
Sorakan para karyawan menyambut begitu aku menutup pintu. Jauh dalam hati rasanya sangat malu, tapi di luar harus menampakkan biasa saja. Toh sudah halal kan?
"romantisnya suami mbak Kayra"
"yang pengantin baru"
"dengar-dengar ada insident ya mbak kemarin, makanya jadi diantar langsung sama suami"
"kenapa suami mbak Kayra tidak bekerja di sini juga,kan bisa jadi calon pewaris"
Kalimat-kalimat yang membuat aku speachless.
Aku duduk di tempat ku yang bersebelahan dengan Dila. Sementara orang lain ribut, Dila hanya berulang kali menggerakkan sikunya untuk menyapa ku.
Sepagi ini, bagaimana bisa insident kemarin sudah menyebar kemana-mana? Kurang pekerjaan sekali orang itu.
Beruntung aku hanya mahasiswa magang di sini, kalau saja sudah resmi bekerja sebagai kandidat pengganti papa, sudah pasti akan aku usut tuntas siapa pelakunya.
"kerja kerja" suara kabag keuangan yang akhirnya membuat semua orang bungkam dan kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
Suara telepon berdering dan tak berselang lama kepala bagian memanggil ku.
"mbak Kayra, diminta bapak untuk keruangan beliau" kata pak Syarif. Orang sekelas kabag saja ikut memanggil ku dengan sebutan 'mbak'. Sebenarnya aku tidak enak hati, tapi bagaimana lagi jika maunya seperti itu.
^^^"sepagi ini, ada apalagi sih papa" gerutu ku dalam hati.^^^
Gak tau apa papa itu, kalau aku tidak suka berada pada posisi ini. Menjadi pusat perhatian karyawan.
"ikhlas Kay, ikhlas. Anggap aja lagi tugas negara" hibur Dila, yang seolah tau isi pikiran ku.
"saya permisi pak" setelah mengambil tas aku berpamitan dan meninggalkan ruangan.
Memasuki lift menuju ruangan papa di lantai teratas. Sekalipun kantor ini belum sekelas perusahaan orang nomor satu di Indonesia, namun aku cukup tau jungkir balik papa dalam merintis perusahaan ini. Aku memang belum sepenuhnya bisa menerima mandat dari papa sebagai calon penerus, tapi aku juga tidak sampai hati untuk menolak.
"assalamualaikum pa"
"waalaikumsalam. Kay, kamu bisa ikut Riza cek penerimaan barang ke lapangan ya. Papa harus ada pertemuan dengan exportir pagi ini.
Tidak apa kan, sekalian belajar supaya tau alur-alurnya"
"omg, kenapa harus mas Riza lagi, mas Riza lagi sih. Yang kemarin saja sudah cukup membuat orang ribut" lagi-lagi aku menggerutu. Hari ku benar-benar tidak beruntung pagi.
Satu sisi aku bisa menghindari pertanyaan sekaligus pembicaraan orang-orang. Tapi di lain sisi, pasti akan ada hal baru lagi yang membuat mereka semakin heboh.
__ADS_1
Awh,entahlah. Di pikir sambil jalan saja. Karena mas Riza sudah memasuki ruangan papa dan siap untuk berangkat.
Padahal mas Riza sudah menurut untuk menghubungi ku melalui kabag saja jika membutuhkan kehadiran ku sewaktu-waktu.
Yah, malam itu aku langsung mengirim chat ke mas Riza, supaya mengurangi kontak dengan ku saat di kantor.
"saya pamit pak.
Mari mbak Kayra"
"berangkat pa, assalamualaikum"
Aku sengaja memperlambat langkah supaya tidak berjalan sejajar dengan mas Riza.
"mbak Kayra ayo,saya jadi tidak enak berjalan di depan. Saya kan bukan bos" kata mas Riza sembari menghentikan langkahnya.
"gak mas. Aku jutru tidak enak kalau jalan bareng sama mas Riza. Banyak mata yang lihatin"
"kalau begitu mbak Kayra saja yang jalan lebih dulu"
Aku mengambil langkah lebih depan tanpa memperpanjang percakapan lagi. Ribet juga ternyata menghadapi orang yang terlalu sopan. Tapi jika di perdebatkan 'aku atau kamu' juga tidak akan habis.
