
Takkan pernah 'ku menyalahi cinta
Yang kujaga hanya untuk satu kasih
Yang terakhir dan yang pasti untuk selamanya
Kesetiaaan 'kan teruji
'Ku tak mau menyerahkan semua di awal
Bila belum ada satu kepastian
Suatu kesalahan bila kau mencintaiku
Hanya untuk malam pertama
Malam pertama 'kan kuserahkan
Segala cintaku yang hanyalah untukmu
Dan kuingin kau menghargai
Sebagai kepatuhan bukan kepuasan semata
Cintaku bukan karena hayatmu
Kuingin semua terjadi dengan restu
Dalam pelukan tersenyum penuh arti
Jangan pernah ada ucap perpisahan
Jiwa-raga ini tak lari ke mana
Bila memang aku adalah takdirmu
Takkan berguna bila kulakukan lebih awal
Kuinginkan malam pertama
Malam pertama 'kan kuserahkan
Segala cintaku yang hanyalah untukmu
Dan kuingin kau menghargai
Sebagai kepatuhan bukan kepuasan semata
Cintaku bukan karena hayatmu
Kuingin semua terjadi dengan restu
Dalam pelukan tersenyum penuh arti
Jangan pernah ada ucap perpisahan
Malam ini
'Kan kuserahkan
Cinta untukmu
Mulai aku selesai melepaskan semua riasan di kepala hingga waktu magrib tiba, satu lagu lawas itu terus saja di putar. Lagu yang sempat hits di jaman kami anak-anak dulu. Bahkan sekarang penyanyi nya sudah hilang entah kemana, tak pernah muncul di layar TV lagi.
Semakin malam, aku dibuat semakin worry oleh sesuatu yang mungkin itu sangat di ingin kan oleh pasangan pengantin baru lainnya.
__ADS_1
Aku tidak tau, kenapa aku bisa se-cemas ini.
"kamu kenapa sih, dari sore kelihatannya seperti gelisah begitu" Dian menyadari diri ku yang tak seperti biasanya.
"gapapa. Cuma aku gak biasa aja, di tempat seperti ini, bersama orang lain" kata ku cemas sambil terus meremas ujung baju tidur ku.
"hey, aku ini bukan orang lain. Kan kita sudah menikah. Kamu lupa?
Kamu hanya belum terbiasa.
Atau, kamu ingat sesuatu yang pernah menyakiti kamu? "
Dian terus membelai wajah ku. Juga sesekali menyingkirkan rambut-rambut kecil yang berserakan di sekitar kening. Mengecup kening ku. Mendekap tubuh ku. Lalu membawa ku berbaring.
"apa yang kamu takutkan? Apa yang membuat kamu tidak nyaman bersama ku? Kan aku sudah janji tidak akan pernah menyakiti kamu lagi seperti dulu" Dian terus menatap ku lekat.
Sementara aku tak kuasa dengan tatapannya. Dengan jarak sedekat ini. Aku mencoba mengalihkan pandangan.
"aaaaaa
aaaakkkuuu" aku tak sampai ingin mengungkapkan apa yang ku rasakan.
"apa kamu takut, sedekat ini dengan aku?
Percayalah aku juga belum pernah melakukan ini sebelumnya.
Apa kamu mau mendengar detak jantung ku? Atau sekedar menyentuh nya saja" lalu dia meraih tangan ku dan menempelkan pada dadanya.
"masih belum terasa juga? sini" dengan cepat dia memasukkan kepala ku ke dalam dekapannya.
Bisa ku dengar jelas deru jantung yang tak kalah cepat dengan jantung ku.
Ku beranikan untuk kembali menatap wajahnya.
"sudah percaya?
bbblluusss, memanas seketika wajah ku. Mungkin jika aku bisa melihat, wajah ku sudah seperti udang rebus saat ini, merah.
Di tengah ke khawatir, di tengah kegelisahan, dia tetap bisa meyakinkan.
"aku tidak akan melakukan yang terlalu jauh malam ini, jika memang kamu belum siap.
Tapi jika kamu mau melakukannya juga, kita solat isya dulu" pandangan kami masih sama-sama lekat.
Seakan tengah menyelidiki satu sama lain.
Setidaknya hati ku lebih tenang saat ini. Dia bukanlah orang yang arogan dan semaunya sendiri.
"kita solat isya. Tapi setelah itu kita rebahan aja ya. Tidak masalah kan kalo tidak malam ini kita melakukan nya? " aku menelisik jauh ke dalam mata Dian. Entah aku bersalah atau tidak, atau mungkin aku menjadi istri yang durhaka di awal pernikahan.
"gak masalah.
