KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Kehangatan Di Pagi Hari


__ADS_3

Malam telah berganti pagi. Sayup-sayup aku membuka mata, mentari telah menerobos masuk melalui celah tirai. Rasanya masih sulit untuk membuat mata lebar-lebar guna melihat jam di dinding. Akhirnya aku meraih handphone yang ada di atas meja. Pukul 07.05


Aku langsung terbangun dengan kagetnya. Sudah se siang ini? Tumben mama gak bangunin, tumben juga adek gak teriak-teriak, atau langsung menerobos masuk mungkin. Astagfirullah, akupun sampai meninggalkan solat subuh. Bagaimana ini bisa terjadi? Tidur seperti kena obat bius saja.


Saat itu juga aku langsung turun dari atas ranjang menuju kamar mandi.


Keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga. Ternyata di bawah juga sepi. Kemana semua? pikir ku.


"maaa... mama" aku masuk ke dapur, tempat dinas mama saat pagi. Ternyata kosong.


Di teras depan juga kosong, kemana semua ini? pantas saja aku dibiarkan bangun se siang ini, ternyata gak ada orang di rumah.


Kemudian pikiran ku tertuju pada rak sepatu. Karena kebiasaan pagi papa juga adek kan olahraga pagi. Dan ternyata, sepatu olahraga mama pun juga tidak ada. Berarti mereka semua olahraga pagi,termasuk eyang. Dan aku ditinggal sendiri di rumah. Aduh sedihnya😭😭 Aku merutuki diri ku sendiri. Gara-gara bangun kesiangan, harusnya kan aku bisa ikut olahraga pagi bersama mereka 😢.


Dengan langkah tak bersemangat aku kembali menaikan tangga. Mengambil handphone dan melakukan panggilan ke nomor Dian.


Dering pertama langsung mendapatkan jawaban.


"assalamu'alaikum Kayra" sambut Dian dari sebrang telepon.


"hiksss... hikss... hikss" aku tidak menjawab, hanya mengeluarkan suara isak tangis yang sebenarnya tidak sedang menangis.


"Kenapa Kayra, ada apa? " tanya Dian dengan nada panik.


"aku gak mau sendirian" jawab ku dengan nada sedih.


"sendirian gimana maksudnya" tanya Dian kembali.


"semua olahraga pagi dan aku ditinggalin sendiri" jawab ku masih dengan memasang nada bicara sedih.


"tumben, kenapa bisa gitu? " tanya Dian heran.


"aku bangun kesiangan" kali ini nada bicara ku berubah menjadi setengah tertawa.


"hawh, Kayra" begitu saja tanggapan Dian.


"kok hawh? " tanya ku.


"kirain ada apa" jawab Dian datar.


"baru kali ini loh aku di rumah sendirian" sampai sebesar ini aku belum pernah berada di rumah sendirian. Sekalipun di tinggal, biasanya ada si mbak. Atau aku main ke rumah Melan.


Oh, ya Allah. Kenapa aku gak ke rumah Melan aja tadi? Si mbak juga belum datang sih sampai jam segini. Gerutu ku dalam hati.


"kenapa gak ke rumah Melan aja" kata Dian.


"iya, tadi gak kepikiran" aku menjawab.


Kepikirannya pengen di temenin kamu, biarpun cuma lewat telepon 😁 . Kata ku dalam hati.


"ya sudah aku temenin, kamu ke sini gih" seketin aku tercengang. Hampir lupa jika jarak rumah kami hanya lima langkah. Tapi, yang benar saja jika aku datang ke rumah dia.

__ADS_1


Sejak insiden yang terjadi pada ku dan ustadzah Zia, aku tidak pernah lagi menginjak kan kaki di rumah itu.


Sebelumnya, jangan tanya. Hampir setiap hari aku ke sana bersama Melan. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari dua kali.


Aku kembali tersadar pada ucapan Dian. Ke rumah dia tidak mungkin. Tapi untuk menyuruh dia ke sini juga tidak mungkin. Ketahuan berduaan bisa langsung di nikahkan 😆


"hallo... masih ada orang gak di sana? " kembali suara Dian terdengar.


"aku di rumah nenek ini, Melan juga di sini. Gak usah mikir macem-macem" Dian kembali melanjutkan.


Sebab, tadi malam kami sempat teleponan sebelum tidur. Aku sangat mewanti-wanti dia supaya tidak nekat untuk terlalu sering bertemu. Karena aku masih ingin selesai sampai S1.


Mengingat kenekatan dia selama ini untuk terus mendekati ku.


"mandi dulu lah, malu kalo ketemu calon suami masih bau accem" kata ku sambil cengar cengir.


"cepetan, aku pulang kalo kelamaan" dia memperingatkan.


Aku bergegas ke kamar mandi, setelahnya aku segera bersiap untuk bertemu calon suami.


Begitu aku menuruni tangga sudah terdengar suara riuh dari arah teras.


"aaah, jalan-jalan pagi aku gak di bangunin" aku merajuk.


"gak di bangunin gimana, kakak aja tuh tidurnya kaya kebo" sanggah adek.


"mau kemana sudah harum begini Kayra? " tanya eyang.


