
Masih tentang euforia hari Pernikahan. Saat kami kembali ke hotel, di sambut dengan taburan bunga mawar merah bertuliskan "I Love U" di depan pintu kamar. Selanjutnya ada sebuah kain berwarna peach dengan bentuk angsa yang berhadapan. Dan lagi, ada sebuah buket bunga besar di sebelah nya. Bunga mawar tiga warna. Merah, putih, peach.
Kamar hotel ini benar-benar beraromakan bunga mawar segar.
Entah kenapa kali ini aku tertarik pada rangkaian bunga tangan tersebut. Ku ambilnya dari atas kasur dan ku cium lekat-lekat.
"kamu suka dengan aroma itu? " tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di pinggang ku. Sudah pasti itu Dian.
"ehemp" aku masih terpaku pada aroma bunga segar tersebut.
"semoga aku bisa memberikan aroma yang sama pada kehidupan kita nanti ke depan nya.
Merah artinya berani, hangat. Berani dalam menjaga dan melindungi. Hangat dalam sebuah hubungan.
Putih artinya suci. Semoga cinta kita senantiasa suci, se-suci ikatan pernikahan ini.
Peach adalah warna kesukaan kamu. Semoga aku senantiasa bisa membawa mu dalam suka cita.
I Love Kayra Putri Almahira.
Terimakasih kamu sudah bersedia melengkapi hidup ku"
Kalimat demi kalimat mengalir persih di telinga ku dengan hangatnya. Berhasil membuat meremang hati serta tubuh ku. Hati ku di penuhi oleh bunga-bunga saat ini. Sama seperti hal nya ruangan ini.
Tangan kokoh itu masih saja melingkar di pinggang ku. Menyadarkan kepala nya di bahu ku, serta melekat kan bibir nya di telinga ku. Rasanya manja sekali dia saat ini.
Dari depan, ada aroma bunga yang menenangkan. Dari belakang, ada dekapan yang menghangatkan.
Semoga, semoga apa yang menjadi doa Dian di iringi kata "aamiin" oleh para malaikat. Dan dialah kini malaikat nyata ku. Malaikat tak bersayap, yang siap akan membawa ku terbang mengarungi bahtera kehidupan.
Ku letakkan kembali buket bunga tersebut. Ku raih tangan kokoh yang memeluk erat pinggang ku dengan posesif nya.
"aamiin. Terimakasih untuk semuanya" hanya kalimat itu yang ku rasa berhak untuk mewakili segala rasa syukur.
Ku beranikan untuk menatap nya lebih dulu. Menangkup wajah lusuh yang mengisyaratkan akan rasa lelah.
Begitupun dengan aku. Semalam kami tidur hanya beberapa jam saja.
"aku capek, ngantuk" kata ku manja.
"aku juga.
Tapi..... mandi dulu yuk. Biar lebih seger" seketika tubuh ku sudah melayang di udara, berada dalam gendongan lelaki yang telah membuat jiwa dan raga ku benar-benar menjadi milik nya.
"eh, turunin. Mau dibawa kemana ini? " aku tersentak kaget sekaligus berdebar dengan hebatnya jantung ku.
"ada sesuatu juga di dalam sini" katanya sembari menurunkan aku di depan pintu kamar mandi.
Kembali tercium aroma semerbak mewangi. Bukan hanya aroma essential mawar, namun juga bunga mawar asli tengah bergoyang-goyang dari dalam Bathtub, seolah menarik ku untuk masuk ke dalamnya.
"berendam lah. Itu akan membuat badan kamu lebih terasa segar" ucap nya kembali.
"ewh... itu....." kata ku menggantung.
Bagaimana aku bisa mandi, aku membawa handuk?
__ADS_1
"apa?
mau di temenin berendam? "
Tawaran yang menakutkan.
"handuk" kata ku lagi dengan cepat.
"Ouwh... kirain. Padahal udah berharap tadi.
Tapi SAH loh, kalaupun iya" gumam nya kembali sambil berlalu untuk mengambil kan ku handuk.
"gak muat bathtub nya" kilah ku. Sambil mengambil dengan cepat handuk di tangan Dian dan cepat-cepat mengunci pintu kamar mandi.
"Kayra.... Kayra.... gimana bisa kamu merasa takut seperti itu.
Padahal juga sudah SAH. Kalaupun aku memaksa juga gak akan ada yang menyelamatkan kamu. Termasuk mama" suara kumat-kamit karena mendapatkan penolakan masih bisa ku dengar dari dalam kamar mandi.
"memangnya sungguhan kamu mau ngelakuin itu? "
sekali pun samar-samar aku masih saja memberikan tanggapan dari balik dinding kamar mandi.
Lalu suasana menjadi hening. Dan aku pun menikmati hangat nya air yang tengah merendam tubuh ku. Di tambah dengan aroma khas mawar yang sangat aku sukai.
Dari luar ruangan bisa ku dengar alunan lagu yang mulai di putar. Sudah pasti itu Dian. Jika di tambah dengan alunan musik, sudah di pastikan aku akan tidur nyenyak di dalam bak mandi.
Dan sebelum itu terjadi aku segera menyelesaikan ritual mandi ku.
"cepet banget, sudah selesai" kata Dian begitu aku membuka pintu kamar mandi.