"kita pakai sopir kan mas?" tanya ku mulai khawatir kalau saja lagi-lagi kami pergi berdua saja.
"tidak mbak. Saya menyetir sendiri. Sopir bersama bapak"
"mas, aku ijin duduk di belakang saja ya. Menghindari fitnah, karena kita hanya berdua saja. Tidak apa kan?"
"iya mbk, tidak apa"
"maaf ya mas, tidak bermaksud menjadikan mas Riza sebagai sopir" ucap ku kembali setelah kami memasuki mobil.
"iya mbak, tenang saja.
Pasti sudah dengar pergunjingan orang-orang ya?"
"iya mas. Sepagi ini, dapat cerita darimana sih? Ada biang gosipnya di kantor?"
"itu, satpam yang kemarin jaga mbak.
Tadi waktu saya datang kan orang-orang pada kumpul di parkiran. Bahas soal pohon tumbang kemaren.
Lalu saya di tanya, kena macet gak?
__ADS_1
Jadilah pembahasannya merebet kemana-mana. Kan tau kalau mbak Kayra pulang sama saya"
"mereka yang mengguraui mas Riza, kenapa jadinya saya yang ikutan di viralkan?"
"minta di kasih SP sepertinya mereka mbak" gurau mas Riza.
"maaf ya mbak Kayra, gara-gara saya jadi ikut terkena imbasnya" lanjut mas Riza.
"makanya mas Riza buruan cari pasangan biar gak di ledekin terus"
"mbak Kayra punya teman yang bisa di kenalkan sama saya, boleh deh kalo mbak Kayra yang carikan"
"mas Riza ini apaan sih. Memangnya saya biro jodoh. Hari gini juga, masih minta di cariin jodoh"
"iya mbak, kelamaan kerja sama bapak. Sibuk terus, jadi gak sempat buat nongki-nongki kaya anak muda jaman sekarang"
"hahhaha, mas Riza bisa aja.
Nanti deh aku protesin ke papa, biar di kasih kelonggaran.
Masa iya, di kasih kerjaan terus sampe gak sempat cari calon istri"
Akhirnya aku bergurau dengan mas Riza dan menceritakan banyak hal. Rupanya selain sopan, asik juga dijandikan teman ngobrol.
Hingga perjalanan pun tak terasa, kami sudah sampai di tempat tujuan.
"mari mbk.
Tidak apa kan kalo sekarang kita jalan barengan, tidak ada orang kantor yang pasang mata"
"maksud mas Riza?"
"gak mbak,bercanda. Gak penting.
Biar lebih enak saja kalo jalan barengan, saya sambil menjelaskan beberapa hal. Supaya mbak Kayra tau, sesuai perintah bapak"
Tidak semua tentang kedekatan laki-laki dan perempuan itu buruk. Buktinya kami saat ini, mungkin memang mas Riza pernah menaruh hati pada ku, tapi semua dia sesuaikan pada porsinya. Sehingga perasaan apapun itu, bisa di atasi dengan lebih mudah.
"Kecewa, patah hati, itu wajar. Tapi tidak harus juga mengganggu kestabilan pikiran. Sebab hidup akan terus berjalan. Karena sejatinya apa yang menjadi rejeki seseorang akan mendatangi nya, juga sebaliknya. Jadi kita tidak perlu terlalu ngotot juga untuk memiliki sesuatu" begitu tutur mas Riza pada ku.
Aku cukup salut dengan kematangan pikiran mas Riza. Semoga hal serupa bisa aku lihat dalam diri Dian. Sebab rasa cemburu berkepanjangan pun bisa menjadikan suatu hubungan tidak baik.
Apalagi dengan posisi mas Riza sebagai tangan kanan papa, sementara aku sebagai kandidat calon penerus papa, mau tidak mau akan sering berurusan dengan mas Riza.
__ADS_1
Atau mungkin aku perlu mempertemukan mereka berdua. Supaya bisa ngobrol, saling mengenal satu sama lain, supaya bisa lebih percaya bahwa mas Riza adalah orang yang baik.
______________________^_^_____________________