
Adzan maghrib baru saja di kumandangkan saat kami memasuki pintu masjid. Kami berjalan menuju tempat wudhu masing-masing. Karena tidak membawa tas, sehingga aku titipkan kunci mobil dan handphone di tas Dian.
Hingga keluar dari tempat wudhu pun bersamaan. Ada seulas senyum dari wajah Dian. Ditambah dengan basahnya basuhan air wudhu di wajah juga rambut, membuat senyuman itu terasa semakin segar. Sejuk di hati. Benar-benar bikin adem.
Mungkin aku sedang marah, tapi disisi lain aku juga bahagia. Bahagia karena cemburunya Dian.
Setelah mengambil mukenah, aku masuk ke tempat solat wanita. Dari kaca terlihat Dian menempati barisan paling dekat dengan tirai. Entah kenapa, dengan sengaja kaki ku menuju arah tirai yang sama. Sehingga kami berdiri berdampingan, hanya saja di pisahan oleh tirai.
Rupanya bukan hanya Dian yang di buat bodoh oleh cinta, tapi juga aku.
Solat magrib selesai. Satu persatu jamaah berhamburan keluar meninggalkan masjid. Aku menunggu Dian di teras luar.
Hingga imam solatpun keluar, Dian belum juga keluar.
Isht, do'a apa aja sih yang di panjatkan. Lama bener nih anak pak ustadz. Gerutu ku dalam hati. Aku kan mesti cepet pulang ke pesantren. Rasanya ingin aku panggil saja tuh anak. Tapi gak sopan juga mengganggu orang yang sedang berdoa. Terlihat gak sabaran sekali aku ini.
Detik berikutnya Dian sudah berjalan keluar.
"lama ya" ucap nya sembari duduk di sebelah ku.
"banget"
"mau lanjut ngobrol di sini, apa balik ke kafe? "
" di HP" aku mengulurkan tangan dengan maksud mengambil kunci mobil dan handphone.
"kok gitu sih, kan mumpung bisa ketemu"
"ini udah gelap Dian. Aku mau bilang sama ummi, apa kalo sampai ada orang pesantren yang tau mobil ku terparkir di depan kantor Desa"
Tanpa ada jawaban malah mulut dia di manyun-manyunkan.
"hemmp, pasang muka sedih. Kamu sih buang-buang waktu aja"
"kok aku lagi, kan kamu yang ngambek"
"kan kebodohan kamu yang bikin aku ngambek"
"dan kebodohan kita yang terus berdebat seperti ini, yang membuat waktu terbuang sia-sia" wajah Dian maju beberapa senti.
"aku gak mau ada orang lain lagi yang peluk kamu"
"iya maaf, kemarin juga gak sengaja. Mungkin saking paniknya ustadz Billal, mau nenangin aku pakai cara apa. Saking seriusnya aku nangis"
"ok, aku maafkan. Aku anggap itu kesalahan ku karena terlambat datang"
"akupun berharapnya kamu orang pertama yang bakal tenangin aku saat dalam kesedihan.
__ADS_1
Tapi, siapa yang tau ada ustadz Billal di sana"
"kalian tidak solat barengan di sana? "
"enggaklah. Ustadz Billal ada perlu dengan sekretariat masjid. Makanya aku gak tau kalo ada beliau juga di sana"
"alhamdulillah kalo gitu.
Kamu nangis kenapa kemarin, sampai seperti itu? "
"aku cerita nanti di telpon ya. Kita pulang sekarang"
"iya ayok"
Dengan cepat Dian menyalakan motor dan melaju ke arah kantor Desa.
Sesampainya di sana Dian menyerah kunci dan handphone ku. Selanjutnya dia meminta aku untuk berjalan lebih dulu.
Aku bahagia, perpisahan ini Dian lepas dengan senyuman. Sudah terlihat kembali cerah raut wajah yang tadinya malas, tak bersahabat.
Mobil ku memasuki pesantren saat adzan isya. Tidak terlalu malam juga sih dari biasanya aku pulang. Hanya saja karena bukan murni kegiatan di kampus, perasaan ku jadi tak enak.
Aku turun dari mobil dan berpapasan dengan Siska yang mau solat berjamaah.
"baru pulang Kay" sapa Siska.
Kemudian kami berpisah dengan berlainan arah.
Sebentar aku mandi dan Siska sudah kembali dari masjid. Berarti tidak ada kajian malam ini.
"udah makan Kay? "
"boro-boro. Kenyang tuh sama tumpukan file"
"yaudah kita makan ayok, aku tungguin"
Lalu kamu keluar menuju rumah utama. Tak seperti biasa, rumah sepi. Romo Yai pun tidak ada.
"Kayra, kamu sudah pulang" sapa ummi.
"iya ummi" aku mencium tangan ummi. Ada kesejukan tersendiri ketika mencium tangan beliau. Beliaulah ibu kedua kami saat ini.
"ummi masak sedikit ya. Soalnya ada acara keluar semua"
"iya ummi, ini juga sudah cukup"
"makan yang banyak Kayra, ummi perhatikan kamu semakin langsing saja sejak semakin banyak kegiatan di kampus"
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecil.
"pasti kurang tidur ya, makannya juga sering telat di kampus.
Ingatkan Kayra Sis, kalau sudah melebihi batas. Kita ini keluarga, jadi harus saling mengingatkan"
Sementara ummi terus menasehati, ada Siska yang kakinya terus menggoyangkan kaki ku.
"kurang apalagi coba" bisiknya.
"kurang sambal" ucap ku spontan menanggapi bisikan Kayra.
Ummi sedikit bingung, karena biasanya aku tidak suka pedas.
"kamu mau sambal, biar ummi ambil dulu di dapur"
ummi beranjak ke dapur.
Sebenarnya aku sudah menghentikan ummi, dengan mengatakan hal lain. Tapi tidak mempan.
"ecie... kurang baik apa coba camer macam itu"
"uda ah, keselek aku nanti. Malah keluar permintaan yang lain lagi.
Kamu sih, kasihan ummi tuh" seketika aku diam karena ummi sudah kembali dengan membawa mangkok berisi sambel.
"kalau makan bertiga begini ummi jadi bisa memperhatikan kalian ya, coba kalau pas lagi bareng-bareng, sudah pusing ummi dengan permintaan anak-anak"
Lagi-lagi, pembahasan tentang ustadz Billal.
Ustadz ganteng, pinter tapi belum laku-laku 🤭, kata ku dalam hati.
Kemudian beralih pertanyaan tentang aktifitas ku yang padat merayap, setelah itu tentang Siska yang diam-diam sudah lebih dekat dengan ummi. Bahkan menceritakan persoalan keluarganya juga.
Perbincangan jadi panjang lebar kesana kemari. Belum makan nasi sudah kenyang angin lebih dulu.
Padahal perut sudah teriak-teriak.
"ya sudah, kita makan ayok" akhirnya, kalimat yang di tunggu-tunggu di ucapkan juga oleh ummi.
________________^_^_______________
Kita tinggalkan sejenak Kayra di meja makan ya gays, biar fokus is perutnya.
Selamat membaca untuk penikmat kisah Kayra.
Terimakasih yang sudah mampir, tinggalkan jejak biar author kenyang juga sama dukungan.
__ADS_1
LIKE, VOTE, KOMENT, HADIAH