
Siska POV
Sepagi ini aku dibuat spot jantung dengan kejutan yang sama sekali tak terduga.
Sebenarnya bukan aku tidak tau, hanya saja aku berusaha untuk mengingkari. Seperti yang pernah Kayra katakan tentang ustad Billal. Aku pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Tapi aku tidak ingin berprasangka yang pada akhirnya hanya akan membuat luka.
Dengan sangat keras hati ku berusaha menolak apa yang di pikirkan oleh otak. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin. Kata-kata itu yang selalu ku tanamkan dalam hati. Namun siapa sangka, ternyata apa yang dipikirkan oleh otakku benar adanya.
Pagi-pagi sekali Kayra sudah di jemput oleh Dian. Mentang-mentang yang sudah resmi, gas terus wakuncar nya. Tapi ya mau bagaimana lagi, tidak ada hak untuk aku keberatan.
Untuk mengisi kesepian ku, aku bergabung bersama santriwati yang sedang bertugas di kebun. Udara pagi di kebun pasti menyejukkan.
Kali ini para santri sedang memanen tomat. Sekalipun aku belum pernah melakukan hal itu, aku mencoba untuk menirukan cara para santri memetik buah tomat. Awalnya terasa sulit, berkali-kali semua buah tomat yang ada justru ikut terjatuh. Padahal belum waktunya matang.
Saat kali ketiga aku mencoba, ada seseorang yang datang dari arah belakang dan memegang tangan ku. Mengajarkan bagaimana cara memetiknya.
"tidak perlu terlalu mengeluarkan tenaga, cukup kamu sentuh, jika buahnya benar sudah masak, akan langsung jatuh sendiri" suara ustadz Billal sungguh mengagetkan ku. Belum lagi posisi kami saat ini, yang sangat dekat, dengan tubuh tinggi besar sang ustadz, badan ku sudah hampir tak terlihat. Seandainya ada yang tanpa sengaja melihat, bisa saja mengira jika ustadz Billal memeluk ku dari belakang.
Astaghfirullah, pikiran macam apa ini???
"nanti lain kali kita belajar metik buah tomat lagi. Sekarang sarapan dulu yok, sudah ditunggu sama ummi" Disaat jantung ku kasih berdetak tak karuan, ustadz Billal kembali mengejutkan ku dengan perlakuan yang lagi-lagi tak biasa.
Ah, mungkin perasaan ku saja. Kan memang akhir-akhir ini kami dekat, mungkin karena itu ustadz Billal sudi untuk memanggilku mengajak makan bersama. Atau, justru ustadz Billal kasihan melihat aku sendiri, ditinggal kencan oleh Kayra.
Sudahlah, yang penting makan. Aku juga sudah lapar. Hembusan angin sawah membuat cacing di perut ku meronta-ronta. Bagaimana tidak, udara dingin kan membuat seseorang ingin makan terus.
Sejak memasuki dunia kampus, sepertinya aku sudah lupa dengan program diet yang mulai aku susun sejak SMA. Apalagi berada di pesantren ini, rejeki makanan datang kapan saja. Kan kasihan kalau di biarkan begitu saja. Jadi ketularan sama kebiasaan Kayra, badan melar tak lagi terasa.
"dapat berapa buah Sis metik tomatnya? " tanya ummi begitu aku memasuki ruang makan.
"hehe, gagal ummi. Malah jatuh semua buah tomat nya" dengan malu aku menjawab.
"belum terbiasa, gak masalah. Nanti kita buat sambel ijo saja tomat yang masih hijau-hijau" kata ummi dengan bijak.
Tanpa percakapan panjang lagi kami semua mulai sarapan.
Karena tadi pagi sudah tidak membuat ummi menyiapkan sarapan, jadi kali ini aku membantu ummi membereskan meja makan.
Semua anggota keluarga sudah pergi meninggalkan ruang makan. Tersisa pak Kyai dengan ustadz Billal. Semua pekerjaan sudah selesai. Saat aku akan berpamitan untuk beranjak, ustadz Billal menahan ku.
"ngobrol sebentar yok sama ummi sama abi" mata ku langsung membulat dengan sempurna. Ada apa ini?
__ADS_1
Belum sempat aku mempertanyakan, sudah langsung di hadapkan dengan dua orang penting di pesantren. Seharusnya, kalau perut kenyang hati pun tenang. Nah, ini. Perut kenyang hati deg deg an. Eh, bukan hati, tapi jantung yah 😅
"ada apa ya ustadz" dengan hati-hati aku bertanya.
"begini ummi, abi, Billal akan menikahi Siska jika ummi dan abi memberikan restu. Dan jika Siska bersedia untuk saya jadikan istri" deg deg deg deg deg, jantung ku semakin maraton. Tatapan hangat ustadz Billal tertuju pada ku.
Apa?
Apa yang baru saja aku dengar?
