KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Tidak Mungkin


__ADS_3

"maaf jika sikap saya membuat kamu takut.


Karena ummi dan keluarga yang lain sudah sangat sering bertanya " kapan kamu menikah? "


sehingga saya harus benar memastikan dengan apa yang akan menjadi pilihan saya.


Jika kamu bersedia, mungkin kita akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.


Kamu tetap bisa melanjutkan kuliah andaikan nanti menerima pinangan saya"


Pernyataan demi pernyataan yang cukup membuat jantung ku berhenti berdetak untuk beberapa saat.


"pikirkan dengan baik nak, karena menikah bukanlah perkara mudah. Setiap orang pasti berharap menikah sekali seumur hidup.


Kamu bisa meminta petunjuk dari Allah dengan solat istikharah. Kamu juga pasti butuh waktu untuk meminta pertimbangan dari orangtua kamu.


Apa perlu kami yang menyampaikan langsung pada orangtua kamu? "


Kali ini ummi yang angkat bicara. Rupanya anak dan emak sudah sehati, lantas bagaimana dengan aku???


"maaf ummi, biarkan Kayra sendiri yang menyampaikan pada mama papa. Kayra minta waktu untuk memberikan jawaban" pinta ku setelah berhasil mengumpulkan serpihan kalimat yang rasanya sudah berserakan dalam otak ku.


"aku harus bicara apa? " ucap ku dalam hati.


"yasudah kalau begitu. Saya dan ummi pamit, sudah adzan isya" ustadz Billal pamit kemudian bangkit dari tempat duduknya yang diikuti oleh ummi.


"kamu istirahat ya" ummi menepuk-nepuk pelan pundak ku.


"ya ummi" jawab ku singkat.


"assalamu'alaikum" ucap ummi dan ustadz Billal bersama.


Selepas mereka pergi aku tak lantas tidur atau atau hanya sekedar tiduran. Bagaimanapun juga hati ku terpanggil oleh suara adzan.

__ADS_1


Jelas sudah apa yang selama ini terkesan janggal. Dan lagi, Allah menunjukkan kuasa Nya pada ku. Mau ku hindari seperti apapun, saat Allah sudah berkehendak maka terjadi juga hari ini.


"TIDAK MUNGKIN"


"TIDAK MUNGKIN"


"TIIDAAAKK MUUUNGGGKKIINN"


Rasanya hati ini sangat ingin berteriak.


Mana mungkin aku harus melepas masa lajang dalam waktu sedekat ini. Sedikitpun tak pernah terlintas pada otak kecil ini. Bahkan hanya sekedar bercanda saja aku tidak pernah mengatakan itu. Memikirkan itu membuat aku ngeri.


Sementara kalimat ustad Billal masih terngiang di kepala


"jika kamu mau mungkin kita akan menikah dalam waktu dekat"


apa-apaan itu? harusnya aku langsung menolak mentah-mentah.


Harusnya aku bisa lebih tegas dalam melindungi diri ku sendiri.


Ya Allah, kenapa hidup ku selalu saja seperti ini. Apakah ini anugrah atau bencana? ketika banyak orang yang mencintai ku, banyak orang yang menginginkan ku. Aku tidaklah se istimewa itu.


Mana mungkin aku bisa membahagiakan mereka semua. Hapuslah rasa cinta mereka untuk ku ya Allah, jika itu hanya akan menyakiti diri mereka sendiri.


Maafkan diri ini yang serba terbatas, termasuk hati ini.


Sudah dari lama hati ini telah dibatasi oleh satu nama.


Ya Allah, engkau zat yang Maha Mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Dekatkanlah apa yang menjadi takdir ku dan jauhkanlah apa yang tidak Kau takdirkan untuk ku"


Dengan sadar aku menjatuhkan air mata di sela-sela do'a. Bahkan berderai hingga membasahi seluruh wajah ku.


Sujud panjang ku membuat Siska menyentuh bahu ku

__ADS_1


"sudah ya, kita pulang sekarang. Lampu masjid sudah mau dimatikan"


Lalu aku bangkit dan segera mengangkat sajadah ku.


Perjalanan dari masjid ke rumah paviliun hening.


Raut wajah sembab bekas menangis jelas nampak di wajah ku. Siska tak sedikitpun menanyakan apa yang baru saja terjadi. Sudah pasti dia faham dengan suasana hati ku saat ini.


Tidur, menenangkan hati dan fikiran, itu yang sangat aku butuhkan saat ini. "Oh, perasaan seperti ini kenapa harus terjadi lagi" rintih ku dalam hati.


Dalam konteks yang berbeda dan dengan objek yang berbeda pula, aku harus kembali merasakan perasaan yang sama.


"tidak mungkin, ini tidak mungkin. Pasti ini hanya mimpi" sungguh penolakan itu meronta dalam hati.


Mata terpejam tidak menjadikan otak benar-benar istirahat. Sepertinya besok aku harus bertemu mama, hanya diatas pangkuan nya airmata ini tumpah tanpa sia-sia. Apalagi yang aku harapkan, selain secuil keyakinan yang mampu menguatkan.


Hingga pagi menjelang, kepala ini masih terasa begitu berat. Untung saja semua kejadian aneh hari itu tidak terbawa ke dalam mimpi.


Kalau iya, Dian yang ada dalam mimpi. Kalau ustadz Billal, bisa jadi aku teriak histeris dalam tidur ku.


Segala candaan sudah pasti tidak bisa mencerahkan mendungnya hati ini. Siska hanya menepuk bahu ku beberapa kali sambil berkata "yang sabar ya".


Apakah wajah ku terlihat seperti memikul beban berat?


" Apa kamu mau pulang nanti? " tanya Siska yang aku jawab dengan anggukan.


"mau dianterin? " tanyanya kembali.


"gak usah Sis,aku naik kendaraan online aja nanti. Sekalian jemput si kuning (honda jazz yang di hadiahi oleh nenek), kangen lama gak pakek" aku memberi tahu. Aku cukup tau jika dia sendiri sedang dalam masa pemulihan.


Sekacau apapun hati ini, otak harus tetap berada pada fungsinya.


__________________tbc_________________

__ADS_1


__ADS_2