KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Teman Lama


__ADS_3

Hari ku masih terasa lama sebab ketidak hadiran Dian di setiap waktunya. Hati ini sepi, semakin dekat rasanya semakin ingin terus bersama.


Astagfirullah hal adzim, mungkin inilah sebab dilarangnya berpacaran. Yang pada akhirnya berujung pada perzinahan.


Beruntung saja waktu masih membuat kami saling sibuk. Jika kemarin Dian sibuk dengan skripsi nya, kini gantian aku yang sibuk dengan ujian semester.


Alhamdulillah Dian sudah berhasil melewati sidang skripsinya dengan baik dan di nyatakan LULUS. Tinggal menunggu waktu untuk wisuda.


Lepas dari skripsi, Dian kini sibuk di tempat baru. Begitu cepat mendapatkan promosi kenaikan jabatan, ia akan diangkat sebagai kepala bagian keuangan setelah ijazah S1 nya keluar.


Kalau rejeki memang tidak kemana.


Ini adalah hari pertama aku mengikuti ujian semester. Dan kemarin aku sudah belajar dengan tenang setelah melepaskan jabatan sebagai 'asdos' di dua mata kuliah.


Sehingga aku mengerjakan soal dengan tenang dan penuh keyakinan.


Sebenarnya ada untungnya juga sih dengan menjadi asdos, jadi bisa lebih tau, lebih mengerti dan memahami materi. Bahkan sebelum materi itu di ajarkan. Memudahkan aku juga di kelas akselerasi ini.


Hanya saja, jam masuk kuliah yang menjadi berlipat ganda sudah cukup menyita banyak tenaga. Sementara di semester depan target ku sudah lain lagi. Aku ingin mengajukan magang juga KKN mulai di semester 5. Jadi di semester 6 aku bisa fokus pada skripsi saja.


Mengingat bagaimana kerasnya Dian mengerjakan skripsi di sisa waktunya yang hanya tinggal tiga bulan. Beruntung bisa langsung lolos, hanya perlu refisi satu kali dan itupun tak begitu berarti.


Beruntung juga dapat dosen pembimbing yang mudah untuk di temui. Jalannya terasa begitu mudah aku rasa. Allah begitu mempermudah urusannya.


Taunya sekarang Dian sudah nyaman bekerja, padahal wisuda belum juga di langsungkan.


Semoga jalan ku kelak bisa semulus dia, ya Allah.


Hari pertama ujian selesai.


Tak ingin berlama-lama lagi berada di kampus, aku segera mengemas barang-barang ku.


Lalu aku meninggalkan kelas bersama tiga teman wanita menuju parkiran.


"Kayra, hey" ada seseorang yang melambaikan tangan dan memanggil nama ku.


"Raymond" sapa ku, begitu aku melihat ke arahnya dan mengenali dia.


"kita duluan ya Kay" akhirnya pergilah 3 wanita yang tadi bersama ku.


"ok, ok. Sorry ya" ucap ku.


Raymond kini sudah di depan ku. Dengan membawa sebuah paper bag di tangan.


"udah keluar duluan? tadi aku telpon Siska katanya satu jam lagi baru keluar" tanya Raymond.


Matahari cukup terik siang ini, kami berjalan menepi mencari tempat yang lebih teduh.


"iya, kelas kami kan beda sekarang. Kamu tumben ke sini" tanya ku.


"ini ada titipan dari mamanya Siska" Raymond mengisyaratkan pada paper bag yang dia bawa.

__ADS_1


"mau nitip sama aku aja, kalo kamu buru-buru? " aku menawarkan diri.


"gak usah, gakpapa. Aku juga udah lama gak ketemu Siska. Gak ketemu kamu juga kayanya yah" Raymond tampak mengamati sesuatu.


"kamu makin langsing aja" lanjutnya.


Aku jadi mengamati diri ku sendiri, yang selama ini tidak pernah aku lakukan.


"hah, masa sih?? " aku sendiri heran, menyadari lengan baju ku yang memang tampak lebih longgar.


"pantesan, kata ummi aku juga kurusan" aku bicara sendiri.


"siapa itu ummi? " tanya Raymond.


"oh, itu. Bu Nyai di pesantren. Biasa panggil beliau ummi"


"kamu kok bisa ada di sini sih, jam segini" kini gantian aku yang menginterogasi.


"iya, baru besok semesteran. Ini tadi cuma ambil nomor ujian" jawab Raymond.


