
Padahal aku masih nyaman berada dalam pelukan Dian. Tapi panggilan Ummi membuat kami keluar dari kamar saat itu juga.
"dimakan mumpung masih hangat" ummi membawakan dua mangkok ronde.
"wah, pas banget ini mi, cuaca sedang mendung" sepertinya ini juga makanan kesukaan Dian.
"sudah pernah makan ronde? " tanya Dian pada ku.
"pernah lah. Sering malah" kata ku.
"hemp, kesukaan donk. Berarti kita sama" Dian masih saja berbicara sambil melahap ronde yang masih di kerumuni asap.
"sanking sukanya langsung dilahap aja. Padahal masih panas juga" aku cukup terkesima dengan semangat Dian melahap ronde yang jelas-jelas masih panas.
"justru sensasi makan ronde itu kalau masih ada asap asapnya begini"
Ditengah tengah kami menyantap ronde, abi datang. Lalu abi bergabung bersama kami untuk makan bersama. Begitupun dengan ummi. Akhirnya kami berbincang bersama sembari menikmati ronde buatan ummi.
Suasana ini sungguh menjadikan hangat cuaca yang sedang mendung. Tak pernah ku bayangkan aku akan kembali duduk dengan tenang di tengah-tengah keluarga ini.
Ah, bukan. Jika dulu aku selalu berbincang hangat dengan ustadzah Zia dan ustadz Amin saja, maka sekarang disertai kehadiran Dian.
Rasanya segala kebencian, kesedihan serta kekecewaan yang dahulu kala terhempas begitu saja. Semoga saja akan terus seperti ini sampai kami benar-benar di persatukan dalam ikatan pernikahan.
Kepulangan ku kali ini di iringi oleh cuaca dingin dan dilanjutkan dengan turunnya hujan.
Adek meminta ku untuk menemaninya mengerjakan tugas bersama di rumah salah satu teman. Tapi karena sedang turun hujan, mobil pun digunakan oleh mama dan papa, akhirnya aku meminta untuk di antarkan Dian. Adek pun tidak keberatan. Karena yang aku lihat setiap kali pulang, mereka semakin akrab saja.
"lama gak kerjain tugasnya dek? " Dian memecah kesunyian.
"tergantung kak, kenapa memang" tanya adek.
"kita tinggal dulu ya. Kakak mau ke cafe DK" kata Dian, di luar sepengetahuan ku.
"yah ke cafe duluan. Nanti aja sih tunggu aku sekalian" gerutu adek.
"ada perlu sebentar di sana. Nanti deh kita pergi barengan lagi" kata Dian memutuskan.
Tak ada lagi perdebatan. Dan aku kali ini hanya menjadi pendengar, pengantar sekaligus pengikut.
Setelah tiba di rumah teman adek, Dian langsung melakukan mobilnya menuju cafe yang tadi dia maksud. Sementara aku sendiri belum tau dimana lokasi cafe yang Dian sebutkan tadi.
"kenapa diam aja sih" tanya Dian.
"hemp, gak ada. Kamu juga gak ngajakin ngobrol" jawab ku singkat.
"biasanya juga cewek yang cerewet duluan" kata Dia santai.
"jadi aku cerewet nih? "
__ADS_1
"cerewet aja sih, sama calon suami sendiri. Kenapa mesti jaim"
D**eg, aku baru menyadari bahwa sekarang ini sepertinya aku sudah mulai menjadi diri ku sendiri. Tak perlu jaim, pasang wajah cuek, tak peduli, pendiam. Rasanya lebih santai. Ternyata begini ya rasanya kalau perasaan itu terbalaskan, apalagi sebentar lagi akan halal. Pasti lebih menyenangkan lagi.
"memang nya aku pernah jaim ya? " kata ku berpura-pura.
"aku tau semua semata-mata untuk menjaga diri. Aku bangga memilikimu" Dian meraih tangan ku dan menciumnya berkali-kali.
"hust, belum halal" kata ku sambil berusaha menarik tangan dari genggaman Dian.
"tangan ini akan selalu berada dalam genggaman ku. Jangan pernah mencoba untuk melepaskan, karena tidak akan pernah ku lakukan itu" terkesan memaksa sekalian perkataannya.
"iya-iya, kasih borgol aja sekalian biar aku gak bisa lepas kemanapun sendirian" jawab ku.
"bagus. Pinter kamu. Besok kita cari borgol ya. Langsung ke KUA" kata Dian sambil memarkirkan mobilnya. Dengan memberikan penekanan di akhir kalimat.
"Ini dia tempatnya. Udah pernah kesini belum? " kata Dian lagi.
"ekhm, belum pernah. Baru kali ini tau" jawab ku jujur.
"ekhm, masa sih? sayang banget yah. Padahal 'DK' itu inisial nama kita loh" kata Dian santai tapi berhasil membuat aku terperanjat.
"jadi ini cafe punya kamu? " tanya ku spontan.
"bukan sih, aku cuma naruh sebagian besar saham aja. Jadilah aku yang berhak memberi nama tempat ini" Dian menjelaskan sambil memayungi ku memasuki cafe.
