
"harus gini amat ya buat lepas rindu? " tanya ku di kala pagutan Dian terlepas untuk sesaat.
"ehemm" jawabnya singkat lalu kembali pada aksinya.
Hanya beberapa detik saja dia memberikan ku celah untuk menghirup nafas.
"Diiii, hoouustt... hhoouussttt" dengan terpaksa aku mendorong badannya karena aku kembali kehabisan pasokan oksigen. Hingga terdengar suara nafas ku yang begitu keras.
"capek sayangg" aku kembali merengek.
Rasa lelah sudah menyerang tubuh ku sejak masih di dalam perjalanan. Menunggu dengan duduk santai dalam waktu yang begitu lama, rasa nya membuat tubuh ku kram saja.
Maksud hati begitu sampai rumah mau langsung mandi, makan lalu rebahan. Yang ada malah mendapat serangan dadakan.
"kamu terlalu lama. Sekali pun aku sudah mencoba untuk positif thingking, tapi bagaimana bisa aku tidak resah. Sampai-sampai aku hilang rasa lapar"
Aku terbelalak mendengar ucapan Dian yang terakhir.
"jadi kamu belum makan? Sudah jam segini loh sayang"
"aku tuh khawatir, cemas mikirin kamu. Sampai di ledekin terus sama Nahla. " Kaya setrikaan aja mas, mundar mandir" gitu kata dia.
Sampai mama dan papa ikut nenangin aku tau.
Aku tuh cemas nya sudah seperti nungguin istri yang lagi lahiran aja tau"
"hhhhhhhhhhh, kaya udah pernah nunggu istri lahiran aja. Hamil juga bekum.
Sekhawatir itu"
"malah ikutan ngetawain.
Kamu itu memang gak pernah faham, kalo aku tuh se-sayang itu sama kamu. Dari dulu"
"ciiieee, iya-iya. Maaf ya sayang, sudah bikin kamu khawatir.
Habisnya gimana lagi, maju gak bisa mundur gak bisa.
Padahal kan juga udah vcall, chat WA. Udah kasih tau kalau baik-baik aja"
"tapi kamu sama laki-laki lain. Ngerti gak sih, aku cemburu" Dian bangkit dari tempat tidur.
"sudah ya sayang. Nanti lagi ngambeknya. Aku lapeeerrr, kamu kan juga belum makan katanya tadi.
Aku mandi dulu, habis kita makan" ku peluk dia dari belakang. Lalu ku kecup pipinya dari samping sekilas.
Untuk pertama kali Dian merajuk dengan jujurnya.
Jadi gemas.
Entah kenapa aku semakin bahagia melihat dia seperti itu. Melihat dia yang cemburu "xixiixxiixixixxixi" tawa ku dalam hati sembari berjalan ke kamar mandi.
Aku mandi dengan cepat. Yang penting keringat di badan terguyur oleh air. Sekalipun aku tidak pernah peduli untuk makan dan ngemil di malam hari, tapi untuk mandi di malam hari aku sangat menghindari nya. Kecuali jika sangat terpaksa dan harus.
Padahal tidak lebih dari lima menit aku di dalam kamar mandi, begitu keluar ku lihat Dian sudah tertidur. Aku menjadi merasa bersalah telah membuat dia menunggu kepulangan ku hingga begitu lama. Dan lagi, dia sampai melewatkan makan malam.
Ini baru pertama kali. Dan semoga tidak akan pernah terulang lagi. Aku tidak membayangkan akan seperti apa jadinya jika ini kembali terulang. Apalagi jika sampai tau, kalau mas Riza ternyata pernah menaruh hati pada ku.
"tenang Kayra, hanya tiga bulan. Itu bukan waktu yang terlalu lama.
Tapi... bagaimana jika seperti yang mas Riza katakan, dia akan tetap mengabdikan diri perusahaan hingga nanti kepemimpinan berganti pada ku?
Semoga saja, seiring berjalannya waktu perasaan mas Riza pada ku benar-benar terhapuskan. Semoga segera di pertemukan dengan jodohnya.
Aku tidak sanggup jika harus melihat kamu terluka karena cemburu. Atau mungkin, aku yang tidak akan sanggup untuk membayar rasa cemburu itu*? " aku terus membelai wajah lelah yang tengah berbaring. Tersenyum simpul mengingat apa yang Dian lakukan saat ia cemburu.
Beruntung sekali cemburunya pas sudah nikah, seandainya masih pacaran, tidak terbayang seberapa banyak dosa akan dilakukan. Astaghfirullah, memikirkan apa sih aku ini 😧
__ADS_1
"sayang, makan dulu yok. Sayangggggg, hey" ku mainkan bulu mata lentik yang sering kali membuat aku semakin suka untuk memandangnya.
"aku ketiduran ya? " tanya nya sembari mengerjabkan mata.
"iya. Bangun dulu yok, makan"
Lalu kami pun berjalan menuruni tangga.
Di bawah masih ada mama yang setia menunggu di ruang TV. Sementara adek sudah tak terlihat, di kamarnya juga sudah tak terdengar suara apapun, pasti sudah tidur.
"mama belum tidur? " sapa ku.
"kalian kan belum makan" kemudian mama bangkit menuju dapur.
"mamaaaa, kalo cuma manasin lauk kan Kayra bisa sendiri.
Mama pasti juga sudah capek, kerja seharian" aku membuntuti mama menuju dapur. Mengambil dua piring dan membawanya ke meja makan.
"maaf ya ma, Kayra pulang terlalu malam. Membuat semua orang menunggu" aku kembali lagi ke dapur untuk mengambil yang lain.
