KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Kemarahan Kayra


__ADS_3

Rahardian POV


Rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Tatapan nanar dari Kayra saat ini benar-benar membuat hati ku resah. Bahkan tatapannya mengandung banyak arti yang tidak mampu aku mengerti. Sebenarnya tak hanya kali ini saja bukan aku bersitegang dengan gadis itu, tapi kali ini benar-benar berbeda.


Akankah aku benar-benar akan kehilangan dia setelah ini?


Kemarahan, kebencian, kekecewaan yang mungkin bercampur menjadi satu dalam hati Kayra, aku rasa memang pantas jika gadis itu benar-benar menjauhi kuku kali ini.


Seharusnya sudah dari dulu bukan ini terjadi, hanya saja aku yang egois, terus memaksa dia untuk memaafkan setiap kesalahan ku, bahkan memohon untuk dia tetap mau mengenal ku.


Kali ini rasanya aku sudah kehilangan keberanian untuk melakukan itu lagi.


Aku benar-benar tak bisa mengatakan apapun lagi saat Kayra menatap ku dengan intens. Aku cukup tau diri atas semua kesalahan ku.


Sekalipun hati ku panas saat Johan masih saja bersikap manis di hadapan Kayra.


Lebih panas lagi saat mengingat setiap kalimat yang pernah kami ceritakan bersama. Bodoh sekali aku, kenapa aku tidak tau bahwa cowok itu yang sering kali datang ke rumah Kayra. Pasalnya nama yang pernah diceritakan Kayra bersama Melan berbeda dengan nama yang menjadi sapaan dia saat di kampus. Ahmad Johan Mananta, aku benar-benar terkecoh dengan oleh nama itu.


Mobil yang sering kali aku jumpai di rumah Kayra kenapa tidak pernah aku lihat saat berkunjung ke rumah Ahmad? Dan sekalipun aku tidak pernah melihat motor Ahmad terparkir di rumah Kayra.


Bodoh. Bodoh. Bodoh.


Bagaimana bisa aku dan Ahmad berbagi semua perasaan tentang gadis yang sama. Bahkan ini sudah dua tahun lebih persahabatan kami dan semua baru terungkap. Kini aku harus bersaing secara nyata dengannya.


Bagaimana dengan persahabatan yang sudah berhasil dipupuk selama ini?


Yang pasti aku tidak akan mampu lagi mendengarkan curahan perasaan nya terhadap gadis yang selama ini aku harapkan.


Harusnya kali ini aku bisa berbicara banyak dengan Kayra. Semenjak kejadian itu aku belum sekali pun berhasil menemui Kayra. Jangankan bertemu, menjawab telepon serta pesan ku saja tidak mau.


Aku masih terus menunggu Kayra keluar dari cafe karena tidak mau mengganggu pertemuan dia jika aku yang masuk. Dan rupanya Ahmad tidak mau membiarkan jika aku bertemu dengan Kayra. Masih saja dia menunggui ku di sana.


Kayra keluar, tapi tidak menaiki motornya melainkan masuk ke dalam mobil entah bersama siapa. Sudah pasti hilang kesempatan ku untuk menemui Kayra saja. Sudah begitu, malah datang pak Nicholas menghampiri. Berbicara basa-basi, dan aku bisa menyadari bahwa sebenarnya beliau hanyalah mengalihkan waktu supaya aku tidak kembali mengikuti Kayra.


Rupanya dosen muda itu juga mengetahui bahwa aku sengaja mengikuti acara pertemuan yang dia rencanakan bersama Kayra. Sialnya aku tidak tau jika ada orang lain juga turut serta bersama mereka. Disini aku terlihat semakin bodoh. Dan kebodohan ku itu yang akan membuat Kayra benar-benar menjauh.

__ADS_1


Sepanjang Dosen muda itu berkata aku hanya bisa mendengar nya tanda merespon apapun. Pikiran ku masih kalut dan hanya fokus dengan Kayra.


Sementara Ahmad atau Jo, Johan siapa lah itu, aku mulai enggan untuk mengingat namanya saja. Dia asik bercengkrama dan menanggapi setiap kata yang pak Nicholas ucapkan.


Terjebak disini, di depan meja ini dengan hiasan segelas kopi padahal aku sama sekali tidak ingin menyentuh nya. Aku tidak terbiasa minum kopi, air putih saja lebih sehat bagi ku.


Johan POV


Aku ingin menemui Kayra sore ini, banyak pesan yang aku kirimkan tapi tidak ada balasan. Panggilan telepon ku juga tidak mendapat respon.


"ada apa dengan gadis satu ini" pikir ku


aku merasa akhir-akhir ini Kayra berusaha menjauhi ku, selalu berusaha menghindar saat aku ingin bertemu dengannya. Dengan berbagai macam alasan dia meninggalkan aku saat aku sengaja menemui nya di kampus.


Aku berfikir keras, kesalahan apa yang sudah aku lakukan? sepertinya tidak ada.


Padahal aku hanya ingin membicarakan tentang dirinya yang sudah semakin luas menjadi pembicaraan di kampus. Kedekatan nya bersama pak Nicholas benar-benar menyita perhatian banyak mahasiswa.


Tidak seperti semasa SMA dulu, kali ini dia nampak begitu tenang. Pernah sekali waktu aku menyinggung soal itu di telepon, jawabannya enteng sekali "biarin aja kak, yang penting Kayra gak seperti yang mereka bicarakan".


