
Makan siang selesai. Rupanya belum cukup juga ustad Billal membuat aku kesal
"saya belum solat dhuhur, bisa tunjukkan saya tempat solat? "
"semakin menyebalkan saja ini ustad. Solat ya pastinya di masjid. Tadi aja nyusul kesini gak ada yang nunjukin, kenapa sekarang mesti minta di tunjukkan segala! Sebenarnya nih ustad ada keperluan di Kantor Depag, atau sengaja mengikuti aku sih. Untung ustad, coba Dian atau kak Johan, udah aku lalap habis 😡" Sesaat aku mematung dan bergelut dengan pemikiran ku sendiri.
"hallo, Kayra. Kamu dengar saya? " tanya kembali ustad Billal.
Aku beranikan untuk menatap beliau dengan tatapan kekesalan. Rasanya sudah habis sabar ku dan aku benar-benar muak dengan sikap Ustad Billal. Perasaan tidak suka mulai menguasai hati ku.
Seketika hilang ketakutan ku akan tatapan elang beliau. Bahkan rasanya aku ingin menantang, menunjukkan bahwa aku pun bisa menatap dengan tajam.
"maaf ustad, anda bisa mencari masjid sendiri. Dan saya permisi" aku bangkit dari tempat duduk ku dan dengan cepat meninggalkan kantin. Jangan sampai ada yang menghentikan langkah ku dan terjadi drama seperti di sinetron-sinetron.
Langkah ku semakin cepat, hingga aku bertabrakan dengan seseorang.
"Dian" aku mendongak dan bergumam dalam hati begitu melihat sosok yang bertabrakan dengan ku.
"maaf" ucap ku sambil mengambil kembali map ku yang terjatuh.
Tanpa ada percakapan sedikit pun,aku segera berdiri dan pergi. Namun mata kami tidak berhenti saling menatap. Oh bukan, aku hanya melihatnya sekilas. Tatapan Dian yang sedikitpun tidak berpaling hingga aku berjalan menjauh.
Selain amarah yang mengusai hati ku, beberapa menit lagi aku juga masuk kelas. Berada di gedung lantai 3,sehingga butuh langkah cepat untuk sampai disana.
Tanpa aku sadari ada dua orang yang bertemu dan saling bertegur sapa.
_____________^_^___________
"assalamu'alaikum, ustad Billal ya? "
"waalaikumsalam, ya saya ustad Billal. Antum siapa, maaf saya lupa"
"Dian ustad, dulu sempat ikut lomba bahasa Arab sewaktu di pesantren X. Guru pembimbing nya ustad Billal"
"oh, ya ya. Saya baru ingat. Kamu kuliah disini? "
"iya ustad, saya keluar dari pesantren dan kuliah disini. Ustad sedang apa disini, menunggu seseorang? "
"iya, tadinya. Tapi dia sudah pergi terburu-buru dan kuncinya tertinggal" ustad Billal memberi tau sambil menyodorkan kunci yang dimaksud.
"apakah dia (menyebutkan ciri-ciri wanita yang tadi bertabrakan dengannya,yang tak lain adalah Kayra) " kemudian mendapat anggukan dari ustad Billal.
"saya mengenal dia ustad. Boleh saya bawakan, nanti biar saya yang kasih ke dia"
Kunci berpindah ke tangan Dian, tanpa bercakap panjang lebar lagi ustad Billal ijin diri untuk pamit
___________^_^__________
__ADS_1
Terlepas dari kemarahan ku pada ustad Billal, kenapa lagi dan lagi aku harus di pertemukan dengan Dian. Apakah kampus ini terlalu sempit?
Sepertinya aku melupakan bahwa Dian adalah orang penting di kampus dan sibuk kesana kemari Jadi wajar jika aku masih harus bertemu dia di manapun dan kapanpun, sekalipun aku tidak ingin.
Aku hempaskan nafas kasar.
Dosen telah memasuki kelas, ku paksa otak ku untuk berputar haluan memikirkan materi tentang neraca keuangan.
Kelas masih akan berlangsung hingga satu jam ke depan. Baru juga beberapa menit handphone ku berbunyi, lagi dan lagi. Dari nomor baru. Sengaja aku biarkan, takut jika itu Ustad Billal yang sengaja menelpon dengan nomor lain.
Tak mau terus terusik, aku matikan handphone minimal sampai Kelas selesai.
"Wassalamualaikum wa Rohmatulloh wa Barokatuh"
salam penutup menandakan jam pelajaran usai.
Teman-teman sudah berhamburan keluar meninggalkan kelas. Tersisa tiga laki-laki yang masih tinggal. Tapi tenang, tidak semua laki-laki penggoda,menggoda aku maksudnya. Bersama tiga cowok ini aku merasa aman.
Aku masih duduk tenang menyalakan handphone yang tadinya aku matikan. Tidak ada bekas panggilan, tapi ada beberapa pesan. dan diantaranya
"apa kamu merasa kehilangan kunci? jika iya saya yang menemukan. Kamu bisa menemui saya di taman belakang gedung C"
membaca pesan itu membuat aku sadar dan segera mencari kunci yang dimaksud. Dan benar saja, tidak ku temukan.