"ecie... mentang-mentang sudah dapat restu. Pepet terus" bukan adek namanya kalau gak suka jahil.


"iya donk, mumpung ya eyang" aku berusaha mencari dukungan dari eyang.


"boleh. Asalkan gak cuma berdua, nanti yang ketiganya setan" jawab eyang sambil memasuki rumah.


Lalu aku pun pergi meninggalkan adek dan papa yang masih lanjut bermain basket.


Saat aku memasuki halaman rumah eyang Puah, neneknya Melan. Rumah tampak sepi. Tadi katanya lagi ngumpul bareng-bareng, aku menggerutu dalam hati.


Namun belum sempat aku mengucapkan salam, muncul Dian dari dalam kamar "Melan masih nyiapin sarapan. Anak-anak masih disuruh mandi sama tante Fifi" begitu kata Dian. Seolah dia tau apa yang ada dalam pikiran ku.


Aku mengangguk mengerti, lalu duduk di bangku teras. Dian pun ikut duduk di bangku teras bersama ku.


"besok balik ke pesantren jam berapa? " tanya Dian. Dia mengingatkan ku bahwa kelonggaran ini barulah sementara. Aku masih harus kembali ke pesantren. Padahal rasa rindu belum juga terobati. Kenapa waktu harus secepat ini?


"kamu tanya gitu, udah bosen ya lihat aku di rumah? " jawab ku kesal


"kok gitu sih. Mana mungkin aku bosen lihat kamu" jawab Dian datar


"nanti malam dinner di luar yok. For the first time, bolehlah merayakan kebahagiaan sendiri, sekali-sekali" lanjutnya.


"berdua aja? " tanya ku.

__ADS_1


"namanya dinner, ya berdualah" isht, Dian lupa atau bagaimana sih? Aku diam, antara ingin, tapi takut. Jadinya resah.


"yaudah kita ajak Melan kalo kamu takut berdua aja" kata Dian. Melihat kediaman ku sepertinya dia tau apa yang sedang aku pikirkan.


"enak aja aku mau dijadiin obat nyamuk. Berani bayar berapa?" Sementara Melan muncul begitu saja dari arah dapur.


"obat nyamuk apaan sih Mel, kan kamu ikutan kenyang juga.


Ato gini aja, ajakin Nahla juga. Jadi kamu ada temen ngobrol Mel" Entah ide ini sudah disiapkan sebelumnya atau rencana tiba-tiba, tapi Dian memang paling bisa kalau mencari celah.


"nah, kalo itu masih mending. Enak aja aku mau dijadiin kambing congek. Tega deh" Melan memasang wajah masam.


"yaudah kita sarapan yok.


Ayok Mel. Gak ada penolakan. Anggap aja lagi PDKT sama calon ipar" kata Melan dengan polosnya.


"gak usah di PDKT juga udah faham luar dalam" aku mengelak tapi mengikuti langkah Melan menuju meja makan.


"lha, mana semua. Kok gak ada orang" begitu melihat meja makan yang sepi aku jadi bertanya.


"udah sarapan semua jam segini. Ini cuma demi request kakak tercinta tuh, calon suami kamu. Aku jadi bela-belain masak dulu" kata Melan sambil memasang wajah manyun.


"ikhlas gak nih, kalo gak ikhlas malah gak bikin kenyang ntar, gak berkah" kata Dian, dengan menekankan kata terakhir.


"ikhlas kak... ikhlas... banget malah" kata Melan yang masih tak mau kalah.


Aku hanya diam melihat interaksi dua bersaudara itu. Dari dulu hingga sekarang masih saja sama. Padahal aku sama Dian sudah baikan.


Aku mengamati apa yang tersaji di meja sambil mengambil nasi. Ada cah kangkung, terancam, tahu goreng, udang crispy, sambel belut, sambal lombok ijo, telur dadar. Sekilas aku jadi tau rumah makan mana yang menjadi favorit Dian. Rumah makan kegemaran kaum pecinta pedas. Yang cabangnya sudah ada di beberapa kota.


"awas tuh nasinya tumpah semua" Dian memperingati.


Seketika aku melihat ke arah piring. Ternyata Dian hanya mengagetkan ku saja.


"sebanyak ini kamu yang masak Mel? " tanya ku heran.


"iyalah, sepagi ini warung makan mana yang udah buka.


Kerjaan kak Dian tuh, gak taunya ngundang si permaisuri buat makan disini"


"isshhtt... keterlaluan kamu Dian. Aku kan bisa makan di rumah. Lagian tadi juga gak bilang mau ngajak sarapan bareng. Tau gitu kan kita bisa makan di luar aja.


Kasian Melan tau, kamu jadiin upik abu" aku terkekeh saat menyebut kalimat terakhir.


"asyem, dapat julukan baru lagi" protes Melan.


"gapapa... yang gratisan lebih nikmat. Iya kan Mel? " entah apa yang sedang Dian rencanakan terhadap Melan, aku benar-benar tidak tau.


Sekalipun di warnai dengan keributan, suasana makan tetap saja hangat. Sepertinya aku harus mengucapkan banyak terimakasih pada Melan, untuk jamuan pagi ini.


________________TBC_____________

__ADS_1


__ADS_2