Baru dua langkah tangan ku tertahan. Mulai dari ujung kuku hinggan ke pundak hidung mancung itu menyusuri kulit telanjang ku. Rasanya tubuh ku berdesir hebat. Rasa takut mulai menyelimuti. Rasanya sangat menyesal tidak membawa serta pakaian ke dalam kamar mandi.
"Dian... mau ngapain" aku berusaha menarik lengan yang masih di tahan oleh nya.
"gitu amat sih manggil suami sendiri. Yang lebih manis donk" dia justru semakin menggoda ku.
"iwh... apa sih. Aku mau ganti baju" aku berusaha melepaskan diri dari rengkuhan lelaki yang kini sudah menjadi suami ku.
"sebentar aja. Aku cuma pengen menikmati aroma wangi nya" suaranya kembali memanja.
"ayolah, aku bisa masuk angin nih" aku memelas.
"panggil aku dengan kata yang lebih manis" kami masih berdiri mematung di depan cermin meja rias.
"Diaannnnn" kata ku.
"sayang" balas nya.
"Di... ayolah. Aku kedinginan nih" aku kembali memelas.
"panggil aku sayang dulu. Setelah itu ku lepaskan" rengek nya. Kenapa jadi manja sekali gini sih?
"hemp, iya iya.
Sayang.
__ADS_1
Sudah ya, puas? Mandi sana, aku mau ganti baju" aku mencoba kembali melonggarkan tangan yang tengah melingkar di perut ku.
"ada sesuatu loh di dalam buket tadi" kata Dian saat tangannya telah terlepas.
"benarkah? apa itu? " tanya ku penasaran.
"rahasia donk, kejutan" katanya lagi dengan senyuman lebar.
"tapi nanti aja di lihatnya, tunggu aku selesai mandi.
Dan satu lagi,gak boleh langsung tidur. Tunggu aku" bisik nya sekilas kemudian berlalu menuju kamar mandi.
"tunggu. Kalau yang berbentuk angsa warna peach itu apa? " tanya ku kembali setengah berteriak. Sebab orang yang di tanya sudah mengunci pintu kamar mandi.
"rahasia juga. Nanti deh pokoknya, tunggu aku" teriaknya dari dalam sana.
Semua serba "menunggu". Hemp, yasudah lah.
Selesai mengganti baju, sembari menunggu Dian aku mengeluarkan handphone dari dalam laci. Kasihan dia sudah seharian ini aku kunciin di dalam sana. Dia juga butuh udara bebas. Andai saja dia bisa protes, mungkin sudah di lakukan nya.
Sejak Handphone itu bersama ku, belum bernah sekali pun aku abaikan. Selalu ikut kemana-mana. Menemani di kala suka maupun duka. Namun kali ini, aku abaikan begitu saja.
Banyak sekali notifikasi masuk, satu demi satu aplikasi aku cek, tentunya tentang hari bahagia ku. Tanpa susah payah aku mengunggah moments pernikahan ku, foto-foto sudah bertebaran. Aku hanya tersenyum menatap nya. Menyimak satu persatu ucapan selamat dari mereka yang jauh dari jangkauan dan belum ikut dalam daftar tamu undang.
Pintu kamar mandi terbuka. Aroma segar sabun menyeruak tak mau kalah dari aroma bunga yang bertaburan di mana-mana.
Mata ku tersipu menatap rambut segar yang melintas di sebelah ku menuju lemari ganti. Aku tertegun, menatap nya dari belakang. Ternyata dia terlihat lebih keren saat selesai mandi.
"kenapa senyum-senyum sendiri. Masih ada shampoo ya di rambut ku" dia menyadari bahwa aku tengah menatap nya.
Sayangnya aku masih menikmati sosok indah yang kini tengah menyegarkan pandangan ku.
"hey... hello.... " tangannya bergerak di depan wajah, baru aku menyadari bahwa sedari tadi aku sedang terpesona.
Aku bingung harus mengatakan apa. Akhirnya aku pergi dari depan meja rias.
"sudah selesai kan? Bisa kita lihat kejutan yang kamu katakan tadi? " aku menarik tangannya menuju ranjang.
"nanti lah. Kita istirahat dulu. Itu lebih penting"
"aaawh, tapi aku penasaran" aku merengek.
"aku juga sudah penasaran lebih dulu, pengen nge-cek asset ku. Enak aja tadi Jo peluk-peluk" nada bicara Dian meninggi di akhir kalimat.
"awh, apa sih. Gak ada, semua masih utuh punya kamu. Pokoknya gak ada, idur ya tidur" hari kedua bersama masih saja aku gugup jika Dian mulai mengeluarkan kalimat vulgar.
"oke deh. Kita nikmati dulu bantal dan kasur yang empuk ini" kata Dian. Sambil menggeser beberapa bantal hingga menyisakan satu saja di tengah.
Ada tangan yang mulai merengkuh tubuh ku dalam pelukan. Lalu menyembunyikan kepala nya tertutup oleh rambut ku yang tergerai.
"iwh, geli" aku mencoba menggeser sedikit kepala ku. Bukannya berhasil namun justru dia sepenuhnya memindahkan kepala nya pada bantal yang ku pakai.
"kita pakai satu bantal saja. Biar semakin rapat, semakin hangat" ucap nya sembari menaikan selimut.
Rasanya tak ada tenaga lagi untuk berdebat. Aku diam, pasrah. Hingga akhir nya kami pun terlelap dengan posisi seperti yang Dian inginkan.
__ADS_1
_____________________^_^___________________