
Semakin hari hubungan ku dengan Siska semakin baik. Bahkan aku sudah sering mampir ke rumah dia dan beberapa kali aku diajari mengendarai mobil. Sempat ragu, tapi dorongan dari dia membuat aku bersemangat. Terlagi saat aku bertanya pada mama, mama mengizinkan. Malahan mama bilang "nanti bikin SIMnya biar sekalian, A sama C"
Setelah kami fikirkan beberapa saat, aku dan Siska sepakat untuk mengikuti organisasi keagaaman. Bagaikan keluar dari mulut macam dan masuk kemulut harimau. Menghindari satu organisasi dengan kak Jo, tidak taunya malah berjumpa dengan Dian di organisasi yang sama.
Ingin mengundurkan diri tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku tau jika Dian berada di organisasi yang sama setelah beberapa kali pertemuan.
Seperti kami tidak saling mengenal saja atau sekedar kenal tapi jarak rumah jauh. Banyak kebetulan yang mengejutkan. Dia sendiri tidak pernah buka suara soal kampus. Sementara aku tidak mau dibilang kepo.
Beberapa bulan berlalu hingga kini aku telah menyelesaikan semester pertama ku. Tepatnya hari ini adalah pengumuman hasil semester. Sebuah pencapaian luar biasa yang membuat aku ingin selalu menatap angka-angka itu.Rupanya pertemuan ku dengan kak Maryam tidak sia-sia. Aku banyak belajar dari dia, bahkan sudah seperti guru privat saja.
Kak Maryam sudah menyelesaikan skripsinya tinggal menunggu jadwal sidang. Setelah beberapa minggu aku merepotkan dengan datang setiap ahir pekan, kali ini aku berencana untuk pergi bersama mentraktir makan. Anggap saja sebagai bentuk rasa terimakasih dari ku.
Tidak ketinggalan aku ajak Melan sekalian. Karena beberapa minggu ini kami juga tidak sempat bertemu, sibuk me"nyelesaikan tugas masing-masing. Awalnya Melan mengajak ku berenang hari minggu nanti, tapi sayangnya aku ada acara kajian di kampus.
Aku dan Melan pergi selepas magrib. Semenjak aku masuk kuliah mama papa sedikit memberi ku kelonggaran waktu. Tapi untuk pacaran, aku masih ingat kalimat mama "mau nikah sambil kuliah" entah itu peringatan atau hanya candaan.
Sempat beberapa kali ada yang mendekat dari teman-teman baru. Tapi karena kediaman ku dan karena kak Jo juga Dian, membuat mereka mundur perlahan.
"gebetannya aja wakil sama sekretaris BEM, kita mah gak masuk nominasi"
itu terahir kali aku mendengar obrolan mereka tanpa sengaja.
Selesai aku bersiap rupanya Melan belum muncul juga. Begitu aku telepon dia meminta ku untuk datang kerumahnya lebih dulu.
Dia masih menemani adiknya sementara dirumah tidak ada orang.
Tak berselang lama setelah aku disana, mama papa Melan datang. Disertai dengan ustadzah Zia dan satu orang lagi, kalau tidak salah dulu itu yang aku kira kekasih Dian. Yang membuat aku sempat patah semangat untuk kembali berusaha menegur dia. Karna ternyata Dian melambaikan tangan untuk gadis itu dan melewati ku begitu saja. Jangankan melihat ku, membalas senyum ku saja tidak.
Sempat aku tanyakan pada Melan, ternyata bukan saudara. Tapi sampai saat ini aku tidak pernah bertanya hal itu pada Dian.
Setelah kedatangan mereka aku mengikuti Melan masuk ke kamar.
Waktu sudah berlalu begitu lama, siapa tau akan bertemu wanita itu lagi. Bersama ustadzah Zia lagi. Apa mungkin Dian masih ada hubungan dengan wanita itu?
Apa pentingnya juga untuk aku.
"hafis Qur'an dia ini. Suaranya merdu, pernah juara lomba tartil, qira'at. Tidak pernah menanggalkan hijabnnya. Mulai umur 6th sudah ikut nyantri"
MasyaAllah aku yang mendengar ikut senang, apakah seperti itu yang ustadzah harapkan dekat dengan putranya?
Ternyata kalimatnya masih berlanjut
"bukan seperti yang di rumah depan itu. Perempuan apa yang sukanya mendekat mencari perhatian itu! "
Telinga ku yang tidak sengaja mendengar menjadi tersentil.
Astagfirullah apakah yang dimaksud itu aku? aku tidak ingin suudzon, tapi siapa lagi "yang di rumah depan" yang selalu saja di gunjing oleh ustadzah?
__ADS_1
Sebenci itukah ustadzah dengan ku?
Melan keluar kamar, sudah siap dan mengajak aku untuk segera pergi. Rupanya dari dalam kamar Melan juga mendengar.
Entah disengaja atau aku yang sudah sangat lama tidak berbincang dengan ustadzah, suara ustadzah menjadi begitu stereo saat berbicara.
"ngapain sih dengar. Sudah ah berangkat yok"
Selama perjalanan Melan mengajak ku berbincang, tapi aku masih tidak fokus sampai ahirnya Melan mengulang-ulang pembicaraan. Fikiran ku masih tertuju pada ustadzah.
