
Pertemuan antara orang tua ku dengan orang tua Dian telah selesai. Dengan hasil perbincangan antara lain, pernikahan akan di langsungkan dua minggu lagi. Pasalnya itu waktu paling mepet yang bisa di lakukan untuk mengajukan dokumen pernikahan pada kementerian terkait, alias KUA.
Acara akan dilaksanakan di gedung Pancaneka, salah satu gedung terbesar di kota ini dengan fasilitas mewah dan harga cukup fantastis. Aku sempat keberatan, pasalnya pernikahan bukanlah hanya tentang pesta sehari semalam semata, tapi jauh pada maknanya. Namun, Lagi-lagi karena Dian memiliki saham di sana. Lantas aku bisa apa lagi, selain menerima.
Pagi acara Akad Nikah akan di langsungkan di pesantren, tempat dulu Dian pernah menimba ilmu. Entah hubungan keluarga seperti apa yang terjalin dengan orang-orang di sana, yang pasti Ummi yang meminta ini dan itu 'harus'.
Siang untuk undangan dari keluarga ku, sorenya teman-teman ku dan Dian, lalu malam undangan untuk keluarga Dian.
Malam sudah larut, tapi aku belum juga bisa memejamkan mata. Terngiang hasil pembicaraan yang baru saja terjadi.
Rasanya aku masih tidak percaya, semua ini akan terjadi. Benar-benar terjadi. Aku akan menikah. Menikah bersama Dian, orang paling menyebalkan yang paling pernah aku kenal. Dan kini telah menjadi orang paling menyenangkan yang pernah ku kenal.
Dengan mudahnya Allah membalikkan keadaan. Dengan mudahnya Allah merubah hati ini. Dengan mudahnya semua ini terjadi.
Air mata ku menetes. Rasa syukur tak pernah berhenti terucap sejak Dian meminang ku waktu itu.
Kejutan demi kejutan yang membuat ku terus mengembangkan senyuman.
Begitu luar biasa kasih sayang Nya. Mungkin inilah yang disebut 'pelangi setelah hujan'.
Dengan sendirinya mata ku terpejam. Setelah terbuai dalam pelukan malam yang begitu hangat, kini udara dingin menyerang tiba-tiba. Dengan berat aku membuka mata. Entah berapa lama mata ku sempat terpejam, sepagi ini adek sudah mengusik tidur ku. Membuka jendela-jendela kamar sehingga semilir angin sebuh terasa menyapu tulang-tulang.
"mama yang suruh bangunin kak. Diajakin joging bareng" kata adek.
Sebenarnya mata masih sangat berat, tapi tak kuasa untuk menolak. Sudah lama sekali aku tidak pernah joging bersama. Bahkan bisa dibilang kurang olahraga setahun belakangan ini.
"tunggu dibawah sana dek, mau siap-siap dulu" kata mu dengan memposisikan kaki menggelantung ke bawah.
"beneran ya siap-siap, bukan tidur lagi" kata adek menegaskan.
"iya adek, bawel. Udah sana pergi dulu" akhirnya aku turun dan berjalan ke kamar mandi sambil berusaha membuka mata lebar-lebar.
Selesai aku bersiap, semua orang tengah menikmati teh hangat di bawah. Lalu aku ikut bergabung sebelum akhirnya kami semua melangkah meninggalkan rumah.
Tak seperti biasanya, atau mungkin ini kebiasaan baru keluarga ku yang tidak aku tau. Papa mengeluarkan mobil dan mama mengisyaratkan pada ku untuk naik.
"tumben sih, kita mau joging dimana emang? " tanya ku, entah pada siapa. Siapa pun itu yang bersedia menjawab.
"sekali-sekali lah kak joging ke taman kota. Nanti pulangnya sekalian kita mampir makan" rupanya mama yang angkat bicara. Dan aku tak ambil pusing dengan apapun itu. Malahan ini baik buat aku, lumayan bisa nambah tenaga biarpun cuma dalam hitungan menit.
