
Suasana hening selama perjalanan pulang ke pesantren. Siska memejamkan mata, mungkin dia masih sakit kepala. Dan aku sendiri masih tak enak hati dengan pemaparan Siska.
Sebenarnya tak salah juga apa yang dikatakan Siska. Terkadang memang gajah di pelupuk mata tak nampak tapi semut di sebrang lautan justru nampak. Tak seharusnya aku merasa kesal jika memang aku tidak seperti yang Siska katakan. Atau mungkin, aku kesal karena tidak dihiraukan oleh Dian?
Seharusnya aku bahagia, usaha ku berhasil. Dalam waktu dekat Dian juga Johan tidak lagi mengganggu ku. Tak ku sangka bisa semudah itu. Mengingat dulu begitu sulit membuat Dian menjauh. Tapi kenapa, ada rasa sesak saat diabaikan olehnya. Bukankah sudah dari lama dia mengabaikan aku, sebelum ada banyak drama yang dia ciptakan. "kuatkan iman ku, bulatkan tekat ku ya Allah"
Mobil yang aku kendarai telah sampai di halaman pesantren. Ku bangunkan Siska begitu mobil telah ku parkir dengan benar.
"kenapa kepala ku semakin sakit aja ya Kay? " ucapnya begitu membuka mata.
"ke dokter aja gimana, atau kamu hubungi mama kamu"
"harusnya tadi aku beli obat dulu"
"yaudah kamu masuk aja istirahat dulu. Coba aku tanyakan pada ummi, mungkin punya obat"
Saat aku memasuki rumah utama, ustad Billal yang sedang duduk di depan. Rasanya ingin putar balik, tapi sudah kepalang basah tertangkap mata. Beberapa kali pertemuan aku sempat bertemu pandang dengan ustad. Aku merasa jika ustad Billal diam-diam sering memperhatikan ku. Sekalipun aku sering menepis perasaan itu dan berfikir mungkin aku saja yang ke PDan. Tapi nyatanya semakin kesini justru ustad Billal yang sering di buat salah tingkah oleh keponakannya. Pasalnya si keponakan sering mengolok setiap kali mengetahui paman nya memperhatikan ku di meja makan.
"assalamu'alaikum"
"wa'alaikum salam. Ada apa Kayra? "
"apa ummi ada, saya mau minta obat ustadz"
"kamu sakit? "
"bukan saya ustadz, tapi Siska"
"oh, sakit apa Siska? "
"kepala ustadz"
"ummi sedang keluar sama abah. Masuk, saya carikan dulu"
antara iya dan tidak untuk mengikuti langkah ustad Billal. Hati ku sudah sering kali porak poranda. Sudah cukup, jangan ciptakan skandal baru di lingkungan baru. Akhirnya aku duduk di teras menunggu ustad mencarikan obat.
"hanya ada obat ini" ustad Billal menyodorkan obat merk warungan.
"tidak apa-apa ustad. Coba saya bawa dulu"
"Trimakasih" ucap ku setelah mengambil obat itu dari atas meja.
Aku kembali ke rumah paviliun. Begitu aku masuk ke kamar Siska masih tersungkur di atas kasur. Sepertinya dia benar-benar kesakitan kali ini. Beberapa hari kemarin sempat mengeluh sakit kepala, tapi sebentar sudah baikan.
"Sis.. Siska" aku panggil Siska dengan pelan, takutnya dia tertidur. Ternyata tidak.
"cuma ada obat ini" ku sodorkan obat yang ada di tangan ku.
"mau coba di minum? " aku tidak yakin apakah obat itu akan manjur, sekelas Siska mungkin tidak pernah mengkonsumsi obat warung.
"yaudah sini"
"ok, aku ambilin air minum dulu"
"udah kasih kabar sama ortu Sis? " aku kembali bertanya setelah kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih.
Siska hanya menggeleng kan kepala.
