
Johan POV
Menyaksikan pernikahan Kayra bersama Dian tentulah itu bukan hal mudah. Luka tak berdarah yang berangsur mengering dipastikan akan kembali me nganga.
Namun, bagaimana pun juga aku tidak bisa terus bersembunyi dari semua keadaan ini. Mengingat hubungan diantara kami yang cukup rumit. Antara aku dan Kayra juga antara aku dan Dian. Kecuali jika aku pergi jauh meninggalkan kota ini, bersama orang-orang dan juga kenangan nya. Sekali pun aku tak yakin, akan sampai kapan perasaan ini hilang.
Apalagi dengan hubungan antara dua keluarga yang sudah seperti saudara. Bahkan keluarga ku belum tau tentang hubungan ku bersama Kayra yang telah hancur.
Lambat laun mereka pasti tau. Dan mungkin saat itulah akan memutuskan untuk pergi, dari semua kerumitan ini.
Aku malu, malu pada orang tua ku atas apa yang aku lakukan. Malu pada orang tua Kayra. Apalagi pada Kayra, rasa bersalah yang berganti memenuhi rongga.
Atas permintaan Dian juga dorongan dari Nahla, aku putuskan untuk datang dihari pernikahan mereka. Entah apa yang akan terjadi di sana nanti, aku sama sekali tidak bisa memprediksi. Mengingat Kayra yang selama ini masih terlihat syok saat melihat ku.
Kata Dian semua akan baik-baik saja. Bahkan dia sendiri yang berjanji akan membantu untuk memperbaiki kesalahan ku pada Kayra.
Detak jantung yang tak biasa bisa ku rasakan saat aku mulai menginjak kan kaki di sana. Ditambah dengan suara dentuman musik, dimana isi dari lirik lagu seakan mengejek ku. Rasanya aku ingin lari sejauh mungkin.
Tiba saat dimana mobil pengantin memasuki halaman gedung. Aku bingung mencari tempat untuk bersembunyi. Sampai akhir nya pesan dari Nahla masuk, dia meminta ku untuk bergabung di keluarga mempelai pria saja. Guna menghindari reaksi Kayra yang bisa saja masih syok.
Disaat aku akan melangkah pergi dari kursi ku, aku mendengar suara dua orang yang sedang bercengkrama. Dan aku mendengar isak tangis mama. Tidak keras, tapi aku hafal betul itu benar-benar suara mama.
Aku mendekati sumber suara, mencoba mengintip dari balik tirai. Benar saja, itu mama bersama mamanya Kayra.
Pikiran ku sudah menjurus pada hal yang selama ini aku sembunyikan dari mama.
Aku tau, tidak akan selamanya aku bisa menyembunyikan ini semua. Dan lagi, aku tidak tau kapan Kayra akan bisa memaafkan aku dan hubungan kami bisa kembali membaik.
Tidak berharap lagi bisa merajut hubungan seperti sedia kala, karena sudah pasti ada Dian. Kini semua sudah berubah, aku sadar itu. Setidaknya Kayra bisa menerima kehadiran ku tanpa rasa takut, tanpa amarah yang membuncah.
Aku berlalu meninggalkan dua ibu yang tengah mencurahkan pilu. Tentang aku, anaknya yang sempat mengalami depresi karena patah hati. Dan tentang dia, anaknya yang mengalami trauma karena sentuhan tangan lelaki patah hati ini.
Hati ku kembali terasa kelu. Mengingat betapa menyedihkan nya aku kala itu. Rasa 'malu' seakan telah hilang tatkala sesak memenuhi rongga jiwa.
__ADS_1
Tapi aku lelaki, pantang untuk menitik kan air mata.
Entah apa yang akan terjadi setelah mama mengetahui semua ini. Apakah aku masih akan mendapatkan pembelaan? Atau justru makian serta tamparan dari papa?
Aku sadar, aku telah mencoreng citra keluarga ku yang selama ini berhubungan baik dan sangat dekat dengan keluarga Kayra.
Kini aku telah tersembunyi diantara se kerumunan manusia yang tak lain adalah keluarga Dian. Sempat aku berbincang dengan nya saat Kayra sudah tak lagi terlihat, masuk ke dalam gedung bersama Nahla. Namun masih bisa ku lihat dari kejauhan, sosok mama menyambut datangnya dengan pelukan.
Aku memberi kode pada Dian tentang apa yang ku lihat.
"sudahlah, mungkin memang sudah waktunya semua kerumitan ini terurai. Semoga setelah ini semua akan kembali membaik.
Aku masih dengan janji ku"
Disisi lain aku bersyukur, Kayra mendapatkan sosok pendamping seperti Dian. Lelaki bijak yang mampu mengayomi. Sekalipun aku tidak bisa memiliki nya, aku tenang dia bersama orang yang tepat.
Prosesi temu tengah di mulai. Aku memperhatikan dengan saksama dalam diam. Berusaha melawan segala rasa yang tak selamanya bisa ku simpan.
