
Dengan mengantongi restu dari mama dan ustadzah Zia, aku cukup yakin untuk memulai semua ini.
Yah, awal yang baru dalam sejarah hidup ku. Fase dimana aku akan menerima kehadiran seseorang yang baru dalam hidup ku.
Karena hidup itu penuh liku-liku gays, ujian hidup mu gak akan berhenti begitu saja saat bahagia menghampiri. Dan juga, hidup mu gak akan berakhir begitu saja saat duka menyelimuti. Karena bahagia dan duka itu sudah satu paket. Tapi kita harus yakin bahwa badai pasti berlalu. Dan akan ada pelangi usai hujan turun.
Anggap saja aku sedang memandang pelangi yang begitu indah saat ini. Sampai hati ku pun ikut berwarna-warni. Tapi tidak dengan wajah ku, andai kalian tau.
Berapa merona nya wajah ku menahan rasa bahagia ini. Kejutan yang tak pernah aku bayangkan. Bahkan memimpikan nya saja aku tak berani. Seandainya saja ada cermin di sini, sehingga aku bisa melihat merahnya pantulan wajah ku sendiri. Mungkin hampir tak ada bedanya bagian wajah yang terpoles blush on dan tidak.
Kini aku sudah berdiri di depan Dian. Dengan mulut masih tertutup rapat. Takut tertawa yang berlebihan melepas rasa bahagia yang datang tiba-tiba.
Namun saat di hadapan nya, hanya memberikan cubitan kecil di lengan yang bisa aku lakukan.
Entah seperti apa ekspresi wajah ku saat ini. Aku benar-benar dibuat tersipu malu olehnya.
Senyum mengembang di wajah Dian. Dan kalian tau, aku sangatlah lemah melihat senyuman itu.
Segala rasa dan asa yang dulu pernah aku rasakan, seketika menghilang. Rasanya telah tergantikan oleh guyuran air yang menyejukkan. Kini yang terlintas dalam benak ku adalah, kembali pada ingatan masa kecil dulu.
Di mana aku dan Dian sedang bermain, duduk di sebuah ayunan. Lalu dia memberi ku sebuah mahkota beserta cincin dari hasil rangkaian daun.
Masya Allah, takdir Allah siapa yang tau.
"Kayra Putri Almahira, mau kah kamu menerima lamaran ku? Menjadi istri ku, ibu dari anak-anak ku? " Ucapan Dian begitu jelas di telinga. Ditambah dengan suara riuh dari penonton.
Ini sungguhan, aku tidak bermimpi.
Bahagianya terasa sampai ke relung hati terdalam. Menenteramkan jiwa.
"maaf kak... kenapa masih di tutup saja mulutnya?" begitu pertanyaan dari si MC.
Lantas disambung suara gaduh
"masih kepedesan kak"
"ada kotoran cabe di gigi kak"
"lipstik nya luntur kak"
Hawh, sudah pasti kerjaan para sepupu ini.
Spontan tangan ku terlepas dan menahan tawa, geli mendengarkan suara-suara backsound.
"Kayra" suara Dian kembali menyapa dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Terima"
"Terima"
__ADS_1
"Terima"
"Terima"
Suara penonton terkadang memang lebih mendominasi ya, suka heboh sendiri. Tapi pemeran utama harus tetap keep calm. Stay cool.
"Tuhan memberikanku cinta
Untuk ku persembahkan hanyalah padamu
Dia anugerahkanku kasih
Hanya untuk berkasih berbagi denganmu
Atas restu Allah ku ingin milikimu
Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku
Atas restu Allah ku mencintai dirimu
Ku pinang kau dengan Bismillah" sepotong syair lagu kembali di nyanyikan oleh Dian.
Sungguh tidak menyangka dia bisa seromantis ini.
"bismillah, dengan ini saya... Kayra Putri Almahira menerima pinangan dari Rahardian Putra Argantara"
"Alhamdulillah" suara hamdalah yang di ucapkan oleh para saudara turut memberikan tambahan rasa bahagia. Itu artinya kami telah mengantongi restu dari orang tua juga keluarga.
Cincin dengan hiasan bentuk hati disertai batu permata di ujung. Ukurannya juga bisa pas. Sejak kapan dia memperhatikan ukuran jari-jari ku?
MC mengucapkan banyak kata-kata. Sementara aku dan Dian hanya saling pandang dan tersenyum.
Kemudian acara akan segera di tutup dengan doa. MC mempersilahkan bapak ustadz, yang tak lain adalah ustadz Amin.
Aku dan Dian menempati tempat duduk terdekat. Kini kami bisa berdekatan tanpa harus ada penghalang. Terutama penghalang sebuah perasaan yang membuat aku tidak nyaman, takut, khawatir.