Seandainya itu aku, pasti maunya ingin di perhatikan saat kurang enak badan. Tapi sekarang lain lagi, aku tidak boleh lupa jika saat ini kami sedang berlatih hidup mandiri. Ok, aku tidak akan bertanya lagi kecuali memang benar-benar darurat.
__ADS_1
Aku biarkan Siska kembali tidur setelah minum obat.
Sebenarnya mata ku juga lengket sekali, tapi lagi-lagi mengingat dimana aku saat ini, rasa kantuk itu seketika hilang.
Membasuh muka sepertinya akan membuat wajahku lebih segar dan menghilang kan rasa kantuk.
Setelah kembali dari kamar mandi aku segera ganti baju dan mengambil buku. Kalimat basmalah tidak pernah luput setiap kali kaki melangkah. Sekalipun rasanya berat, InsyaAllah ini akan bermanfaat. Saatnya memperdalam ilmu tajwid.
Berbeda dengan kelas bahasa Arab yang selalu membuat aku tegang karena tatapan perhatian dari Ustad Billal, di kelas tajwid ini aku merasa begitu nyaman bersama ustadza cantik Hafshah. Tak kalah hebat dari ustad Billal, beliau juga lulusan Cairo. Telah menikah saat masih menempuh pendidikan dengan seorang mahasiswa yang sama-sama belajar disana.
Satu jam pelajaran berlalu dengan baik. Aku meminta ijin pada ustadza untuk segera kembali ke paviliun. Jujur saja aku khawatir pada Siska.
Suasana di kediaman utama masih sepi, mungkin ummi dan abah belum pulang. Aku melewati rumah itu begitu saja.
Ku buka pintu kamar dengan sangat pelan. Terlihat Siska masih tidur nyenyak. Tapi sebentar lagi mau magrib. Pasti tadi dia juga tidak solat Ashar. Yasudah lah, tidak boleh terlalu keras pada seseorang yang baru belajar.
Saat aku menyentuh badannya aku langsung kaget, demam tinggi. Tanpa bertanya lagi aku inisiatif untuk mencari tempat praktek dokter terdekat. Biasanya sore begitu dokter praktek sudah buka.
Setelah menemukan alamat di google, aku segera keluar untuk meminta ijin. Entah pada siapa saja itu, yang penting aku sudah ijin daripada pergi tanpa pamit.
"assalamu'alaikum, assalamu'alaikum" aku mengulai salam sampai dua kali karena tak kunjung ada yang keluar.
"wa'alaikum salam. Ada apa Kayra, sepertinya kamu sedang panik? "
"saya minta ijin untuk mengantarkan Siska ke dokter. Dia deman tinggi"
"astagfirullah, ayo saya temani. Ini sudah hampir magrib" mendengar jawaban Ustad Billal, kenapa jadi saya yang mematung? tapi ini bukan saat yang tepat untuk berandai-andai
"ayo berangkat sekarang. Bisa jalan sendiri tidak dia? "
"saya belum bangun kan dia Ustad" langkah kami dengan cepat memasuki paviliun.
Cukup berhenti di teras, bukan azabnya seorang laki-laki memasuki kamar perempuan. Ustad lulusan Cairo pasti sudah sangat tau itu.
"Sis... Siska. Siska. Siskaaaaaaaa" ampun bener nih cewek kalo udah tidur. Apalagi pas sakit, menikmati dah. Umpat ku dalam hati
"Yang sini khawatir, yang sakit malah enakin tidur" kalimat pembuka efeke kesal, keluar begitu saja saat Siska mulai bangun.
"kamu ini, ada orang sakit dimarahin sih" protes Siska.
"satu sama. Tadi aja, aku yang di omelin" jawab ku tak mau kalah.
"udah ah, ayo ke dokter. Badan kamu makin demam tuh, padahal tadi enggak. Udah ada ustad Billal di depan, mau anterin"
"hah, kenapa mesti ustad Billal. Kamu aja sih yang anterin" langsung turun dari ranjang dia begitu mendengar nama ustad disebut.