Satu jam adalah waktu yang cukup lama untuk menunggu.


Karena memang kami sendiri lama tidak bertemu, akhirnya aku menemani Raymond untuk menunggu Siska. Sambil berbincang duduk di cafetaria.


"gimana nih rasanya masuk akselerasi? " tanya Raymond.


"biasa aja sih, gak terlalu berat. Yang bikin luar biasa itu, jadi asdos di tiga mata kuliah. Bener-bener ekstra capeknya" aku menceritakan.


Apa sih rahasianya bisa jadi kaya gitu? "


"gak ada rahasia-rahasia Ray. Cukup ada kemauan, ada usaha dan paling penting ada kemampuan" Raymond tampak menggeleng-geleng kan kepala.


"aku aja pas di critain sama Siska, speechless tau gak. Cuma bisa bengong, heran. Super banget kamu yah. Badan boleh kecil, tapi otak tak selalu kecil"


"awh, kamu terlalu memuji" jawab ku singkat lalu aku meminum jus yang aku pesan.


"sini-sini, bentar" Raymond mengarahkan kamera sembari mendekat.


"apaan Ray? " tanya ku, padahal juga aku sudah tau maksudnya Raymond.


"foto dulu sama bintang kampus" cikliikk... kliikkk.. k kliikkk...


Seketika itu juga tombol pada kamera Raymond tekan berkali-kali.


Nih anak, bener-bener ya. Tetap aja gila foto.


Yach, namanya juga anak fotografi 🤷‍♀️ ucap ku dalam hati.


"tapi ingat ya, buat koleksi pribadi" aku mengingatkan.


"beres" jawab Raymond singkat, sambil terus men scroll hasil jepretan di kameranya.

__ADS_1


"lama yah kita gak jalan-jalan bareng. Susah banget nemuin foto kamu" ucap Raymond.


"cari aja foto model yang beneran" jawab ku asal.


"yang sama kaya kamu belum tentu ada" jawaban Raymond tak kalah asal.


"masih tetep ya hobby gombal kamu. Kirain hobby fotografi aja sekarang"


"eh, jangan salah. Wajah kamu itu unik, gak bikin bosen siapa aja yang memandang. Bikin hasil jepretan ku semakin berwarna, tau gak" Raymond masih saja asik memperhatikan ke kamera.


"terus aja gombal Ray" ucap ku.


"ecieee,, aku juga mau donk di gombalin" yang di tunggu sudah datang rupanya, Siska.


"idiwh, ngegombalin kamu. Receh aja gak cair. Gak ada hasil" biang ribut sudah datang. Aku bersiap buat buat tutup telinga.


"mulai deh kalian ini ya" aku mencoba melerai.


"tau nih Raymond. Sensi amat sama sodara sendiri" Siska menarik tempat duduk.


"nih titipan kamu. Cek dulu, semua lengkap" Siska melihat sekilas paper bag yang diserahkan oleh Raymond.


"percaya, kamu emang selalu bisa di andalkan"


"enak aja, emang aku pil andalan" entah dengan sengaja atau tanpa sengaja Raymond mengatakan kata itu.


"eh.. eh. Kamu bisa tau pil andalan segala. Siapa tuh yang pakek? hayyo, kamu. Jangan bilang udah macem-macemin anak orang ya" seketika Siska menyerang Raymond dengan pertanyaan.


"apaan sih kamu Sis. Dikira aku cowok apaan. Kamunya aja yang kurang info!


Banyak tuh di iklan, bertebaran di mana-mana" Raymond menimpuk Siska dengan ujung kamera dia.


"kenapa cuma ujung, ayo coba timpuk beneran" tantang kembali Siska.


"sayang kameranya, ntar lecet" sekarang gantian aku yang geleng kepala melihat interaksi dua saudara itu.


"iya kan Kay" Raymond mencari pembenaran dari ku


"hemmmpp" aku hanya berdehem.


"traktir makan siang donk, kan aku udah bela-belain anter ke sini" pinta Raymond pada Siska.


"emang gak di kasih duit bensin sama mama? " tanya Siska.


"udah si, tapi kan itu jatah dari mama kamu. Dari kamunya belum" ucap Raymond.


"iwh, dasar kurir" Siska mengatai.


Lama-lama bersama mereka telinga ku geli.


Kebetulan sekali ada panggilan masuk dari Dian. Jadi aku ada alasan untuk menyendiri, menjauh dari mereka berdua.

__ADS_1


_________________^_^_______________


__ADS_2