KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Keberangkatan Kak Johan


__ADS_3

Setelah pertemuan waktu itu, kini semuanya menjadi baik, sangat baik. Awalnya Dian selalu berbicara dengan nada tinggi. Tapi sikap tenang mas Riza pada akhirnya mampuh mengalahkan cemburu buta yang tengah melanda Dian.


Sikap dewasa serta pola pikir mas Riza mampuh meyakinkan Dian, bahwasanya semua akan baik-baik. Berlangsung seperti apa adanya saat ini, tak sedikitpun mas Riza akan menoleh pada masalalu. Masa dimana dia pernah menaruh hati pada ku.


Aku rasa selama ini Dian adalah sosok yang bijaksana, tenang, kalem. Tapi tak di sangka rasa cemburu bisa menjadikannya sosok baru yang bernilai minus di mata ku. Untung saja aku sudah mengenal sosok baiknya lebih dulu, jika tidak mungkin aku sudah ilfill.


Antara senang, sebab rasa cemburu adalah bentuk lain dari rasa cinta. Juga sedikit kecewa lantaran sifat kekanak-kanakan yang tak pernah aku tau dari sosoknya selama ini.


Sekalipun aku sadar, mungkin itu semua bukan hanya murni timbul dari rasa cemburu. Melain dari rasa kemarahan lain mengenai keluarga yang sulit untuk dia keluarkan.


Pada akhirnya jadilah mas Riza sebagai sosok penasehat bagi Dian. Karena bagaimanapun juga usia dia lebih tua beberapa tahun dari kami. Jadi sudah selayaknya jika mas Rizalah yang bersikap lebih dewasa.


Satu dua pesan mas Riza selipkan ketika kita sama-sama mengobrol. Lalu dengan jelas mas Riza memberi wejangan pada Dian saat aku pergi ke kamar mandi. Adek yang bercerita pada ku.


Syukurlah, jika pada akhirnya apa yang ku perkirakan benar adanya. Dian bisa mempercayai, bahkan bisa bersahabat dengan mas Riza. Aku rasa mas Riza cukup baik untuk di jadikan sosok teladan.


Beralih dari semua permasalah tentang mas Riza, yang memiliki kisah berbanding terbalik dari kak Johan.


Malam ini aku dan Dian mengikuti adek mengantarkan keberangkatan kak Jo ke Jerman.


Karena kami tidak di minta datang untuk mengentar keberangkatan kak Jo, sehingga kami hanya cukup menunggu adek saja.


Aku sadar, setelah apa yang terjadi diantara kami, mungkin kak Jo ingin meninggalkan semua kenangan pahit yang pernah terjadi. Itu sebabnya dia tidak memberitahukan mengenai keberangkatan nya pada ku juga Dian. Dan kamipun tak memaksa untuk menampakkan diri.


Awalnya adek hanya ingin berangkat sendiri. Tapi aku cukup tau sedekat apa mereka. Tentu ini bukan hal mudah bagi adek untuk melepas keberangkatan kak Jo.


Mungkin bagi adek kak Jo adalah sosok kakak laki-laki yang selama ini memang tidak kami miliki.


"yakin nih gak mau ikut nyamperin?" Dian menggoda ku.


"pertanyaan macam apa sih itu? Gak usah cari perkara dewh" insiden dengan mas Riza masih sedikit melekat di kepala ku.


"cari perkara apa sih, kan aku cuma tanya" kata Dian, masih saja melanjutkan pembicaraan yang tidak seharusnya.


"gaya, situ juga yang cemburuan"


"emang gak boleh cemburu?"


"bukan gak boleh gitu. Tapi kalo cemburunya bikin malu, yaaaaa"


Yah, belum sampai kalimat ku selesai mulut ku sudah di bungkam lebih dulu.

__ADS_1


"kamu milik aku. Hanya milik ku. Semua orang harus tau itu"


"nyebelin"


"gak usah cemberut gitu, aku cium lagi loh"


"dasar, seenaknya sendiri.


Dari dulu gak pernah berubah.


beruntung sayang,kalo gakkkk"


"kalo gak kenapa?" wajah yang sudah menjauh dengan cepat kembali mendekat tanpa jarak.


"Dian.....iwh......" rasanya aku kehabisan kata.


