
"emang beneran tadi belum mandi? " tanya Dian saat kami kembali memasuki mobil.
"udah sih. Cuman, bawaannya gerah kalo dengar orang ribut" jawab ku asal.
"alah, ngeles. Bilang aja kalo emang belum mandi"
"iwh, beneran udah kok" rupanya tadi salah buat alasan., jadinya sungguhan dikira belum mandi.
"masa sih, sini coba aku cium. Harum gak? " padahal mobil sudah parkir, Dian malah sengaja mendekat kan hidungnya untuk menciumi badan ku.
"apaan sih Di. Nanti ada yang lihat di kira ngapa-ngapain, gimana? "
"gitu juga boleh. Biar nikah sekarang juga" Jawab Dian seperti tak punya beban.
"kamu ini, nikah nikah terus aja" kata ku sambil keluar dari mobil. Jika aku tidak turun lebih dulu, Bisa-bisa Dian melakukan kejahilan yang lebih.
"biar bisa makan kamu dengan segera" bisik Dian tepat di telinga ku.
"assalamu'alaikum ummi" ummi sedang merapikan tanaman saat aku datang. Sejujurnya tetap saja ada rasa grogi saat bertemu beliau. Memang ini bukan yang pertama, tami setelah bertahun-tahun tak bertegur sama, ini menjadi yang kedua kalinya.
Rasanya masih tidak percaya jika Ummi merestui hubungan kami dengan begitu mudahnya. Atau mungkin, hanya aku saja yang tidak tau seperti apa perjuangan Dian dalam mendapatkan restu dari ummi.
"Ah, yasudahlah. Yang terpenting semua sudah OK, semoga saja berjalan dengan lancar" pikir ku karena tak mau ambil pusing.
"sudah masuk saja, nanti kotor di sini" kata ummi mempersilahkan aku untuk masuk.
"gak apa ummi. Kayra juga sudah lama sekali tidak berkebun. Kadang kepengen, sekedar untuk melepaskan penat"
"oh, begitu.
Kuliah kamu bagaimana? " Tanya Ummi. Sekalipun masih sedikit kaku, setidaknya terlihat upaya untuk memperbaiki.
"InsyaAllah setahun lagi selesai Ummi. Ini sedang mengurus untuk magang" aku membantu Ummi memilih tangkai bunga mawar yang memiliki kelopak bunga indah.
Karena dari dulu Ummi suka membuat rangkaian bunga segar untuk sekedar di letakan di atas meja atau bufet.
"Kay, sini deh" panggilan dari calon imam. Jadi, sudah pasti aku meninggalkan Ummi.
"saya permisi Ummi" aku pamit, meninggalkan ummi yang masih saja asik memilih bunga-bunga segar.
"iya, sebentar lagi juga selesai"
Dian mengajak ku untuk memasuki kamar, namun dengan pintu yang masih terbuka.
"coba deh dilihat" Sebuah box kecil dia tunjukan pada ku.
Dengan pelan aku membukanya. Khawatir itu sesuatu yang akan membuat ku terkejut. Sedikit demi sedikit aku intip isi di dalam kotak itu.
"buka aja, takut banget. Bukan BOM kok isinya" Dian tertawa melihat aku yang begitu hati-hati dalam membuat kota tersebut.
__ADS_1
"takut. Kamu sih gak pernah berhenti kasih kejutan. Dan itu semua berhasil membuat aku jantungan"
"sini-sini aku bantu kalo emang kamu terlalu khawatir" seketika kotak tersebut berpindah ke tangan pemilik nya.
Terkejut, sudah pasti.
Lembaran uang berwarna pink dan biru berbentuk hati. Tersusun rapi di sana. Entah ada berapa banyak bentuk hati.
"apa itu maksudnya? "
"itu... adalah hati kita. Hati yang sudah aku penjarakan sejak kita saling mengenal. Satu warna melambangkan hati ku dan satu warna lain melambangkan hati kamu.
Setiap tanggal kelahiran kita, aku selalu membuat satu bentuk hati lagi dan lagi. Sampai akhirnya terkumpul lah sebanyak ini" Aku selalu melihat cinta dari setiap kata yang ia tuturkan.
Betapa mulut ku ternganga, tak percaya rasanya. Sebegitu besar cinta harapan dan keyakinan yang Dian punya, untuk kami bersama. Aku sungguh tidak menyangka.
Mungkin karena selama ini yang aku tau hanya sisi buruknya saja. Sisi di mana aku yang selalu di buat terganggu olehnya.
"berarti.... ini jumlahnya sebanyak usia aku dan kamu sekarang? " ucap ku tak percaya.
"ekhem" dia mengangguk lalu memposisikan duduk tepat di sebelah ku.
"gak percaya, kita hitung yuk" Dian mulai mengeluarkan lipatan demi lipatan.
"gak percaya. Sumpah.
