam bahasa jawa) dalam waktu dekat, Za"
DEG*,
Perasaan ku sudah sangat tak enak, tapi aku mencoba untuk biasa saja. Menanyakan tentang siapa yang menikah dan dengan siapa.
Saat itu juga hati ku rasanya hancur berkeping-keping. Harapan tinggal harapan. Dan kini pupus sudah harapan itu. Bodohnya aku, keinginan tanpa usaha mana bisa?
Tapi Tuhan lebih memiliki ketetapan. Dan inilah jawaban dari doa itu. Kenapa dia semakin menjauh? Sebab dia bukanlah untuk ku.
Selama dua hari aku mengambil cuti, mengasingkan diri. Menetralkan hati. Beruntung tak ada kenangan yang terlalu dalam, sehingga luka ini tak terlalu dalam menyakiti perasaan.
Dan kini, semakin aku mengenal gadis kecil itu, rasanya aku semakin menyukai sosoknya. Tak pantas lagi jika aku katakan 'mencintai'.
Kelembutan hatinya, kebaikan pribadinya, keanggunan senyumnya, tawa renyahnya yang seakan tak ada beban. Kebijakan dia dalam menyikapi suatu hal. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya.
Tuhan, masih adakah satu sosok wanita lagi seperti dia yang tersisa?
Jika ada, jadikanlah dia Jodoh ku.
__ADS_1
Tapi aku bisa apa, saat takdir harus berkata lain. Terus bersama dia, mengenal dia, di dekat dia, itu jauh lebih menyenangkan. Mungkin rasa cinta ku cukup dengan melihat dia bahagia.
_______________________^_^_____________________