
Begitu kami sampai, disambut hangat sama bude Sintha.
Peluk cium melepas rindu setelah hampir satu tahun tak bertemu.
Ya, masih ku ingat terahir berkunjung ke sini sewaktu kenaikan kelas tahun lalu. Lebaran idul fitri tidak sempat bertemu, karna Papa yang sakit dan harus opname waktu itu.
Setelah melepas rindu sejenak, kami dipersilahkan untuk membersihkan diri dan menyantap hidangan di meja yang telah menanti dari tadi, sarapan pagi.
Seperti tak punya lelah, atau karna sudah terbiasa, kak Gilang yang membantu memasukkan semua koper kami ke dalam kamar.
Setelah itu tak langsung mandi, ternyata menengok burung kesayangan dia itu lebih penting.
Ada kandang cukup lebar di pojok depan rumah, nampak burung Lovebird warna warni berkicau disana, menyambut kedatangan kami.
Baru juga kami selesai mandi, bude sudah memanggil lagi untuk segera sarapan.
"nak... ayo makan dulu, sudah ditunggu sama Gilang"
"ayo nak... makan, gak usah sungkan disini"
bude mempersilahkan lebih kusus pada Melan, karna ini pertama kalinya dia ikut kesini.
Setelah acara sarapan usai.....
rupanya bude masih ingin melepaskan rindu, mengajak kami duduk di teras depan sembari berbincang, menikmati mentari pagi yang perlahan mulai meninggi.
"oh ya bude, pakde Hermawan kemana... pergi sama kakak kecil?"
ahirnya ku tanyakan keberadaan pakde dan kakak kecil, itu sebutan untuk putri kedua bude, adeknya Kak Gilang. Nafisah, itu namanya yang lebih tepat. Karna usia yang lebih kecil tapi harus panggil kakak, jadilah aku panggil dia kakak kecil.
"iya pakde mu lagi ada acara di Sanggar, mau ada lomba lusa"
"lomba tari bude"
"iya, tari Gandrung"
"waaa... seru itu, bisa ikut lihat donk nanti"
sementara baru aku yang asik ngobrol sama bude, karna adek dan Melan sedang asik bercicit cuit sama burung.
Dan kak Gilang, entah sudah menghilang kemana.
Hingga kemudian datanglah sekelompok orang, yang ternyata para pekerja di perkebunan coklat. Mereka datang untuk menaruh coklat-coklat yang baru saja di petik.
"waa.. lagi panen ya bude"
tak sengaja suara ku dan adek bertemu, kemudian kami sama menghampiri tumpukan buah coklat segar yang baru saja di letakkan.
"pernah lihat buah coklat gak Mel? "
tanya ku pada Melan
"pernah.... Khan ini, lagi lihat buah coklat"
"assem luh" ucapku lirih
Dan si adek sudah bergerak cepat, mengambil 1buah kemudian berjalan masuk rumah, begitu keluar lagi potongan buah coklat sudah ditangan.
"emangnya sudah enak dimakan ya" tanya Melan
"enak... tapi asem" jawab ku.
"eh... gak, manis ini kak. Coba aja"
sanggah adek, yang tidak membenarkan ucapan ku bahwa buah coklat memiliki rasa asam.
"kadang memang ada yang manis, itu kalo sudah tua betul... trus dapat cahaya matahari yang cukup banyak" imbuh bude membenarkan kalimat si adek.
__ADS_1
Kemudian kak Gilang datang, membawa buah coklat juga.
"ini nih aku ambilkan yang istimewa, dijamin manis semua rasanya"
ternyata kak Gilang menghilang ke perkebunan sedari tadi.
"kakak pergi kebun gak ngajakin sih" ucap adek
"kasihan masih capek... muka kamu aja masih bau bantal tuh, kusut"
hhhh hhh, malah kak Gilang ngeledek.
"ya nanti lagi kalo kalian mau main ke kebun. Liburan lama to disini? " tanya bude Sintha.
"mungkin satu minggu bude, Khan adek masih harus urus pendaftaran masuk SMA. Saya sendiri di OSIS juga ada rapat perihal penerimaan siswa baru" aku menjelaskan pada bude.
Satu minggu cukuplah untuk melepas lelah. Dan sepertinya benar, pulang nanti lebih baik naik pesawat.
Karna dapat dipastikan butuh waktu beberapa hari untuk kembali meluruskan punggung apabila kembali naik kereta.
Adzan dhuhur berkumandang. Sepulang dari kebun tadi kak Gilang langsung mandi, dan seperti tak punya lelah, sekarang sudah siap dengan baju koko dan peci di kepala.
MashaAllah... adem gitu lihatnya. sayang kakak sendiri
"Istirahat dulu sana, nanti malam kakak ajak jalan-jalan" perintah kak Gilang.