Bisa ya kamu nglakuin hal sampe sejauh ini. Bisa gitu kamu penjarakan hati orang"
"untungnya JODOH. Kalo sampe enggak, bisa-bisa kamu yang jadi seperti kak Jo" entah kenapa, aku reflek menyebut nama itu.
"tuh, sebut-sebut sendiri nama dia. Kalo aku yang sebut, langsung diem, ngambek"
"ewh, enggak. Keceplosan" sanggah ku.
"hayyo, lagi mikirin dia ya. Makanya jadi reflek sebut nama dia"
"enggak Dian, beneran"
"mikirin dia juga gak apa. Yang penting aku pemenangnya" dengan senyum liciknya dia terlihat semakin tampan.
"ih, apaan sih kamu.
Udah ketemu belum, berapa lembarnya? "
"yang pink 20 lembar, berarti melambangkan umur kamu. So, yang biru udah ketebak kan ada berapa lembar? " Bukannya kembali di rapikan Dian malah mulai membuka lipatan demi lipatan.
"gak pengen lihat nih? " tanya Dian.
"ada kejutan apa lagi sih? " tanya ku antara heran dan ingin menyerah.
__ADS_1
"setiap lipatan ada isi didalam nya. Itu tergantung moment berharga apa waktu itu" Sungguh, cowok unik yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Jadi makin gemes bawaannya. Untung aja bentar lagi nikah. Jadi halal kan kalau pengen pegang-pegang. Pegang pipi misalnya, pegang bahu.
"nah, kalo yang ini lama donk.... mesti buka satu-satu lipatannya"
"ya gak harus di buka sekarang juga sih.
Maksud aku gini, gimana kalo uang ini yang kita jadikan mahar? " kata Dian antusias.
"hah? Kok jadi kamu sih yang nentukan mahar nya? Gak seru donk. Gak mau ah, kurang banyak" jawab ku asal. Padahal maksud ku sebenarnya, kok ketebak banget sih mahar pernikahan. Malahan dia yang tau lebih dulu. Pastinya dia sudah pernah kepikiran hal ini kan sebelumnya.
"eits, jangan salah. Di beberapa lembar terakhir ada isinya mas batang loh. Malahan ada yang isinya liontin berlian.
Waktu itu saham ku cair dan aku dapat untung banyak. Kebetulan besoknya hari ultah kamu. Pas banget aku lagi ada studi banding di Singapura kalo gak salah. Jadilah aku belikan perhiasan.
Gak percaya? Buka dewh sampe kamu temuin barang itu"
Cowok satu ini sungguh TOP markotop. Lagi-lagi dunia ku di jungkir balikan oleh sesosok Rahardian Putra Admaja.
Rasanya seperti terjebak di dalam sangkar emas aja. Gak punya banyak ruang gerak lagi, tapi menguntungkan.
Percaya atau tidak?
Rasanya aku tak percaya.
Bagaimana mungkin seorang Dian yang selama ini tingkahnya sungguh menyebalkan.
Ternyata dibalik itu semua, tersimpan rapi berjuta rangkaian keindahan.
Sungguh bertolak belakang.
Rupanya selama ini rasa benci membuat mata ku tertutup untuk bisa melihat siapa Dian yang sesungguhnya. Pantas saja jika dulu ada seseorang yang mengejar dia, kemanapun jadi ekor. Mungkin dia sudah tau jika akan ada jekpot besar-besaran saat dia berhasil menjadi Nyonya Dian.
"diem aja sih. Ayo bongkar sendiri, biar percaya" Dian menyodorkan beberapa lembar lipatan.
"ini semua kan investasi kamu Dian. Kenapa mesti dijadikan mahar buat aku? " aku masih tak percaya rasanya.
"semua yang aku punya milik mu. Memiliki mu saja bagi ku sudah memiliki segalanya" air mata ku luruh. Rasanya terlalu berdosa aku selama ini menilainya. Setulus itukah cinta yang dia punya untuk ku?
"maafkan aku Dian. Maaf aku selama ini salah menilai kamu" reflek aku memeluknya. Entah kenapa aku begitu merasa bersalah setelah mengetahui kebenaran yang selama ini dia sembunyikan.
"kenapa nangis?
Kamu gak salah, kamu gak harus minta maaf. Hanya satu minta ku, jangan pernah menangis lagi karena aku" Dian mengusap air mata yang menetes di pipi ku.
"tapi kali ini aku menangis bahagia. Aku terharu. Aku menyesal pernah menilai kamu buruk"
"sudahlah, itu kan dulu. Yang penting saat ini dan sebentar lagi kita akan bersama. Kita akan menua bersama. Kamu mau kan? " ucap Dian lembut
Sementara aku tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Hanya bisa mengangguk dan kembali menenggelamkan kepala dalam pelukannya.
__ADS_1
_________________^_^________________