
Lepas Magrib Dian datang ke rumah dengan mobil barunya, Mercedez Benz keluaran terbaru. Wauw banget gak sih ni cowok?
Dari yang sebelumnya selalu memakai motor tua kemana-mana. Tiba-tiba bertransformasi dengan mobil barunya. Dimana mobil itu termasuk salah satu mobil mahal.
Untuk apa itu semua?
Demi untuk mengantarkan aku kembali ke Pesantren?
Dan setelah ini, mungkin akan menjadi kendaraan kami berdua untuk berkencan. Awh, benar-benar seperti kejatuhan durian montong rasanya.
"assalamu'alaikum, hay... ngelamunin apa sih" Dian menggoyang kan sebelah bahu ku. Membuyarkan lamunan ku.
"eh, uh, anu" awh, kenapa jadi muncul jiwa matre begini sih? Pasti karena kebanyakan dapat surprise dari Dian ini.
"kenapa sih kamu ini? udah siap belum? " tanya Dian bingung.
"eh, enggak.
Udah kok, udah siap" ucap ku terbata.
"yasudah ambil tas kalo gitu, aku panggil Melan dulu" lalu Dian meninggalkan aku yang masih mematung.
Astagfirullah, bisa-bisa jantungan aku ini kalau terus dikasih kejutan sama Dian. Pikir ku sambil melangkah menaiki tangga.
"berangkat sekarang kak? " tanya adek begitu aku sampai di tangga terakhir.
"fuh, keren mobilnya Dian dek. Mercedes"
"kakak iwh, tanya apa jawabnya apa.
Biasa ajalah, seperti gak pernah lihat mobil mahal aja" justru adek yang kini mengomeli ku.
"heran aja gitu dek. Dari yang biasanya motor tua, tiba-tiba ganti mobil, mobil mahal pula"
"demi kakak itu"
Lalu kami berdua menuruni tangga. Di sambut oleh mama dan papa, selanjutnya Melan dan Dian.
"pamit dulu ya tante" ucap Dian setelah memasukkan tas ku ke dalam mobil.
"mama.
Mulai sekarang panggil mama dan papa saja" bLas mama sembari menjabat tangan Dian.
Anehnya, mama dan Dian yang berinteraksi tapi kenapa hati ku yang tiba-tiba bereaksi. Dug dug dug dug dug.
Jantung ku berpacu dengan cepat begitu mendengar ucapan mama. Mendengar sesuatu yang tak biasa. Mendadak semuanya menjadi berbeda. Yang dulu di antar oleh mama papa, sekarang diantar sama Dian.
Yang dulu ingin bicara dengan Dian saja harus sembunyi-sembunyi,kini mendadak hidup ku serasa di ambil alih oleh Dian.
Benarkah aku telah berada di fase ini?
Setelah berada dalam pelukan mama cukup lama, akupun harus merelakan untuk undur diri. Rasanya berat, seperti baru pertama kali saja.
"beneran ini ma, aku di antar sama Dian?
Boleh, gak kenapa-kenapa? " tanya ku kembali untuk meyakinkan diri.
"iwh kakak. Lama awh. Keburu malem" gerutu adek.
"ya gak apa-apalah. Sekarang kan sudah jelas hubungan kalian.
Yasudah pergi sama, keburu malem"
Lalu aku berpamitan dan masuk ke dalam mobil.
"ngobrol apa aja tadi sama papa? " tanya ku begitu mobil meninggalkan halaman rumah.
"ngobrolin mobil" jawab Dian singkat.
__ADS_1
"eh, iya. Gaya banget kamu. Sekalinya ninggalin motor tua langsung pakek mobil mahal"
"ya gak gitu juga. Motor tua itu sahabat buat aku. Yang menemani perjalanan hidup ku. Jadi dia akan tetap ada, tak tergantikan"
"ok ok, tak tergantikan" aku mengulang dengan penuh penekanan pada kata terakhir.
"eh, ya gak gitu juga maksud nya.
Masa iya kamu cemburu sama motor aja? "
"iya aku cemburu. Karena aku gak se istimewa benda tua itu" jawab ku sedih.
"siapa bilang, justru kamu sangat istimewa, makanya akupun beli mobil yang istimewa buat kamu"
"buat aku?
Hawh, gombal" aku mendengus, tak percaya.
"Aku ganti mobil ya karena memang sudah waktunya. Kan ada kamu sekarang, aku gak selalu sendirian lagi kemana-mana.
Masa iya, permata seindah ini mau aku boncengin pake motor tua. Kasihan lah kalo lecet-lecet.