Mobil melaju dan tak lama aku kembali menenggelamkan diri ku dalam mimpi.
Adek membangun kan ku begitu mobil telah selesai parkir dengan sempurna. Udara pagi kembali menyapu, menghilang setengah mimpi ku yang masih belum mau pergi.
"melek dulu yang bener kak. Nanti nabrak orang loh" kata adek memperingati.
"yasudah kamu joging duluan sana sama papa, biar mama pelan pelan saja nemenin kakak" pinta mama pada adek.
Lalu mereka berdua pun menghilang dengan cepat lari entah kemana.
"kamu gak pernah olahraga pagi kak" kata mama.
"iya ma, mana sempat. Bangun pagi ya terus aktifitas di pesantren" kata ku dengan langkah yang masih setengah-setengah.
"kelihatan banget tau gak. Yasudah kita lari kecil-kecil saja" mama semakin memperlambat langkah.
"oh ya kak, bukannya Johan juga suka joging di taman ini ya" kata mama tiba-tiba.
Deg, jantung ku sempat terusik namun aku berusaha menetralkan nya dengan cepat.
__ADS_1
"iya sih dulu ma. Gak tau kalau sekarang. Sudah lama gak kontek sama kak Jo" kata ku mencoba berkata dengan sesantai mungkin.
"kok tumben lama gak kontekan, ada apa? " tanya mama kembali.
Dan bukan ini yang aku harapkan. Kenapa mama tiba-tiba membahas tentang kak Jo?
Awh, sepertinya ini bukan hal baru dan bukan hal yang aneh, hanya saja mama tidak tau jika aku sudah setengah mati ingin menghilangkan nama itu dari ingatan.
"gak apa ma. Gak sempat aja. Sama-sama sibuk" kata ku singkat.
"bukannya Dian temenan sama Johan juga ya di kampus? " pertanyaan mama semakin mengarah lebih dalam.
"tapi bukan berarti......
ah sudahlah ma. Gak usah bahas anak orang terus" emosi ku mulai sedikit terpancing. Aku jengah mendengar mama membahas nama itu terus.
"Kayra" panggil mama dengan menghentikan langkah.
"hemp, iya ma" aku pun ikut berhenti sejenak.
"duduk sebentar yok, mama pengen ngobrol" dengan menunjuk pada salah satu bangku taman.
Aku pun mengikuti langkah mama.
"kamu ada masalah apa sama Johan? " tanya mama dengan nada serius. Dan rasanya seperti aku mendapat tembakan mendadak.
"gak ada ma" aku masih mencoba berbohong, namun aku sudah mulai sadar, mama tidak akan berhenti sampai disini saja.
"Dian.... sama adek.... sudah cerita sama mama. Se-mua-nya"
deg deg deg deg
Dian, kenapa dia tidak pernah cerita jika sudah mengatakan hal ini pada mama?
Dengan susah payah aku mengendalikan perasaan, mengendalikan emosi, mengendalikan air mata.
"jadi mama sudah tau" kata ku mencoba acuh.
"ehemp" balas mama singkat.
"boleh tidak kalo mama kasih sedikit pendapat, saran dan masukan" mama menatap ku lekat.
Bagaimana bisa mama setenang itu saat tau jika anaknya pernah di lecehkan oleh seseorang?
Tapi yah, itulah mama. Orang yang selalu tenang dalam menghadapi hal apapun.
"Kakak pernah dengar cerita tidak, jika ada seseorang yang berbuat kejahatan tapi demi kebaikan?
Misalnya, terpaksa mencuri uang kas masjid karena anaknya sedang sakit keras dan butuh pengobatan. Atau mencuri harta orang kaya yang kikir untuk dibagikan pada orang-orang miskin.
Mungkin tujuan nya baik, hanya saja caranya yang salah"
"jangan bilang, menurut mama yang dilakukan kak Jo itu baik hanya saja caranya yang salah. Ma, dia memang anak dari sahabat mama. Tapi aku ini anak mama, mama sama sekali tidak marah dengan kak Jo yang telah melecehkan aku? " aku tak mampu lagi meredam segala rasa. Mungkin ini kali pertama aku berkata keras pada mama.
