
Kini aku sudah kembali ke dalam mobil setelah menebus obat.
"Kay, pengen makan yang berkuah panas" Siska berbisik begitu aku duduk di sampingnya.
Kenapa juga laporannya sama aku, kan dari tadi berdua sama pak sopir di mobil. Bener-bener nih anak, aku di jadiin jubir. Lagi-lagi aku menggerutu. Jika biasanya aku yang berlindung di balik para sahabat ku, kali ini justru aku yang dijadikan tameng oleh Siska. Huft, itung-itung balas budi. Akupun tak berdaya untuk menolak permintaan orang sakit.
"ustad, apa di sekitar sini ada soto yang enak? "
"ada, mau makan soto? "
"iya, ini Siska kepengen"
Begini ya rasanya jadi penyambung lidah. Apa seperti ini juga yang dulu dirasakan oleh 3M?
Aku kembali mengingat apa yang dulu sering aku lakukan pada 3M, terutama Melan. Apakah ini Karma?
Ternyata tak selamanya kita bisa berlindung pada orang lain.
"maaf ustad, kalau boleh tau ummi pergi kemana ya? " selama aku di pesantren belum pernah tau ummi pergi begitu lama.
__ADS_1
"ke rumah Maryam. Sedang ada acara kirim doa disana" mendengar jawaban ini, aku tidak perlu bertanya. Sudah pasti untuk persiapan pernikahan kak Maryam.
"mau take away atau makan di tempat" terpaksa aku mengetiknya di HP kemudian aku tunjukkan pada Siska.
Sebenarnya sungkan juga mau minta di antar kesini, kesitu. Tau begini tadi bawa mobil sendiri lebih bebas.
Dengan mengambil nafas dalam-dalam, mau tak mau harus kembali membuat permintaan pada pak sopir. Maafkan ustad, sudah menjadikan anda sopir. Gumam ku dalam hati.
"ustad, kalau makan di tempat terlalu tidak ya? apa ustad buru-buru, atau mau ada acara setelah ini? " aku bertanya dengan nada ragu, bercampur takut sebenarnya.
"yasudah, saya ikut kalian makan" jawaban yang menyenangkan, seharusnya. Tapi tetap saja, tatapan beliau yang seolah menginterogasi membuat ku takut. Jujur saja, aku sangat takut bertemu pandang dengan beliau.
"masih muter-muter gak kepalanya? " aku membantu Siska berjalan.
"sedikit"
Tuan putri sudah duduk manis di meja makan. Dan si ustad sudah ikut duduk di seberang meja. Okelah, aku masih harus menjadi pelayanan.
"ustad mau saya pesan kan sekalian? " keadaan terpaksa ini benar-benar membuat keringat dingin ku mengucur. Rasanya ingin segera lari. Lebih menakutkan dari kalimat gombal nya kak Jo.
__ADS_1
"duduk saja, nanti pegawai nya yang kesini"
Aku hanya bisa menelan ludah. Mau duduk sebelah mana? disamping ustad, tidak. Terlalu dekat. Di sebelah Siska, tepat berhadapan dengan ustad. Awh, seperti makan buah simalakama. Tapi jika aku duduk di meja lain, pasti Siska protes. Haruskah setelah ini aku memakai niqob? Ustad lulusan Cairo harusnya tau jika memandang wanita yang bukan muhrim itu berdosa. Rasanya ingin menghardik beliau dengan kalimat itu, tapi mulut ku tak sampai untuk berkata pedas.
"Sis, boleh geser gak? "
"kenapa, kamu takut duduk di depan saya? saya tidak akan memakan kamu" ampun ustad, ampun. Bisa baca perasaan orang atau gimana ya, apa wajah ku memerah saat ini? Detak jantung ku naik turun. Rasanya seperti, lari dari kandang macam masuk ke kandang singa. Mana berani aku melawan ustad seperti melawan kak Jo dan Dian.
Tuhan, tolongggggggg
Dengan sangat berat hati aku duduk di sebelah Siska berhadapan dengan ustad Billal. Dan aku berjanji ini untuk pertama dan terakhir kali meminta pertolongan pada ustad Billal.
_______________^_^_____________
lanjut makan soto gays.... yg gak punya soto boleh sarapan pagi dengan menu masing-masing.
sekian dulu, author kembali ke dunia nyata 👋
tak lupa, Terima kasih untuk pembaca setia Kayra 🥰🥰🥰
__ADS_1
like, vote, koment, hadiah, boleh. Buat suntikan semangat. 😘