Sekalipun sudah menikah, Dian tetaplah Dian yang dulu. Yang suka seenaknya sendiri, membuat aku kesal, bahagia, bangga bercampur menjadi satu.


Dan bercumbu dengan nya adalah cara untuk menyalurkan segala rasa. Kini bukan hanya dia yang menyerang ku. Akupun tak mau kalah untuk menakhlukan keliarannya.


"nanti malam aku tunggu, serangannya" bisik Dian setelah menyudahi ciumannya. Menyadari bahwa ada langkah kaki yang berjalan menuju mobil kami.


"Nahla datang" ucapnya kembali.


"maaf ya kakak kakak.... membuat kalian menunggu lama" kata adek sembari menutup kembali pintu mobil dengan expresi wajah bahagia.


"aneh sekali, habis perpisahan kok malah ketawa ketiwi" pikir ku.


"kamu gak lagi kesambet kan dek?" tanya Dian yang.


"kesambet? Enggaklah. Emang kenapa sih, ada yang aneh sama aku?" tanya adek balik.


"aneh. Habis perpisahan bukannya sedih, mala cengar cengir" kata Dian terus terang.


"yaelah kak.... Kaya nganter orang ke pemakaman aja mesti nangis-nangis"


"baguslah. Tau gitu gak usah buang-buang waktu nungguin dia di parkiran kan dari tadi yang. Kita kencan aja lebih asik" ucap ku.


"hemp, nyesel nih nungguin adeknya?


Lagian juga bukan aku yang minta kan tadi buat di temenin"

__ADS_1


"kalo gak sama kita, kakak yakin kamu gak bakal di ijinin keluar sama mama"


"oke oke. Sudah, kakak adek di larang debat" Dian melerai.


Sementara mobil sudah melaju kencang meninggalkan area parkir bandara.


Dan kami tak lagi membahas tentang kepergian kak Jo. Melainkan beralih pada pembahasan makanan. Karena menunggu adek yang begitu lama kami harus melewatkan jam makan malam.


Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam. Beberapa rumah makan sudah banyak yang tutup


Menyisakan warung-warung tenda dan angkringan rombong yang menghiasi pinggiran jalan.


Salah satu rombong angkringan menyita perhatian kami. Karena sangat ramai pengunjung dengan panjang antrian hampir dua meter.


"penasaran sih penasaran kak. Tapi mau nyampe rumah subuh kita? Lagian cacing perut udah teriak- teriak dari tadi. Keburu demo kalo mesti antri segitu panjang" protes adek yang tidak setuju untuk berhenti.


Lalu kami sepakat untuk kembali di lain waktu saat esok harinya libur.


"untung kamu gak lagi hamil yang, jadi masih bisa di tunda" kata Dian.


Mobil terus melaju, tapi belum juga menemukan tempat makan yang di sepakati bersama. Akhirnya rasa kantuk menyerang ku lebih dulu.


Entah sudah berapa lama aku terlelap, bahkan aku sudah mengabaikan cacing di perut yang terus saja berbunyi.


Saat suara panggilan yang terus saja ku dengar membuyarkan tidur ku, mobil sudah terparkir sempurna di rest area sebuah SPBU.


"kenapa?" tanya ku yang masih sedikit bingung.


"kita makan disini sayang" tunjuk Dian pada sederetan warung yang masih nampak ramai oleh para pengendara malam.


"kalo masih gak ada yang cocok juga, makanan rakyat banyak kak, tuuhhh" tunjuk adek pada sederetan mie instan cup yang di tumpuk rapi berjajar.


Dengan langkah gontai aku mengikuti Dian serta adek. Rasa kantuk yang masih tersisa membuyarkan selera makan ku.


"kalo gak makan, aku suapin pake mulut mau?" bisik Dian.


Seketika mata ku terbuka lebar, tak menyangka Dian bisa juga berkata vulgar di tempat umum begini.


Perkataan Dian berhasil mengusir rasa kantuk ku seketika.


"gimana gak makin gemuk sejak punya suami, selalu aja maksa untuk makan" ucap ku dalam hati sembari memasukkan sendok demi sendok ke dalam mulut.

__ADS_1


_______________________^_^_____________________


__ADS_2