Seolah aku hilang kesempatan, haruskah aku pupus harapan sebelum keinginan itu ku ungkapkan? Padahal aku sudah sangat berharap dengan ini kesempatan ku terbuka lebar untuk bisa dekat dengannya. Aku sudah mengantongi ijin dari om Wijayakrama untuk lebih dekat dengan Kayra. Karena selama ini alasan Kayra tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun adalah orang tua nya. Dan dengan adanya isu kedekatan nya dengan pak Nicholas, aku berharap bisa menjadi penyelamatan yang membebaskan Kayra dari isu itu.


Belum juga aku sampai di rumah Kayra, aku lihat dia pergi dengan mengendarai motor. Dan di belakang dia ada Dian, yang melaju dengan motor kakaknya. Tanpa berpikir panjang langsung saja aku memutar balik motor dan mengikuti mereka. Sampai akhir nya aku tiba di sebuah cafe, tempat yang dituju Kayra.


Sudah pasti ada Dian di depan, yang sengaja mengikuti tapi tidak ingin di tau jika sedang mengikuti. Tanpa basa-basi lagi aku segera menegur Dian. Tapi jawabnya Dian yang kurang ramah, seakan kesal karena aku turut hadir di sana membuat aku mengingat wajah Kayra yang lebam saat terakhir kali aku bertemu dengannya.


Tak lain luka itu adalah ulah dari ummi nya Dian. Jadi selama ini luka Kayra di sebabkan oleh Dian dan ummi nya. Beberapa kali aku mendapati Kayra menangis, itu juga karena ibu dan anak itu. Dan Kayra seolah sengaja melindungi mereka dengan tidak pernah bersedia mengatakan apapun saat aku bertanya.


"Seperti nya istimewa sekali cowok ini untuk Kayra" pikir ku dalam hati.


Hati ku seketika mendidih, bahkan aku lupa jika kami sudah bersahabat dua tahun lebih lamanya. Kepalan tangan ku langsung saja mendarat di wajahnya begitu Dian membuka helm.


Beruntung tidak ada satpam di sana, hanya ada tukang parkir di seberang jalan tapi bukan petugas parkir di cafe.


Pertikaian mulut tak terelakkan lagi, hanya saja Dian tidak membalas pukulan ku.

__ADS_1


Sebuah fakta terungkapkan dan itu sungguh mengejutkan kan. Dua tahun lebih kami bersahabat, saling bertukar cerita tentang gadis yang kami cintai, berbagi perasaan yang belum kunjung tersampaikan, bagaimana bisa jika ternyata gadis yang saling kami ceritakan itu adalah gadis yang sama.


Emosi ku semakin membuncah, entah sudah berapa lama aku dan Dian saling tuding, sampai akhir nya aku menyadari kehadiran Kayra yang berdiri mematung tidak jauh dari tempat kami.


"Kayra kamu jangan salah faham" itu kalimat yang pertama kali aku ucapkan. Mengingat dia yang begitu menutupi kesalahan Dian, aku takut jika Kayra membela Dian dan justru menyalahkan ku.


Ternyata yang terjadi lain, Kayra tidak membela siapapun "kalian berdua sama saja, Sama-sama menyusahkan ku".


Tatapan kemarahan, kebencian, kekecewaan terlihat jelas di mata Kayra.


Tanpa berkata lagi dia masuk ke dalam cafe. Sebenarnya aku cukup faham dengan diri Kayra, jika perasaan nya sedang kacau maka dia tidak akan mau berbicara dengan siapapun.


Tapi Dian masih saja berdiri di depan, mana mungkin aku membiarkan dia bertemu berdua saja dengan Kayra.


Setelah beberapa saat Kayra keluar dari cafe. Tapi tidak hanya berdua dengan pak Nicholas. Ada satu orang wanita lagi bersama mereka. Bukannya menuju tempat parkir motor, Kayra justru mengikuti wanita itu dan masuk ke dalam mobil bersamanya.


"kalian, ketua dan wakil BEM di kampus kan? " justru pak Nicholas yang datang menghampiri. Aku hanya tersenyum kecil, sedikit malu. Mungkin saja Kayra sudah sedikit bercerita tadi.


"saya memang bukan dosen kalian, tapi taulah kalian siapa saya" pak Nicholas kembali bicara.


Bukan hanya menghampiri, ternyata pak Nicholas mengajak kami untuk berbincang. Meninggal kan cafe itu dan menuju ke kedai kopi.


Aku ikut saja, ini kesempatan untuk mendapatkan informasi, apa sebenarnya urusan pak Nicholas dengan Kayra.


Terlihat wajah tidak bersahabat pada raut muka Dian. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya, dia hanya diam menjadi pendengar.


Sementara aku berbincang dengan pak Nicholas, bertanya sebanyak mungkin yang ingin aku ketahui.


Tidak menunggu lama, Dian pamit pulang lebih dulu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan kepergiannya. Yang pasti dia tidak akan mengikuti Kayra kembali.


Mendengar banyak penjelasan dari pak Nicholas, aku jadi tau kenapa Kayra terlihat begitu tenang atas isu yang menerpa dirinya.


Aku bisa apalagi, berpisah dengan Pak Nicholas dengan langkah sedikit gontai. Pupus sudah harapan ku untuk kembali menjadi penolong Kayra. Bahkan setelah ini aku harus menghadapi kemarahan Kayra.


______________^_^____________

__ADS_1


ada yang bilang "kesabaran tidak ada batasnya" tapi sebuah ketegasan harus dilakukan demi mengakhiri permasalahan yang tidak kunjung habis.


Nantikan kelanjutan kisah Kayra, jangan lupa jejaknya 😍


__ADS_2