
"eist...apaan sih pacaran" kata ku.
Sementara dia tidak menggubris ku dan justru mengambil sebuah kantong berwarna coklat dari atas meja lalu menarik ku ke balkon.
"kalo tadi...dari sini...aku lihat kamu peluk kak Gilang. Mau donk kalo sekarang gantian aku yang di peluk" kata dia sembari melepaskan genggamannya.
Tanpa ada kata keberatan, aku memeluknya sekilas dan berkata "ini sungguhan kan? aku gak lagi mimpi kan? "
Sementara Dian terdengar sibuk membuka bungkusan coklat yang tadi dia ambil.
"gak, gak mimpi" ucapnya sembari menyodorkan sebuah bucket bunga segar. Mawar merah, putih, pink. Rupanya bunga isi dari bungkusan itu.
Dalam-dalam aku mencium bunga mawar itu. Aroma khas bunga mawar segar. Dia sudah menyiapkan ini semua rupanya.
"kamu ya, bikin acara sepenting ini gak bilang-bilang dulu" protes ku.
"biar surprise donk! Gimana, surprise gak? " tanya Dian.
"surprise banget" kata ku sembari kembali memeluk nya.
"makasih banyak ya, aku bahagia banget hari ini"
Dia tersenyum, lalu mengecup kening ku sekilas.
"gak boleh lama-lama, belum halal"
M**au lama, mau sebentar, tetep aja dosa!
"aku tidak berjanji akan selalu membuat mu bahagia. Tapi aku janji, akan menebus semua kesalahan yang dulu pernah aku lakukan"
"aku sudah lupa" ucap ku sembari tertawa kecil.
"Maafkan aku yang dulu ya" Dian mengelus puncak kepala ku.
"ya sudah sana pulang dulu, nanti di cariin lagi kalo kelamaan di sini"
"aku di usir nih" kata ku.
"iya, takut hilaf kalo kelamaan berdua"
"makanya cepet di nikahin" kata ku sambil melangkah pergi.
"Kayra" Dian memanggil ku lagi dan aku berhenti.
"beneran mau nikah cepet? " tanya Dian.
Aku tersenyum tanpa menjawab, lalu pergi menuruni anak tangga sembari membawa bucket bunga yang tadi dia beri.
Aku kembali ke rumah.
Tak menunggu lama kaki ku sudah melangkah di depan gerbang. Suara riuh riang, jeritan menghiasi rumah. Sungguh pemandangan yang langka. Entah sudah berapa lama kami tidak berkumpul seperti ini. Karena kesibukan kerja juga sekolah, sehingga waktu kami terbatas untuk bisa bersama dalam jumlah yang lengkap.
__ADS_1
Kedatangan ku langsung di sambut oleh adek, kemudian para sepupu ikut menarik ku ke dalam pelukan mereka. Ucapan selamat tidak habis-habisnya.
Sementara para orang tua, bude tante juga eyang nampak masih menunggu ku duduk untuk mengupas tuntas tentang apa yang baru saja terjadi.
Pertama yang aku lakukan adalah memeluk mama selanjutnya eyang.
"cucu eyang sudah besar ya" begitu kata eyang saat aku duduk di antara mama dan eyang.
"Kayra bisa saja ya, takut di tinggal Gilang. Langsung nyelip begitu ada tikungan" ucap pakde Pras. Karena beliau tau aku dan kak Gilang begitu dekat sejak kecil.
"di luar skenario pakde" balas ku menanggapi pakde Pras.
"gak pernah kenalin calon tau-tau sudah dilamar ya pa" sambung bude Sinta.
Sementara mama terus saja tersenyum mendengarkan obrolan yang sedang terjadi.
"mama kok ngasih restu gitu aja sih, anaknya dilamar" kali ini aku yang menanyai mama.
"gimana ceritanya ustadzah Zia tiba-tiba sudah baik sama mama? " aku mulai menyelidiki. Sepertinya banyak hal yang terlewatkan saat aku lama tidak pulang. Dan mamapun rupanya sengaja tidak memberitahu ku.
Tapi mama tidak menjawab pertanyaan ku begitu saja. Aku berfikir sejenak, mungkin karena masih ada banyak anggota keluarga. Tidak baik juga membicarakan seseorang di depan orang banyak, apalagi orang-orang itu tidak ada sangkut pautnya. Jatuhkan justru akan menjadi hibah.
"gimana sih kakak ini, sudah bagus di kasih restu. Ya kan ma" ucap adek menyela.
"gak lama, bisa kumpul bareng lagi ini" kata tante Sasa,adik bungsu Papa.
"belum tentu juga Sa, kami saja belum bertemu orang tua dia" kata mama sambil menyiapkan oleh-oleh untuk bude Shinta. Karena setelah ini rombongan dari Banyuwangi sudah akan pulang.