"sore. Pak Endruw ada? "
"Pak Endruw hari ini tidak masuk pak, istrinya melahirkan. Bapak ada perlu? "
"oh gak gak. Saya hanya mampir, sekalian ajak jalan-jalan calon istri"
Lalu kamipun di persilahkan untuk menduduki VIP room.
Aku benar-benar di buat tercengang. Banyak hal yang tidak aku tau tentang Dian, termasuk bisnis-bisnis dia. Pantas saja tabungan dia tidak habis-habis untuk memberikan aku kejutan. Rupanya banyak udang di balik batu.
"mau coba makanan favorit di sini? " Dian menawarkan.
"ekhm, boleh. Minumnya hangat aja yah" kata ku sambil terus memperhatikan coretan-coretan yang menempel di dinding.
"kalau... design interiornya kamu juga yang tentuin? " aku masih mengamati coretan-coretan itu, bahkan lebih dekat. Aku telisik kalimat per kalimat. Pasalnya, aku seperti pernah tau kalimat-kalimat indah yang terpampang di sana.
"bukan. Aku cuma nitip taruh figura figura itu saja" jawab Dian santai.
"kenapa? kamu kenal sama kalimat-kalimat itu? " Dian mendekat dan berkata tepat di belakang ku.
"sepertinya.... aku ingat sesuatu....
dan, owh, ya Tuhan. Rupanya kamu pengirim surat-surat itu?"
__ADS_1
Flashback on
Saat itu aku sedang sangat pusing dengan surat-surat yang terus di kirim oleh kak Jo. Sampai aku mengabaikan beberapa kali kiriman surat.
Sekalipun kak Jo seorang cowok, tulisan nya indah dan rapi. Bahkan dia pandai merubah-rubah gaya tulisan. Pernah sekali waktu aku bertanya padanya dan dia jawab "supaya kamu gak bosan baca surat dari aku"
Pasalnya bukan hanya Kak Jo saja yang waktu itu sering mengirim ku surat, pernah beberapa kali ada inisial lain.
Dan suatu ketika, ada surat tanpa identitas. Dan kebetulan aku sedang tidak ada pekerjaan, sehingga langsung aku buka surat itu.
Isi dalamnya adalah kalimat-kalimat indah, sempat membuat aku terpanah. Tersenyum sendiri kalau membacanya.
Bagi ku membaca surat-surat yang datang adalah sebuah hiburan. Tak pernah sekalipun ada yang ku balas. Sehingga aku tidak mempedulikan siapa saja yang pernah mengirim ku surat.
Flashback OFF
"kamu ya rupanya. Kebetulan yang kebetulan, entah kenapa... rasanya kita selalu di dekatkan yah. Padahal aku udah benci setengah mati loh sama kamu" kata ku santai dan kembali duduk.
"itulah JODOH. Yang mungkin sebenarnya dekat, tapi kita tidak menyadari itu. Sebenci apapun kita, tidak akan mampu menolak nya.
Maaf jika aku hanyalah pria ingusan yang gayanya kampungan. Bukan seperti pria dewasa di novel-novel yang memiliki kekuasaan. Juga bukan CEO dari sebuah perusahaan ternama.
Tapi yakinlah, cinta ku bisa saja melebihi cinta mereka. Sekalipun aku tidak bisa berbuat segila mereka" kata Dian panjang lebar.
"isht, apaan sih kamu. Malah ngomongin novel. Jangan-jangan, gaya alay kamu itu ikut-ikutan di novel ya? "
"aku gak suka baca novel.
Gak tau yah, naluri aja gitu. Kenangan di usia 5 tahun dulu itu benar-benar melekat. Aku gak ingin ada yang berubah meski kita sudah tidak lagi bersama. Dan terbukti kan, tidak akan ada yang berubah dari kebersamaan kita. Kamu akan tetap menjadi gadis kecil ku. Selamanya"
"terimakasih untuk semuanya" kata ku lirih.
"aku pun begitu. Maaf dan terimakasih, masih mau menerima pria menyebalkan seperti ku"
"iya, nyebelin banget emang kamu tuh ya. Pakai inisial nama orang gak ijin dulu pula, kena pajak loh" ancam ku.
"siap, buat kamu apa sih yang enggak. Bila perlu, semua pendapatan saham dari tempat ini semua buat kamu"
"omong-omong, sudah berapa lama tempat ini ada? " akhirnya kepo ku keluar.
"hampir 2 tahun" jawab Dian singkat.
Aku jadi tau bahwa tak sedikitpun Dian melewatkan harinya tanpa aku, tentang aku. Begitupun dengan aku, ku rasa.
Hanya saja perasaan yang kami rasakan berbeda mungkin. Jika Dian menggebu dengan rasa cintanya, sementara aku menggebu dengan rasa benci ku. Sebelum semuanya menjadi jelas dan akhirnya kami bersama.
Akhirnya, kisah kami hampir di ujung jalan. Kursi pelaminan tengah menanti. Entah esok, lusa atau seminggu lagi. Yang pasti dua hati ini sudah siap dan tak sabar menanti hari bahagia itu.
_________________^_^______________
__ADS_1