Doa telah selesai di bacakan. Kini tinggal sambutan penutup.
Aku dan Dian masih saling diam. Padahal ada banyak sekali pertanyaan di kepala. Awas saja, begitu ada kesempatan, bom waktu siap meledak. Enak saja membuat acara sepenting ini tanpa pemberitahuan apapun.
Satu persatu keluarga berpamitan. Sementara aku masih sengaja tinggal. Menjadi ekor, mengikuti Melan memasuki kamar.
Belum juga aku melemparkan pertanyaan sebagai pelampiasan ke Melan, justru aku yang tiada hentinya di godain sama Melan.
"cie... cie.... yang hatinya lagi berbunga-bunga"
padahal dia yang lagi tunangan, ini hari bahagia dia bukan?
"cie, kesampean juga mimpi putri sama pangeran dimasa kecil"
__ADS_1
"ekhm..... kita jadi sodara beneran Kay. Seperti mimpi aja ya" kali ini pelukan erat Melan yang membuat aku sulit bernafas.
Tadinya aku yang ingin mencurahkan rasa yang munculnya dadakan ini. Tapi sudah terkena brondongan kata-kata dari Melan lebih dulu.
Akhirnya kami saling berpelukan. Tersenyum bersama, tertawa bersama dan apakah pemikiran kami juga tengah sama?????
Yang pasti kami sama-sama bahagia hari ini. Lahir di bulan yang sama, tahun yang sama, tumbuh besar bersama, dan kini memiliki hari istimewa yang sama. Apakah ini semua kebetulan semata?
"bentar deh Mel. Beneran nih kamu gak tau apa-apa soal rencana Dian yang satu ini? " tanya ku menyelidiki sambil melepaskan pelukan dari Melan.
"benaran Kay. Sumpah aku gak tau apa-apa. Kak Dian gak pernah bilang tentang rencana ini. Mungkin yaaaa, dia sengaja mau bikin kita sama-sama bahagia" Melan menjelaskan.
"ieh, bener-bener ya tuh cowok. Selalu bisa bikin hati ku jungkir balik" ucap ku datar.
"tapi kamu seneng kan???? " tanya Melan menggoda.
"seneng, seneng banget malah" jawab ku sambil tersenyum sendiri.
Bagaimana aku tidak bahagia jika pada akhirnya kami benar-benar bersama. Jalan berliku yang kami lalui selama ini akan berakhir dengan indah.
Setiap kebahagiaan, setiap senyuman yang dia berikan rasanya telah mampu menghapus rasa pahit kala itu.
Kalau sudah jodoh memang tidak akan kemana. Sejauh apapun menghindari dia akan tetap kembali. Karena takdir akan mencari jalannya sendiri.
Sedalam apapun rasa sakit, kecewa, dan benci. Akan memudar begitu saja, saat waktu itu tiba.
Rasa cinta akan membuat mu selalu memaafkan. Sekalipun terkadang airmata akan tetap ada di sana. Karena hidup ada banyak rasa, seperti kopi Good Day mungkin.
Sekalipun pahit sejatinya akan tetap di telan kiranya itu telah menjadi suratan. Bukankah seperti itu?
Aku cukup beruntung karena tidak harus kembali bertarung secara nyata untuk meluluhkan calon ibu mertua.
Tak hentinya aku mengucapkan syukur dalam hati. Mengingat hadiah beserta bonus yang tak terkira, datang bersama begitu saja. Sayangnya, belum ada kesempatan untuk bicara empat mata dengan orang yang memberikan surprise.
Aku masih berdiri tegak menghadap jendela, menatap balkon dimana Dian duduk tadi pagi. Rasanya, terlalu indah hari ini. Aku kembali tersenyum.
Detik berikutnya pandangan ku berubah haluan mendengar suara seseorang yang memasuki kamar Melan.
Sementara Melan masih sibuk di depan cermin melepas bulu mata. Dia bilang 'gatal' sejak acara baru di mulai tadi. Maklum, aku dan dia kan tidak terbiasa memakai riasan yang berlebihan seperti itu.
"hay, lagi apa? " suara Dian menyapa.
"tuh, nungguin calon pengganti" ucap ku sambil menunjuk ke arah Melan.
"calon pengantin teriak calon pengantin" kata Melan.
"ngobrol di luar yok" Dian mengajak ku.
"di sini juga gak apa, aku tutup telinga kok" teriak Melan. Namun Dian sudah terlanjur menarik lengan ku agar mengikutinya.
__ADS_1
"mau pacaran dulu" ucap Dian singkat sembari terus melangkah.
__________________^_^_________________