
"aku sadar segala sikap ku menyakiti perasaan mu selama ini. Aku memang lelaki yang bodoh"
kenapa aku justru menikmati pelukan dadakan ini, amarah ku rasanya hilang mendengar isakan tangisnya, aku tak tega untuk mendorong tubuhnya.
"andai saja kamu mau berbicara dengan ku, menentukan jalan tikus yang mungkin saja bisa kita lewati bersama. Mungkin aku tidak akan memutuskan benar atas semua sikap ku"
"DIAM mu benar-benar membuat aku kalut dan seakan hilang arah. Maafkan aku, maafkan aku"
aku bisa merasakan, pelukannya semakin erat setiap dia meluap kan emosinya.
Ya, mungkin benar apa yang baru saja dia katakan. Aku memang tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk berbicara berdua dengan baik, dengan ku saja.
"Kayra maafkan aku, maafkan aku"
kata itu saja yang dari tadi berulang-ulang ku dengar. Hingga aku merasakan himpitan yang membuat aku merasa semakin sesak.
"kamu pandai untuk memimpin organisasi di kampus ini, sayangnya kamu terlalu bodoh untuk memimpin hati mu sendiri"
"sudah lepas, aku sulit bernafas. Kita bicara sekarang"
Berpelukan selesai. Eh bukan, cuma aku yang di peluk, tapi aku gak peluk dia balik kok. Cukup hati ku saja yang memeluk hatinya. Sehingga lebih tenang dan aku bisa lepas dari pelukan mencekam nya.
Dian berjalan mengikuti ku dan kami duduk berdua dibawah pohon. Sebenarnya kami tidak pacaran, tapi entah apa yang akan terjadi nanti jika dua mahluk berada di tempat yang sepi, dibawah pohon pula. Orang bilang mahluk ketiga nya adalah setan.
Dengan alasan apa juga Dian meminta bertemu di tempat seperti ini. Harusnya kalau mau romantis-romantisan kan memilih taman yang indah, banyak bunga-bunga.
"maaf aku memeluk kamu sebelum halal"
kata maaf lagi yang keluar.
"maaf mu tidak berarti" sekalipun hati sudah iba, tapi masih ada sisa batu kerikil yang nyempil dan inginnya di lempar-lempar sampai habis.
"kalo kamu masih marah aja, jutek, judes, aku peluk lagi nih" ancaman macam apa itu
"apaan sih, modus"
"Kayra, sungguhan. Aku itu merasa hilang arah kalo kamu sudah diam, menjauhi aku. Apalagi kamu marah sama aku, hari-hari ku terasa hancur. Kacau semua"
"bukannya itu yang dulu kamu lakukan ke aku? "
"iya, aku sadar. Mungkin ini balasan atas semua perbuatan ku. Dan aku pantas mendapat itu semua"
__ADS_1
"baguslah kalo sadar"
"tapi tolong, aku mohon, maafkan aku. Sudah cukup menghukum aku dengan semua ini" tangan nya masih menyatu berada di depan dada, membuat tanda permohonan.
"Siapa juga yang menghukum kamu. Aku melakukan ini untuk diri ku sendiri"
"tapi aku tersiksa dengan semua ini"
"sampai kapan sih kamu akan tetap egois. Sampai kapan kamu akan meminta aku untuk memahami mu. Sebenarnya aku ini siapa bagi mu, bukan siapa-siapa! "
"tidak Kayra. Kamu sangat berarti bagi ku. Dulu hingga kini. Tidak pernah berubah. Sekalipun sikap ku selalu berubah-ubah"
"aku itu capek dengan kalimat mu yang monoton. Selalu dengan kata itu merayu ku. Dan bodohnya, aku selalu tertipu"
"Katakan apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya dan yakin dengan perasaan ku"
Aku hanya diam. Aku terus mengamati bola mata hitamnya. Dan tak pernah ketinggalan mimik setiap tutur katanya. Aku berusaha mencari kebenaran dari dalam dirinya. Yang tidak pernah aku lakukan saat ini. Jangankan untuk melihat intens matanya, untuk melihat sekilas tubuhnya saja aku perlu mengumpulkan keberanian.
"apa kita harus pacaran? apa aku harus mengumumkan di kampus sekarang juga? apa aku harus mendatangi orang tuamu setelah ini?"
"KAMU HARUS MEMBERSIHKAN NAMA KU DI DEPAN USTADZAH ZIA"
Kali ini giliran dia yang diam
"bahkan aku sudah sangat sering mengatakan itu pada Ummi. Ini tentang obsesinya, butuh waktu untuk ummi menyadari semuanya.