Entah kenapa rasanya lebih sakit dari kalimat-kalimat pedas Siska dulu.
Sebenarnya Dian selama ini selalu berusaha menghapus perkataan-perkataan buruk uminya terhadap ku. Dengan susah payah dia berusaha mengembalikan nama baik umi nya.
Aku memang sudah memaafkan yang lalu, tapi kenapa harus terulang malam ini? dan aku mendengar dengan telinga sendiri.
Apakah aku terlalu buruk?
Apakah setiap kedekatan seseorang selalu mengharapkan hubungan yang lebih?
aku tidak pernah terfikir untuk hal itu. Terlagi dengan sikap ustadzah, kalau saja Dian tidak terus memohon dan meminta maaf.
Hati ku memang lebih tenang, ringan, setelah berbaikan dengan Dian. Tapi apakah itu berati aku menyukai dia?
Perjalanan memakan waktu beberapa menit. Sengaja kami pilih tempat di tengah-tengah. Tidak jauh dari rumah kak Maryam, juga tidak jauh dari rumah ku.
Begitu aku dan Melan sampai rupanya kak Maryam sudah sampai lebih dulu.
"assalamu'alaikum kak" sapa ku
"waalaikumsalam. Silahkan Kay"
kak Maryam mempersilahkan kami duduk sembari menyapa dengan senyuman pada Melan.
Kami saling bersalaman, tapi laki-laki yang bersama kak Maryam hanya mengangkat tangan "🙏"
"kenalkan kak ini teman aku,Melan. Tapi sudah seperti saudara. Tetangga dan sejak kecil sudah bersama. Baru pisah waktu kuliah"
yang mendengar hanya mengangguk-angguk
"eh, terlalu panjang yah kenalin nya" ucap ku kembali.
"gak papa. Kenalkan juga ini adik saya,Fatih"
yang diperkenalkan tersenyum. Manis, hidung mancung, mata cekung, kearab-araban.
"kok gak pernah lihat ya kak"
__ADS_1
ucap ku sedikit heran, karena selama ini aku sudah berkenalan dengan adik-adik kak Maryam, tapi dengan yang satu ini lihat saja tidak pernah.
"iya, karena dia tinggal di pesantren. Lagi di 'godhok' untuk jadi penerus" kak Maryam memberi tahu sembari menggoda adiknya.
"maksudnya, keluarga kakak punya pesantren sendiri? "
tanya ku heran dan juga tidak menyangka selama ini dekat dengan orang-orang alim.
"alhamdulillah dari keluarga kakek buyut. Tapi saat ini di pegang oleh adik bungsu abah" kak Maryam menuturkan
"tapi.... kakak... "
aku yang mau bertanya dengan jelas merasa tidak enak. Seolah mengerti dengan pertanyaan ku, kak Maryam langsung menjawab.
"saya dulu juga di pesantren. Baru waktu mau mempersiapkan skripsi memutuskan untuk tinggal dirumah, supaya lebih fokus. Tapi masih sering ke pesantren juga kok"
"kakak.... keluarga pesantren kenapa kuliah mengambil jurusan umum? "
aku masih heran dan penuh tanda tanya
"justru karena belajar agama sudah dari kecil, jadi merasa perlu untuk belajar ilmu umum juga. Umi meminta kakak untuk menjadi penerus bisnis keluarga"
"mashaAllah, tapi beneran deh kak. Aku masih yang heran begitu kak, rasanya gak percaya. Penuh tanda tanya"
pembicaraan kami terhenti karena waitress datang dengan membawa nampan makanan. Pasalnya tadi kami langsung memesan juga bayar langsung, sebelum menempati tempat duduk.
Aku dan kak Maryam larut dalam obrolan berdua. Melan mengutak-atik handphone sementara adik kak Maryam, Fatih memegang al Quran sangat kecil bahkan lebih kecil dari telapak tangan dia.
Suasana menjadi hening saat kami makan. Sekalipun sebenarnya aku masih menyimpan banyak rasa ingin tahu, tapi waktu menunjukkan sudah hampir jam 9 malam saat kami menyelesaikan makan malam.
"maaf ya Melan, aku sama Kayra sudah seperti siaran radio saja. Kamu jadi pendengarnya" ucap kak Maryam.
Melan hanya menanggapi dengan tersenyum. Aku sendiri merasa bersalah dengan membuat dia terabaikan. Setelah itu kami saling berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing. Kami berpisah karena tempat parkir mobil berbeda dengan tempat parkir motor.
"Mel-mel"
sembari berjalan ke tempat parkir aku toel-toel lengan Melan.
"hemp, apa" jawabnya singkat
"jangan marah ya, plisssss. Maaf, terbawa suasana"
"hemp"
yang diajak ngomong cuwek saja.
"sebagai gantinya, kita mampir kemana dulu gitu"
__ADS_1
"traktir aku wafle Choco strawberry di kafe X" ucapnya singkat. Ngambek masih ingat camilan, padahal barusan makan.
Kita kan 11 12,makanan manis itu moodbooster.