Justru aku yang akan merasa bersalah jika melakukan nya dengan kondisi kamu yang tertekan. Aku mau kita sama bahagia"
Maa syaa Allah, betapa luar biasanya cinta Dian untuk ku. Semoga saja ini JODOH TERBAIK yang Allah pilihkan untuk ku.
Kami sama-sama tersenyum. Lalu wajah kami saling mendekati. Lebih dekat dan kini wajah kami telah melekat.
"lebih rileks ya. Kamu boleh menggigit ku jika kamu merasa tidak nyaman"
Aku mengangguk.
Dan benar saja, ciuman kami kali ini terasa lebih nyaman. Aku sangat menikmati nya. Aku mulai bisa mengimbangi. Bahkan menuntut dengan ritme lebih. Sampai kami berguling-guling di atas. Dan,
"aaaaawwwuuuu" aku meringis memegangi bokong kuyang jatuh lebih dulu ke lantai. Dengan Dian yang berada di atas ku.
__ADS_1
"sorry sorry. Harusnya aku yang jatuh lebih dulu tadi" Dian mengangkat dan mendudukkan ku di atas kasur.
"sorry, aku terlalu bersemangat" kata ku sembari masih terus memegangi lehernya.
"gak masalah. Kamu menikmati yang baru saja? " aku mengangguk.
"mau di ulang lagi? " Wajah kami masih saling beradu.
"udah awh. Bokong aku masih sakit ni" aku hanya takut, ada adegan yang lebih setelah.
"oke, maaf. I Love You" Dian mencium kening ku sekilas lalu hendak pergi menuju kamar mandi.
"Dian...... " dengan cepat aku memanggilnya kembali.
"I Love You Too" kata ku sambil tersenyum.
Sepertinya aku mengundang kembali dia yang akan pergi. uuupppsss, dia berbalik badan ke arah ku.
"Kayraaaa, kamu menggemaskan sekali" tangannya sudah memainkan pipi ku.
Lalu menggendong ku di depan seperti anak kecil, sehingga wajah kami bertatapan.
"turunin, aku berat Di... " rengek ku.
"rengekan kamu bikin aku makin gemas tau gak sih.
Oke lah kita gak akan lakukan hal satu itu malam ini. Tapi boleh kan jika aku bermain-main dengan aset ku yang lain? " sesaat kalimat Dian membuat ku bingung.
"aset?? "
"ehhemp. Asset. Seperti ini" dia mencium sekilas bibir ku.
"lalu ini" dia mencium dada ku. Bahkan menenggelamkan wajahnya di antara kedua gundukan dada ku. Bagaimana bisa aku menghindar, karena kedua lengan ku, ku kalungkan pada leher Dian.
"kamu adalah aset paling berharga yang aku miliki. Dibandingkan dengan semua saham yang aku punya" berganti dia memainkan nafas di sekitar telinga ku.
Mendapatkan sentuhan itu jantung ku kembali bermaraton.
Dian tersenyum menatap ku. Mungkin wajah ku telah kembali berubah menjadi pink, merah, atau ungu mungkin. Atau mungkin dia sempat mendengar degupan jantung ku yang tidak karuan.
"boleh kan? boleh lah? plisssssss" dia memasang mata genit, lalu wajah memelas. Bagaimana aku tega untuk mengatakan "tidak" lagi.
"yasudah. Kita solat dulu" kata ku akhirnya.
"siap, laksanakan" Dian justru membawa ku ke arah kamar mandi.
"turunkan. Kan aku berat" kata ku.
"akan lebih berat pertanggungjawaban ku kelak di akhirat. Pada istri ku, juga anak-anak kita"
Dian menurunkan ku saat sudah di depan kamar mandi.
"aku yang akan mengambil kan air untuk kamu berwudhu"
Terasa sejuk sekali. Benar-benar teladan Rasulullah yang aku lihat dari diri Dian. Manusia langkah di jaman sekarang ini bukan?
Duduk dan berdiri di belakang nya sebagai makmum membuat ku semakin nyaman. Hati ku terasa tentram. Terlagi ketika setelah salam, aku mencium tangannya lalu dia mencium kening ku.
Ada yang berdesir di dalam hati. Seakan air surga mengaliri nya.
Semoga Allah ridho dengan pernikahan ini.
Semoga Allah senantiasa menjaga dua hati manusia yang sering kali berubah-ubah ini.
Semoga Allah menjaga tali suci pernikahan kami, hingga maut yang memisahkan.
__ADS_1
Lalu aku aamiin kan setiap doa yang Dian panjatkan. Doa yang mampu menyentuh ku dari segala sisi.
__________________^_^_________________