Apa kamu tau, bahkan aku sendiri yang anaknya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Karena obsesi ummi yang selalu menuntut ku untuk menjadi seperti yang dia mau" ucapannya lirih, ada kesedihan disini. Aku bisa merasakan.
"ceritakan apa yang selama ini membuat aku tidak percaya dengan perkataan kamu"
Setiap kebersamaan butuh keyakinan. Semakin kesini aku semakin faham dengan hati ku. Yah, mungkin memang aku jatuh cinta pada sosok yang selama berhasil membuat hati ku jungkir balik.
Semakin aku mencoba mengingkari rasanya semakin sakit, sangat sulit. Semakin ingin dilupakan yang ada semakin melekat di pikiran. Bahkan datang kapan saja dalam mimpi tanpa aku minta.
Mau seberapa pun jauhnya jarak fisik, tidak akan mampu memisahkan dekatnya hati.
Kemanapun aku lari, namanya akan tetap abadi dalam ingatan. Aku perlu mengurai benang kusut yang menghalangi jalan ku selama ini. Aku butuh tenang. Dengan dekat, maupun jauh darinya.
Bukankah semakin banyak usia seseorang akan di tuntut untuk bersikap dewasa? Bukankah semakin dewasa permasalahan hidup juga pasti semakin berat?
HADAPI
__ADS_1
Dengan seksama aku mendengarkan kalimat demi kalimat yang Dian tuturkan. Mulai awal dia mengganggu ku, alasan dibalik semua sikapnya, alasan dia keluar dari pesantren, juga wanita yang akhir-akhir ini sering membuntuti dia.
..."oooooohhhhh, rupanya seperti itu" pikir ku, saat Dian sudah berada di akhir ceritanya. ...
"Andai saja ummi bisa memahami aku. Andai saja aku memiliki ibu seperti mama mu. Betapa beruntung nya aku" ada kesedihan sekaligus pengharapan dari dalam dirinya.
"ssstttt, gak boleh bicara seperti itu. Semua sudah takdir Allah. Kita gak bisa milih untuk dilahirkan dari orang tua seperti apa. Ini ujian buat kamu, juga buat ummi kamu"
"iya, seandainya saja ada seseorang yang bisa mensuport aku untuk melewati semua ujian ini" ucapnya penuh harap. Dan aku mulai merasakan aura-aura yang mendebarkan.
"aku tidak tau hubungan macam apa diantara kita. Kamu tidak mau pacaran, dan memang pacaran di larang dalam agama. Aku juga tidak akan melakukan itu.
Aku hanya ingin kita baikan. Minimal ada seseorang yang bisa mendukung ku, memberi ku semangat, mendengar keluh ku, dan itu kamu. Hanya kamu yang aku harapkan. Entah kenapa aku punya keyakinan, kita akan bersama suatu saat nanti.
Aku ingin kita bisa dekat seperti kecil dulu, sekalipun itu hanya kita yang tau.
Maukah kamu menemani ku berjuang untuk meluluhkan hati ummi? "
Aku?
Aku?
Aku hanya bisa melongo, tidak tau mau memberi jawaban seperti apa. Yang pasti aku menganggukkan kepala, tanda bahwa aku MAU.
"Dan satu lagi, sikap ku akhir-akhir ini karena janji ku pada Mama kamu. Aku menemui beliau dan memberanikan diri untuk menceritakan semua yang terjadi. Beliau menasehati ku dengan baik. Tapi sayang, aku tidak bisa menjaga janji ku dengan baik.
AKU TIDAK BISA TANPA KAMU"
"oh... oh... rupanya mama yang jadi penasehat" batin ku dalam hati.
"waktu itu aku juga bertemu Ahmad, Johan maksudnya"
"jadi...... " ucap ku menggantung dan langsung mendapat tanggapan dari Dian.
"ya, tante... menasehati aku dan dia. Dan kami sama-sama berjanji untuk itu.
Dan satu lagi, aku dan Johan membuat kesepakatan. Jika aku diam maka dia juga akan diam. Tapi jika aku kembali maju, dia juga akan maju.
Aku tau jika itu kembali terjadi pasti akan mengusik kamu. Jadi maaf, aku memilih tempat ini untuk bertemu. Karena hanya tempat ini yang tidak ada kamera CCTV"
Aku kembali menelan ludah mendengar cerita Dian. Antara dia dan kak Jo. Entahlah apa yang terjadi dengan mereka berdua. Aku tidak berminat untuk mempertegas hubungan mereka. Yang aku lihat mereka masih sering berkumpul bersama kelompok mereka.
__ADS_1
Tapi setelah apa yang terjadi hari ini,masihkah semuanya akan baik-baik saja?
________________tbc______________