"lha, gimana ceritanya mbak ini. Belum ketemu sama orang tua dia kok sudah asal setuju gitu aja" protes tante Sasa.
"tapi Kay, harus lulus dulu tuh kuliahnya" pakde Pras ikut nimbrung.
"kalo itu sudah pasti pakde. Bisa gak di restui nanti sama wali nikah" ucap ku sembari memainkan mata pada papa.
Perbincangan terus berlanjut sampai adzan ashar di kumandangkan.
Sementara bude Sintha beserta rombongan telah siap untuk berangkat. Semua keluarga turut mengantarkan ke halaman depan.
Pertemuan yang sesingkat ini, menjadikan rindu tertahan dan entah kapan lagi akan terlepaskan. Karena setelah ini kak Gilang sudah akan pergi. Sekalipun nanti keluarga akan kembali berkumpul lagi saat pertunangan ku, belum tentu kak Gilang turut hadir.
"udah gak usah sedih gitu" kak Gilang mengusap rambut ku.
"masih kangen" rengek ku.
"udah mau jadi pengantin, malu kalo masih suka mewek" kembali kak Gilang mengatai ku. Bukan gak Gilang namanya jika tidak seperti itu.
"ye... kaya situ enggak aja" balas ku.
Muncullah Melan di tengah-tengah percakapan kami.
"gak boleh duluin yang lebih tua Kayra, pamali. Iya kan pakde" kata salah satu sepupu, ikut berseru.
__ADS_1
"nanti...kapan-kapan...ajak Melan jalan-jalan ke Padang. Kita ketemu di sana" sambung kak Gilang.
"Melan aja? Enakan gak Gilang donk pacaran. Aku jadi obat nyamuk" protes ku padanya.
"ya sudah, double date" bisa saja kak Gilang kalau mencari celah.
Sementara Melan hanya tersenyum melihat pertikaian ku dengan kak Gilang. Sudah fahamlah ya dia.
"ya sudah keburu magrib" kali ini kak Gilang berpamitan pada Melan.
Dan itu menjadi kata terahir,lalu kak Gilang mengacak kembali rambut ku dan masuk di bangku kemudi.
Suara riuh perpisahan menghiasi, melambaikan tangan hingga dua mobil rombongan kian menjauh dan tidak terlihat lagi.
Masih tersisa keluarga yang di Jogja. Tapi itupun juga tidak lama, kami semua melaksanakan solat ashar berjamaah. Dan setelah itu, mereka berencana untuk pamit undur diri. Kecuali eyang.
Eyang akan tinggal di sini, entah sampai kapan. Yang pasti mama masih menahan.
Saat semua sudah pergi kini tinggal lah sepi.
Mama menyuruh eyang untuk istirahat. Karena manurut Dian, nanti bakda Isya dia akan datang bersama abi dan umminya. Jadi eyang harus kembali mengumpulkan energinya untuk menjamu calon besan satu lagi nanti malam.
Akupun menaiki tangga menuju kamar bersama adek. Namun tidak masuk ke kamarnya sendiri, melainkan ikut ke kamar ku.
"numpang tidur ya kak, mumpung lagi di rumah" ucapnya.
Sudah pasti aku tidak menolak. Justru ini kesempatan, sedikit banyak bisa cari informasi dari adek.
"dek, jangan langsung merem aja donk" aku menggoyang badan adek yang sudah memeluk guling.
"ngantuk kak" rengek nya.
"bentar aja deh" aku masih membujuk.
"ada apa sih" akhirnya adek melihat ke arah ku, tapi tetap memeluk guling.
"kok bisa ya dek, ustadzah ngasih restu? Kira-kira.... " belum selesai aku berbicara adek sudah kembali menenggelamkan wajahnya di bawah guling.
"tau awh kak. Yang penting dapat restu kan, bisa nikah" ucapnya singkat.
*Iii*isshht, nih adek. Gak bisa di ajak menebak-nebak sedikitttt aja, gerutu ku dalam hati.
Tapi... yasudahlah. ada benernya juga. Yang penting dapat restu.
Aku sendiri juga mengantuk, dipikir sambil bermimpi sajalah.
_________________^_^_______________
horeeee 🥳🥳🥳🥳 adakah yang ikut bahagia bersama Kayra dan Dian?? Kasih selamat donk yaaa
Masih semangat kah mengikuti kelanjutan Kayra dan Dian, sampai hari pernikahan???
__ADS_1
Kasih semangat juga donk buat author 😁 tinggalkan jejaknya jangan lupa.
Like, vote, koment, hadiah kalian berarti banget loh sebagai suntikan semangat 😍