Bisa turun harga nanti"
Aku sempat tersenyum mendengar apa yang Dian ucapkan. Tapi detik berikutnya, membuat bola mataku melotot dengan sempurna. Enak saja dia sebut 'turun harga'.
"bercanda.Gitu aja langsung melotot" Dian mengusap wajah ku sekilas. Kemudian kembali fokus menyetir.
"kamu itu permata hati ku, sinar hidup ku. Tak ternilai harganya. Jadi gak boleh ada sembarangan orang yang menyentuh"
"nah, gombal lagi deh"
"Kayra... dimana sih letak gombal nya itu?
Bikin gereget aja kamu ini. Aku gigit baru tau rasa? "
"hhhhhhhhhhhhhh" aku justru tertawa melihat reaksi Dian.
"iya, kamu kaya anak kecil aja. Sejak kapan jadi suka gigit sih? "
"sejak ada kamu di samping ku"
Aisht, Lagi-lagi di gombalin. Auto gak bisa tidur ini nanti malem.
Dan lagi, aku hanya bisa tertawa untuk menyembunyikan ke tersipu an ku.
"sekali lagi aku dengar kamu ngatain aku 'ngeGombal', beneran aku gigit kamu ya"
Bukannya takut, justru aku semakin terkekeh.
"kamu ngetawain apa sih Kayra? "
"gak ada"
"lalu kenapa ketawa terus dari tadi?
Kamu ngetawain omongan ku? "
"gak juga.
Lagi bahagia aja" jawab ku usil sembari terus menatap Dian yang serius menyetir, karena arus kendaraan sedang padat.
"kan.... katanya kamu mau buat aku bahagia?
Yasudah, selamat. Kamu berhasil"
"owh, jadi kamu kalo lagi bahagia ketawa terus begitu?
Hiewh, ngeri. Apalagi malem-malem, 11 12 sama suara kunti" seketika merusak suasana hati ku.
__ADS_1
"iwh..... Diannnnnnnnnnnnnnnn, nye.be.linnnn" aku memukuli pundak Dian.
Begitu lampu merah menyala, Dian menghentikan mobilnya dan seketika menjangkau kepala ku. Mengecup singkat kening ku.
"sudah diam.
Kalo masih ketawa terus nanti mulutnya itu yang aku bungkam"
"iwh, mesum juga kamu.
Dasar, cowok. Sama aja ternyata" aku duduk dengan menghadap ke samping.
"aku cuma ngasih peringatan.
Makanya jangan bikin aku gemesh" Dian menjewer sebelah pipi ku.
Malam ini begitu indah.
Malam-malam ku menjadi penuh warna setelah kalimat 'pinangan' itu Dian ucapkan.
"kamu gak akan benar-benar melakukan itu kan? " tanya ku was-was.
"enggak, InsyaAllah aku masih kuat iman.
Tapi kalo kamu bikin gemesh terus, bisa jadi besok kita berangkat ke KUA"
"jangan donk, kan aku masih pengen slesein kuliah"
"gak ada yang melarang orang buat kuliah setelah nikah"
"Dian....... "
"iya, iya.
Setelah ini kita lama gak ketemu. Awas, Hati-hati. Jangan sampai permata ku ada yang menyentuh"
Huh, belum-belum udah dapat warning!
"iya-iya. Aku akan jaga diri. Gak bakalan dekat-dekat sama cowok manapun.
Belum cukup apa ada cincin yang melingkar, ada gelang dengan inisial pemiliknya juga"
"belum, karena cowok lain masih bebas melihat kamu"
"hawh, lalu... maunya.... aku pakai cadar juga begitu? "
"kalau mau sih"
"gak ah Dian, aku belum siap. Takut, ntar dikira aku anggota *******-******* itu"
"yasudah, pakai masker aja kalo gitu"
"Dian..... kamu seriusan? " tanya ku geram.
"oke, bila perlu pakai kacamata hitam sekalian. Yang sebesar kacamata kuda itu"
Kali ini justru Dian yang terkekeh.
"Enggak-enggak. Cukup kamu menjaga hati kamu aja buat aku. InsyaAllah itu sudah cukup untuk menjadi benteng"
"cukup menjaga hati saja ya"
"Menjaga diri dari sentuhan cowok manapun, itu mutlak"
"Dian.....aku gak nyangka. Kamu posesif juga ya ternyata.
Tapi gak apa, aku seneng kok dengan ke posesif an kamu"
"harus PO.SE.SIF. Karena kamu permata ku"
__ADS_1
______________________TBC___________________