"kenapa minta maaf, kan bukan salah kamu"
Sudah, cepet makan. Terus istirahat"
"iya ma. Trimakasih ya ma. Mama juga istirahat" aku mengecup pipi mama sebelum mama pergi.
"jangan kaget ya Di. Kayra memang suka seperti ini"
"gak ma. Itu yang seharusnya, sebagai bentuk kasih sayang" Dian tersebut tipis menanggapi perkataan mama.
Aku jadi merasakan suatu hal, dimana Dian pasti tidak pernah melakukan hal ini. Sebab tidak ada kedekatan antara Dian dan ummi.
"mikirin apa sih. Ayo makan" pemikiran ku jadi buyar.
Dian menuangkan nasi pada piring ku. Padahal seharusnya aku yang melakukan itu untuk dia.
Pasti penilaian kamu begitu.
Kamu gak pernah kan seperti itu ke ummi? "
"siapa bilang.
Aku juga melakukan itu pada ummi, sekalipun terkadang aku merasa kecewa dengan apa yang ummi lakukan.
Sudahlah, makan dulu"
Hening.
Hanya aduan suara sendok dengan piring yang terdengar. Kami sama-sama makan dengan cepat. Selain lapar, rasa ngantuk juga sudah menyerang.
Aku kira setelah serangan tadi, rasa cemburu itu sudah pergi. Ternyata masih tersimpan sejumlah pertanyaan yang harus aku jawab.
"kamu kenapa bisa pulang sama asisten Papa? "
"katanya papa sudah cerita, kan memang papa yang suruh"
"iya, tapi dia laporan sama papa katanya kamu gak mau dia antar. Mau pulang bareng sama temen kamu"
"gak jadi. Dia bawa motor, gak bawa helm, jas hujan cuma satu, cuaca juga mendung.
Emangnya aku boleh, boncengan sama cowok lain? Motornya Nin... "
"BIG NO!
Pokoknya gak boleh boncengan motor sama cowok, kalo bukan saudara"
"tadinya aku nolak, juga karena gak mau kalo kamu cemburu. Pas tau aku di antar mas Riza, di mobil berdua aja.
__ADS_1
Akhirnya aku pesen mobil online. Sudah lama nunggu, gak taunya si sopir kasih kabar kalau mobilnya mogok. Sedangkan hujan sudah mulai turun, jadi ya.... mau gak mau aku bareng mas Riza"
"terus... kamu duduk di depan, sebelahan sama dia? "
"yah, aku gak enak aja kalo jadiin dia sopir yang"
"ekhm, gak enak yah? Kenapa mesti gak enak, kan emang dia pegawai Papa. Gak masalah juga kan kalo dia jadi sopir.
Atau, kamu mau kasih dia harapan? "
"harapan?
Harapan apa? "
"harapan apa?
Kamu pura-pura gak tau, dia pernah suka kan sama kamu? "
Deg, perasaan ku mendadak jadi tak enak. Padahal aku belum cerita apapun soal mas Riza. Jangan jadi masalah, saat Dian mendengar cerita dari orang lain.
"kamu sudah tau?
Padahal aku aja baru tau ini tadi loh, pas ngobrol waktu macet"
"iya, Nahla yang ngomong"
"hah, dasar tuh anak ya"
"karena alasan itu, kamu ambil magang di tempat Papa? "
"apa sih sayang.......
Sumpah, aku aja baru tau ini tadi dari cerita mas Riza sendiri. Bahkan aku gak tau kalo adek tau. Dia juga gak pernah cerita sama aku.
Owh, jadi itu yang bikin kamu sampe hilang laper? "
"gimana enggak?
Kamu berapa jam di mobil berdua aja. Malam-malam lagi, kanan kiri gelap, hujan pula, dingin"
"sayang..... seburuk itu pikiran kamu????
Oke, besok bangun tidur langsung kita konfirmasi sama adek. Kenapa selama ini dia gak pernah bilang ke aku" aku jadi sedikit emosi. Kenapa masih ada saja hal kecil yang bisa membuat besar, padahal aku sendiri gak pernah tau dengan itu semua.
"aku percaya.
Tapi lain kali jangan pernah di ulangi lagi. Kalo emang gak bisa pulang bareng Papa, kamu bilang. Biar aku jemput. Mau sejauh apapun, mau secapek apapun, aku yang akan jemput. Bukan orang lain" kecupan erat mendarat di kening. Dengan kedua tangan yang melingkar di perut dengan manja nya.
"aku tadi taunya juga mendadak, pas udah mau jam pulang. Papa sendiri gak kasih kabar kalo pulang duluan"
"yaudah. Udah gak terlalu kenyang kan? tidur yook" semoga dengan tidur bisa menghilangkan pikiran negatif Dian. Adek ini, bisa-bisanya jadi kompor disaat yang tidak tepat.
"buka dulu bajunya" rengek Dian.
"tapi sayang..... aku capek... ngantuk... banget"
"cuma lepas baju aja. Kita tidur tanpa baju" tanpa penolakan lagi Dian melepaskan satu per satu pakaian ku. Lalu menarik selimut tebal di ujung kasur.
"besok pagi aja main-mainnya ya" lanjutnya sembari menutup kan selimut ke seluruh tubuh.
"aisht.... bisa aja ya nawarnya"
"kan udah di dibayar tunai. Jadi sah sah aja kan? " kata Dian sembari mengecup kening kembali.
"terserah lah. Apapun itu, lakukan. Aku kan punya mu"
____________________^_^___________________
__ADS_1