"ssssttttt,,, tenang dulu sayang. Mama belum selesai bicara" mama duduk semakin dekat sembari mengelus pundak ku.
"Pastinya mama marah lah anak gadis mama di perlakuan demikian. Andai saja waktu itu mama tau secara langsung, mungkin mama akan lebih marah daripada kamu.
Apa kamu tau, jika setelah kepergian kamu, adek kamu itu yang selalu mendukung Jo. Dan apa kamu tau, semua yang di lakukan Jo hanya semata-mata ingin membuat kamu pergi menjauh dari dia? "
__ADS_1
Mama masih saja bercerita dan aku mencoba untuk mencerna. Jujur saja aku sudah tak mampu lagi berkata-kata.
"Dian dan adek sudah mengakui semua di hadapan mama.
Maafkan adek mu, sebenarnya dia yang memberikan ide pada Johan, supaya membuat kamu mau menjauh. Tapi adek mu tidak tau kalau cara seperti itu yang akan di lakukan oleh Johan.
Dan, waktu itu Dian tiba-tiba saja datang ke rumah Jo saat adek juga berada disana. Dian juga sangat marah, hampir berkelahi sama Jo juga memarahinya kebodohan adek mu.
Adek mu ketakutan selama berbulan-bulan, lalu Dian memberi keberanian agar mau menceritakan ini semua pada mama.
Mama tau, perasaan kamu saat ini mungkin sedang hancur, kacau, kecewa, marah, sedih, campur aduk. Antara Dian, Johan juga adek mu.
Kamu butuh waktu untuk tenang.
Tapi menurut mama, memaafkan adalah jalan terbaik untuk semua. Mungkin ini cobaan untuk kamu, untuk kalian semua.
Dian, sebentar lagi akan menjadi suami kamu.
Adek, saudara kandung kamu yang tidak akan bisa di ubah setatus nya. Semarah apapun kamu padanya.
Johan, dia sahabat kamu bukan? Orang yang selalu jadi penolong, penghibur, kawan rekan selama kalian bersekolah.
Tentu semua bukanlah hal mudah. Ikhlas kan semua yang sudah terjadi.
Apa yang telah di alami oleh Johan juga bukan hal mudah mama rasa. Karena kamu kakaknya, adek jadi semakin ikut merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Johan. Tapi dengan berjalan nya waktu, dengan motifasi yang diberikan adek, alhamdulillah Johan bisa bangkit kembali.
Selama ini mamanya Johan sering bercerita tentang kondisi Johan. Bahkan tidak ada yang tau jika selama ini ternyata Nahla yang selalu mensuport dia. Juga tidak ada yang tau tentang apa yang telah dilakukan oleh Jo terhadap kamu, selain kalian berempat"
Sepertinya mama telah selesai dengan petuahnya. Namun aku belum bisa berhenti dengan tangisan ku. Bahkan semakin terisak dengan meletakkan wajah ku di pangkuan mama.
Kejutan macam apa ini?
Sepagi ini hati ku sudah dibuat babak belur tak berbentuk. Hancur, mungkin itu lebih tepatnya.
Takdir ku, kenapa takdir ku harus serumit ini?
Baru juga aku merasakan pelangi yang begitu indah, kenapa harus di hadapan kan kembali pada kenyataannya hidup yang pahit ini.
Kenapa menjadi semakin rumit?
Pada siapa aku harus marah?
Dian, si biang kerok yang selalu bikin onar dalam hidup ku.
Johan, cowok penuh obsesi yang ternyata saat patah hati hampir bunuh diri?
ataukah adek, yang mendadak jadi pahlawan dan semakin menambah kerumitan.
*rumit
rumit
rumit
rumit
rumit*
Kenapa hidup ku harus serumit ini? Bukankah kisah cinta ku sudah hampir berada di ujung?
__ADS_1
_______________^_^____________