"eh kak... tunggu, aku mau ikut ke masjid"
terang saja, adek terlihat segar... dikereta pun tidur nyenyak dia.
"ayo Mel tidur duluan"
Melan sedang asik memainkan handphone, kemudian aku tarik tangannya untuk segera mengikuti langkah ku ke dalam kamar.
Dan...
Kawan ijen adalah tujuan utama, ada beberapa destinasi lagi yang menarik penglihatan ku.
"Mel... kesini asik deh kayaknya" aku sodorkan foto sebuah hutan, yang nampak begitu teduh dengan pohon-pohon besar disana, Peri Hutan-Jawatan Benculuk.
"hawh.... apa asiknya juga main ke hutan, mau nyariin temen kamu, monyet" kemudian dia tertawa.
"mending juga ke air terjun" ucapnya kembali
"air terjun ada sih dekat sini, aku sudah pernah dulu. Tapi ya gitu, jalannya jauuuhhh Mel bikin kaki gempor. Sedangkan kita Khan butuh tenaga extra buat ke kawah ijen" aku mencoba menjelaskan
"hemp... iya juga sih ya" dia nampak berfikir
"atau ini aja"
kembali ku tunjukkan foto yang tak jauh berbeda, masih nuansa alam pastinya, Taman Nasional Baluran. Sebuah padang savana yang luas, hutan hijau, teluk hingga candi, bak Afrika di ujung Jawa. Dan sepertinya ini lebih menarik buat dia.
"nah... bener, ini aja. Lebih keren"
ahirnya punya kesepakatan, tinggal tunggu adek. Semoga saja tempatnya gak jauh banget.
"trus kitaa kemana lagi yah... pantai yah" tanya ku kembali.
"serius nih.... seminggu di sini mau keliling full. Ntar nyampek rumah langsung sakit pinggang kita"
"haha, iya... sakit pinggang kalo baliknya kita naik kereta lagi"
"terus.... beneran mau naik pesawat"
"kayaknya lebih baik gitu deh. Belum lagi H+2 sudh harus balik kesekolah rapat koordinasi OSIS. Sekalian kita intip Bandara Banyuwangi"
"coba gih telpon mama kamu dulu, kalo emang naik pesawat Khan kita bisa observasi dulu. Siapa tau dapat harga yang lebih murah"
__ADS_1
"Waah bener tuh. Gak kepikiran kesana"
"main mulu sih kamu yang dipikirin"
"lha iyalah... Khan emang kita lagi liburan"
KLEKK
suara pintu terbuka dan adek yang nampak dari balik pintu
"assalamu'alaikum"
"waalaikumsalam" Melan menjawab
"dek... nanti kita balik jadi pakek pesawat aja yah"
tanyaku pada si adek
"terserah aja, yang penting nyampek rumah"
yaelah... lempeng banget sih nih adek satu
"ya Allah.... gak tidur juga kalian dari tadi"
Tiba-tiba suara kak Gilang nyambar dari balik pintu. Kemudian nampak sebuah kepala di daun pintu
"hehe... lagi atur jadwal kak" jawab ku sambil meringis. Kemudian kak Gilang Masuk
eeiitts... kamar cewek! santai, pintu terbuka kok
"mau jalan-jalan ke mana aja sih emangnya"
langsung dia tanya begitu, seolah nyambung pikiran dia sama aku
"Taman Baluran dulu kak, yah dek? "
aku mencoba mencari persetujuan adek, karna tadi belum sempat kasih tau. Mungkin saja dia sudah pernah dengar tempat itu.
"aku mahh ikuttt" tak berbeda dengan kak Gilang, adek seperti sudah tau saja bahwa pilihan ku gak akan abal-abal.
"jadi pada mau tidur gak nih. Kakak mau Jemput Nafis (Nafisah) "
"ke sanggar, wah.... aku ikut" kali ini Melan tampak bersemangat.
Yah, karna mengalir darah seni dalam dirinya. Di sekolah saja dia ikut ekskul Tari.
"aku tidur aja deh, dari kemaren di kereta susah tidur"
benar saja, kepala mulai berasa nyut-nyutan karna kurang tidur.
"ya... masa aku berdua saja sama kak Gilang. Ayo dek kamu temenin" ucap Melan dengan nana memelas pada adek.
"ok, aku ganti baju dulu sebentar. Kak Gilang kluar gih"
hahaha, adek ini. Tuan rumah di usir
"ok, aku tunggu di depan yah"
kemudian kak Gilang berlalu pergi.
"kamu beneran gak ikut Kay" Melan masih mencoba memastikan
"iya, kepala aku mulai nyut-nyutan ini kurang tidur"
"yasudah... kita berangkat dulu ya"
Melan berpamitan, adek nampaknya sudah selesai ganti baju. Akhirnya mereka berdua pergi. Pintu kembali tertutup, dan saatnya aku terbang dulu ke alam mimpi
__ADS_1