Gedung C adalah tempat dimana aku melangsungkan kelas saat ini.
"Kayra, belum mau pulang? " tanya salah satu dari trio cow
"sudah, ini juga mau pulang" jawab ku.
kemudian aku berjalan keluar kelas tepat di belakang mereka.
Taman belakang gedung adalah tujuan ku saat ini. Taman itu tidaklah indah, tapi cukup teduh untuk duduk duduk. Jarang dijadikan tempat nongkrong oleh mahasiswa. Palingan mahasiswa yang rajin bolos masuk kelas. Juga mereka yang rajin Gombal, alias pacaran.
"Mungkin saja yang menemukan kunci ku sedang pacaran di sana, hhhhhhh" Pikir ku singkat.
Saat ini aku sudah berada berada di taman, bahkan tidak ada seorang pun. Seperti namanya, taman ini terletak di belakang gedung. Lihat kanan, lihat kiri, aku mulai mengedarkan pandangan. Sampai akhirnya mata mu menemukan kehadiran seseorang, dan itu Dian. Kenapa harus dia lagi dan lagi sih!
"ngapain disini? " tegur dia.
"kamu tuh yang ngapain! " tanya ku, dengan nada yang masih tidak bersahabat.
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana dan itu adalah kunci. Dia hanya menunjukkan di depan mata, bukan menyerahkannya pada ku.
"oh, jadi itu kamu" ucap ku sinis.
"iya, maaf pinjam nomor teman"
__ADS_1
"baguslah kalau sadar diri, bahkan nomor kamu sudah aku blokir! " ucap ku berbohong.
Pertemuan yang harusnya hanya untuk mengambil kunci dan selesai, justru berlanjut menjadi perdebatan panjang. Bahkan diluar kendali ku, tangan ku menyentuh wajahnya dengan tamparan.
"sudah cukup semua sandiwara kamu! aku M U A K" sengaja aku eja kata terakhir supaya dia faham dengan semua emosi yang telah berhasil dia ciptakan untuk mengusik ku.
"BUNGLON" ucap ku kembali sembari mengamati wajahnya dengan intens.
Aku tidak tau, darimana lagi keberanian ini muncul.
Semakin dia mengulur waktu untuk memberikan kunci ku, itu membuat aku semakin kesal.
"Kayra, dimana hati teduh kamu yang dulu? " tanya nya dengan nada pilu, seolah akulah yang jahat disini.
"hati teduh, hati teduh yang selalu saja kau permainkan!"
"senyuman yang selalu saja disalah artikan oleh banyak orang"
"wajah polos yang seringkali di hujat oleh sebagian orang"
"apa maksud mu aku harus selalu diam, dengan injakan orang seperti mu! seperti ibu mu! "
"AKU BUKAN MALAIKAT"
"aku tidak pernah mempermainkan hati mu, Kayra. Apakah kemarahan mu saat ini sudah tidak bisa lagi merasakan ketulusan ku? "
"Ketulusan, ketulusan macam apa yang kamu maksud. Ketulusan untuk selalu menghancurkan perjuangan ku menjauhi kamu? Tapi pada akhirnya aku yang selalu jatuh, jatuh dan tersungkur. Bahkan aku hancur, dan kamu tidak pernah mau tau itu! KAMU EGOIS"
"kamu hanya ingin diri mu yang bahagia tanpa mau peduli sakitnya aku"
aku tidak bisa lagi menawan emosi ku. Air mata jatuh begitu saja, tepat di hadapan nya.
"jangan anggap aku bersedih. Karena ini adalah AIRMATA KEBENCIAN" aku mengusap air mata ku dengan kasar.
Entah drama apa yang sedang aku perankan saat ini. Aku hanya berusaha mengeluarkan sebongkah batu yang selama ini bersembunyi jauh di dalam hati. Semoga saja setelah ini aku bisa benar-benar menjalani hari dengan tanpa beban.
drama apalagi ini, drama apalagi!
Kemarahan ku mendapat balasan pelukan.
"Kayra maafkan aku, maafkan aku. Jika kamu meminta aku bersujud, akan aku lakukan saat ini juga" air matanya jatuh dan menetes di bahu ku.
"seribu kali aku katakan maaf itu tidak akan bisa menebus kesalahan ku, aku tau itu. Aku mohon maafkan aku dengan kebodohan ku, Kayra" bahkan air matanya lebih deras dari air mata mu. Apakah dia sungguh menangis?
Sementara itu degup jantung ku berdetak tak karuan karena mendapat pelukan perdana dari seorang laki-laki. Laki-laki yang berhasil menjungkirbalikkan hati ku, maksudnya. Pernah sih dulu sekilas di peluk kak Jo, tapi tak seperti ini rasanya.
Apakah aku masih bisa marah?
__ADS_1
________________tbc_______________