Apakah aku sedang bermimpi?
Apakah ini artinya.......
Lamaran macam apa ini, tak ada basa-basi sedikit pun asal tembak aja, jedddaaarrr mati deh aku. Mau jawab apa ini?
Skenario, mana naskah skenario? aku benar-benar mati kutu. Maaaaammmaaaaa tolong!
"kamu sudah yakin mau meminang Siska, bukan karena ada hal lain? " ummi yang lebih dulu bertanya.
"kalau abi sih, mana yang menurut kamu baik saja" pak Kyai menimpali.
"bagaimana dengan Siska? " justru ummi yang kali ini bertanya pada ku.
"apa kamu bersedia menjadi istri Billal? " jedddarr, tembakan langsung mengena di perut.
Tiba-tiba perut mules tak tertahankan.
"aduh, maaf ummi. Siska sakit perut. Permisi dulu ummi, pak kyai, assalamu'alaikum" dengan kecepatan super aku berlari menuju rumah paviliun.
Beruntung ada pertolongan datang. Jika tidak, bisa jadi boneka manekin aku di hadapan ummi dan pak Kyai.
Saat aku keluar dari kamar mandi, sudah ada ustadz Billal di bangku teras.
Sepertinya aku belum terbebas dari serangan fajar ini. Maaaamaaa, tolong.
Padahal sudah selama mungkin aku berada di kamar. Ganti baju juga dandan. Sebenarnya bukan dandan yang wao gitu sih, hanya saja untuk mengulur waktu. Namun nyatanya, ustadz Billal masih saja betah duduk di bangku teras.
Keluar gak yah, keluar? enggak? keluar? enggak? keluar?
Awh, masa bodoh lah. Belum tentu juga ustadz Billal disini nungguin aku. Kan gak ada janji. Beliau juga tenang-tenang saja. Mungkin cuma lagi pengen saja beliau disitu, ini kan rumah-rumahnya juga.
__ADS_1
"woy.... kapan balik? " ~send
Aku mengirim pesan pada Kayra. Berharap dia segera datang dan menyelamatkan aku dari situasi ini.
Lama tak ada balasan dari Kayra, akupun menyalakan laptop. Yah, supaya terlihat sibuk begitulah.
"tokkk tookk ttoookkk" suara ketukan pintu.
"Siska, kamu sudah selesai? " suara ustadz Billal. Haduh, mati aku. Gimana ini? Mau sembunyi kemana?
"eee... eee... eiya ustadz" dengan perasaan tak karuan aku membuka pintu.
Kenapa aku bisa lembek begini?
Kalau aku gak suka, tinggal suruh pergi aja apa susahnya sih. Seperti biasa.
"bisa lanjutkan bicara soal yang tadi" sesaat aku mematung di depan pintu mendapati ustadz Billal yang datang masih dengan tujuan sebelumnya.
"sooo....alllll tadi? " tanya ku untuk meyakinkan.
"tapi disini saja ya. Soalnya saya tidak faham dengan maksud ustadz. Apa yang harus saya katakan pada ummi dan pak kyai? " akhirnya kami duduk berdua di bangku teras, setelah sebelumnya aku mengambil dua toples camilan. Untuk dijadikan teman disaat gugup melanda. Sedia payung sebelum hujan. Anggap saja begitu.
"soal yang tadi.... "
"iya, soal yang tadi saya gak faham maksud ustadz" aku menyela perkataan ustadz Billal.
"Siska, mungkin ini terkesan aneh atau bagaimana ya menurut kamu. Setelah sebelumnya saya menginginkan Kayra untuk menjadi calon istri saya. Sekarang justru saya melamar kamu untuk menjadi calon istri saya.
Saya harap kamu tidak salah faham. Ini semua murni dari hati saya terdalam, tanpa embel-embel apapun. Kalau dulu, saya tertarik dengan Kayra lalu mencoba mendekati dia. Namun nyatanya, gagal.
Lain halnya dengan kamu. Kita murni bisa dekat, mengobrol santai, bercanda, berbagi cerita. Dari sana saya merasa nyaman dengan kedekatan kita. Dan saya sadar, ternyata kamulah sosok yang selama ini saya cari.
Saya harap kamu merasakan hal yang sama dengan saya.
Mungkin ini terlalu cepat. Atau kurang berkesan untuk kalian para kaum muda. Tapi inilah adanya. Dan saya orangnya apa adanya.
Mungkin jika kamu berkenan untuk menjadi istri saya, segala sesuatunya yang akan saya buat dengan penuh kesan.
Kamu tidak harus menjawab sekarang juga. Yang pasti, ummi dan abi sudah memberikan restu. Saya akan menunggu"
*Jedddar, jedddaaarr, jedddar, tembakan bertubi-tubi berhasil menembus jantung hingga ke hati. Mama, rasanya anak mu ini ingin mati.
__ADS_1
____________________tbc*_________________