Dapat ku tangkap cairan bening menggenang di pelupuk mata Kayra begitu dia menyambut uluran tangan Dian. Cinta di antara keduanya terlihat sangat kentara. Kebahagiaan yang membuncah dari aura wajah keduanya bisa ku saksikan.
Tanpa terasa, langkah kaki menggiring ku untuk melangkah jauh meninggalkan keriuhan. Sepertinya aku sudah tak sanggup lagi untuk menyaksikan lebih jauh.
Getar dari dalam saku celana bisa ku rasakan. Panggilan serta pesan dari Nahla berulang kali masuk. Namun tak menyurutkan langkah ku. Entah langkah ini akan membawa ku kemana, yang pasti aku perlu menjauh untuk sejenak dari tempat ini.
"aku baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu untuk bernafas sejenak. Nanti aku pasti kembali lagi. Aku sudah janji pada Dian untuk menyelesaikan semuanya". ~send
Aku mengirimkan pesan pada Nahla. Aku tau dia pasti menghawatirkan ku saat ini. Tapi keadaan membuat dia tak bisa membuat dia pergi.
Akupun sadar, aku tak harus selalu bergantung pada Nahla untuk sekedar membuat ku tersenyum.
Kebahagiaan ku adalah tugas ku, bukan orang lain. Aku tak boleh bergantung pada siapapun lagi untuk membantu ku melewati masa sulit ini.
Hingga langkah kaki membawa ku untuk menepi di sebuah kedai kopi yang tak mewah. Warung semi permanen yang biasa di jadikan para kuli bangunan untuk sekedar beristirahat.
__ADS_1
Aku memesan kopi hitam pahit, tanpa gula. Padahal sebelum nya tak pernah ku rasakan yang namanya 'kopi hitam'. Entah seperti apa rasa pahitnya, mungkin saja pahitnya kopi hitam mampu mengalahkan pahitnya hati yang ku rasakan saat ini.
Aku ini lelaki, mungkin memang sesekali aku perlu mencoba si hitam yang di gandrung i oleh sebagian besar kaum lelaki.
Ku sesap sedikit cairan hitam itu. Ku rasakan, ku nikmati. Mencoba mencari tau sisi di sebelah mana yang membuat orang-orang mengatakan "kepala ku pusing kalo seharian belum minum kopi"
Sedikit demi sedikit, akhirnya aku meneguk habis satu cangkir kopi hitam yang masih panas-panas.
"sudah langsung habis saja mas. Padahal masih panas loh" tegur si penjual karena aku memesan satu gelas kopi hitam lagi.
"panas bu, tapi tak sepanas hati ku saat ini" kata ku dalam hati sembari berjalan pergi kembali menduduki bangku yang ku tempati tadi.
"biasa ngopi tanpa gula ya mas? gak pahit tuh? " tanya kembali si ibu penjual sembari menaruh secangkir kopi.
Tak berselang lama setelah aku duduk, kopi yang ku pesan juga datang. Diantarkan oleh ibu penjual yang sama, dengan yang menanyai ku tadi. Dan kini pun kembali menanyakan hal konyol yang tak perlu untuk di jawab ku rasa.
Aku hanya tersenyum kecil. Ibu penjual mengajak bercanda atau bagaimana ya.
Ibu itu kembali di balik meja tempat meracik kopi. Kemudian terdengar tengah berbicara dengan si suami. Samar-samar aku bisa mendengar.
"mas ganteng itu seperti nya suka dengan racikan kopi ibu, pak. Mimpi apa ibu semalam, bisa kedatangan pelanggan ganteng, kaya, jadi bening mata ibu. Parfumnya itu loh pak, harum sekali. Pasti parfum mahal itu"
"halah, ibu ini bicara apa. Sudah tua kok ya masih jelalatan mata"
"sekali-kali to pak. Biar gak lihat yang buthek terus, bau keringet"
Aku tersenyum geli mendengar perbincangan mereka.
Kali ini gelas ke lima yang di suguhkan oleh ibu penjual. Jangan dikira berbagai macam pertanyaan tak di lontarkan. Aku hanya menjawab dengan candaan.
"walah mas, di gedung sana itu kan makanan yang di sajikan pasti lebih enak. Minumannya juga. Adem pula, pake AC. Kok malah milih diem di sini" kata si ibu sembari berlalu pergi.
Yah, benar apa yang di katakan oleh ibu penjual. Hanya saja semua itu tidak bisa mengelabui perasaan ku yang masih saja merasakan pilu.
__ADS_1
Aku hanya menunggu waktu, hingga acara usai. Jika tidak sekarang kapan lagi akan ku beranikan diri untuk berhadapan langsung dengan Kayra. Karena setelah ini, sudah ku putuskan untuk melanjutkan studi s2 di negara idaman papa.
___________________^_^_________________