KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Bucin Suami Istri


__ADS_3

"kalau sudah begini, apa kira-kira aku masih berani untuk kabur-kabur lagi?" akhirnya aku menyuarakan apa yang sedang ku pikirkan.


Tangan kekar Dian masih melingkar di pinggul ku. Dengan kepala bersandar pada pundak ku. Sikap manjanya sungguh menggemaskan.


"lakukan saja jika masih ingin" jawabnya dengan sisa tenaga yang masih tersisa.


"pasti kamu lelah ya. Ya sudah dew tidur aja" jawab ku, memaklumi jika kondisi tak kondusif lagi untuk digunakan berbincang.


"lelah sih, tapi tak selelah seharian ini mencari kamu" ungkapnya kembali, untuk kesekian kali.


"kamu nyebelin" kata ku dengan cepat.


"kamu juga nyebelin. Suami datang bukannya disambut, malah senyam senyum asik lihatin HP" mata ku membulat. Kembali mengingat kejadian pagi tadi.


"jadi critanya kamu ngebales tuh kemaren?" tanya ku


"habisnya, aku cemburu" gerutu Dian.


"sayang, kamu sama HP aja cemburu?


Sayang kamu tau gak sih, kemaren itu aku gak sengaja lihat story updateny kak Joe. Dan kamu tau sayang, kak Joe sama adek sudah tunangan"


Rasanya aku ikut bahagia menceritakan kabar bahagia kak Joe dengan adek.


"benarkah, bagus donk" ucapnya ringan dengan terus mengenduskan wajahnya pada wajah ku. Dan akhirnya berhenti pada satu titik, bibir.


"kamu gak masalah kan, kalau Joehan nikah sama Nahla?" tanya nya tepat dihadapan wajah ku. Sampai hembusan nafasnya begitu terasa hangat menyapu wajah ku.


"ya enggaklah. Justru aku ikut bahagia mendengar kabar bahagia mereka" jawab ku.


"sungguh??

__ADS_1


Itu artinya kamu kehilangan satu penggemar kamu loh" kata Dian dengan aroma nafas yang semakin menggelitik di telinga ku.


"apaan sih, penggemar....penggemar.


Pertanyaan macam apa itu, sudah jelas aku milik mu, Rahardian Putra Argantara. Kalaupun aku mau sama kak Joe, sudah dari dulu mungkin nikah"


"owh, jadi begitu. Kamu membuat aku semakin cemburu saja


Kayra Putri Almahira.


Jangan pernah sebut nama pria lain saat bersama ku. Kamu milik ku. Dulu, sekarang dan selamanya. Kamu hanya akan menjadi milik ku. Wanita yang membuat aku tak bisa sedetikpun tanpa memikirkan mu.


Senyum mu, mata mu, bibir mu, dua gunung ini dan surga dibawah sana, semua milik ku"


Aura panas kembali memenuhi ruang kamar ini. Seolah sebatas cinta satu malam saja, yang tak membiarkan menit dan detik berlalu begitu saja. Padahal ini sudah malam kesekian kami bersama. Tapi tetap saja, aroma pengantin baru masih begitu lekat. Mandi junub menjadi rutinitas pagi sebelum melaksanakan sholat subuh.


"yang...kamu tau gak, aku baru saja ketemu siapa?" kata Dian begitu kembali ke dalam kamar. Setelah sebelumnya berpamitan untuk jogging sebentar.


"ketemu siapa emangnya?" tanya ku.


Aku yang tengah menyeduh teh seketika tangan ku ikut masuk ke dalam gelas air panas.


"auw...auw....panas" keluh ku. Dengan sigap Dian berlari ke arah ku.


"hati-hati sayang" kata Dian sambil terus meniupi tangan ku yang terkena air panas. Sementara aku mencari krim seadanya yang bisa meredakan rasa panas.


"kamu sih bikin kaget aja" gerutu ku.


"kaget kenapa, aku kan cuma ngasih tau. Kamu mungkin yang mikirnya kemana-mana" kata Dian.


Bagaimana tidak, sepagi ini apa yang kira-kira di lakukan sepasang manusia di penginapan?

__ADS_1


"mereka baru saja memastikan tempat yang akan digunakan untuk acara resepsi" sambung Dian.


"memangnya kapan mereka akan menikah, kenapa Siska sama sekali belum memberi tahu aku ya?" tanya ku pada sendiri. Sebab bertanya pada Dian juga sudah pasti tidak tau.


Jawaban Dian hanya menggerakkan kedua bahunya tanda tidak tau sambil berjalan memasuki kamar mandi.


Namun tak berselang lama dia justru berjalan mendekat ke arah ku.


"yank, mau ngapain? Aku sudah mandi dua kali loh sepagi ini" kata ku memberi peringatan.


"mau nyicip teh aja kok, aromanya wangi banget sih. Seperti yang lagi bikin. Jadi pengen nyicip" kata Dian sembari menggenggam gelas yang tengah ku pegang.


"mau tau gak, cara minum teh berdua di pagi hari yang asik?" tanya Dian.


"aku pegang gelas, kamu juga pegang. Gimana caranya bisa diteguk samaan?" tanya ku heran.


Tanpa berkata lagi Dian mengarahkan gelas ke mulutnya. Lalu detik berikutnya membungkam mulut ku dengan mulutnya.


"gimana, maniskan teh nya? Seru gak?" tanya nya sambil terus menggoda ku.


"sayang.....kamu ya, ada aja modusnya. Udah ah sana mandi, bau keringet tau"


Akhirnya Dian menyerahkan gelas teh pada ku dan berlalu ke kamar mandi sambil terus tertawa. Hingga suara tawa itu hilang, tak terdengar lagi seiring pintu kamar mandi kembali di tutup.


Sepertinya bahagia sekali suami ku pagi ini. Melihat tingkah dia yang semakin hari semakin konyol, manja, protektif dan mesum pastinya.


Berbanding terbalik dari citra yang dia bangun di luar selama ini. Andai aku tidak menjadi istrinya, mungkin aku tidak akan pernah tau sifat asli dibalik menyebalkannya seorang Rahardian.


Dan dibalik itu semua, semakin hari aku semakin mencintainya. Semakin mendambanya. Semakin mengaguminya.


Teh pagi ini rasanya memang lebih manis, semanis cinta halal yang semakin hari semakin berkembang.

__ADS_1


Semoga benihnya segera tertanam dalam rahim ini. Sekalipun aku belum terlalu berharap untuk hal itu, rasanya gemas saja. Ingin segera melihat bayangan Dian junior dalam jiwa anak-anak kami kelak.


__________________^_^_________________


__ADS_2