"iya, sama aku juga. Beliaunya yang mau, aku bisa apa? " jawab ku dengan nada pasrah.
"udah cuci muka aja,gak usah dandan. Keburu magrib" teriak ku saat Siska mulai mencapai pintu.
Pintu tidak jadi dibuka, malah Siska mematung disana.
"kenapa Sis? " tanya ku.
"kepala ku muter-muter ya Kay"
"yaudahlah gak usah cuci muka kalo gitu, daripada jatuh di kamar mandi. Lap aja pake tidur basah, biar gak bau iler" ucap ku setengah meledek
"ye,gak pernah ya. Sejak kapan aku tidur bikin pulau" jawabnya tak mau kalah. Masih punya tenaga buat debat rupanya.
__ADS_1
Aku bantu Siska untuk mengenakan kerudung. Setelah itu menyiapkan tas juga dompetnya.
"bisa jalan sendiri gak? "
"pegangin, muter-muter"
"ok, aku panggilin ustad Billal dulu ya"
"apaan sih kamu, gak lucu"
"lucu aja sih, pengen lihat kamu masih bisa ketawa gak? "
"Kayra ah, sejak kapan sih kamu jadi iseng gini. Orang sakit juga. Pasti dapat ilmu dari kak Johan"
"jadi pergi ke dokter tidak? " tanya ustad Billal begitu kami sampai di ujung pintu.
"jadi ustad, ini sudah siap" jawab ku.
"saya kira sudah sembuh, bercanda terus dari tadi"
ucap beliau datar sambil berjalan menuju mobil yang diparkir.
"ini ustad kuncinya" aku menyodorkan kunci mobil yang dari tadi masih ku pegang "
"maaf ustad, Kayra kurang makan. Jadi sedikit konslet isi kepalanya" Siska masih bisa mengatai ku, sakit apa sakit sih ni anak! Gerutu ku dalam hati.
Mobil sudah melaju. Kemana arahnya, terserah pak sopir sajalah. Yang penting tujuan sama, dokter.
"nanti ambil nomor antrian dulu, setelah itu kita solat magrib dulu ya" ustad Billal berkata. Dan kata apalagi yang bisa di ucapkan selain "iya Ustad"
Saat sampai di tempat dokter aku turun untuk mengambil nomor antrian. Setelah iku kembali ke mobil dan mobil kembali berjalan, menuju masjid terdekat pastinya.
Iqomah sudah di kumandangkan saat kami tiba di masjid. Kami segera turun dan menuju tempat wudhu masing-masing. Beruntung masih sempat ikut sholat berjamaah.
Selesai solat kami segera kembali ke dokter. Ustadz Billal memilih untuk menunggu di dalam mobil.
Setelah beberapa saat nomor antrian yang ku pegang disebut kan. Akupun ikut masuk menemani Siska. Karena saat ini aku dan dia bagaikan kepala dan ekor.
Aku hanya diam mendengar selama Siska Syukurlah bukan suatu penyakit yang mengerikan. Dokter menulis resep untuk di tebus di apotek.
Setelah semua selesai kami meninggalkan ruangan dokter.
Masih ada ustad Billal yang setia menunggu dan jadi sopir, hihihi 😁
"sudah selesai? " tanya ustad Billal.
"ke apotek menebus obat" Siska yang sakit dan aku yang jadi juru bicara. Tadi bercanda masih bisa, giliran di tanya oleh ustad Billal malah tangan ku yang di colek-colek.
______________^_^____________
hay-hay, hallo readers semua
maafkan baru menyapa. Yang penting kisah Kayra sudah di up ya 😆
untung saja Siska yang sakit, coba Kayra.... pasti udah merengek manggil "mama... mama"
okelah, sebenarnya masih berlanjut part ini tapi sudah terlalu panjang. Mata sudah lengket.
Nantikan lagi kisah selanjutnya nya, ok
__ADS_1
trimakasih sudah mampir, sudah like, vote 😘
yang belum semoga di segerakan 🥰